Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)

Pengorbanan Cinta 2 (Istri Untuk Suamiku)
Bab 58 ( Kontrak seumur hidup )


__ADS_3

Ahmad menghela nafas panjang ketika mendengar pertanyaan Kasih.


"Iya, Kasih benar, Om benci sekali sama Kasih," ucap Ahmad, dan Kasih terlihat sedih mendengar jawaban Ahmad.


"Tapi Bencinya kepanjangan dari benar-benar cinta," ujar Ahmad dengan tersenyum, dan Kasih melongo tanpa bisa mengatakan satu patah kata pun.


"Apa jawaban Kasih? apa setelah selesai masa Iddah, Kasih bersedia menandatangani kontrak seumur hidup dengan Om?"


Kasih terlihat berpikir dengan pertanyaan Ahmad, karena Kasih merasa tidak pantas menjadi pendamping hidup Ahmad.


"Sebaiknya Om Ahmad pikirkan lagi semuanya dengan matang. Om tau sendiri jika Kasih adalah perempuan cacat yang tidak akan bisa memberikan keturunan, dan semua itu tidak adil untuk Om Ahmad. Om adalah laki-laki sempurna, dan Kasih merasa tidak pantas untuk Om_" perkataan Kasih terhenti karena Ahmad menempelkan telunjuknya pada bibir Kasih.


"Sudah cukup bicaranya. Kasih, tidak ada manusia sempurna di Dunia ini, apalagi Om. Om hanyalah manusia biasa yang penuh dengan kekurangan, tapi Om yakin jika Kasih akan menjadi pelengkap kehidupan Om. Kita sudah memiliki banyak Anak di Panti Asuhan, dan Kasih adalah Ibu dari mereka semua, jadi Kasih jangan pernah bilang kalau Kasih tidak bisa memberikan keturunan."


"Om, apa bisa Kasih meminta waktu untuk memutuskan semuanya? meski pun secara Agama Kasih dan Mas Rangga sudah bercerai, tapi secara Negara, kami masih belum bercerai."


"Baiklah kalau itu kemauan Kasih. Om akan terus menunggu sampai saat itu tiba. Ya sudah sebaiknya sekarang kita pulang ke Panti, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."


Sepanjang perjalanan menuju Panti, Kasih tertawa bahagia, karena Ahmad terus saja bercanda, dan Anak-anak yang melihat kedatangan Kasih dan Ahmad, langsung berhambur memeluk tubuh kedua orangtua asuh mereka tersebut.


"Abi kemana saja? kenapa baru ke sini lagi? kami kangen sekali sama Abi dan Umi," ujar salah satu Anak Panti yang saat ini berada dalam gendongan Ahmad.


"Sayang, mulai sekarang Abi dan Umi akan tinggal bersama kalian, dan Abi akan membangun rumah di tanah kosong yang berada di samping Panti."


Anak-anak bersorak gembira ketika mendengar Ahmad akan membangun rumah di dekat Panti.


"Yeay, jadi setiap hari kami bisa makan masakan Umi yang sangat enak," ucap Anak-anak dengan tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang kalian main lagi ya, Abi mau bicara dulu sama Umi kalian," ujar Ahmad yang melihat Kasih kebingungan.


"Apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Ahmad kepada Kasih.


"Jadi Om akan pindah ke sini?"


"Iya, tadi Om sudah melakukan serah terima jabatan dengan Kapolres kota Bogor, makanya selama dua bulan ini Om tidak pernah menghubungi Kasih, karena Om sibuk mengurus dokumen pengajuan mutasi."


Kasih masih diam mencerna kata-kata Ahmad, karena Kasih pikir selama dua bulan ini Ahmad tidak pernah memikirkannya, dan Kasih merasa bahagia mendengar Ahmad akan selalu berada di dekatnya.


"Umi, nanti kita akan membangun rumah di samping Panti, supaya kita bisa terus dekat dengan Anak-anak kita," ujar Ahmad dengan tersenyum manis, sehingga membuat jantung Kasih berdetak kencang, karena Kasih tidak menyangka Ahmad serius terhadap dirinya.


"Udah gak usah dijawab. Sekarang sebaiknya Umi mandi dulu gih, nanti setelah Umi mandi, kita makan bersama Anak-anak," sambung Ahmad, dan semua itu terasa seperti mimpi untuk Kasih, karena saat ini Kasih mendapatkan perhatian dari seseorang, bahkan Kasih melihat Ahmad begitu tulus terhadapnya.


