Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Prang...Prang..." Bimo menghancurkan semua benda-benda yang ada dikamarnya dan membuat suara riuh,ia terlihat sangat marah jika mengingat Rama yang terlihat begitu senang setelah berhasil mempermainkannya.


Fatma masih berdiri didepan pintu kamar Bimo, mendengar suara ribut dari dalam membuatnya enggan untuk masuk, bisa-bisa dia yang akan menjadi tumbal Bimo untuk meluapkan kemarahannya, meskipun dihatinya masih dipenuhi banyak pertanyaan Kenapa Bimo bisa semarah itu,tapi iapun memilih memendamnya dan tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang kesal itu.


Bimo menatap kearah cermin dan melihat dirinya sendiri, "Beraninya kamu melakukan ini pada Bos besar sepertiku,jika aku kehilangan Zahra,kamu juga tidak akan pernah bisa memiliki dia," ucap Bimo dengan seringai tajam lalu melempar vas bunga kekaca itu hingga hancur berantakan.


Zahra menoleh sekilas kewajah Rama yang masih fokus mengemudi,ada hal yang masih mengganjal dibenaknya, tentang kecelakaan Hana yang belum ia ceritakan secara jujur pada Rama,ia takut suatu hari Rama akan tahu kebenarannya dari orang lain dan pasti akan membuatnya sangat kecewa.


"Ada hal penting yang harus kamu tahu," ucap Zahra dengan wajah yang sedikit cemas.


Rama menoleh sekilas dengan wajah heran, "Apa?"


Zahra terdiam, entah kenapa ia merasa takut untuk jujur,ia khawatir jika setelah semua kejujurannya Rama tetap marah dan akan membatalkan lamarannya,tapi jika tidak bicara sekarang ia juga takut rahasia ini justru akan menjadi Bom waktu bagi hubungannya dengan Rama yang suatu saat akan meledak dan menghancurkan semuanya.


Rama mengerutkan dahinya melihat Zahra yang justru melamun, "Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Zahra terperanjat, "Tidak ada,aku akan membicarakan ini besok saja," jawab Zahra yang harus mempersiapkan dulu dirinya sebelum mengatakan semuanya.


Rama hanya menganguk, melihat Zahra yang begitu terlihat tertekan pasti ia sedang memikirkan sesuatu yang cukup rumit dan ia tidak ingin memaksanya untuk bicara.


"Aku bener-bener takut,aku takut kalau Rama mengetahui semuanya dia akan pergi meninggalkan aku, bagaimanapun aku yang bersalah tapi entah kenapa aku tetap tidak ingin melepaskannya,bukankah aku sangat egois?" Ucap Zahra yang saat itu sedang duduk didepan jendela ditemani oleh Tiara.


Tiara melihat tekanan itu kembali Zahra rasakan,kenapa disaat seperti ini,dia harus kembali dihantui ketakutan.


"Tapi Ra, bagaimanapun kamu harus mengatakan semua itu pada Rama,dia berhak tahu semuanya bukan,dan dia juga harus tahu jika Bimo adalah dalangnya,bukankah dia yang memberikan obat padamu,aku yakin jika kamu mengatakannya dengan jujur Rama pasti bisa menerimanya dan bahkan mungkin akan membantumu mengusut kasus ini," ucap Tiara berusaha memberikan saran terbaik kepada sahabatnya.


Zahra terdiam,masih nampak keraguan diwajahnya.


Tiara memegang tangannya, "Ra,setiap hubungan harus diawali dengan kejujuran,dan kamu harus yakin dengan Rama,kamu harus percaya sama dia," imbuh Tiara lagi.


"Baiklah,aku akan bicara dengannya besok,aku akan mengatakan semuanya,semoga dia bisa mengerti," Zahra menghela nafas dan berusaha lebih tenang.


Tiara tersenyum lalu mengusap rambut Zahra dengan lembut.


Dipagi yang cerah itu,Rama sedang sarapan bersama Aminah.


"Oya Bu,mulai hari ini aku akan pindah kerumah baru, kebetulan semuanya sudah siap" ucap Rama yang sudah membeli rumah baru karena tidak ingin terus merepotkan Aminah.


