Penguntit Jodoh

Penguntit Jodoh
Menghubungi Camer


__ADS_3

#Dukung Kak Fizhi dengan biasakan like, sebelum membaca ya guys, like itu gratis lho....


#Biar tambah semungut nulisnya hehehhe...


#Dan biasakan komen setelah membaca, ok..ok...ok...


#Happy reading


Tapi kalau gue nggak mencoba komunikasi dan nggak tanggung jawab, gue pasti akan merasa sangat berdosa!" pikir Riko, dia harus hati-hati saat bertindak karena apa yang akan disampaikan pastinya akan membuat heboh dua keluarga.


Riko berjalan mondar-mandir di dapur dia memikirkan apa yang harus dikatakan dengan daddynya Adelia. bener-bener banyak yang dipikirkan olehnya. kepalanya begitu pusing memikirkan hal ini namun mau gimana lagi karena ini memang ulah dari mereka berdua.


"Gue harus menghubunginya! tidak ada waktu lagi, apapun yang terjadi...ya.. apapun yang terjadi gue udah siap dengan konsekuensinya!".


Rifki mengambil handphonenya dan mencoba untuk mencari nomor daddynya Adelia yaitu Rifki Xavier.


Drrrt...Drrrt... bunyi dering menandakan teleponnya sudah tersambung dengan nomor Rifki Xavier.

__ADS_1


"Hallo, dengan siapa?"


"Hallo pak Rifki, saya Riko Liandro"


"Liandro? oh ya saya ingat, perusahaan saya sedang bekerjasama dengan perusahaan anda, bagaimana pak Riko?"


"Saya gak enak dipanggil 'pak'?"


"Oh masih muda ya?"


"Hhehee, anak muda ada-ada aja!"


"Sudah cukup intermezzonya, suasana udah mencair kayanya, daddynya Adelia kayanya orangnya enakan juga", pikir Riko.


"Begini pak" Riko mulai menjelaskan dan seketika suasana menjadi serius.


"Sebelumnya saya sangat..sangat minta maaf, sangat minta maaf dan juga saya meminta restu untuk menikahi putri bapak, Adelia".

__ADS_1


"Apa yang terjadi, dia ke Amsterdam kan..." tapi Daddy Rifki tidak melanjutkannya bahwa Adelia sedang menyamar mendekati orang yang dijodohkan, takutnya jika Riko Liandro akan menikahi anaknya, jika tau anaknya menguntit jodohnya malah akan membuat masalah.


"Ada kejadian yang terjadi dengan kami pak, kami diberikan minuman dan kami tidak tau jika sudah diberi obat, dan akhirnya hal itu terjadi, tapi saya akan bertanggungjawab walaupun itu karena efek obat. Sungguh saya akan bertanggungjawab dan saya berniat akan menikahinya secepatnya, jika syarat yang diperlukan sudah beres, saya menelepon bapak untuk meminta restu karena Adelia harus menikah dengan restu walinya" panjang lebar Riko menjelaskannya.


Daddy Rifki sekarang sudah tau keadaannya, dan dia menghela nafasnya, menimbang banyak hal, putrinya harus mengalami hal itu dan ada yang bertanggungjawab, "Setidaknya di Amsterdam ada yang akan menjaganya. perjodohan?entahlah..karena perjodohan itu juga belum fix. Kalau sudah begini mau gimana lagi" pikir Daddy Rifki.


"Sebenarnya saya sangat kecewa dengan apa yang terjadi dengan anak saya, tapi saya tetap menghargaimu karena mau bertanggungjawab walaupun ini tidak murni atas kesalahanmu dan...baiklah aku merestuimu menikahi putriku dan jagalah dia, tapi terpaksa daddy belum cerita ke mommy takut dia syok, kamu mengerti?"


"Baik pak"


"Panggil saja dengan daddy"


Setelah Riko mendapatkan restu dari daddynya Adelia, Riko memutuskan teleponnya.


Daddy Rifki saat ini belum mau untuk menceritakan ke mommy Angelica bahwa dia sudah merestui pernikahan anaknya, setidaknya pada saat Adelia berangkat ke Amsterdam mommynya juga memberikan izin tanpa membicarakan dengan daddynya, untuk sekarang dalam keadaan seperti ini mau nggak mau dirinya harus mau memberikan restu untuk pernikahan anaknya tapi dia masih belum tega mengabarkan ke mommy Angelica apalagi melihat Adelia yang masih belasan tahun.


Riko yang sudah berhasil mendapatkan restu Daddy Rifki segera memproses langkah selanjutnya. "Pasti banyak hal yang harus dilakukan untuk mengurus berkas nikah diluar negeri, emm kayaknya seru juga ngeledekin Adelia?" Riko mengambil teleponnya dan mencoba menghubunginya.

__ADS_1


__ADS_2