Jika ini hanya mimpi, aku tidak ingin pernah bangun dari mimpi indah ini. Aku tidak pernah mengira jika aku mendapatkan perhatian dari sosok Pangeran yang selalu aku kagumi, ucap Kasih dalam hati, dengan terus mengembangkan senyuman.


Semoga kita bisa ditakdirkan hidup bersama Kasih, karena itu adalah impian terbesarku sejak dulu, ucap Ahmad dalam hati.


......................


Rangga dan Dita saat ini akan berangkat menuju Pengadilan Agama untuk mengajukan gugatan cerai Rangga terhadap Kasih, dan Mama Wita begitu bahagia mengetahui semuanya.


"Dita sayang, sebaiknya Dita gak usah ikut ke Pengadilan Agama, Mama takut kalau Cucu Mama sampai kenapa-napa jika Dita banyak gerak."


"Ma, Dita dan bayi kami insyaallah akan baik-baik saja, jadi Mama tidak perlu khawatir. Dita dan Rangga juga akan berkunjung terlebih dahulu ke kediaman Pratama sebelum berangkat menuju Pengadilan Agama, karena Dita harus mengambil vitamin untuk kandungan."


"Ya sudah kalau begitu. Rangga kamu jaga Menantu dan Cucu kesayangan Mama baik-baik ya, jangan sampai mereka lecet sedikit pun."

__ADS_1


"Sebenarnya yang Anak Mama itu siapa sih? kenapa Rangga jadi merasa jika Dita yang Anak kandung Mama," gerutu Rangga.


"Udah gak usah cemberut, udah mau jadi Ayah juga masih saja manja," ujar Dita kemudian menggandeng Rangga menuju mobil.


Dita dan Rangga akan mengatakan tentang kepergian Kasih dari kediaman Argadana kepada Bunda Cinta dan Ayah Ilham, karena bagaimanapun juga mereka berhak mengetahuinya.


"Sayang, Ayah sama Bunda pasti marah sama aku karena sudah bersikap tidak adil terhadap Kasih sehingga membuat Kasih pergi dari rumah."


"Rangga, aku tau bagaimana sifat Ayah dan Bunda, mereka pasti akan selalu bersikap bijaksana," ujar Dita mencoba menenangkan Rangga yang terlihat cemas.


Sesampainya di kediaman Pratama, Dita terus menggenggam erat tangan Rangga, dan ternyata semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga.


Dita dan Rangga mengucapkan Salam ketika masuk, dan Ilham terlihat mencari keberadaan Kasih yang tidak datang bersama Dita dan Rangga.


"Nak, kemana Kasih? kenapa Kasih tidak ikut kalian?" tanya Ayah Ilham.


"Yah, sebaiknya biarkan Anak-anak duduk dulu, mereka baru saja datang, pasti Dita masih cape, apalagi saat ini Dita sedang hamil muda," ucap Bunda Cinta kepada Ayah Ilham.


"Ayah, Bunda, maafkan kami, karena sebenarnya kemarin malam Kasih telah pergi dari kediaman Argadana," ucap Dita dengan lirih.


"Ke_kenapa bisa seperti itu?" tanya Ayah Ilham yang begitu terkejut.


Dita memberikan surat yang ditulis oleh Kasih kepada Ayah Ilham, dan Ayah Ilham begitu terkejut dengan keputusan yang Kasih ambil.


"Rangga, pasti kamu yang sudah menyebabkan Kasih pergi dari kediaman Argadana kan? seharusnya kamu bisa bersikap adil terhadap Kasih dan Dita !!" teriak Ayah Ilham yang merasa kecewa terhadap Rangga.


"Yah, maaf jika Rangga sudah membuat Ayah kecewa, tapi dari awal Rangga tidak pernah mencintai Kasih, dan mungkin ini yang terbaik untuk hubungan kami, jika kami tetap bersama, kami bertiga hanya akan terus saling menyakiti, dan mungkin dengan Rangga dan Kasih bercerai, kasih akan mendapatkan kebahagiaan dari lelaki yang tulus mencintainya."

__ADS_1


"A_apa maksud kamu?" tanya Ayah Ilham yang merasa terkejut dengan perkataan Rangga.


__ADS_2