
Dokter Asyifa merasa terkejut mendengar perkataan Dika, karena saat ini Dokter Asyifa masih belum siap jika harus ikut ke rumah Dika, apalagi dikenalkan dengan keluarganya.
"A_apa Mas Dika tidak salah bicara?"
"Memangnya apa yang salah dengan perkataanku? bukannya kamu juga ingin kenalan dengan Bundanya Dita?" tanya Dika.
"Aku hanya merasa penasaran saja dengan sosok Ibu angkatnya Dita."
"Ibu angkatnya Dita adalah perempuan paling cantik di Dunia ini," ujar Dika, dan entah kenapa Dokter Asyifa merasa cemburu mendengar perkataan Dika.
Kenapa dengan hatiku? kenapa aku merasa tidak rela mendengar Mas Dika memuji perempuan lain? ucap Dokter Asyifa dalam hati.
"Syifa, kenapa kamu diam saja? apa kamu merasa cemburu mendengar aku memuji perempuan lain?"
"Aku tidak punya hak untuk cemburu, karena kita bukan siapa-siapa."
"Kalau begitu sekarang juga aku akan menikahimu supaya kamu menjadi istriku."
"Jangan bercanda Mas, kita baru beberapa hari saja saling mengenal, aku takut kalau Mas Dika menyesal setelah menikah denganku."
"Aku sudah bilang kalau kita bisa pacaran setelah menikah. Memangnya apa yang harus aku sesali? apa karena kamu adalah tulang punggung keluarga?"
"Itu Mas Dika tau sendiri jawabannya."
"Nanti setelah kita menikah, insyaallah aku bisa mencukupi semua kebutuhanmu."
"Lalu bagaimana dengan keluargaku? mereka sangat bergantung padaku."
"Kalau memang kamu masih mau bekerja, aku juga tidak akan melarangnya, dan gaji yang kamu dapatkan bisa kamu berikan kepada keluarga kamu. Bagaimana?"
Dokter Asyifa terlihat melamun karena dirinya masih belum percaya jika Dika serius terhadap dirinya.
"Kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak percaya jika seorang OB bisa menafkahi seorang Dokter?"
"Bukannya begitu, hanya saja semua ini masih terasa seperti mimpi untukku. Mas Dika adalah lelaki pertama yang mengerti dengan keadaanku, karena sebelumnya lelaki yang mendekatiku akan mundur ketika mengetahui kalau aku adalah tulang punggung keluarga. Mungkin mereka takut jika harus ikut membiayai keluargaku juga."
"Aku pikir kamu tidak mau menikah denganku karena aku hanyalah seorang OB. Jika itu alasannya, aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir, bagaimanapun juga semua orang pasti ingin menikah satu kali dalam seumur hidup."
__ADS_1
"Makasih ya, Mas Dika selalu mengerti aku, baru kali ini aku merasa diperhatikan oleh seseorang, bahkan orangtuaku sendiri tidak pernah peduli padaku."
"Kamu yang sabar ya, mulai sekarang aku akan selalu ada untuk kamu, dan kamu tidak perlu cemburu, karena Ibu angkat Dita adalah Cinta, yaitu Adik kembarku sendiri," ujar Dika, sehingga membuat Dokter Asyifa bernapas lega.
Dika menggenggam erat tangan Dokter Asyifa, sehingga membuat jantung Dokter Asyifa berdetak kencang, karena itu adalah pertama kalinya untuk Dokter Asyifa.
Setelah mereka berdua sampai di rumah Dokter Asyifa, Mayang dan Bu Susi sudah terlihat menunggu Dika di depan rumah, karena mereka merasa yakin jika Dika akan mengantar Dokter Asyifa pulang.
Mayang sudah berdandan menor dan memakai pakaian yang seksi untuk memikat Dika, tapi Dika malah terlihat tidak suka kepada Mayang.
"Tuan Dika, mari masuk dulu," ujar Bu Susi sehingga membuat Dokter Asyifa merasa heran, padahal sebelumnya Bu Susi sudah menghina Dika.
"Tidak perlu Bu, saya langsung pulang saja."
Mayang mendekati Dika, tapi Dika langsung mundur.
"Kenapa Tuan Dika mundur? apa karena Tuan Dika takut jatuh cinta kepada saya, sebab saya jauh lebih cantik dan seksi dibandingkan dengan Syifa?" tanya Mayang dengan suara manja.
"Kamu jangan terlalu percaya diri, justru aku risih melihat perempuan yang mengenakan pakaian kurang bahan. Kamu benar, kamu memang jauh jika dibandingkan dengan Syifa," ujar Dika sehingga membuat Mayang langsung mengembangkan senyuman.
"Pasti mata Tuan Dika kelilipan, tidak bisa membedakan mana perempuan yang cantik dan mana yang burik," ujar Mayang.
