
Batin Bunda Cinta dan Dita kini bertanya-tanya ketika melihat Kasih yang terlihat begitu sedih melihat kepergian Ahmad.
Kenapa dengan Kasih? sepertinya Kasih juga memiliki perasaan yang sama dengan Ahmad, batin Bunda Cinta.
Apa mungkin Kasih juga mencintai Om Ahmad? batin Dita.
"Sayang, bukannya kamu masih mengantuk?" tanya Rangga kepada Dita.
"Kalau begitu Dita ke kamar dulu ya."
Rangga mengekor di belakang Dita, tapi Dita menghentikan langkahnya saat berada di depan pintu kamarnya.
"Rangga, sebaiknya sekarang kamu temani Kasih, saat ini Kasih terlihat sangat sedih, dan dia pasti membutuhkan keberadaan kamu di sampingnya," ujar Dita.
"Tapi aku ingin tidur sama kamu," rengek Rangga.
"Rangga, kamu sudah berjanji akan berusaha untuk bersikap adil. Kita sudah dua hari bersama, jadi sekarang giliran kamu menemani Kasih," ujar Dita, kemudian menutup pintu kamarnya, sehingga Rangga terpaksa masuk ke dalam kamar Kasih.
Rangga menyandarkan kepalanya pada dashboard ranjang, dan beberapa saat kemudian Kasih masuk ke dalam kamarnya.
Kasih terkejut ketika melihat Rangga berada di dalam kamarnya, karena Kasih mengira Rangga berada di dalam kamar Dita.
"Mas, kenapa ada di sini? aku kira Mas berada di dalam kamar Dita?"
"Dita yang nyuruh aku tidur di sini," jawab Rangga yang terlihat cemberut, dan Kasih tau kalau Rangga ingin selalu berada di dekat Dita.
"Mas, kalau memang Mas Rangga ingin tidur sama Dita, Kasih ikhlas kok."
"Mungkin kamu ikhlas, tapi Dita bakalan ngusir aku," ujar Rangga dengan mencoba menutup matanya, tapi Rangga tetap tidak bisa tertidur dan terus saja terlihat gelisah karena memikirkan Dita.
Kasih menghela nafas panjang melihat tingkah Rangga.
"Mas, sebaiknya Mas pindah saja ke kamar Dita."
"Dita pasti mengunci pintunya."
"Mas bisa masuk lewat pintu balkon, biasanya Dita tidak pernah menguncinya," ujar Kasih, dan Rangga langsung bersemangat.
__ADS_1
"Kasih, terimakasih ya, kamu selalu mengerti aku. Maaf, kalau aku tidak bisa adil, tapi ke depannya aku akan berusaha bersikap adil kepadamu dan Dita," ujar Rangga dengan menggenggam erat tangan Kasih, kemudian bergegas menuju balkon.
Setelah kepergian Rangga, Kasih kembali menangis.
"Seandainya ada Om Ahmad, aku pasti tidak akan merasa kesepian," gumam Kasih.
......................
Rangga mengintip terlebih dahulu dari jendela, dan saat ini Dita sudah terlelap dalam tidurnya, sehingga perlahan Rangga membuka pintu kamar Dita yang menuju balkon, dan benar saja pintunya tidak Dita kunci.
"Ternyata perkataan Kasih benar, kalau Dita tidak mengunci pintunya," gumam Rangga dengan terus mengembangkan senyuman, kemudian Rangga membaringkan tubuhnya di samping Dita, dan memeluk tubuh Dita dengan erat, sampai akhirnya Rangga ikut terlelap.
Dua jam kemudian, Dita terbangun, dan langsung mengembangkan senyuman ketika melihat Rangga yang saat ini sedang memeluknya, tapi tiba-tiba Dita teringat kalau tadi dirinya menyuruh Rangga untuk tidur di kamar Kasih.
"Rangga, kenapa kamu tidur di sini?" tanya Dita dengan menggoyangkan tubuh Rangga.
"Sayang, kamu kenapa sih pake bangunin aku segala? aku masih ngantuk," ujar Rangga.
"Rangga, kenapa kamu tidak tidur dengan Kasih? aku kan udah nyuruh kamu supaya tidur sama dia?"
"Sayang, aku gak bisa tidur kalau gak meluk kamu, lagian Kasih sendiri yang menyuruh aku tidur sama kamu."
......................
