
#Dukung Kak Fizhi dengan biasakan like, sebelum membaca ya guys, like itu gratis lho....
#Biar tambah semungut nulisnya hehehhe...
#Dan biasakan komen setelah membaca, ok..ok...ok...
#Happy reading
Setelah mereka mengungkapkan perasaannya masing-masing, Dev mendekati Masha, memegang tangannya, melihat ke dalam matanya dan Marsha pun juga melihat kedalam mata Dev. Mereka saling berpandangan, menggenggam tangan.
Masha melihat cinta yang begitu dalam dari mata Dev namun dia berusaha mengingkarinya tidak mau mengakui itu karena egonya yang ingin mendapatkan Alex lebih besar.
Dev mendekatkan wajahnya dan membuat Marsha tersipu malu,wajahnya begitu merona dan membuatnya salah tingkah.
"Muka lu merah kayak tomat, bisa-bisa nya mengingkari kalau lu ga ada rasa apa-apa sama gue"
__ADS_1
"Enggak.." belum selesai menjawabnya, Dev menci um Marsha tanpa meminta ijin lebih dahulu. Marsha tentu saja kaget dengan apa yang diperbuat Dev terhadapnya. Dev menciumnya dengan sangat lembut, menggerakkan bibirnya bermain-main di bibir Marsha.
Bukan nafsu yang dominan saat menci umnya tapi perasaan sedih akan ditinggal orang yang sangat dicintainya, tak terasa air matanya keluar. Deru nafas Dev yang panas dan akhirnya air mata Dev keluar, Marsha dapat merasakan kesedihan Dev sebenarnya dia juga tidak tega,namun dia sudah diterima kuliah di Amsterdam.
Dev masih bermain-main dengan bibir Marsha, berharap Marsha akan membalasnya. Beberapa saat dinanti,gerakan tubuh Marsha pun bereaksi. Marsha meme luk Dev lebih erat,dan bibirnya secara reflek membalas ci uman Dev. Kedua sejoli ini memejamkan matanya menikmati kebersamaan mereka yang mungkin hanya beberapa waktu lagi. Mereka enggan untuk melepaskan ci umannya,apalagi Dev yang begitu takut ditinggalkan oleh Marsha.
Ci uman mereka semakin dalam, Dev membelai rambut Marsha, tangannya mulai bergerilya. Dunia seakan hanya milik berdua,suasana yang begitu tenang di taman membuat mereka begitu leluasa.
"Ehemmm...ehemmmm" terpaksa Kak Fizhi lewat Dev dan Marsha digangguin dikit saudara-saudara sama Kak Fizhi. Reader ga tau apa liat adegan gitu Kak Fizhi yang ada di taman bibirnya ikut monyong-monyong juga..Kak Fizhi nongkrong di taman kan buat cari ilham dan nulis part demi part novel ini. Kak Fizhi secepatnya melewati mereka dan berlalu.😉😊 Ide nulis auto buyar,liat orang ci uman gitu.
"Maaf"
"Dev..emmm" terlihat Marsha yang salah tingkah.
Melihat sekelilingnya tidak ada orang, Dev kembali mencium Marsha namun tidak terlalu lama cuma 18 detik aja hihihi..
__ADS_1
"Yuk pulang" Dev menggandeng tangan Marsha, tidak ada yang mau dibicarakan lagi oleh Dev karena semua sudah dipersiapkan Marsha untuk pergi kuliah di Amsterdam, yang dilakukan Dev hanya bisa mendukungnya.
\=\=\=\=\=
Beberapa hari berlalu Marsha dan Alex berangkat ke Amsterdam, tiba-tiba Dev juga ikut mengantar mereka ke Amsterdam tanpa memberitahu lebih dahulu. Setelah sampai di Amsterdam, Alex langsung menuju unit apartemen nya yang sudah disewa beberapa waktu yang lalu.
Marsha juga menuju apartemennya bersama Dev. Dev membantu merapikan apartemen Marsha agar lebih nyaman ditempati. Marsha awalnya tidak boleh menyewa apartemen karena ayahnya menginginkan dia tinggal dengan kakeknya. Dengan rayuan mautnya akhirnya ayahnya luluh dan diberikan ijin untuk menyewa apartemen sendiri.
Selama di Amsterdam Dev tinggal di apartemen Alex. Mereka membahas sedikit mengenai Marsha " Alex gue titip Marsha mungkin dia masih mengharapkan lu, tapi gue percaya sama lu" tanpa menjabarkan lebih rinci Alex pun sudah tau maksud dari Dev.
"Percaya sama gue Dev! hubungi gue kalau lu butuh bantuan gue,ok!"
Setelah beberapa hari memastikan kehidupan Marsha di Amsterdam, Dev segera kembali ke Indonesia karena dia sendiripun juga harus berkuliah.
#Jangan lupa like untuk setiap part nya ya...untuk mendukung Kak Fizhi untuk terus berkarya.
__ADS_1