
Rama sedang memeriksa CCTV dihotel yang sama dengan Zahra,ia sedang menyidiki kasus pembunuhan dikamar 145,ia mencoba menelusuri dan memeriksa dengan baik rekaman didepan kamar lokasi pembunuhan itu terjadi.
Rama mencatat setiap inci bukti yang berhasil ia kumpulkan,iapun pergi ke TKP dan memeriksa beberapa sidik jari diselimut serta tempat lainnya yang bisa untuk memperkuat barang bukti.
Zahra masuk kekamar 143,tapi kamar itu kosong,iapun mencari kekamar mandi.
"Ana," panggil Zahra tidak ada jawaban,kamar mandi juga kosong.Perasaan Zahra mulai tidak nyaman.
Ia mendengar pintu tertutup dan bergegas keluar mengira itu Ana.
"Ana...." Zahra tercekat saat melihat pria yang tidak asing baginya,ya..dia adalah Bram pemilik hotel mewah ini.
"Pak Bram," Zahra terlihat sedikit tidak nyaman karena pakaiannya yang belum ganti serta mereka hanya berdua dikamar itu.
"Zahra," Bram berjalan mendekati Zahra,membuat perempuan itu ketar ketir.
"Maaf pak,saya masih banyak pekerjaan," Zahra melangkah,tapi Bram menahan lengannya.
Zahra dengan reflek langsung menangkis tangan Bram, "Jangan sentuh saya!" Pekik Zahra yang sudah tahu maksud dari pria didepannya itu.
"Zahra,jangan sok jual mahal kamu,saya akan berikan berapapun yang kamu mau," ucap Bram sembari mendekati Zahra dan membuat Zahra merasa risih.
"Maaf pak,tapi bapak bisa mencari perempuan lain," Zahra beranjak,Bram ingin menahannya tapi kali ini Zahra sengaja menendang kakinya hingga Bram jatuh dan kesakitan.
"Dasar perempuan sialan," pekik Bram tapi tak dihiraukan oleh Zahra,iapun membuka pintu dan keluar.
Saat diluar dia justru bertemu dengan Rama yg juga baru keluar dari kamar yang berhadapan.
Keduanya terdiam saat saling melihat,Rama segera memalingkan wajahnya saat melihat tubuh sexy Zahra yang sedikit terekpos.
Zahrapun berusaha menutup dadanya dengan tangan,dan terlihat sedikit kikuk,pasalnya baru kali ini dia bertemu Rama dengan pakaian yang cukup terbuka dan entah kenapa dia merasa malu.
Bram keluar dari kamar, "Zahra,"
Rama melirik kearah pria itu,dan mendapat jawaban kenapa perempuan itu kekamar hotel dengan baju seperti itu.
Zahra langsung melangkah pergi dengan terburu karena tidak ingin Bram melecehkannya lagi.
Zahra naik kelift tapi saat lift akan tertutup Rama masuk, membuat Zahra sedikit tercekik,hingga lift tertutup dan mereka hanya berdua diruangan yang sempit itu.
"Jadi ini pekerjaan kamu?" Ucap Rama tanpa melihat kearah Zahra dan justru pertanyaan itu yang membuat Zahra menatapnya.
"Apa maksud kamu?"
Rama menatap balik wajah cantik perempuan yang sedang berdiri didepannya, "Kemarin kamu tanya,perempuan seperti apa yang aku maksud,dan ini jawabannya,perempuan menjijikkan,yang pergi kekamar hotel bersama seorang pria dengan pakaian terbuka,"
"Plakk," tamparan itu melayang kepipi Rama,dengan nafas Zahra yang memburu karena menahan tangis.
Zahra sudah sering mendengarkan perkataan itu berulang kali tapi kenapa kali ini begitu terasa menyakitkan hingga ia tidak bisa mengontrol emosinya.
Rama menatap Zahra sembari memegang pipinya, "kamu berani menamparku?" wajah Rama terlihat begitu marah.
"Harusnya kamu tahu menuduh tanpa bukti adalah sebuah kejahatan," ucap Zahra dengan tegas.
