Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Titik Terang


__ADS_3

Fika masih menunggu dengan wajah cemas didepan ruangan tempat putrinya diperiksa,ia benar-benar takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Mita,ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi putrinya dengan baik.


Rama hanya memandangi Fika yang berjalan kesana kemari itu sambil duduk,kalau benar perempuan didepannya itu adalah Zahra, bagaimana mungkin ia bisa begitu sayang kepada Mita,yang berarti bukan putri kandungnya,ia mulai bergelut lagi dengan perasaan bingung yang membuat dadanya kembali sesak,misteri apa ini,kenapa terkadang ia begitu yakin,tapi dengan begitu mudahnya juga keyakinan itu luntur seketika.


Dokter keluar dari ruangan itu, memberitahu jika kondisi Mita baik-baik saja,ia pinsan karena menghirup terlalu banyak asap,namun tidak ada hal yang serius.


"Kita hanya perlu menunggunya sadar, tidak perlu terlalu cemas," ucap dokter yang mengukir kelegaan diwajah Fika.


Begitupun Rama yang merasa lega karena Mita tidak mengalami luka yang serius,tapi ia sendiri merasa lengannya sedikit terasa nyeri, mungkin karena luka bakar yang tidak ia rasakan sebelumnya,namun ia mencoba untuk menahan rasa itu sebisa mungkin.


Fika mencium wajah putrinya yang masih terbaring belum sadar,ia sangat bersyukur bisa melihat lagi putrinya setelah kejadian yang hampir saja membuat jantungnya berhenti berdetak.


Melihat kasih sayang Fika yang begitu besar membuat Rama sendiri merasa terharu melihatnya,iapun melangkah pergi perlahan tidak ingin mengganggu mereka.


Fika melihat Rama yang melangkah menjauh,ia bahkan belum mengucapkan apapun setelah apa yang dilakukan Rama untuk menyelamatkan putrinya.


"Tunggu," Fika berjalan menghampiri Rama yang langsung menghentikan langkahnya.


"Terimakasih, Terimakasih banyak, Terimakasih karena sudah menyelamatkan Mita,"


Rama hanya menganguk,melihat Fika dengan wajah seperti itu sungguh membuatnya tidak tega, "Sudah aku katakan bukan,aku menyukai putrimu dan aku akan melakukan apapun untuknya," Rama sedikit bercanda agar tidak terbawa suasana.


Kali ini Fika tersenyum mendengar ucapan Rama yang bahkan kemarin membuatnya sangat kesal karena ia yakin sekarang bahwa Rama bukanlah orang jahat seperti yang ia selalu pikirkan,bahkan Rama adalah seorang anggota polisi yang berkorban demi menyelamatkan putrinya.


"Aku tahu," jawabnya dengan senyum yang begitu menyejukkan hati Rama.


"Brak..." Suara pintu yang terbuka membuat keduanya terkejut melihat kearah seseorang yang datang dan langsung menghampiri Mita dengan wajah cemas bahkan begitu saja melewati Fika dan juga Rama.


"Sayang...kamu baik-baik sajakan?" Saka menciumi wajah putri kecilnya.


Rama menatap kearah pria itu dengan intens,apa hubungan Saka dan Mita,dan juga dengan Fika.


Fika menghampiri Saka, "Dokter berkata dia baik-baik saja,"


Bukannya bersyukur Saka justru menatap tajam kearah Fika, "Apa saja yang kamu lakukan, bagaimana bisa kamu membuat putriku seperti ini,kamu harusnya menjaganya dengan baik," bentak Saka yang sedari tadi belum sadar dengan kehadiran Rama.


Fika terdiam,sikap Saka benar-benar keterlaluan,disaat seperti ini dia bahkan masih bisa membentaknya.


Melihat sikap Saka yang begitu kasar membuat Rama merasa geram,pria itu benar-benar tidak tahu malu.Iapun berjalan mendekat, membuat Saka tercekat.

__ADS_1


"Pak Rama?" Wajahnya mulai terlihat gugup saat menyadari bahwa sedari tadi yang diruangan itu adalah Rama.


"Maaf jika aku sudah mengganggu," ucap Rama yang melihat kearah Fika yang masih menunduk malu karena Rama harus melihatnya dibentak oleh Saka.


