
Iqbal yang cerewet terus bertanya kepada kedua orangtuanya tentang Surga dunia, karena saat ini Ilham masih terlihat bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Iqbal, sampai akhirnya Bunda Cinta mencoba menjelaskan kepada Iqbal.
"Sayang, kalau Iqbal ingin merasakan Surga dunia, Iqbal harus rajin beribadah, supaya Allah SWT memberikan ketenangan pada hati Iqbal. Surga dunia itu bermacam-macam, bisa dengan dianugerahi kesehatan, kebahagiaan, dan kuncinya kita harus selalu bersyukur dengan semua anugerah serta nikmat yang Allah SWT berikan, karena dengan bersyukur kita akan merasakan nikmatnya Surga dunia."
"Jadi seperti itu ya Bunda? Iqbal akan lebih taat lagi dalam menjalankan ibadah, supaya Iqbal bisa merasakan nikmatnya Surga dunia. Kalau begitu sekarang Iqbal Shalat Dzuhur dulu ya," ujar Iqbal, dan sekarang Ayah Ilham bisa bernapas lega.
"Alhamdulillah Ayah tertolong," gumam Ayah Ilham dengan cengengesan.
"Yah, kalau ngomong di depan Anak yang masih belum dewasa itu harus dipikir dulu, jadi repot kan kalau kita tidak bisa menjawab pertanyaannya," ujar Bunda Cinta.
"Iya sayang, Ayah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bunda memang terbaik," ujar Ayah Ilham dengan memeluk tubuh Bunda Cinta, sehingga membuat Kasih merasa iri dengan keharmonisan rumah tangga kedua orangtuanya.
Apa mungkin aku dan Mas Rangga bisa bahagia seperti Bunda dan Ayah yang selalu terlihat harmonis, padahal usia pernikahan mereka sudah tujuh belas tahun. Apa aku salah jika mengharapakan cinta dari Suamiku sendiri, meski pun pada kenyataannya cinta Suamiku bukanlah untukku, ucap Kasih dalam hati dengan merasakan sesak dalam dadanya.
Setelah selesai makan, Kasih dan Rangga berpamitan untuk pulang, meski pun Rangga merasa berat untuk meninggalkan kediaman keluarga Pratama karena sekarang Dita tinggal di sana.
"Rangga, Ayah titip Kasih ya, jika memang Kasih lalai dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, Ayah harap kamu bersedia untuk mengingatkannya, bimbing Kasih menuju jalan yang diridhai oleh Allah SWT."
"Insyaallah Yah, Rangga akan melaksanakan kewajiban Rangga sebagai seorang Suami," jawab Rangga dengan mencium punggung tangan Bunda Cinta dan Ayah Ilham secara bergantian.
"Kasih sayang, semoga Kasih selalu diberikan kesehatan. Besok Kasih datang ke Rumah Sakit ya supaya Dita bisa memberikan pengobatan, dan Kasih harus segera mengatakan tentang penyakit yang Kasih derita kepada Rangga," bisik Cinta supaya Rangga tidak mendengarnya.
Setelah Rangga dan Kasih mengucapkan Salam, mereka meninggalkan kediaman Pratama menuju rumah kedua orangtua Rangga, meski pun Kasih sebenarnya ingin sekali hidup terpisah dengan Mertuanya, tapi Mertuanya selalu melarang Kasih dan Rangga ke luar dari rumah mereka, dengan alasan ingin selalu dekat dengan Rangga yang notabene nya adalah Anak tunggal mereka.
__ADS_1
Kasih dan Rangga sibuk dengan pikirannya masing-masing, sehingga dalam mobil sepi tanpa ada percakapan, sampai akhirnya Kasih meminta Rangga untuk berhenti di sebuah Taman yang mereka lewati, karena bagaimanapun juga Rangga berhak tau tentang penyakit yang saat ini Kasih derita.
"Mas, apa bisa kita berhenti sebentar? ada yang harus kita bicarakan," ujar Kasih, dan Rangga akhirnya menepikan mobil yang ia kendarai.
Kasih mengajak Rangga untuk duduk di sebuah bangku taman.
Setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, Kasih akhirnya angkat suara.
"Mas, sebenarnya kemarin Kasih sudah melakukan pemeriksaan rahim Kasih kepada Dokter kandungan. Dokter mengatakan jika Kasih mandul dan tidak akan bisa memiliki keturunan," ucap Kasih dengan menangis.
Rangga begitu terkejut dengan perkataan Kasih, dan Rangga yang tidak tega melihat Kasih menangis, membawa Kasih ke dalam pelukannya.
