
Ramapun mrasa jika tubuhnya melayang dan tidak tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya.
Zahra yang mendengar suara benturan dari ponselnya langsung lemas hingga terjatuh kelantai,dia sangat takut dan cemas dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Rama.
"Ram...Rama..." Teriak Zahra tapi tidak ada jawaban.
Tiara yang mendengar teriakan Zahra langsung berlari menghampiri.
"Ada apa?" Tanya Tiara yang ikut panik melihat Zahra.
Zahra menangis dan terus menyebut nama Rama,Tiara segera memeluknya agar Zahra merasa lebih tenang, meskipun dia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Rian berlutut diaspal,melihat mobil sahabatnya yang rusak parah,ia sangat syok,dan pikirannya mulai tidak fokus,hingga truk yang menabrak mobil Rama tadi berhasil kabur meskioin sedikit ringsek dibagian depan karena kerasnya benturan.
"Rama...." Teriak Rian histeris.
Bimo menyunggingkan bibirnya, karena rencananya untuk melenyapkan Rama kali ini berhasil.
"Selamat tinggal anak muda,maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama untuk bisa bersama dengan kekasihmu,"
Disisi lain,Fatma berada dikamar Bimo,ia berusaha mencari bukti bahwa Zahra tidak bersalah,ia tahu pasti ada bukti didalam kamar Bimo.
Iapun membuka beberapa berkas,dan juga laci tempat Bimo biasanya menyimpan barang-barang penting miliknya,hingga ia menemukan sebuah obat yang sama persis dengan obat bius yang disebutkan disurat lab milik Zahra.
Fatmapun mengambil obat itu lalu bergegas pergi kesuatu tempat.
Suara sirine polisi dan ambulans saling bersahutan menuju kelokasi kecelakaan diJalan Dharma.
Petugas berusaha mengevakuasi tubuh Rama yang masih berada didalam mobil, benar-benar terluka parah,bahkan wajah Rama dipenuhi dengan darah karena pecahan kaca yang menghantam wajahnya dan semuanya mengira jika Rama tidak akan bertahan.
Rian menghampiri tubuh Rama,dan berharap jika ia masih hidup.
"Ram...Ram...bangun Ram..." Rian menggoyangkan tubuh Rama yang sudah lemas itu.
Rian menangis disamping tubuh itu,tapi saat memegang tangan Rama tiba-tiba jari Rama bergerak,membuat Rian kembali bersemangat dan langsung meminta petugas untuk membawa Rama kerumah sakit secepatnya untuk mendapatkan pertolongan.
"Ya Allah,tolong selamatkan Rama," Rian berdoa agar sahabatnya itu bisa selamat dari maut.
Aminah berjalan terburu-buru bahkan setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit, wajahnya diselimuti kecemasan dan kepanikan.
Lagi setelah kepergian Hana,ia harus datang kembali kerumah sakit dengan perasaan khawatir seperti ini.
"Nak Rian," Panggil Aminah saat melihat Rian yang sedang berdiri didepan ruangan ICU tempat Rama diperiksa.
"Ibu," Rian langsung menyalami Aminah dengan wajah yang tak kalah cemas.
"Bagaimana keadaan Rama?" tanya Aminah.
Rian menggelengkan kepalanya,Rama masih diperiksa sejak dari tadi dan belum selesai sampai sekarang,lukanya yang terlalu parah membuat dokter membutuhkan waktu lebih lama untuk memeriksanya.
Zahra dan Tiara sampai dirumah sakit,Rian sengaja menghubungi Zahra karena mungkin kecelakaan yang menimpa Rama berhubungan dengan kasus Zahra.
__ADS_1
Tiara yang melihat Rian,merasa sedikit heran, begitupun Rian yang melihat Tiara datang bersama Zahra,tapi mereka mencoba tidak saling menyapa karena saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Zahra langsung memeluk Aminah dan terisak, keduanya terlihat begitu khawatir dengan keadaan Rama.
"Maafin Zahra ya Bu,ini semua terjadi karena kesalahan Zahra," ucap Zahra dengan suaranya yang gemetar.
Aminah hanya mengusap pipi Zahra yang basah tanpa menjawab apapun dan kembali memeluk Zahra dengan erat.
Dokter keluar dari ruangan, membuat semuanya tegang.
"Gimana Dik keadaan Rama?" Tanya Rian.
"Kondisinya kritis,kita harus segera melakukan tindakan operasi karena luka dikepalanya cukup parah,tapi itu juga tidak menjamin nyawanya akan selamat, kemungkinan buruknya dia akan mengalami koma,tapi kita serahkan semuanya kepada Tuhan," ucap Dokter membuat semuanya semakin terlihat panik dan juga cemas.
"Tolong lakukan yang terbaik Dok," ucap Rian.
Dokter kembali masuk untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Tubuh Aminahpun lemas hingga oleng.
"Ibu," pekik Zahra,Rian segera membopong tubuh Aminah untuk mendapatkan pertolongan dari Dokter.
Zahra kembali menangis, tidak menyangka kondisi Rama sampai separah ini,Bimo benar-benar biadab,ia sangat berniat melenyapkan Rama,Zahra mulai diselimuti kemarahan,iapun berniat untuk pergi menemui pria biadab itu.
