
Kasih terkejut mendengar pertanyaan Bunda Cinta, karena sampai saat ini Kasih sendiri masih belum menyadari tentang perasaannya kepada Ahmad.
"Kenapa Bunda bertanya seperti itu?"
"Seandainya Om Ahmad mencintai Kasih? apa Kasih akan menerima cintanya?" Bunda Cinta kembali bertanya.
"Bukannya dalam hidup ini tidak ada kata seandainya? Om Ahmad adalah sosok lelaki sempurna, saleh, dan tentunya calon Suami idaman setiap wanita, dan Kasih dari dulu selalu mengaguminya, tapi Om Ahmad tidak mungkin mencintai Kasih, karena dari dulu Om Ahmad hanya menganggap Kasih sebagai keponakannya saja."
"Nak, bagaimana perasaan Kasih terhadap Om Ahmad? karena Bunda melihat sendiri saat Om Ahmad pergi, Kasih terlihat sangat kehilangan."
Kasih terlihat melamun, karena tidak bisa dirinya pungkiri saat Ahmad pergi, separuh jiwa Kasih ikut pergi juga bersama Ahmad.
"Bunda, Kasih sendiri tidak tau perasaan apa yang Kasih rasakan untuk Om Ahmad, dan Kasih takut berdosa, karena saat ini Kasih sudah memiliki suami. Jadi, tidak sepantasnya Kasih memiliki perasaan untuk lelaki lain."
"Jodoh adalah rahasia Tuhan Nak, tidak ada yang tau isi hati manusia. Sebaiknya sekarang kita turun untuk sarapan ya, tadi Bunda sudah masak makanan kesukaan Kasih," ujar Bunda Cinta, kemudian menggandeng tubuh Kasih untuk ke luar dari dalam kamarnya.
Sepertinya Kasih juga memiliki perasaan yang sama terhadap Ahmad, hanya saja Kasih belum menyadari perasaannya. Semoga saja Ahmad dan Kasih berjodoh, karena aku yakin jika Ahmad tidak akan mempermasalahkan tentang kekurangan Kasih yang tidak bisa memberikan keturunan, dan Ahmad pasti bisa membahagiakan Kasih, ucap Bunda Cinta dalam hati.
......................
Semuanya saat ini sudah berkumpul di meja makan, termasuk Mama Wita dan Papa Diki yang di ajak sarapan juga, dan Mama Wita terus memaksa Dita dan Rangga supaya tinggal di kediaman Argadana, karena Mama Wita ingin selalu dekat dengan Dita.
"Nyonya, dan Tuan Pratama. Kami berniat untuk mengajak Dita tinggal di kediaman Argadana, supaya saya bisa merawat Menantu kesayangan saya," ujar Mama Wita.
Semuanya merasa kasihan terhadap Kasih, karena Mama Wita sangat terlihat menyayangi Dita, tapi Mama Wita terlihat tidak peduli sama sekali terhadap Kasih.
"Kalau kami terserah Anak-anak saja Jeng," ujar Bunda Cinta.
Mama Wita akhirnya kembali bertanya kepada Dita, karena dari tadi Dita masih belum menjawab pertanyaan dari Mama Wita.
"Sayang, Dita mau ya tinggal sama Mama?"
Dita beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Mama Wita.
__ADS_1
"Dita akan tinggal di rumah Mama, tapi Kasih juga harus ikut bersama Dita dan Mas Rangga tinggal di kediaman Argadana."
"Tapi sayang, kalau Kasih ikut nanti_" ucapan Mama Wita terhenti karena Dita langsung memotongnya.
"Maaf Ma, jika Kasih tidak bisa ikut kami, Dita juga tidak akan mau tinggal di kediaman Argadana. Kasih dan Dita sama-sama Menantu Mama, dan Mama harus memperlakukan Kasih dengan baik juga."
Mama Wita terlihat berpikir, karena dirinya tidak mau tinggal berjauhan dengan Dita, apalagi Dita akan segera memberikan pewaris untuk keluarga Argadana.
"Baiklah kalau itu keinginan Dita. Apa pun keinginan Dita, Mama akan selalu mengabulkannya."
Kasih tersenyum kecut mendengar perkataan Mertuanya tersebut, tapi Kasih tidak mungkin menolak keinginan Dita, sehingga mau tidak mau Kasih akan kembali tinggal di kediaman Argadana, apalagi barang-barang serta pakaian Kasih hampir semuanya disimpan di kediaman Argadana.