"Kasih yang sabar ya, meski pun Kasih tidak bisa memiliki keturunan, semua itu tidak masalah untuk Mas, kalau perlu, nanti kita bisa mengadopsi Anak dari Panti Asuhan," ujar Rangga yang mencoba menghibur Kasih.
"Jika memang Tuhan sudah mentakdirkan kita untuk tidak memiliki keturunan, kita bisa apa?"
"Yang mandul adalah Kasih, tapi Mas Rangga masih bisa memiliki Anak dari perempuan lain."
"Apa maksud kamu Kasih?"
"Mas Rangga bisa menikah dengan perempuan yang Mas Rangga cintai, bukannya selama ini Mas Rangga hanya merasa kasihan kepada Kasih, sehingga Mas Rangga terus mempertahankan rumah tangga kita? karena sebenarnya Mas Rangga masih mencintai cinta pertama Mas Rangga?"
Rangga terdiam mendengar perkataan Kasih, karena semua itu benar adanya, tapi Rangga tidak bisa menceraikan Kasih, karena Rangga akan merasa sangat berdosa jika menyakiti hati perempuan baik seperti Kasih.
__ADS_1
"Kasih tau jika cinta Mas Rangga bukan untuk Kasih. Kalau memang Mas Rangga ingin menceraikan Kasih, Kasih akan ikhlas menerima semua itu, karena Mas Rangga berhak mendapatkan perempuan yang sempurna yang bisa memberikan keturunan untuk Mas Rangga."
"Kasih maaf, aku tidak pernah bermaksud untuk mengkhianati pernikahan kita," ucap Rangga dengan lirih.
"Cinta tidak bisa dipaksakan Mas, dan Kasih mengerti tetang semua itu. Mas Rangga berhak mendapatkan kebahagiaan Mas, apalagi sekarang Mas Rangga sudah memiliki alasan yang kuat untuk menceraikan Kasih. Kasih adalah perempuan cacat yang tidak bisa memiliki keturunan, bahkan Kasih penyakitan, karena ternyata Kasih juga memiliki penyakit kista ovarium, jadi mau tidak mau rahim Kasih harus di angkat."
Rangga semakin merasa bersalah kepada Kasih karena selama ini Rangga selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga Rangga tidak pernah bisa mengantar Kasih untuk berobat ketika Kasih mengeluh kesakitan pada perutnya saat Kasih datang bulan.
"Maaf Kasih, semua itu salahku yang kurang perhatian kepada kamu, seharusnya sebagai seorang Suami aku memperhatikan kesehatan istriku. Mulai sekarang aku akan selalu ada untuk kamu, kalau perlu kita akan melakukan pengobatan ke luar negeri supaya penyakit kamu bisa sembuh tanpa harus melakukan pengangkatan rahim."
"Semuanya sudah terlambat Mas, karena penyakit kista ovarium yang Kasih derita sudah berubah menjadi miom, dan Kasih sudah tidak mempunyai pilihan lagi selain melakukan operasi pengangkatan rahim, karena kalau tidak, sel tumor pada rahim Kasih akan menyebar ke bagian tubuh lainnya."
"Apa pun yang terjadi kita akan melewatinya bersama," ucap Rangga yang merasa kasihan terhadap istrinya.
"Mas tidak perlu merasa kasihan, karena mungkin ini adalah jalan untuk Mas Rangga bisa bersatu dengan perempuan yang Mas Rangga cintai."
"Tapi perempuan itu sudah tidak bisa Mas miliki lagi, karena dia tidak mau menyakiti hati kamu. Jadi, sebaiknya sekarang Kasih bantu Mas untuk melupakan perempuan itu."
"Bukannya selama satu tahun ini Kasih sudah berusaha untuk membantu Mas? tapi kenyataannya Mas tidak pernah bisa melupakan bayang-bayang perempuan itu. Jadi, Kasih sudah memutuskan jika Kasih rela dimadu dengannya," ujar Kasih, dan Rangga begitu terkejut dengan keputusan yang Kasih ambil.
"Kasih, di Dunia ini tidak akan ada perempuan yang rela untuk dipoligami, dan aku tidak mau menyakiti hati seorang wanita, karena sama saja aku menyakiti hati Ibuku sendiri, karena aku juga terlahir dari rahim seorang perempuan."
"Jika saja perempuan itu adalah oranglain, Kasih tidak akan mungkin mengambil keputusan ini Mas, tapi kenyataannya perempuan yang Mas Rangga cintai adalah saudara Kasih sendiri, jadi Kasih rela mengorbankan perasaan Kasih untuknya, seperti dia yang sudah rela melepas Mas Rangga untuk kebahagiaan Kasih," ucap Kasih dengan menahan sesak dalam dadanya.
__ADS_1
"Ja_jadi kamu sudah tau siapa perempuan yang selama ini aku cintai?"