"Rangga, aku sudah berapa kali bilang kalau kamu harus bersikap adil. Sekarang juga kamu tidur di kamar Kasih," ujar Dita dengan tidur membelakangi Rangga, padahal Dita menangis karena sebenarnya dirinya ingin selalu berada di samping Rangga, apalagi saat siang mereka tidak bisa bersama karena keduanya sama-sama bekerja.
"Sayang, tapi aku tidak bisa tidur sama Kasih, aku juga tidak bisa menyentuh Kasih dalam keadaan sadar."
"Rangga, apa kamu sadar dengan perkataanmu? Kasih juga istri kamu, dan pasti dia kecewa dengan sikap kamu," ujar Dita yang terus membelakangi Rangga.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rangga yang merasa khawatir terhadap Dita.
"Aku baik-baik saja, jadi sebaiknya kamu sekarang pergi dari sini, kamu tidak mau kan Kasih semakin membenciku?" ujar Dita dengan suara terisak.
Sejak Rangga menikah dengan Dita, hubungan Kasih dan Dita menjadi renggang, bahkan Kasih selalu menghindari Dita, sehingga membuat Dita merasa sedih.
"Sayang, maaf karena aku sudah membuat kamu menangis. Mungkin seharusnya dari awal aku menceraikan Kasih sebelum kita menikah."
__ADS_1
Dita langsung bangun mendengar perkataan Rangga.
"Rangga, kamu jangan bicara sembarangan. Kalau bukan Kasih yang meminta cerai, kamu tidak boleh menceraikannya."
"Tapi Kasih berhak mendapatkan kebahagiaan dari lelaki lain yang mencintainya. Aku tau kalau kamu tidak sanggup kan untuk berbagi Suami dengan Kasih? kenapa kamu harus memaksakan diri? selama ini kamu selalu memikirkan perasaan Kasih. Apa pernah kamu memikirkan perasaanku?"
"Dari awal seharusnya aku tidak menuruti kemauan Kasih untuk menikah denganmu jika pada akhirnya kita bertiga hanya saling menyakiti. Kamu benar Rangga, aku tidak sanggup untuk berbagi Suami, jadi sebaiknya kamu ceraikan aku saja, supaya kamu bisa berusaha mencintai Kasih."
Rangga diam mematung mendengar perkataan Dita, karena dirinya tidak pernah mengira jika Dita sampai meminta cerai demi kebahagiaan Kasih.
"Apa Kasih begitu penting dibandingkan denganku, sehingga kamu lebih memilih mengakhiri rumah tangga kita?" tanya Rangga dengan mata yang sudah memerah.
Dita hanya diam, karena saat ini dirinya berada dalam dilema.
"Jawab pertanyaanku Dita !!" teriak Rangga dengan mengguncang bahu Dita.
Dita tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya, dan sesaat kemudian Dita pingsan dalam pelukan Rangga.
"Sayang, kamu kenapa? Dita, jangan buat aku khawatir. Maafin aku Dita," ucap Rangga, kemudian berlari ke luar setelah membaringkan Dita.
Rangga berteriak meminta tolong, dan semuanya menghampiri Rangga yang terlihat panik.
"Rangga, kenapa kamu berteriak?" tanya Ayah Ilham.
"Dita tiba-tiba pingsan Yah, Rangga takut Dita kenapa-napa" jawab Rangga.
"Sebaiknya sekarang kamu tenang, biar Bunda periksa keadaan Dita," ujar Syifa, kemudian mengambil peralatan medis ke dalam kamarnya.
Semuanya menuju kamar Dita, dan di sana ternyata sudah ada Kasih yang saat ini sedang terlihat menggenggam erat tangan Dita, karena tadi saat Kasih mendengar Rangga meminta tolong, Kasih bergegas menuju kamar Dita.
Syifa memeriksa kondisi Dita yang masih pingsan, dan semuanya terlihat harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan.
"Sayang, bagaimana kondisi Dita?" tanya Dika setelah melihat Syifa selesai memeriksanya.
Syifa menghela nafas panjang, sehingga membuat semuanya semakin khawatir.
"Tante, bagaimana keadaan Dita? Dita baik-baik saja kan?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Rangga, semua ini karena perbuatan kamu, makanya Dita jadi pingsan, karena kamu sudah membuat Dita hamil," ujar Syifa dengan tersenyum, dan semuanya begitu terkejut mendengar kabar bahagia tersebut.