Aminah terlihat sedikit tidak rela jika Rama pergi, tapi ia juga tidak ingin menahannya karena ia tahu betul Rama tidak ingin menyusahkannya.


"Baiklah, yang penting kamu harus hati-hati dan menjaga diri kamu dengan baik," ucap Aminah yang hanya bisa mendukung putranya itu.


Rama menganguk dan tersenyum, "Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku sampaikan keibu,ini soal Zahra..." Rama sebenarnya enggan memberi tahu Aminah tentang hubungannya dengan Zahra,tapi kali ini dia benar-benar serius dan ingin Aminah juga bahagia mendengar kabar ini.

__ADS_1


Aminah mengerutkan dahinya, "Zahra?"


Rama sedikit bingung harus mulai bicara dari mana.


Tapi Aminah sudah menduga jika ada sesuatu antara Rama dan Zahra,dan pastinya itu kabar baik, terlihat dari wajah Rama yang berseri ketika menyebut nama Zahra.


"Drrrttt..." Ponsel Rama berbunyi,Rama terlihat syok saat membaca nama seseorang yang menelfon.


"Siapa Ram?" Tanya Aminah yang melihat Rama tiba-tiba tegang.


"Sebentar ya Bu," Rama berjalan menjauh untuk mengangkat telfon itu membuat Aminah semakin curiga.


"Halo..." Jawab Rama.


"Halo...pak Rama,akhirnya kamu mau mengangkat telfon dariku,apa kabar?maaf karena makan malam semalam kurang harmonis,apa kamu masih kecewa dengan sikapku," ucap Bimo dengan penuh semangat.


Rama mengerutkan dahinya,merasa ada yang aneh tiba-tiba Bimo menelfonnya pagi-pagi begini.


"Tidak apa-apa,saya sudah melupakannya," jawab Rama yang tidak ingin membuat Bimo curiga.


"Bagus kalau begitu,jadi bisakah siang ini kita bertemu,aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian semalam, sekaligus ada hadiah yang ingin aku berikan padamu sebagai tanda permintaan maafku," ucap Bimo yang justru membuat Rama semakin menaruh curiga padanya.


"Baiklah," jawab Rama.


"Kita lihat,apakah kamu masih ingin menikahi Zahra setelah ini," Bimo tertawa lepas dan yakin jika rencananya kali ini pasti akan berhasil.


Zahra sedang bersiap ditempat pemotretan,Ana menghmapirinya dengan wajah yang terlihat masih kesal.


"Ingat,ini kontrak penting bekerjalah dengan baik,maka aku akan merestui pernikahanmu," ucap Ana dengan sinis.


Zahra tersenyum, "Ana...aku menyayangimu," Zahra berusaha merayu Ana agar dia tidak bersikap dingin lagi padanya


"Jangan coba merayuku,aku tidak akan tergoda," Anapun berlenggok pergi meninggalkan Zahra.


Zahra tahu Ana sebenarnya masih sangat peduli padanya, hanya saja mungkin dia merasa gengsi untuk mengungkapkannya.


Mobil Rama berhenti didepan sebuah kafe,ia mulai terlihat cemas memikirkan apa sebenarnya yang sedang direncanakan Bimo, tidak mungkinkah Bimo ingin menghabisi dirinya ditempat umum seperti ini.


Rama tidak ingin terus bergelut dengan pikiran negatifnya, iapun segera turun dari mobil dan masuk kedalam kafe itu,matanya langsung tertuju pada pria yang duduk disudut ruangan dengan dua ajudan yang bediri dibelakangnya.


Bimo tersenyum saat melihat Rama berjalan kearahnya.


"Selamat datang pak Rama,maaf sudah mengganggu waktu kerjamu," Bimo mengulurkan tangannya, meskipun ragu Rama menyambutnya dan iapun duduk berhadapan dengan Bimo.

__ADS_1


Sikap Bimo yang sangat berbeda dengan semalam justru membuat Rama semakin bingung,apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh bandit tua ini.


"Bagaimana hubunganmu dengan Zahra?apakah kalian masih yakin untuk menikah?" Tanya Bimo sembari menghisap rokok dan juga menawarkannya pada Rama tapi Rama menolaknya.


