Penguntit Jodoh

Penguntit Jodoh
Aku Tahu


__ADS_3

#Dukung Kak Fizhi dengan biasakan like, sebelum membaca ya guys, like itu gratis lho....


#Biar tambah semungut nulisnya hehehhe...


#Dan biasakan komen setelah membaca, ok..ok...ok...


#Happy reading


Setelah mengobrol dengan Alex, Riko langsung bergerak untuk mencari tau mengenai keluarga Xavier. Sementara itu Alex pergi ke kamarnya, dia memasuki kamar mandi yang berada di kamarnya, kepalanya begitu berat memikirkan apa yang barusan baru diketahuinya.


Alex membasuh mukanya, telapak tangannya ditekan pada wastafel dia melihat pantulan wajahnya di cermin atas wastafel, menarik nafasnya yang sangat berat. Menenangkan dirinya mengenai semua hal yang terjadi.


Alex keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa, dan tiba-tiba memukul sofa yang sedang di duduki. Dia sengaja memukul sofa agar tidak terdengar pukulannya.


"Marsha!! ini pasti ulah lu! gue tahu itu, pasti elu! gue liat lu yang pesan minuman dan bisik-bisik ke pelayan, itu pasti lu! lama-kelamaan kebangetan, kebangetan lu dah merusak hidup gue, Riko dan sekarang Adelia! gue nggak bakal mau deket sama lu lagi! lu pembawa sial dan musibah!" teriak Alex dalam suara yang diredam agar tidak kedengaran oleh Riko.

__ADS_1


Alex benar-benar tidak menyangka ulah Marsha sudah sangat kelewat batas, dia yang harus kehilangan ginjal mungkin masih bisa meredam marahnya, tapi Adelia dan Riko yang tak tau apa-apa kenapa harus dijebak seperti itu.


"Gue nggak mau punya sahabat seperti dia, gue anggap dia sudah nggak ada!" geram Alex.


Alex menutup mukanya, bernapas dalam-dalam mengambil napas dalam-dalam melalui diafragma di bawah tulang rusuk alih-alih mengambil napas pendek dari dada agar bisa bernapas lebih perlahan dan lebih tenang.


"Kenapa Marsha bisa bertindak segila ini? apa dia sadar dengan apa yang dia lakukan?"


Alex menuju ke kasurnya dan menutup wajahnya dengan bantal.


Riko yang sedang melewati kamar Alex mendengar teriakan Alex segera memasuki kamar Alex.


" Lu kenapa? apa terjadi sesuatu" tanya Riko.


"Eh maaf gue tadi teriak, kedengaran ya? tadi gue pusing berharap abis teriak bisa sembuh" jawab Alex setidaknya pikiran mengenai Marsha dia masih menutupinya, Alex tidak mau menjatuhkan Marsha karena ini hanya pemikiran dia saja dan belum terbukti.

__ADS_1


"Lu ada-ada aja! kalau pusing ke dokter aja Lex"


"Ga lah, udah sembuh kok"


"Wow benarkan teriak bisa ilang pusingnya? kapan-kapan gue coba deh! syukurlah lu gak papa" Riko segera meninggalkan kamar Alex menuju dapur untuk mengambil minum.


Alex masih mencoba menenangkan diri memiliki sahabat yang ternyata membahayakan buat hidup orang lain.


Sementara itu Riko di ruang makan, masih merencanakan untuk menghubungi orang tua Adelia. Selama menjalin kerjasama dengan Rifki Xavier memang hanya orang kepercayaannya yaitu Beniqno yang berkomunikasi, sehingga Riko masih agak canggung untuk mencoba menghubunginya. Apalagi jika pertama kali menghubungi Rifki Xavier hanya untuk membahas putrinya yang sudah ditidurinya. Dia sudah paham mengenai reaksi yang bisa saja diterimanya.


Kontrak kerjasama masih berlangsung dengan perusahaan Xavier grup, bisa saja akan berpengaruh terhadap kontraknya.


Tapi kalau gue nggak mencoba komunikasi dan nggak tanggung jawab, gue pasti akan merasa sangat berdosa!" pikir Riko, dia harus hati-hati saat bertindak karena apa yang akan disampaikan pastinya akan membuat heboh dua keluarga.


#Dimana-mana kalau mau ngomong serius sama calon mertua pasti bikin deg-deg an, Iya Ga?

__ADS_1


#likenya jangan lupa ya...Kak Fizhi pantau nih


__ADS_2