
Sore itu Zahra berpamitan pada Aira untuk pulang,meskipun kecewa kenyataannya Zahra tidak bisa terus marah pada Aira atas kepergian neneknya,iapun memeluk Aira dengan penuh rasa haru.
"Kalo ada apa-apa,mbak hubungi aku ya," ucap Zahra.
Aira menganguk dengan wajah yang masih diselimuti duka, "Terimakasih Zahra,kalian hati-hati ya," pesan Aira kepada semuanya.
Merekapun segera menuju mobil untuk kembali pulang kekota.
Aira melambaikan tangan, mulai sekarang ia akan hidup sendiri tanpa ibunya dan juga akan mencoba mandiri tanpa bantuan dari Zahra maupun Fatma.
Mobil Rama melaju didepan, sementara mobil Arman mengikuti dibelakang, perjalanan memakan waktu yang cukup lama,dan hari sudah mulai gelap,jalananpun mulai sepi,hanya satu sampai dua kendaraan yang lewat.
Zahra menatap kearah pria yang sedang mengemudi disampingnya itu.
"Terimakasih,sudah menemaniku dan selalu memberiku kekuatan," ucap Zahra dengan senyum yang terukir diwajahnya.
Rama hanya tersenyum tipis, "Aku senang bisa membantumu," jawab Rama.
Zahra menganguk, "Sikapmu yang seperti ini,bukankah sedikit aneh,dulu kamu sangat membenciku,tapi sekarang,rasanya seperti mimpi bisa mendapatkan dukungan darimu," imbuh Zahra lagi membuat Rama menaikkan kedua alisnya.
Jangankan Zahra,bahkan Ramapun tidak mengira bahwa sikapnya bisa berubah seperti ini pada perempuan yang dulu paling ingin ia lenyapkan dari dunia,entah apa yang terjadi,tapi kuasa Allah lah yang sudah membolak balikkan hatinya.
"Sebenarnya aku juga tidak mengerti,mungkin ini jalan dari Tuhan, yang pasti aku merasa jika kebencian itu perlahan sudah pergi, mungkin karena aku sudah lebih ikhlas dengan kepergian Hana,dan ingin memulai lembaran baru dalam hidupku," ucap Rama dengan senyum tipis diwajahnya, tidak menyangka dia mengatakan hal seperti itu didepan Zahra,seakan mengisyaratkan jika ia ingin memulai sesuatu yang baru bersama Zahra.
Zahra tertegun, entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar saat mendengar ucapan Rama,wajahnya pun mulai memerah,apa ini adalah sebuah harapan yang diberikan Rama untuknya,ataukah hanya ia yang terlalu mengharapkan lebih dari pria yang pernah setengah mati membencinya itu.
Rama mendadak menginjak Rem,hingga mobil berhenti,membuat Zahra tercekat dan tersadar dari lamunannya.
"Ada apa?" Tanya Zahra cemas.
Sebuah mobil hitam menghadang didepan mereka.
Armanpun menghentikan mobilnya saat melihat mobil Rama yang berhenti.
"Ada apa?" Tanya Tiara heran.
"Sepertinya ada yang menghadang mobil mereka," ucap Arman sembari mengerutkan dahinya karena penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tiara terlihat cemas dengan keadaan Zahra dan berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya itu.
Rama menatap tajam kearah mobil hitam itu, beberapa orang keluar dengan senjata ditangan mereka.
Zahra mulai cemas dan khawatir, lagi-lagi kejadian seperti ini menimpa saat dia sedang bersama Rama,apa ini disengaja oleh seseorang.
"Mereka?apa orang bayaran seperti kemarin?" Tanya Zahra pada Rama yang sudah memasang wajah waspada.
"Bisa jadi," jawab Rama.
"Apa sebenarnya rencana bandit tua itu,apa dia benar-benar ingin melenyapkanku?" Batin Rama yang menduga jika ini adalah perbuatan Bimo.
Rama ingin membuka pintu tapi Zahra menahan lengannya.
"Jangan keluar,terlalu berbahaya,mereka lebih banyak dari pada kemarin,aku tidak ingin kamu terluka," ucap Zahra dengan kecemasan diwajahnya.
Rama memegang tangan Zahra yang melingkar dilengannya, "Mereka mengincarku,jadi aku akan menghadapinya,lebih baik kamu menelefon polisi untuk meminta bantuan,dan jangan keluar dari mobil apapun yang terjadi,kamu mengerti?" Ucap Rama lalu melepaskan pegangan tangan Zahra dan iapun keluar dari mobil.
Zahra semakin terlihat khawatir,ia cepat-cepat menghubungi polisi seperti yang dikatakan Rama.
Tiara dan Armanpun terlihat tegang saat melihat Rama keluar dari mobil dan berhadapan dengan beberapa pria yang membawa senjata itu.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Rama dengan seringai tajamnya.
"Serahkan Azahra,maka kita tidak perlu bertarung," jawab salah seorang dari mereka.