"Kamu bisakan tunggu disini," Tanya Zahra pada Tiara.
"Kamu mau kemana?" Tanya Tiara yang mulai cemas jika Zahra melakukan sesuatu yang diluar akal sehat.
"Ada urusan," Zahra menepuk lengan Tiara lalu bergegas pergi meninggalkan rumah sakit dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Dimana Zahra?" tanya Rian yang kemudian duduk disamping Tiara.
"Dia sedang ada urusan," jawab Tiara yang sebenarnya masih penasaran dengan urusan yang dimaksud oleh Zahra.
Fatma masih menunggu dikantor polisi,tapi Rama tak kunjung datang sementara hari sudah mulai larut,iapun menitipkan sebuah amplop cokelat pada salah seorang petugas dan meminta agar amplop itu sampai ke tangan Rama,setelah itu iapun pulang.
Zahra menghentikan mobilnya didepan istana kebesaran Bimo,ia mengambil sebuah pisau dilaci mobilnya,pisau yang cukup tajam dan cukup untuk melenyapkan seseorang.
Hidupnya sudah tidak berarti lagi sekarang, setidaknya jika ia harus masuk penjara,minimal ia harus melenyapkan pria yang sudah mencoba membunuh Rama secara kejam.
Akal sehat Zahra sepertinya sudah tidak berfungsi lagi, dipikirannya ia hanya ingin membalas perbuatan Bimo kepada Rama.
Iapun mengambil ponsel dan menghubungi polisi agar datang kerumah Bimo,lalu ia keluar dari mobil dengan sebuah pisau ditangannya.
Para ajudan Bimo berusaha mencegah Zahra,tapi itu tidak akan menghalangi langkah Zahra untuk menemui Bimo.
"Bimo yang menyuruhku kemari,kalian tidak percaya?" ucap Zahra saat ia dilarang masuk.
Para ajudan itu sebenarnya curiga saat melihat pisau ditangan Zahra tapi mereka juga tidak bisa menahan Zahra jika Bimo yang menyuruhnya.
Zahra melanjutkan langkahnya menuju kekamar Bimo,dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu,membuat Bimo sedikit terkejut dengan kedatangannya.
__ADS_1
"Zahra,"
Zahra tersenyum dan berjalan mendekat kearah Bimo.
"Secepat inikah kamu berubah pikiran?" tanya Bimo dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Zahra mengeratkan giginya menahan Amarah,iapun langsung mengarahkan pisau itu kearah Bimo,membuat pria tua itu sangat terkejut.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Bimo dengan wajah yang mulai ketakutan.
"Pria biadab sepertimu harusnya dilenyapkan dari awal," jawab Zahra dengan tatapan tajamnya.
Disaat yang bersamaan,Fatma sampai dirumah saat melihat mobil Zahra yang terparkir iapun bergegas masuk kedalam rumah dan segera menuju kekamar Bimo.
"Tenanglah,kita akan bicarakan ini baik-baik," Bimo masih berusaha bernegosiasi dengan Zahra saat pisau itu sudah mengarah kelehernya.
"Bernegosiasi dengan pria sepertimu,aku tidak sebodoh itu," bentak Zahra yang ingin menusuk Bimo.
"Zahra," panggil Fatma membuat Zahra menoleh dan kehilangan fokus,Bimo dengan cepat merebut pisau ditangan Zahra lalu merangkul tubuh Zahra dan balik mengarahkan pisau itu keleher Zahra.
Fatma sangat terkejut melihat putrinya dalam bahaya.
"Kamu ingin bermain-main dengan ayah sayang," Bimo menempelkan pisau itu keleher Zahra dengan seringai tajamnya.
Zahra sudah pasrah jika memang ia harus berakhir sekarang.
Fatma menuju kelaci Bimo dengan wajah panik dan mengambil sebuah pistol disana,karena saat memeriksa kamar Bimo ia tidak sengaja melihatnya.
"Lepaskan putriku" Teriak Fatma sembari mengarahkan pistol itu keBimo.
Zahra sangat terkejut dengan tindakan yang dilakukan ibunya demi membela dirinya.
Bimo tidak menyangka Fatma akan melakukan hal seperti ini padanya, beraninya dia berkhianat.
"Kamu sangat berani sekarang," bentak Bimo.
"Lepaskan putriku," ucap Fatma dengan penuh penekanan.
Bimo masih menganggap jika Fatma hanya menggertaknya jadi ia masih bersikap santai.
Fatma menatap kearah putrinya, "Maafkan ibu,"
Zahra menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca menatap kearah Fatma.
"Duarrr...."
Suara tembakan itu terdengar menggema di seluruh sudut rumah.
Tubuh Bimo langsung terjatuh kelantai dengan kepalanya yang mengeluarkan banyak darah karena peluru yang dilepaskan Fatma.
Zahra masih terlihat sangat syok,Fatma menjatuhkan pistol dari tangannya dan tubuhnya lemas terjatuh kelantai,ia benar-benar sudah melenyapkan suaminya sendiri.
__ADS_1
"Ibu," Zahra langsung berlari dan memeluk ibunya,keduanya menangis sesenggukan setelah apa yang telah mereka alami bersama.
Polisipun datang dan mulai memeriksa rumah Bimo.