
Karena Riko dan Alex tinggal bersama dan kuliah di jurusan yang sama serta mereka juga ada di kelas yang sama tentunya akan ada banyak kesamaan dan mereka dapat melakukan kegiatan secara bersama-sama.
Karena dalam kondisi pandemic covid-19, Kuliah masih dilaksanakan secara daring. kuliah dengan konsep daring seperti ini memang menguntungkan bagi Alex dan Rico yang masih terkena dampak operasi yang mereka jalani karena mereka masih dalam fase penyembuhan.
Seperti saat ini mereka melaksanakan kuliah secara online menggunakan zoom meeting. Mereka memang belum diperbolehkan untuk melakukan banyak aktivitas namun kalau hanya untuk kuliah sambil duduk di depan laptop masih bisa mereka lakukan.
Alex dan Riko duduk di meja makan sambil membuka laptopnya untuk melaksanakan kuliah.
"Ayo buruan Riko bentar lagi pak Yudis sudah mau mulai kelasnya!"
"Iya iya sabar"
"Tapi dosennya killer banget kalau telat satu menit aja nggak diabsen lho!"
__ADS_1
"Iya ini udah join cuma belum di-accept masuk zoom sama dosennya".
Saat sedang mengikuti kuliah baik Alex dan Riko mereka mendengarkan dengan saksama dan tentu saja mereka sangat serius mendengarkan penjelasan dari Pak Yudis.
Setelah kuliah selesai jika ada beberapa hal yang tidak dimengerti oleh Alex maupun Riko mereka akan saling berdiskusi mengenai kuliah yang tadi baru diikutinya.
Riko begitu senang ia mendapatkan seorang teman yang dapat menemaninya di apartemen, dan dia merasakan bahwa dia memiliki sahabat yang selama ini tidak ditemukan. Riko memang kehilangan ginjalnya namun di satu sisi dia mendapatkan seorang sahabat.
Hari demi hari mereka menjalani kuliah secara daring jika mereka mendapatkan tugas dari dosennya Alex dan Riko akan mengerjakan secara bersama-sama dan mendiskusikannya.
Setelah selesai kuliah, Riko dan Alex makan makan siang sambil menonton televisi. Sambil makan siang mereka juga asyik mengobrol agar mereka saling mengenal satu sama lain dengan teman serumah nya.
"Lex lu pernah cerita dulu katanya lu mau ngejar princess lu?" tanya Riko.
__ADS_1
"Iya gue kuliah di Amsterdam buat ngejar cita-cita gue karena suatu saat gue pengen menjadi orang yang berhasil,ssstttt jangan bilang-bilang ya... gue kuliah di Amsterdam menggunakan beasiswa tapi gue nggak bilang kalau gue dapat beasiswa sama orang tua gue".
"Loh kenapa nggak bilang padahal kalau anaknya dapat beasiswa kan orang tua juga ikut senang kan?"
"Nah itu dia gue kuliah pakai uang beasiswa dan mungkin di situ gue nakal juga ya.. uang bulanan dari orang tua, gue simpan rencananya gue pengen bikin perusahaan sendiri dan nantinya saat gue di pertemukan dengan princess gue, gue sudah mampu untuk menghandle perusahaan sendiri".
"Emang lu nggak tahu princess lu kayak apa? kok lu cerita kesannya lu seakan-akan nggak mengenal princess lho?"
"Keliatan gitu hehhehe..gue emang belum ketemu dia lagi, sebenarnya dia anak kecil yang gue selamatkan dari orang gila yang menculiknya, dan waktu dijemput sama orang tuanya akhirnya orang tua gue dan orang tua princess menjodohkan kami dan nantinya kami akan di temukan saat princess berusia 20 tahun" Alex bercerita panjang lebar.
"Gue enggak mau saat ketemu sama princess gue belum mapan jadi akhirnya gue kuliah di Amsterdam dengan beasiswa, itu salah satu cara gue agar gue bisa mandiri walaupun dengan cara menyimpan uang saku dari orang tua gue, dan gue sadar kalau itu salah karena gue harus menutupi itu semua dan ternyata pada akhirnya takdir gue seperti ini mungkin ini karena gue bohong sama orang tua" lanjut Alex.
"Maafin gue Lex gue juga ikut salah" tentu saja Riko tetap merasa bersalah walaupun dia sudah merelakan ginjalnya untuk di transplantasi ke Alex.
__ADS_1