Setelah selesai sarapan, Kasih membantu Dita membereskan pakaian yang akan dibawa ke rumah orangtua Rangga.
"Kasih, maaf ya karena kamu harus kembali tinggal di kediaman Argadana, padahal aku tau kalau kamu pasti tidak betah tinggal di sana," ucap Dita dengan memeluk tubuh Kasih.
"Tidak apa-apa Dita, meski pun tinggal di sana, aku pasti betah, karena aku akan tinggal sama kamu," ujar Kasih.
Rangga menghampiri Kasih dan Dita yang sudah selesai membereskan pakaian.
"Gak apa-apa kok, semuanya sudah beres, karena Kasih udah bantuin aku," jawab Dita.
Rangga membawa koper Dita dengan sebelah tangan menggandeng Dita.
"Rangga, aku bisa jalan sendiri," ujar Dita yang selalu merasa tidak enak kepada Kasih.
"Sayang, aku tidak mau kalau sampai Anak kita kenapa-napa. Pokoknya selama kamu hamil, kamu tidak boleh bekerja," ujar Rangga, dan Kasih lagi-lagi tersenyum kecut melihat perhatian yang Rangga dan keluarganya berikan kepada Dita.
"Ayah, Bunda, kami pamit ya," ucap Dita dan Kasih yang bergantian memeluk semuanya.
"Sayang, kalian jaga kesehatan ya, Kasih dan Dita harus saling menjaga. Jeng Wita, kami titip Dita dan Kasih ya," ucap Bunda Cinta.
"Jeng Cinta tenang saja, kami pasti akan menjaga Dita dengan baik, apalagi Dita akan segera memberikan pewaris untuk keluarga Argadana," ujar Mama Wita.
__ADS_1
"Kami harap Anda tidak membeda-bedakan Kasih dan Dita, karena keduanya sama-sama Menantu Anda," ujar Ayah Ilham, dan Mama Wita hanya diam tanpa berkata apa pun juga.
Rangga membukakan pintu mobil untuk Dita.
"Sayang, kamu duduk di depan ya," ucap Rangga.
"Kasih, kamu saja yang duduk di depan, biar aku yang duduk di belakang," ujar Dita.
"Tidak Dita, aku duduk di belakang saja biar kamu gak pusing," ujar Kasih, kemudian bergegas masuk ke dalam mobil, dan mau tidak mau Dita duduk di sebelah Rangga.
Setelah sampai kediaman Argadana, Mama Wita menggandeng Dita masuk ke dalam rumah.
"Sayang, selamat datang ya di kediaman Argadana. Sekarang Dita akan menjadi Ratu di rumah ini," ucap Mama Wita.
"Mama tidak boleh berkata seperti itu, Kasih adalah Menantu Mama juga, jadi Kasih berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan Dita."
Mama Wita yang tidak mau berdebat dengan Dita hanya diam saja tanpa mau menjawab perkataan Dita.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita ke kamar Dita dan Rangga, Mama sudah mempersiapkan kamar kalian," ujar Mama Wita.
Hati Kasih berdenyut sakit, ketika semua fhoto pernikahannya diganti dengan fhoto pernikahan Dita dan Rangga, bahkan kamar utama yang selama satu tahun ditempati oleh Kasih dan Rangga, kini dipersiapkan khusus untuk Dita, dan semua barang-barang Kasih sudah dipindahkan ke kamar tamu.
"Sayang, ini kamar Dita dan Rangga, Dita suka kan? Mama sudah mengganti semua perabotan di kamar ini, kalau ada yang kurang, Dita tinggal bilang aja sama Mama."
"Ma, kenapa kita masuk ke kamar Kasih? bukannya ini kamar Kasih sama Mas Rangga?"
"Kamar ini adalah kamar yang paling besar di rumah ini, Dita kan sebentar lagi akan memiliki bayi, jadi Dita harus tinggal di kamar yang paling besar supaya lebih leluasa."
"Tapi bagaimana dengan Kasih? sebaiknya Dita tidur di kamar lain saja."
"Mama sudah memindahkan semua barang Kasih ke kamar tamu, jadi Dita tidak perlu khawatir."
"Tapi Ma_" perkataan Dita terputus karena Kasih akhirnya angkat suara juga.
__ADS_1
"Dita, Mama benar, sebaiknya kamu yang tinggal di kamar ini, biar aku yang tinggal di kamar tamu," karena selama ini aku hanyalah Menantu yang tidak di anggap, lanjut Kasih dalam hati.