
"Kenapa?apa kamu takut akan mendapatkan hukuman atas semua perbuatanmu?" Tanya Rama yang sepertinya belum puas melampiaskan segala kekecewaannya.
Zahra terdiam dan menghapus air matanya, sepertinya meskipun menangis semalaman pria yang sedang diselimuti kemarahan itu juga tidak akan peduli kepadanya.
"Untuk apa aku merasa takut? lakukanlah apapun yang akan membuatmu merasa tenang,aku akan menerima semuanya," jawab Zahra dengan tatapan nanarnya kepada Rama.
Rama menganguk, "Memang seperti itu seharusnya," jawab Rama yang masih enggan menatap wajah Zahra.
"Bolehkah aku mengatakan satu hal padamu untuk yang terakhir kalinya?" Tanya Zahra dengan wajah yang begitu terpuruk.
Rama terdiam dan tidak menjawab apapun.
"Aku mencintaimu," ucap Zahra yang membuat Rama langsung menatap kearahnya.
"Mungkin ini adalah hukuman untukku,karena aku sudah menghilangkan nyawa seseorang,dan sekarang aku harus merasakan sakit yang mungkin lebih menyakitkan dari pada sebuah kematian, terimakasih atas segalanya,semoga kamu selalu bahagia," Zahrapun melangkah pergi dengan terisak dari hadapan Rama.
Mendengar pernyataan Cinta dari Zahra membuat Rama juga terlihat tidak percaya, meskipun dari awal ia ingin memberikan hukuman itu pada Zahra,tapi ia sama sekali tidak berniat untuk menyakiti hati Zahra hingga sedalam ini.
Zahra masuk kedalam mobil dan terus menangis,tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang ia rasakan,kenapa begitu tega Rama mempermainkan perasaannya yang begitu tulus,inikah caranya membalas kepergian Hana.
Fatma masih menunggu dengan wajah yang begitu cemas, tapi Zahra tak kunjung pulang.
Ana datang dengan wajah tak kalah panik usai mendapatkan kabar dari Fatma.
Ia tidak menyangka jika kasus itu akan dibuka kembali dan pastinya akan mengancam karir Zahra.
Tidak ada solusi yang bisa mereka lakukan,bukti sudah nyata adanya dan juga begitu kuat.
Ana terdiam sembari menggigit jarinya,mencoba berpikir keras demi bisa menyelamatkan Zahra dari hukuman.
"Benar..." Pekik Ana membuat Fatma terkejut.
"Malam itu,Zahra sedang mabuk karena suntikan obat bius,aku punya laporan labnya," Ana memeriksa laci untuk mengambil laporan lab saat Zahra diperiksa oleh dokter.
Fatma melihat laporan itu dan benar jika Zahra memang dibius,tapi apakah ini bisa meringankan hukuman Zahra.
"Tapi tunggu,siapa yang membiusnya?" Tanya Fatma sembari menatap wajah Ana.
Ana terdiam dengan wajah yang terlihat sedikit bingung,ia sebenarnya tidak ingin mengatakannya tapi ini sudah tidak bisa ditutupi lagi demi keselamatan Zahra, "Pak Bimo,"
Duarrr....
__ADS_1
Fatma menganga dengan mata terbelalak, benarkah dalang dari semua ini adalah suaminya yang selama ini sangat ia percaya,bahkan ia selalu meminta bantuan untuk menyelamatkan Zahra dari kasus-kasus yang menjeratnya,tapi sebenarnya dialah yang bertanggung jawab atas semua kasus yang menimpa Zahra,Fatma lemas hingga tubuhnya langsung terduduk disofa.
"Ibu..." Ana cemas jika terjadi sesuatu pada Fatma karena pengakuannya.
"Ceritakan yang sebenarnya terjadi..." Pinta Fatma,Ana pun tidak ada pilihan lain,iapun mulai bercerita bagaimana Bimo menjebak Zahra malam itu,hingga menyuntikkan obat bius pada Zahra dan kecelakaan itupun terjadi.
Ternyata ini alasan kenapa Zahra begitu membenci Bimo,selama ini Fatma selalu menutup mata karena Bimo yang membantunya menyelesaikan masalah yang terjadi pada Zahra,tapi bukti yang ia temukan akhir-akhir ini membuatnya yakin jika memang putrinya selama ini benar dan Bimolah biang dari semua masalah.
Fatma bergegas pergi dari rumah Zahra,membuat Ana bingung,tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana bisa melepaskannya? dia yang menghilangkan semua bukti dilokasi,jadi dia juga ikut andil dalam kasus ini,dan aku juga tidak akan melepaskannya," ucap Rama dengan tegas saat ia sedang berhadapan dengan Tio yang secara langsung tidak ingin menyeret nama Bimo dalam kasus Hana.
"Bisakah sekali saja kamu tidak membantahku?" Bentak Tio yang lagi-lagi dibuat kesal dengan Rama.
"Apa anda juga terlibat dalam kasus ini? haruskah aku menyidikinya juga?" Ancam Rama yang membuat Tio semakin naik darah,Rama sudah tahu dari awal persekongkolan mereka,dan kali ini dia tidak akan melepaskan siapapun yang terlibat dalam kasus Hana.
