Penguntit Jodoh

Penguntit Jodoh
Telepon Marsha


__ADS_3

Drrrt ..Drrrt ..


Alex melihat layar telepon dan terlihat ada Marsha yang sedang menghubunginya.


"Apa gue harus angkat teleponnya? rasanya gue masih trauma telepon sama Masha karena setelah telepon dengan Marsha Gue kecelakaan!"


Alex terdiam sejenak melihat layar telepon yang bertuliskan nama Marsha wajar jika Alex masih merasa takut karena waktu dulu setelah ditelepon oleh Marsha akhirnya dia mengalami kecelakaan dan efeknya seperti sekarang, dia menjadi seperti orang yang tidak normal lagi atau tidak lengkap organnya seperti sebelumnya.


Namun dia pun berpikir jika beberapa saat dia menghilang dan sulit untuk dihubungi oleh Marsha bisa saja Marsha memberi kabar ke orang tuanya, sedangkan Alex mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit sampai harus transplantasi ginjal hal itupun dia sembunyikan dari orang tuanya alasannya agar orang tuanya tidak bersedih dan merasa kehilangan karena dia adalah anak satu-satunya.  Tentu saja jika terjadi sesuatu pada Alex, orang tua Alex akan sangat sedih.  Pada akhirnya Alex mengangkat telepon dari Marsha.


 “Halo Sha? Ada apa?”


 “Alex lu di mana Gue udah nyari lu berhari-hari, di kampus di apartemen lu tapi nggak pernah ada batang hidungnya, kemana aja sih susah banget dicari! “Terdengar nada Marsha yang sewot menuntut Sebuah Jawaban.


 “Gue sama temen gue Riko lu tahu kan orang yang kadang ikut pertemuan kalau mahasiswa Indonesia pada ngumpul?"


 “Oh iya…Riko, Iya gue ingat.. lah terus sekarang lu di mana? tadi gue lihat ada orang ngeluarin barang-barang lu di apartemen waktu gue nyari lu di apartemen lu! Ya ampun Alex lu tahu nggak gue sampai ketakutan melihat orang-orang pada beresin barang-barang  lu kali aja lu utang ke rentenir kagak bisa bayar terus barang-barang lu diambilin semua!


“Haahhaha…nggak segitunya kali Sha, gue sekarang tinggal bareng  Riko kebetulan dia sendirian di apartemennya dan kebetulan lagi dia juga satu jurusan dan satu kelas sama gue”.


Flashback on

__ADS_1


Marsha datang ke apartemen Alex dan dari kejauhan terlihat beberapa orang mengangkut barang-barang di apartemen Alex.


“Eh eh  Bapak ngapain bawa-bawa barang punya temen gue ini kan apartemen temen gue!”  ucapan Marsha pada salah seorang pekerja yang membawa barang-barang Alex.


“Maaf mba kita cuma menjalankan tugas untuk mengosongkan apartemen ini!” ucap salah seorang pekerja.


“Tapi nggak bisa… nggak bisa begitu dong! kan ini ada yang punya!” Marsha mencoba menghentikan para pekerja yang memindahkan barang-barang Alex.


“Maaf mbak kita hanya perusahaan jasa untuk pemindahan barang dan kami mendapatkan order untuk  memindahkan barang dari Apartemen ini”.


 “Ta…tapi..” Marsha akhirnya membiarkan karena dia tidak bisa mencegah orang-orang yang sedang memindahkan barang.


Flashbak off


Seketika Alex sedikit panik karena efek dari kecelakaannya membuat mukanya agak sedikit bengkak dan biru-biru sedikit di wajahnya, dan terbesit sebuah ide ia menyalakan video call namun dia mengarahkan ke ke ruangan di kamar apartemen  yang sekarang ditempatinya.


“Tuh kan Sha lu lihat sendiri gue ada di kamar, kamarnya juga nyaman kan? pokoknya lu tenang aja gue di tempat paling nyaman saat ini”.


 Masih mengamati sekeliling kamar yang ditunjukkan oleh Alex dan terlihat memang sangat nyaman.


 “Syukurlah kalau lu di tempat yang lebih baik sekarang,  Oh ya gue mau curhat dong soal Dev!”

__ADS_1


Sebelum Marsha meneruskan pembicaraan mengenai Dev, Alex memotong pembicaraannya rasanya masih ngeri mengurus hubungan Marsha dan Dev, Alex benar-benar tidak mau ikut campur lagi, terakhir dia bantuin hubungan mereka malah berakhir sangat tragis.


“Hubungan lu sama Dev,  lebih baik lu selesaikan sendiri gue yakin lu udah sama-sama dewasa tahu bagaimana caranya bertindak, semua pilihan buat lu dan gue hanya sebagai penonton di sini.  Gue kenal lu gue juga kenal Dev,  dan gue yakin kalian berdua memang benar-benar orang yang baik jika kalian berjodoh itu lebih baik”.


“Tapi Lex lu tau gue cintanya sama lu!”


“Sha lu tuh sahabat gue! gak akan berubah”


“Tapi kan sahabat bisa berlanjut hubungan yang lebih serius”.


“Dengerin gue kita emang deket,  tapi perasaan gue sama elu beda gue tetap nganggap elu sahabat nggak lebih”.


“Tega lu Lex hik hik hik..”


“Sorry Sha bukannya gue tega sama lu tapi biar lu bisa menatap masa depan lu, lu bisa mencari tujuan hidup dan tidak mengharapkan gue terus, jadi mau ga ma mau gue mesti ngomong ini sama lu”.


hik…hik….hik..masih terdengar suara tangisan Marsha.


“Sorry Sha, gue tutup teleponnya ya” dan Alex pun menutup teleponnya. Bukannya tidak peduli dengan perasaan Marsha namun itu memang yang harus dilakukan oleh Alex Karena semua itu yang terbaik juga untuk Marsha.


# Marsha, Kak Fizhi ikut prihatin deh lu ditolak berkali-kali sama cowok yang sama...hemmm....mental lu kuat banget, nggak kayak Kak Fizhi yang nunggu cowok nembak duluan..kagak berani Kak Fizhi nembak cowok kayak lu...

__ADS_1


#Like...like pastiin ya..Kak Fizhi monitor nih! biar ngetik ceritanya sambil senyum-senyum...eh reader gak tau ya, nulis beginian sampe wajahnya pucet, nemenin Alex yang mukanya biru, kalau kak Fizhi  ijo karena pucet efek tanggal tua hahhahah...canda sayangku...like, gift, komen pasti Kak Fizhi sukak deh..


__ADS_2