"Seperti yang semalam kita bicarakan,saya masih mengharapkan restu dari anda dan juga ibu Fatma," jawab Rama.


Bimo menganguk, "Tentu saja,aku harus merestui kalian,aku juga ingin melihat putriku bahagia,apalagi dia akan mempunyai suami seorang perwira polisi,pasti hidupnya akan sangat aman dari kejahatan," imbuh Bimo.


"Tapi sebelum itu,aku punya hadiah kecil untuk calon menantuku," Bimo memberikan kotak kecil kepada Rama dengan senyuman di bibirnya.


"Aku berharap kamu akan menyukainya,"


Rama sebenarnya engggan menerima hadiah dari Bimo tapi jika menolak akan lebih tidak sopan apalagi Bimo bersikap cukup sopan hari ini,dia harus mengikuti permainannya dengan baik.


"Terimakasih," ucap Rama yang mengambil hadiah itu lalu memasukkannya kedalam kantong jaket.


Bimo terlihat sangat puas karena rencananya kali ini berhasil, entah apa isi dari kotak itu tapi sepertinya Bimo mempunyai rencana besar dibalik hadiah kecil yang ia berikan kepada Rama.


Usai pemotretan Zahra berusaha menghubungi Rama, tapi tidak diangkat, padahal hari ini dia ingin mengungkapkan kejujuran padanya tentang kecelakaan Hana,tapi apa Rama begitu sibuk hingga tidak bisa mengangkat telfon darinya.


Sore itu,Rama sampai dirumah barunya,ia mengeluarkan barang-barang dari mobilnya dan membawanya masuk kedalam rumah yang mulai hari ini akan ia tempati itu.


Meskipun suasana begitu berbeda tapi ia berharap dapat mengukir cerita yang lebih baik dirumah ini dan bisa melupakan masa lalunya bersama Hana.


Ia duduk sembari menyandarkan punggungnya kesofa, tiba-tiba teringat sesuatu,ia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan kotak kecil pemberian Bimo, kira-kira apa isinya,pikir Rama yang merasa sangat penasaran.Iapun membukanya perlahan,ternyata sebuah memori card, kenapa Bimo memberikan ini padanya,apa ada sesuatu yang penting didalamnya.


Rama yang semakin terlihat penasaran segera mengambil laptopnya ditas dan memasang memori card itu,lalu memutar sebuah video yang tersimpan di memori itu.


"CCTV?" Rama mengerutkan dahinya saat memperhatikan dengan seksama video itu.


Nampak seorang perempuan yang sedang berdiri ditepi jalan, dengan cepat ia mengenali perempuan itu dengan mata terbelalak.


"Hana,"


Hingga sebuah mobil menabrak perempuan itu dan membuat Rama sangat syok melihat perempuan yang pernah mengisi hatinya itu terpental jauh diaspal,Ia bahkan sampai menutup mata karena tidak tega melihat tragedi itu.


Kembali ia dibuat terkejut dengan seorang perempuan yang turun dari mobil dengan tubuh sempoyongan menghampiri tubuh Hana yang sudah tergeletak dan beberapa detik kemudian perempuan itupun jatuh pinsan disamping Hana.


Rama terdiam dengan amarah yang mulai nampak diwajahnya ternyata memang benar Zahralah pelaku utama penabrak Hana, terlihat jelas dari rekaman CCTV itu,bahkan saat Ana memasukkan Zahra kedalam mobilnya dan meninggalkan sang sopir dilokasi kejadian.


Rama berusaha menahan dirinya dan kembali mengulangi rekaman tersebut karena masih belum yakin,tapi pada kenyataannya memang benar-benar Zahra pelakunya,ia benar-benar tidak percaya bukti ini bisa ia dapatkan,tapi kenapa disaat hatinya sudah mulai luluh pada perempuan itu.


Rama menutup laptopnya dengan kasar, terlihat jelas kekecewaan yang mendalam dimatanya,ia memijat kepalanya sembari berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang setelah mendapatkan bukti real dari kecelakaan Hana, haruskah ia kembali membuka kasus Hana dan menjebloskan Zahra kepenjara.

__ADS_1


"Ya Allah," sebut Rama ketika kebingungan itu kembali bersarang dihatinya.


__ADS_2