
Dita dan Dokter Asyifa menyelesaikan jadwal praktek hari pertamanya dengan lancar, dan Dita sudah bersiap untuk pulang, karena Dita akan bergantian dengan Dokter kandungan yang lain.
Dita melangkahkan kaki menuju pintu ke luar dari ruang prakteknya, ketika Dita membuka pintu, Dita bertabrakan dengan Dokter kandungan yang akan mengganti Dita melakukan Praktek di Rumah Sakit keluarga Pratama.
"Awww," Dita memegang dahinya yang terasa sakit ketika terkena tangan seseorang yang membuka pintu ruang prakteknya dari luar.
"Maaf Dok, saya tidak sengaja," ucap lelaki tampan yang sudah bertabrakan dengan Dita.
Dita mendongakkan kepalanya, dan keduanya terkejut karena mereka berdua sudah saling mengenal.
"Rizki."
"Dita."
Ucap Dita dan juga Dokter Rizki secara bersamaan.
Dita dan Dokter Rizki satu angkatan saat kuliah di Belanda, bahkan sejak pertama Dita masuk di Universitas yang sama dengan Dokter Rizki, Dokter Rizki sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dita, tapi saat Dokter Rizki ingin mengungkapkan perasaannya, Dita sudah terlebih dahulu menerima cinta Rangga, jadi Dokter Rizki memilih untuk mundur.
"Rizki, kamu kerja di sini juga?" tanya Dita.
"Iya, aku sudah beberapa bulan menjadi Dokter kandungan di sini, dan aku tidak pernah mengira jika kamu juga bekerja di Rumah Sakit Pratama."
"Kebetulan hari ini adalah hari pertamaku kerja," ucap Dita dengan tersenyum.
Kalau jodoh pasti bertemu dengan cara apa pun juga. Dari dulu aku sudah jatuh cinta padamu Dita, semoga saja kamu memang ditakdirkan untukku, ucap Dokter Rizki dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Dika yang juga sudah menyelesaikan pekerjaannya, menghampiri Dita yang sedang berbincang dengan Dokter Rizki.
"Sayang, sudah selesai prakteknya?" tanya Dika.
Deg
Jantung Dokter Rizki berhenti berdetak ketika mendengar Dika memanggil Dita sayang, padahal Dokter Rizki sudah berharap jika kali ini dirinya bisa mendekati Dita.
"Sudah Yah. Ayah sudah selesai juga kan?" Dita balik bertanya.
"Ayah sudah selesai juga kok. Sepertinya kalian berdua sudah saling mengenal ya?" tanya Dika.
__ADS_1
"Iya Tuan, kebetulan kami satu angkatan saat kuliah," jawab Dokter Rizki yang mengenal Dika sebagai pemilik Rumah Sakit.
"Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang, Ayah sudah lapar nih," ujar Dika, dan Dokter Rizki terlihat kebingungan, dan mengira jika Dita adalah istri dari Dika, padahal setau Dokter Rizki, Dika masih lajang.
Apa mungkin Tuan Dika adalah calon Suami Dita? mereka juga sudah terlihat akrab, sepertinya aku sudah terlambat lagi untuk mendapatkan Dita, ucap Dokter Rizki dalam hati.
"Ki, kamu kenapa? apa kamu mengira kalau aku Sugar Baby nya Tuan Andhika Pratama?" tanya Dita dengan tersenyum, karena sebelumnya Dokter Asyifa mempunyai pemikiran seperti itu.
"Memangnya kamu dan Tuan Dika mempunyai hubungan apa?" tanya Dokter Rizki yang merasa penasaran.
"Ayah Dika adalah Ayah angkat aku. Ya sudah, kalau begitu kami duluan ya, selamat bekerja," ucap Dita kemudian bergandengan tangan dengan Dika ke luar dari Rumah Sakit.
Dokter Rizki bernapas lega ketika mengetahui kalau Dita dan Dika bukanlah pasangan kekasih, melainkan mereka mempunyai hubungan keluarga.
"Syukurlah ternyata Dita dan Tuan Dika bukan pasangan kekasih, jadi aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Dita. Tapi, bukannya Dita sudah memiliki pacar yang bernama Rangga? semoga saja mereka sudah putus," gumam Dokter Rizki dengan tersenyum, dan Dokter Rizki begitu antusias untuk mendapatkan Dita.
......................
Dika terus saja menggoda Dita karena dari tatapan Dokter Rizki, Dika tau kalau Dokter Rizki menyukai Dita.
"Sayang, Ayah lihat sepertinya Dokter Rizki suka deh sama kamu," ujar Dika.
"Kamu itu polos banget sih, sudah tentu alasannya karena Rizki cemburu sama kamu dan Rangga, tapi bagus deh kalau kalian sudah saling mengenal, karena Dokter Rizki adalah Calon yang Ayah pilihkan untuk kamu."
"Apa? Yah, mana mungkin Dita nikah sama Rizki, kami sudah saling mengenal cukup lama, bahkan bisa dibilang kita berteman."
"Justru itu, jadi akan lebih mudah untuk Dita jatuh cinta dengan Rizki, karena biasanya cinta akan datang setelah seseorang saling mengenal, bukannya ada pepatah tak kenal maka tak sayang?"