Rama mengerutkan dahinya, "Azahra?siapa yang membayar kalian?apa Bimo?dia yang menyuruh kalian membawa Zahra?" Tanya Rama dengan penuh penekanan.
Zahra tidak bisa mendengar obrolan mereka,tapi dia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Rama.
__ADS_1
"Gak perlu banyak omong,serahkan Zahra sekarang juga," teriak salah satu dari mereka lagi.
"Zahra bukan barang yang bisa diminta begitu saja,dan aku tidak punya hak untuk memberikannya pada kalian," jawab Rama yang justru memancing kemarahan para penjahat itu,merekapun tidak ingin bernegosiasi lagi dan langsung menyerang Rama yang hanya seorang diri,meskipun begitu Rama berusaha untuk bisa melawan mereka.
Zahra semakin terlihat cemas,ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Rama,dengan keyakinan penuh,iapun turun lalu mengambil sebatang kayu yang tergeletak dipinggir jalan dan membatu Rama melawan penjahat-penjahat itu.
"Zahra," pekik Tiara dengan wajah panik.
Armanpun tidak kalah panik, "Tetap dimobil" ucap Arman lalu iapun bergegas keluar untuk membantu Zahra dan juga Rama.
Zahra memukul dengan keras salah seorang penjahat itu hingga tersungkur,Rama dan Arman masih berusaha melumpuhkan penjahat yang lainnya.
Zahra masih terlihat belum puas,iapun mendekat kearah Rama dan ingin membantunya,tapi seorang dari penjahat mengarahkan alat pukul keZahra.
Arman yang melihat itu langsung reflek melindungi tubuh Zahra.
"Prankkkkk" Pukulan yang begitu keras mendarat kekepala Arman.
Zahra sangat syok,begitupun Rama saat melihat darah yang mengalir keleher Arman.
Tiara berteriak histeris saat melihat kejadian yang menimpa Arman.
Arman lemas dan tubuhnya lunglai terjatuh keaspal,Rama kembali menghajar penjahat-penjahat itu dengan semakin brutal.
Sementara Zahra masih tertegun melihat Arman yang sudah tidak sadarkan diri.
"Arman...Arman bangun," Zahra berusaha membuat Arman sadar dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Tiara tidak bisa menunggu lagi,iapun keluar dari mobil dan berlari menghampiri Arman.
"Arman bangun Arman...Arman..." Teriak Tiara histeris.
Zahra terlihat sangat ketakutan,apalagi melihat Tiara yang histeris seperti itu,akankan kejadian itu akan terulang lagi.
Penjahat-penjahat itu segera kabur saat mendengar sirine mobil polisi,tapi polisi tetap mengejar mereka.
Rama menghampiri Zahra yang tertegun dengan tubuh gemetar,iapun memeriksa keadaan Arman.
Merekapun bergegas menuju keRumah sakit terdekat.
Semuanya sedang menunggu didepan ruang ICU dengan wajah tegang,berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Arman.
Zahra meremas jari jemarinya,rasa takut itu membuat seluruh tubuhnya menggigil,dan nafasnya terengah.
"Ya Allah,hamba mohon selamatkan Arman,jangan membuat hamba menjadi penyebab dari kepergian seseorang lagi Ya Allah,hamba tidak akan sanggup lagi menghadapinya," batin Zahra,ia melihat kearah Tiara yang begitu terlihat cemas hingga tidak bisa duduk dan terus berdiri menunggu pemeriksaan dokter.
Rama memegang pundak Zahra,Zahra mendongak menatap kearah pria itu.
"Dia akan baik-baik saja,tenanglah" ucap Rama yang sepertinya sangat mengerti kekhawatiran yang Zahra rasakan.
Zahra menganguk dan mencoba lebih tenang sembari memejamkan matanya.
Dokter keluar,semuanya langsung mendekat dengan wajah penuh harap.
"Gimana keadaannya dok?" Tanya Tiara.
"Dia sudah melewati masa kritis,dan kondisinya sekarang sudah mulai membaik," ucap Dokter yang memberikan angin segar untuk semuanya.
"Alhamdulillah..." Rasa syukur terucap dari mulut mereka semua yang merasa sangat lega.
Zahra memeluk Tiara dengan erat,keduanya saling melepaskan beban dan ketegangan yang sedari tadi mereka rasakan.
"Kami akan segera memindahkan pasien keruang rawat,kalian bisa menjenguknya disana," ucap Dokter.
"Terimakasih Dok," ucap Rama.
"Dasar bodoh," pekik Bimo saat berbicara ditelepon lalu membanting ponselnya hingga hancur berantakan.
__ADS_1
Kemarahan nampak jelas dimatanya, "Rama....jangan panggil aku Bimo jika aku tidak bisa mengirimmu keneraka,"
Fatma datang karena mendengar teriakan Bimo,ia melihat ponsel Bimo yang hancur dilantai.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Fatma yang cemas melihat suaminya itu terlihat begitu marah.
"Bagaimana bisa putrimu begitu dekat dengan polisi itu,apa dia ingin polisi itu menjebaknya dan memasukan kedalam penjara," teriak Bimo yang meluapkan kemarahannya pada Fatma.
