Penguntit Jodoh

Penguntit Jodoh
Berkumpul


__ADS_3

Dukung Kak Fizhi dengan biasakan like, sebelum membaca ya guys, like itu gratis lho....


Biar tambah semungut nulisnya hehehhe...


Dan biasakan komen setelah membaca, ok..ok...ok...


Happy reading


Tinggal di Amsterdam Riko mencoba untuk membuat cerita hidup yang baru untuknya. Dia ingin memiliki teman yang benar-benar berteman dengan dirinya tanpa melihat kekayaan orang tuanya. Dia ingin memiliki teman yang sebenarnya atau bisa dikatakan seorang sahabat karena selama ini dia tidak memiliki sahabat yang saling pengertian dan mengisi hari-harinya.


Kali ini yang dilakukan Riko untuk mendapatkan teman yang tidak memandangnya dari sisi harta yaitu merubah tampilannya menjadi lebih sederhana dan tidak mencolok. Dia menggunakan barang-barang yang tidak mewah sehingga tidak kelihatan jika dia adalah orang kaya.


Di Amsterdam Riko berusaha menjadi orang yang sederhana, mencoba berbaur dengan mahasiswa yang lain dan dia pun mulai mengikuti pertemuan dengan mahasiswa lain yang berasal dari Indonesia.


Keluarga Riko merupakan keluarga yang tentu saja terkenal di Indonesia namun Riko sebagai anak pengusaha nomor 1 di Indonesia tidak terlalu terlihat sehingga dia pun tidak dikenali oleh teman-temannya yang sama-sama kuliah di Amsterdam sebagai anak pengusaha besar.


Seperti saat ini mereka sengaja untuk bertemu dan berkumpul dengan mahasiswa lain dari Indonesia di sebuah restoran masakan Indonesia.


Riko datang ke restoran itu dan ternyata di sana sudah ada beberapa temannya yang lain yang berasal dari Indonesia. Dia berkenalan dengan beberapa teman antara lain Bella, Manda, Nissa, Marsha, Alex.


"Ih kangen banget ya sama masakan Indonesia jadi kangen Mamah nih" ucap Marsha.

__ADS_1


"Lho kok kangennya sama mamah gue kenapa nggak kangen sama bunda lu aja kali" jawab Alex.


"Eh kan mamah lu yang suka masak, kayaknya hampir 80% hidup gue makan masakan Mamah Cindy di tempat lu. Wah bener bener Mamah Cindy berjasa besar buat gue sampai bisa gedein gue kayak gini!"


"Jadi lu mesti baik sama mamah gue dong, secara mamah gue udah rela membagi jatah makan gue buat lu hahaha!"


"Ya iyalah mamah lu kan mamah gue!"


"Cieee... mamahnya sama, emang mau jadi mertuanya neng?" ledek teman-temannya.


"Hahaha kalau gue sih ngarep banget!" dengan cueknya Marsha mengatakan itu di depan teman-temannya, namun Alex yang sudah sering mendengar hal-hal yang memancing dia untuk memperhatikan Marsha tidak berlalu menggubrisnya apalagi jika dia mengingat sahabatnya yaitu Dev yang sangat mencintai Marsha.


Teman-temannya mulai agak berpikir bahwa mereka ada hubungan karena memang mereka terlihat sangat dekat selama ini sepenglihatan mereka.


"Wah lu keren Alex lu punya fans garis keras sampai ngikutin hidup lu terus hahaha.." celetuk Nissa.


"Hahaha emang gue cinta sama Alex!"


Temen-temennya yang berada di situ hanya bengong saja dengan apa yang diucapkan oleh Marsha begitu juga dengan Riko yang berada di situ.


"Eh lu jangan menggiring pikiran orang buat mikir macam-macam deh, udah udah ayo kita lanjut makan Marsha mungkin bingung kali mau ngobrol apa sama kalian jadi kayak gitu deh sorry ya sahabatku yang satu ini emang kayak gitu suka jahil!"

__ADS_1


Alex mengambil makanan dan untuk kali ini dia menyuapi Marsha sekali agar dia tidak mengeluarkan kalimat-kalimat yang aneh lagi.


"Hehehehe"Masha hanya terkekeh melihat Alex yang berusaha menyuapi untuk membungkam mulutnya agar tidak mengatakannya hal-hal yang lainnya.


"Sorry sorry sorry gue bercanda doang ya guys, gue senang aja ngeledekin Alex hahaha!" ucap Marsha. Mereka meneruskan makannya di restoran Indonesia yang membuat mereka kangen dengan tanah airnya.


Riko melihat interaksi antara Alex dan Marsha yang begitu dekat dan terlihat memang mereka sudah bersahabat sejak lama. Dalam hatinya dia juga menginginkan seorang sahabat yang benar-benar tulus menjadi sahabatnya.


Setelah mereka selesai makan mereka pun segera kembali ke tempatnya masing-masing. Riko sangat senang mencoba untuk mulai berkumpul dengan teman-temannya yang tidak memandang dia dari sisi harta. Dengan penampilannya yang baru dan mencoba menjadi orang yang sederhana saat dia bertemu dengan teman-temannya yang berasal dari Indonesia. Menggunakan kacamata mungkin terlihat kutu buku, membiarkan rambutnya tidak terlalu tertata dia benar-benar menutupi ketampanannya.


Dia berusaha tidak terlalu mencolok karena dia sendiri pun tidak tahu bagaimana berteman di kalangan biasa.


Jadi untuk sementara dia mengamati teman-temannya dalam berinteraksi.


Salah satu teman lelaki yang berada dalam pertemuan itu yaitu Alex. Namun Marsha selalu berada di sekeliling Alex dan mendominasi pembicaraan dengan Alex jadi untuk sementara Riko belum bisa berkomunikasi banyak dengan Alex.


Dia yang mengerti bahwa dia memiliki teman sesama gender yang berasal dari Indonesia dan berkuliah di Amsterdam. Sejauh ini Riko berkenalan dengan Alex hanya sebatas say hi saja.


Tampilan Riko yang sederhana, membuat dia diperlakukan oleh teman-temannya sewajarnya sebagai seorang teman dan mereka berteman dengan Riko apa adanya, dan perlakuan yang seperti inilah yang yang diharapkan oleh Rico selama ini.


Setelah pulang dari pertemuan itu Riko menyempatkan diri untuk ke perusahaan cabang di Amsterdam. Disana dia melakukan kontrol terhadap proses bisnis di perusahaannya. Saat ke perusahaannya tentu saja dia harus merubah tampilannya menjadi lebih berwibawa dan sangat tampan tentu saja banyak cewek-cewek bule yang bekerja di perusahaan banyak yang melirik Rico.

__ADS_1


Sini Kak Fizhi bisikin babang Riko, pengen punya sahabat?sahabat yang sebenarnya itu pasangan kita..mending lu nyari pasangan aja lah hihihihi..cucok lah kalo ini!


Kak Fizhi pantau nih reader yang ngintip-ngintip novel gak like,komen,gift,vote...tau ga sih?kalau reader kasih like,komen,gift,vote itu buat Kak Fizhi punya kekuatan penuh membuat jempol Kak Fizhi untuk bergoyang menekan keyboard hp nulis part demi part novel ini hehhehh...jangan lupa jempolnya reader ikut goyang nekan tombol like hihihi...ditunggu ya sayangkyuuuu!


__ADS_2