"Brengsek,apa maunya anak itu," pekik Bimo yang mengetahui jika Rama tetap akan menyeretnya dalam kasus itu,ia begitu terlihat marah,karena meskipun rencananya memisahkan Zahra dan Rama berhasil,pada kenyataannya dia tetap tidak bisa terlepas dari semuanya.
"Dia memang harus menyusul kekasihnya agar berhenti membuat masalah," gumam Bimo yang mulai menyusun rencana licik dikepalanya.
Rama benar-benar sibuk seharian itu,banyak hal yang harus dia kerjakan,dia sangat bekerja keras agar kasus ini cepat selesai.
Zahra masih terdiam sembari menatap keluar jendela,langit begitu cerah tapi kenapa hatinya terasa mendung,ia sudah pasrah jika harus dihukum atas semua kesalahannya,tapi rasa sakit itu tetap tidak bisa hilang dari hatinya.
Hingga air mata Zahrapun terkadang meluncur sendiri tanpa permisi dan terus membasahi pipinya.
Tiara melihat Zahra dari kejauhan,dia sangat paham beban yang sedang dirasakan sahabatnya itu,tapi apa yang bisa ia lakukan,ia hanya bisa berdoa agar kebenaran segera terungkap dan bisa melihat Zahra kembali mendapatkan kebahagian.
"Drrrttttt," ponsel Rama berbunyi,ia sebenarnya malas untuk mengangkatnya tapi juga penasaran apalagi yang ingin dibicarakan olehnya.
"Halo...."
"Bisakah kita bertemu sebentar?" Tanya Bimo.
"Maaf,saya sedang sibuk dan tidak bisa bertemu," jawab Rama.
"Jika aku katakan aku punya bukti jika Zahra tidak bersalah,apakah kamu mau mengambilnya?" Perkataan Bimo membuat Rama langsung membelalakkan matanya,apa maksudnya semua ini,kemarin dia memberikan bukti bahwa Zahra bersalah dan hari ini,dia berkata jika Zahra tidak bersalah,apakah ini hanya permainan Bimo untuk menjebaknya.
"Akulah yang menjebak Zahra malam itu,jika kamu tidak percaya datanglah keJalan Dharma dan kamu akan mendapatkan semua bukti itu," Bimo menutup telefon dengan penuh misteri.
Rama terdiam,ia tidak ingin mempercayai perkataan Bimo tapi ia juga tidak memungkiri dan berharap jika apa yang dikatakan Bimo itu adalah kebenaran jika memang Zahra tidak bersalah.
__ADS_1
Ramapun beranjak pergi dengan terburu-buru,Rian yang melihatnya merasa heran.
"Mau kemana?"
Rama tidak menjawab dan langsung pergi,Rian yang merasa cemaspun mengikuti sahabatnya itu.
Zahra masih diam dalam lamunannya,hingga ponselnya berbunyi dan membuatnya sedikit terkejut.
Tanpa melihat siapa yang menelepon Zahra mengangkat ponselnya.
"Halo,"
"Jika kamu setuju menjadi milikku,aku akan membebaskanmu dari semua tuduhan," ucap Bimo yang saat itu sedang didalam sebuah mobil.
Zahra terdiam dan kesal saat mendengar Bimo mengucapkan hal yang tidak pantas.
"Aku lebih memilih hidup membusuk dipenjara daripada harus bersama dengan pria sepertimu," ucap Zahra dengan sangat tegas.
"Baiklah,kamu yang memilihnya,maka jangan salahkan aku jika aku akan membuat pria itu menyusul kekasihnya kesurga," Bimo langsung menutup telfon,membuat Zahra berpikir apa maksud dari perkataan Bimo,siapa pria yang dimaksud olehnya, pikirannya langsung tertuju pada satu orang,yaitu Rama.
Iapun mulai panik dan berusaha menghubungi Rama,Bimo mungkin berencana melakukan sesuatu padanya.
Rama menghentikan mobilnya diJalan Dharma,disebuah tanah lapang yang begitu sepi tidak nampak ada seorangpun disana,iapun memilih tetap didalam mobil untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Bimo menggunakan teleskop untuk melihat Rama dari kejauhan,dan mulai menyunggingkan bibirnya.
"Eksekusi sekarang," ucap Bimo pada para ajudannya.
Rama melihat ponselnya,telfon dari Zahra.
Ia menghela nafas dan mengangkatnya meskipun terpaksa.
"Dimana kamu?" Tanya Zahra dengan begitu panik.
Rama mengerutkan dahinya,kenapa suara Zahra terdengar begitu cemas,apa terjadi sesuatu,Rama terlalu bergelut dengan pikirannya hingga tidak menyadari jika sebuah truk tronton sedang melaju kencang kearahnya.
"Dimanapun kamu sekarang,pergilah dari sana," imbuh Zahra lagi dengan suara gemetar tapi Rama masih belum paham apa yang dimaksud oleh Zahra.
Rian menghentikan motornya saat melihat truk mendekati mobil Rama.
"Ram..." Teriak Rian.
__ADS_1
Rama menoleh kesamping saat truk itu sudah sangat dekat,tapi sudah terlambat.
"Brak...." Truk itu menabrak mobil Rama dari arah samping dengan begitu keras,hingga mobil itu terserat beberapa meter dan hancur dibeberapa bagian.