"Seharusnya kamu malu memuji diri sendiri, karena kenyataannya tidak seperti yang kamu ucapkan. Aku lebih suka perempuan yang menjaga auratnya, karena makanan saja kalau tidak dibungkus harganya pasti akan lebih murah," ujar Dika, sehingga membuat Mayang dan Bu Susi membulatkan matanya.
"Syifa Sayang, Mas Dika pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kamu telpon Mas saja, karena Mas tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti kamu lagi," ujar Dika yang sengaja mengatakan semua itu supaya Mayang dan Bu Susi tidak berani macam-macam kepada Dokter Asyifa, padahal sebelumnya Bu Susi dan Mayang sudah merencanakan hal jahat kepada Dokter Asyifa.
"Hati-hati ya Mas," ucap Dokter Asyifa saat Dika naik ke dalam mobil.
Setelah mengucapkan Salam, Dika melajukan mobilnya untuk pulang.
Syifa sudah takut kalau Bu Susi dan Mayang akan memarahinya setelah Dika pergi, tapi ternyata Ibu tiri dan Adiknya tersebut malah bersikap baik kepada Dokter Asyifa.
"Syifa sayang, kamu sudah makan belum?" tanya Bu Susi, sontak saja Dokter Asyifa merasa heran, karena tidak biasanya Bu Susi berprilaku baik terhadapnya.
"Syifa udah makan Bu, maaf Syifa mau bersih-bersih dulu," ujar Dokter Asyifa dengan bergegas masuk ke dalam rumah.
Saat Dokter Asyifa hendak masuk ke dalam kamarnya, Ayah Dokter Asyifa mencoba untuk mengatakan tentang rencana jahat Bu Susi dan Mayang untuk menikahkan Dokter Asyifa dengan juragan Boim.
__ADS_1
"Syifa," ucap Pak Komar dengan lirih.
"Ada apa Pak? apa ada yang sakit?" tanya Dokter Asyifa dengan berjongkok, karena sudah satu tahun ini Pak Komar menderita struk, sehingga Pak Komar duduk di kursi roda.
"Kamu harus segera menikah Nak, Ibu dan Adik kamu sudah memiliki rencana untuk menikahkan kamu dengan Juragan Boim," ujar Pak Komar.
"A_apa? kenapa mereka begitu tega Pak?"
"Mereka mempunyai banyak hutang kepada Juragan Boim, dan mereka berniat untuk membayarnya dengan menikahkan kamu. Jadi, sebaiknya kamu segera menikah, tapi jangan beritahu mereka tentang rencana pernikahanmu."
Dokter Asyifa terlihat berpikir, karena dirinya tidak mau kalau sampai menikah dengan Juragan Boim yang sudah memiliki empat orang istri.
Apa aku terima saja tawaran dari Mas Dika? aku tidak mau kalau harus menikah dengan Juragan Boim yang sudah banyak memiliki Anak dan Istri, ucap Dokter Asyifa dalam hati.
"Bapak tidak perlu khawatir, Syifa pasti akan segera menikah. Terimakasih ya karena Bapak sudah menceritakan rencana jahat Ibu dan Mayang."
"Nak, seharusnya Bapak yang mengucapkan terimakasih, karena selama ini kamu sudah mengorbankan hidup kamu untuk kami. Maaf kalau Bapak hanya merepotkan kamu saja Nak."
"Tidak Pak, Bapak sama sekali tidak merepotkan, sudah menjadi kewajiban seorang Anak merawat orangtuanya. Sekarang sebaiknya Bapak istirahat, Syifa pasti akan baik-baik saja," ujar Dokter Asyifa dengan mendorong Pak Komar menuju kamarnya.
Setelah membantu Pak Komar untuk berbaring, Syifa masuk ke dalam kamarnya, kemudian bergegas menelpon Dika.
📞"Assalamu'alaikum Syifa," ucap Dika saat mengangkat telpon dari Dokter Asyifa.
📞"Wa'alaikumsalam Mas, apa Mas Dika sudah sampai?" tanya Dokter Asyifa.
📞"Aku baru saja sampai? memangnya ada apa? apa kamu sudah kangen lagi sama aku? padahal kita baru berpisah sebentar saja," goda Dika.
📞"Mas, ada hal penting yang ingin Aku bicarakan," ujar Dokter Asyifa dengan menangis, karena Dokter Asyifa tidak kuat menahan semuanya.
📞"Syifa, kamu baik-baik saja kan? kenapa kamu menangis?"
📞"Ibu ingin menikahkan aku dengan Juragan Boim untuk melunasi hutang ibu dan Mayang. Aku harus bagaimana? aku tidak mau menikah dengan lelaki tua yang sudah memiliki banyak Anak dan Istri."
📞"Astagfirullah, kenapa mereka begitu tega? kamu tenang saja ya, semuanya pasti akan baik-baik saja, karena aku tidak akan membiarkan mereka melakukan semua itu, dan malam ini juga aku akan menikahimu."
📞"A_apa?"
__ADS_1