Rama menyeringai tajam, "Kejahatan adalah ketika kamu menghilangkan nyawa seseorang tapi kamu tidak mau mengakuinya,"
Zahra tercekat, "Lalu kenapa?apa kamu punya bukti aku pelakunya,apa yang membuat kamu yakin jika aku memang pelakunya,kamu yang tidak pernah rela kehilangan calon istri kamu,dan mencoba mencari pelampiasan untuk menuangkan amarah kamu," ucap Zahra dengan tatapan yang tajam pada Rama.
__ADS_1
Rama langsung mendorong tubuh Zahra hingga Kedinding dan mencengkeram lehernya.
"Jika aku diberi kesempatan untuk berbuat jahat satu kali saja,aku pasti akan melenyapkan perempuan seperti kamu," ucap Rama dengan cengkeraman tangannya yang semakin kuat,membuat Zahra kesulitan bernafas dan matanya mulai memerah.
Rama memejamkan matanya dan berusaha menenangkan pikirannya agar tidak melewati batas,iapun melepaskan tangannya dari leher Zahra.
Zahra bisa bernafas lega,air mata keluar dari pelupuk matanya.
"Perempuan seperti kamu yang tidak pernah bisa mengakui kesalahan tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang,"
"Ding," lift terbuka dan Ramapun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Zahra yang langsung terjatuh karena tubuhnya merasa lemas atas setiap perkataan dan hinaan yang ia terima barusan.
Ia hanya bisa menangis meratapi begitu kejamnya Rama padanya.
Rama pergi keruangan Tio untuk menyerahkan berkas yang sudah siap disidangkan.
Tio menganguk, "Ternyata kamu masih bisa bekerja dengan benar,aku akan segera mengirimnya pada jaksa," ucap Tio yang entah memuji atau menghina Rama.
"Apa ada pekerjaan lain lagi pak?" Tanya Rama.
"Tidak,silakan kamu keluar," ucap Tio,Ramapun berbalik dan melangkah,saat itu ia mendengar Tio mengangkat ponselnya yang berbunyi.
"Tentu saja pak,saya pasti akan datang besok malam,saya tidak akan menyia-nyiakan pesta yang anda rayakan," ucap Tio dengan seseorang ditelepon,Rama yang mendengar itu menyeringai tajam,dan kembali melanjutkan langkahnya.
Zahra masih melamun ditempat favoritnya,didepan jendela kamarnya,melihat keluar menampakkan birunya langit yang cerah,tidak seperti hatinya yang selalu diselimuti awan hitam.
Fatma datang menghampiri Zahra.
"Zahra," panggil Fatma.
Zahra tidak merespon dan masih menikmati kesendiriannya meskipun ia mendengar panggilan Fatma.
Zahra masih tidak merespon.
"Zahra,kamu dengerin ibu gak sih?" Tanya Fatma dengan nada sedikit tinggi.
Zahra menatap sayu kearah ibunya,ia sangat malas untuk bertengkar karena sudah merasa lelah.
"Aku akan datang," ucap Zahra dengan suara lemah lalu kembali menatap kearah jendela.
Fatma terdiam melihat putrinya yang kini sama sekali tidak melawan perintahnya,kenapa justru perasaan Fatma diselimuti kekhawatiran.
"Bagus,ibu akan tunggu kamu," ucap Fatma tanpa respon dari Zahra,iapun melangkah pergi.
Zahra menyingkap rambutnya lalu menenggelamkan kepalanya diantara dua lutut yang ia angkat keatas,terlihat jelas kegelisahan dan kepedihan dari balik punggungnya.
Arman dalam perjalanan mengantarkan Tiara pulang.
"Jadi kamu udah kenal lama sama Zahra?" Tanya Arman sembari mengemudikan mobilnya.
Tiara menganguk, "Eehm,kami bersahabat dari kecil,kami sudah mengenal dengan baik satu sama lain,gak ada jarak lagi," jawab Tiara.
Arman menganguk dan terukir senyum diwajahnya.
"Meskipun terlihat ceria,aku selalu merasa ada duka Dimata Zahra," ucap Arman membuat Tiara menatapnya.