"Iya, iya, gimana Ayah saja deh," ujar Dita yang terus saja bercanda dan tertawa sepanjang jalan menuju parkiran, sehingga membuat semua orang yang melihat Dika dan Dita mengira jika mereka adalah sepasang kekasih, apalagi Dika masih terlihat sangat muda.
Setelah sampai parkiran, Dika mempersilahkan Dita untuk naik ke atas motornya.
"Silahkan naik My Princess."
"Makasih banyak Ayahku yang tampan, baik hati dan tidak sombong."
Setelah Dita naik ke atas motor, Dika melajukan motornya untuk pulang, tapi sebelum itu mereka memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di restoran.
__ADS_1
Ketika Dika dan Dita turun dari motor, mereka melihat Dokter Asyifa yang sedang saling tarik menarik tas dengan seorang lelaki paruh baya, sehingga Dika dan Dita menghampirinya.
Dokter Asyifa hampir saja terjatuh ketika lelaki paruh baya tersebut berhasil mengambil tas Dokter Asyifa, tapi Dika berhasil menangkap tubuhnya, sedangkan Dita merebut kembali tas milik Dokter Asyifa.
"Siapa kalian? berani sekali ikut campur urusanku dan Syifa," teriak lelaki paruh baya tersebut.
"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu, bisa-bisanya Anda berniat mengambil tas oranglain," ujar Dika.
"Syifa bukan oranglain, tapi dia adalah Anak tiriku, wajar saja jika aku meminta uang kepadanya."
"Dasar benalu tidak tahu malu, kalau kamu mau uang seharusnya kamu bekerja, bukannya merebut milik oranglain," ujar Dika yang merasa kesal.
"Tapi dia bukan oranglain, karena dia adalah Anakku juga."
"Jika Anda menganggap Syifa sebagai Anak, seharusnya orangtua tidak membebani Anak, apalagi sampai menjadikan Anak sebagai tulang punggung keluarga. Ternyata masih ada orang serendah Anda yang bisa-bisanya berbuat seperti itu, sekarang saya minta Anda jangan mengganggu Syifa lagi, karena kalau Anda masih berusaha untuk mengganggunya apalagi sampai meminta uang, saya tidak akan segan-segan untuk melaporkan Anda kepada pihak berwajib. Atau Anda mau sekarang juga saya meneriaki Anda maling supaya banyak orang yang datang ke sini untuk memberi pelajaran kepada Anda?" ujar Dika, sehingga Ayah tiri Dokter Asyifa lari meninggalkan tempat tersebut.
Dokter Asyifa terlihat kagum kepada Dika yang berwibawa saat berbicara.
Ternyata Dika memang tidak seperti yang aku pikirkan, dia terlihat bijak dan juga berwibawa saat berbicara, bahkan Ayah saja yang tidak pernah mau mengalah terhadap oranglain, dibuat diam oleh Dika, ucap Dokter Asyifa dalam hati.
"Pak Dika, Dita, terimakasih banyak atas pertolongannya, saya tidak tau apa jadinya jika kalian berdua tidak datang, karena Ayah tiri saya tidak akan segan-segan untuk mengambil semua uang yang saya miliki," ucap Dokter Asyifa.
"Sama-sama Dok, sudah seharusnya sebagai sesama manusia kita saling tolong menolong. Oh iya, sekarang Dokter mau kemana?" tanya Dika.
"Saya mau makan Pak, makanya saya berhenti dulu di sini. Kalau kalian berdua mau kemana?"
"Kami juga mau makan, kalau begitu mari kita makan bersama, biar saya yang traktir, karena kemarin saya sudah berniat untuk mentraktir Dokter Asyifa, tapi Anda keburu pulang," ujar Dika.
"Tapi seharusnya saya yang mentraktir kalian, karena kalian sudah menolong saya," ujar Dokter Asyifa yang merasa tidak enak.
"Hitung-hitung sekarang kita merayakan hari pertama kita semua bekerja, dan nanti Dokter Asyifa bisa mentraktir kami setelah gajihan," ujar Dika.
"Oke siap, tapi sebaiknya panggil saya Syifa saja, apalagi sekarang sudah di luar Rumah Sakit."
"Ya sudah kalau begitu, Syifa, Dita, kalian pesan apa saja yang kalian mau," ucap Dika dengan tersenyum.
Dokter Asyifa terlihat berpikir, kenapa Dika mempunyai uang untuk mentraktir dirinya makan, padahal Restoran tersebut merupakan Restoran yang cukup mewah.
__ADS_1
Kenapa ya Pak Dika bisa mentraktir aku makan di sini, padahal dia kan baru hari pertama bekerja juga? dia kerjanya juga jadi OB. Mungkin dia mempunyai tabungan untuk merayakan hari pertama Dita dan dirinya berhasil mendapatkan pekerjaan. Alhamdulillah kalau rezeki gak bakalan kemana, dan gak boleh ditolak juga, lagi pula aku kan harus berhemat sampai gajihan nanti, ucap Dokter Asyifa dalam hati.