Fatma sama sekali tidak tahu jika Zahra berhubungan dengan polisi seperti yang dituduhkan Bimo.
"Nasehati dia,sebelum semuanya terlambat,atau aku sendiri yang akan melenyapkan polisi itu," imbuh Bimo lalu iapun melangkah pergi meninggalkan Fatma yang masih terlihat bingung itu.
"Zahra berhubungan dengan seorang polisi?apakah benar? Tapi kenapa Bimo bisa semarah itu?" Gumam Fatma yang terlihat sangat penasaran dan ingin mencari tahu kebenarannya.
Tiara duduk disamping Arman yang masih belum sadar dengan kepalanya yang diperban serta selang infus yang masih terpasang ditangannya.
Zahra dan Ramapun masih berdiri dan menunggu,tapi malam sudah semakin larut,rasa kantuk dan lelahpun mulai menghampiri mereka.
Tiara melihat kearah sahabatnya itu, "Ra,mendingan kamu pulang aja ya sama Rama,biar aku yang disini nungguin Arman," ucap Tiara yang tahu betul jika Zahra pasti merasa sangat lelah,apalagi ia juga baru saja berduka.
Zahra mendekat dan memeluk Tiara, "Telefon aku secepatnya jika terjadi sesuatu," ucap Zahra.
Tiara menganguk.
Zahra melangkah pergi diikuti Rama dibelakangnya.
Saat dalam perjalanan,Zahra masih terdiam dengan wajah sedih,ia benar-benar sudah membuat orang lain celaka hanya untuk menyelematkannya.
Rama melirik sekilas kearah perempuan yang duduk melamun disampingnya itu.
"Tidak perlu dipikirkan lagi,bukankah dokter bilang keadaannya sudah membaik," ucap Rama berusaha membuat Zahra lebih tenang.
Zahra menunduk, "Bukan begitu,tapi aku selalu menjadi penyebab kecelakaan bagi orang lain,aku selalu membuat orang lain celaka dan mempertaruhkan nyawa mereka demi keselamatanku,bukankah aku adalah orang yang jahat," ucap Zahra dengan suara yang gemetar menahan tangis.
Rama terdiam,ia sadar betul Zahra tidak hanya sedang membahas soal Arman tapi juga menyangkut Hana.
"Aku tidak pernah ingin kejadian seperti ini terulang lagi,aku...." Zahra menunduk mengulum bibirnya agar tangis itu tidak pecah.
Rama menghela nafas,kali ini dia harus bisa mengendalikan emosinya saat membicarakan tentang Hana, "Mereka tahu kamu tidak dengan sengaja melakukannya,mereka pasti akan mengerti dan memaafkanmu," ucap Rama.
Zahra melihat kearah Rama, "Apa itu berarti Haba juga memaafkan aku?"
Rama terdiam mendengar pertanyaan Zahra,ia tidak tahu harus menjawab apa, "Bukannya kamu bilang bukan kamu pelakunya,lalu untuk apa Hana harus memaafkanmu," Rama berusaha memancing Zahra agar ia mau berbicara jujur jika memang dia pelaku sebenarnya,mungkin kali ini Rama bisa memanfaatkan Zahra jika memang Zahra mau dengan senang hati mengakui kesalahannya.
Zahra terdiam, "Benar,aku tidak pernah mengakui bahwa akulah pelakunya,tapi bukannya tidak perlu lagi ditutupi sekarang,nenek juga sudah tiada,aku tidak perlu takut jika karirku akan hancur,aku harus mengatakan yang sejujurnya pada Rama,dan akan menerima apapun resikonya," batin Zahra.
Zahra melihat kearah Rama, "Ada yang ingin aku katakan padamu,hal yang sangat penting," ucap Zahra dengan terbata.
Rama merasa sangat penasaran sembari mengerutkan dahinya.
Zahra menarik nafas panjang dan berusaha mengatakan kejujuran kepada Rama, "Sebenarnya aku...."
"Drrrttttt" ponsel Zahra berbunyi membuatnya sedikit terkejut.
Telfon dari Fatma.
"Halo Bu.."
"Zahra,ibu sudah menunggu diapartement,kamu dimana?" Tanya Fatma.
"Aku masih dijalan, sebentar lagi sampai," jawab Zahra.
"Cepat,ada hal penting yang harus ibu bicarakan," ucap Fatma lalu menutup telepon.
Zahra terlihat bingung,hal penting apa yang dimaksud oleh Fatma, pikirannya mulai dipenuhi dengan tanda tanya.
Rama meliriknya, "Tadi kamu bilang mau bicara penting,"
__ADS_1
"Kita akan membahasnya lain kali,aku harus cepat pulang sekarang," jawab Zahra yang tiba-tiba tidak ingin membicarakan soal Hana dan lebih penasaran dengan ucapan ibunya.
Rama hanya diam dan tidak ingin terlalu mendesak Zahra, mungkin lain kali akan menjadi waktu yang lebih tepat bagi mereka untuk membicarakan semuanya.