"Kenapa kamu bisa tahu?" Tanya Tiara memastikan.
__ADS_1
"Aku pernah mengikuti pendidikan psikolog dalam beberapa tahun terakhir,jadi meskipun tidak ahli aku bisa sedikit membaca ekspresi wajah seseorang," imbuh Arman.
"Benarkah?kalau begitu bagaimana denganku,apa kamu bisa membaca juga ekspresi wajahku?" Tanya Tiara dengan begitu semangat.
Arman menatap sekilas kearah Tiara dan tersenyum.
"Kalau kamu sepertinya sedang berbunga-bunga,kamu sedang jatuh cinta?" Sontak pertanyaan Arman langsung membuat wajah Tiara memerah dan iapun menunduk malu.
Arman terkekeh, "Aku hanya bercanda,maaf jika membuatmu tidak nyaman,"
Tiara tersenyum malu, "Tidak papa,"
Rama duduk didepan Rian.
"Cari tahu kemana pak Tio akan pergi besok,aku akan mengikutinya,pasti ini ada hubungannya dengan Bimo," ucap Rama sedikit berbisik Karena masih dikantor.
"Okey," jawab Rian sembari mengacungkan jempol.
Rama menepuk pundak Rian lalu beranjak pergi.
Disebuah ruangan Pak Irwan membanting berkas didepan Zahra dan Ana.
Diruangan itu juga ada Farel bersama Rena.
"Pak Bram membatalkan kontrak kerja kita,bagaimana bisa,apa kesalahan yang sudah kamu lakukan sehingga ia begitu marah dan tersinggung?" Tanya Irwan dengan tegas.Ia merupakan atasan Zahra ditempat fotoshoot.
Ana menatap kearah Zahra,Sedangkan Rena tersenyum tipis melihat kemarahan Papanya pada Zahra.
"Maaf pak,tapi saya tidak mau bekerja sama dengan pria brengsek seperti dia," ucap Zahra dengan tegas membuat semua mata tertuju padanya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Irwan memastikan.
"Dia mencoba melecehkan saya kemarin," jawab Zahra,membuat Ana dan Farel tersentak kaget.
Rena mendengus, "Itu mungkin karena kamu yang menggodanya,Zahra" ucap Rena yang semakin memancing emosi Zahra.
"Maaf Bu,tapi tolong jaga bicara anda," ucap Zahra dengan tatapan tajamnya pada Rena.
"Kenapa?emang bener,kamu Thu cewek penggoda,bahkan kamu seringkan godain suami aku," imbuh Rena yang semakin menjadi.
"Sayang,kamu ngomong apasih?Zahra gak pernah godain aku," ucap Farel pada istrinya itu berusaha membela Zahra.
"Udah kamu diam aja,kamu gak usah belain dia," bantah Rena pada suami yang begitu takut pada bentakannya.
"Pak,tolong beri kami kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya,Zahra akan bekerja lebih baik lagi,saya janji," ucap Ana memelas.
"Ana,aku gak mau kerja sama dengan pria itu lagi," bantah Zahra pada managernya itu.
Ana memicingkan mata pada Zahra.
"Udah pa,pecat aja,Zahra Thu gak bisa bekerja dengan profesional,dia cuma akan merugikan perusahaan," ucap Rena yang membuat suasana semakin memanas.
"Tapi pa,kalo Zahra keluar,perusahaan juga akan mengalami banyak kerugian,karena beberapa majalah tidak ingin menerima model lain selain Zahra," ucap Farel.
"Kamu kok belain dia sih?" Keluh Rena yang kesal pada Farel.
"Sayang,aku gak belain Zahra,tapi ini demi perusahaan sayang," ucap Farel membela diri.
__ADS_1
"Baiklah,saya akan berikan kalian kesempatan,tapi jika hal seperti ini terulang lagi,saya tidak akan mengmapuni kalian lagi," ucap Irwan dengan tegas membuat Rena kecewa berat.
"Baik pak,terimakasih," jawab Ana sedangkan Zahra hanya terdiam,ia sama sekali tidak peduli jika memang harus dipecat,Karena ia memnag sudah merasa lelah.