"Tidak apa, perkenalkan ini istri dan putriku,apa kamu yang menangani kasus ini juga?" Tanya Saka yang sudah tertangkap basah sehingga tidak ada pilihan lain selain memperkenalkan istri dan putrinya.


Rama menaikkan kedua alisnya, "Istri?" Batinnya yang dipenuhi dengan pertanyaan, istrinya meninggal 3 tahun lalu,apa ia sudah menikah lagi,tapi Rama tak ingin menanyakan hal itu sekarang,karena Mita yang masih sakit.


Rama hanya tersenyum, "Sebenarnya bukan aku yang menangani kasusnya,aku hanya kebetulan mengenal istri dan putrimu jadi membantu mereka,"


"Kalau begitu,aku sangat berterima kasih, Terimakasih banyak atas bantuannya," ucap Saka dengan senyuman palsu yang ia buat-buat.


"Satu lagi,ini bukan salah istrimu,istrimu menjaga putrinya dengan baik,jadi jangan menyalahkannya," ucap Rama sembari menatap kearah Fika,membuat Fika menatap balik kearahnya.


Melihat perhatian Rama terhadap Fika membuat Saka terlihat curiga dan hatinya mulai panas,Rama segera pergi meninggalkan ruangan itu.


"Apa hubunganmu dengannya?kapan kalian bertemu?kalian sepertinya terlihat begitu akrab," Saka mulai mencecar Fika dengan beragam pertanyaan yang seakan menuduhnya.


Fika hanya diam dan enggan menjawab semua pertanyaan Saka, membuat pria itu semakin merasa kesal.


"Ma..." Panggil Mita pelan membuat Fika langsung mendekat kearah sang putri dan mencium kening Mita dengan air mata harunya.


"Kamu sudah sadar sayang,mama khawatir banget sama kamu," ucap Fika sembari menciumi tangan mungil putrinya.


Mita menggeleng pelan,membuat Saka merasa lega dan memeluk erat putri tercintanya itu.


Rama sedang berdiam didepan tv,entah sedang menonton apa,ia hanya memencet remot sesukanya karena pikirannya sedang melayang ketempat lain,Rian datang menghampirinya dengan sebuah amplop cokelat ditangannya,ia langsung melemparkannya kearah sahabatnya itu,lalu menjatuhkan tubuhnya kesofa dan mengambil alih remot ditangan Rama.


Rama membuka amplop itu,ia memeriksa dengan seksama.


"Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi,aku bukan detektif yang harus mencari tahu tentang kehidupan pribadi seseorang," celetuk Rian yang sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari Rama.


Rama membaca informasi tentang data diri Saka Wirawan serta keluarganya, meskipun dia orang yang sangat terkenal,namun Saka termasuk orang yang cukup tertutup tentang urusan pribadinya.


Disana hanya tertulis jika ia sudah beristri dan mempunyai seorang putri, sementara siapa istrinya dan putrinya, informasi itu masih sangat abu-abu,karena Saka memang tidak pernah mengekpos mereka ke medsos.


Rama membanting file itu dimeja lalu menyandarkan punggungnya kesofa dengan wajah kecewa, karena sama sekali tidak berguna.


"Apa yang sebenarnya kamu cari,kemarin Alfika Naira,dan sekarang Saka wirawan,apa sebenarnya masalahmu dengan mereka?" Tanya Rian yang sudah dipenuhi rasa penasaran.

__ADS_1


"Mereka suami istri," ucap Rama tanpa mengubah posisinya,Rian terkejut saat mendengar hal itu,jadi perempuan yang mirip dengan Zahra itu adalah istri pengusaha kaya Saka Wirawan.


"Jadi,dia benar-benar bukan Zahra?"


Rama menghela nafas dan menatap kearah Rian, "Masalahnya,aku yang mengurus kasus kecelakaan istrinya yang bernama Alfika Naira 3 tahun yang lalu,namun kasus itu tiba-tiba ditutup sebelum selesai,aku saat itu tidak mengurusnya karena berduka dengan kepergian Zahra," jelaskan Rama berharap Rian memiliki solusi untuk masalahnya ini.


Rian terdiam,ia masih mencerna perkataan Rama dengan baik, "Jadi,apa ada kemungkinan perempuan itu adalah Zahra?"


"Aku harap seperti itu," jawab Rama dengan wajahnya yang lemas.


"Aku akan mencari data soal kasus itu lagi dikantor,siapa tahu masih ada yang terselip," Rian begitu bersemangat untuk membantu sahabatnya itu.


Rama hanya menganguk pelan, sementara Rian segera beranjak untuk pergi,tapi ia berhenti saat melihat Ibu Fatma yang sudah berdiri disamping mereka.


"Saya permisi dulu Bu," Rian kabur karena tidak ingin dicecar pertanyaan oleh Bu Fatma.


Sementara Rama yang melihat ibunya itu mulai bingung, bagaimana menjelaskan semuanya tentang perempuan yang sangat mirip dengan putrinya itu.


Rama sudah menceritakan semuanya dengan jelas,tapi Fatma masih diam dan belum merespon apapun.


"Apa kamu yakin dia Zahra?" Tanya Fatma setelah beberapa waktu.


Rama tidak tahu harus menjawab apa, meskipun ia begitu yakin namun tidak ada bukti yang menyatakan bahwa perempuan itu benar adalah Zahra, ditambah lagi perempuan itu juga tidak mengakui bahwa ia adalah Zahra.


"Ibu berharap ini bukan hanya harapan kamu Ram,jika Zahra sudah pergi,ikhlaskan dia dan lanjutkan hidup kamu, berhenti memikirkannya," ibu Fatma tidak ingin Rama selau terpaku pada masa lalunya.


Rama menghela nafas, "Bu,aku akan mencari bukti itu,dan aku akan membawa putri ibu pulang,ibu merindukannya bukan?"


Jika ditanya seperti itu,sudah sangat jelas Fatma merindukan Zahra setengah mati,tapi sungguh ia bahkan tidak berani untuk berharap lebih,ia hanya bisa memberikan dukungan untuk menantunya itu,dan semoga Allah selalu memberikan petunjuk kebenaran pada Rama.


Rian kembali kekantor,ia kembali keruang arsip untuk mencari data tentang kasus Alfika Naira,mencari ditanggal antara rentang waktu hari pernikahannya dan hari pernikahan Rama, karena saat itulah kecelakaan itu terjadi,Rian mengambil sebuah file,ia membukanya dan memeriksanya dengan seksama.


"Ini dia?" Ia menyunggingkan bibirnya,jika memang terbukti perempuan itu adalah Zahra,ia tidak bisa membayangkan betapa bahagia Tiara,ini adalah kesempatan untuk membuat istrinya bahagia karena akhir-akhir ini Tiara sering merajuk karena terlalu lelah harus mengurus Rehan sendirian sembari mengajar.


Keesokan harinya,Mita sudah berada dirumah karena dokter langsung mengizinkannya untuk pulang kemarin,ia sedang bermain Boneka dengan sang papa, kebetulan pagi ini Saka tidak ada pekerjaan yang penting dikantor,jadi ia memutuskan untuk menemani putrinya bermain.


Fika datang membawakan beberapa camilan untuk mereka.


Disela permainan, tiba-tiba sang putri mengingat tentang Rama.

__ADS_1


"Oya pa,om yang kemarin nolongin Mita itu baik banget,dia yang ngambilin Mita minum terus dipukul sama mama,tapi dia gak marah,malah dia ngajakin Mita jalan-jalan dan bermain sama-sama,dia juga beliin Mita ice cream,Mita sayang banget sama Om itu," Mita bercerita panjang lebar tentang Rama kepada papanya,Fika hanya diam,ia juga tidak mungkin menyuruh Mita untuk diam.


Saka menatap kearah Fika,jadi sudah sedekat itukah hubungan mereka,bahkan mereka sudah beberapa kali bertemu,entah kenapa Saka mulai dihantui rasa cemburu,ia tidak ingin Fika bersama lelaki lain dan meninggalkannya dan juga Mita, meskipun selama ini sikapnya begitu dingin,namun sungguh ia tidak ingin Fika pergi darinya.


__ADS_2