Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Tragedi


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan sinarnya diujung timur,Rama keluar dari masjid usai menunaikan sholat subuh,dari semalam ia belum pulang karena masih mencari keberadaan Zahra yang sampai sekarang belum ia temukan,ia bahkan tidak tidur semalaman,tak akan bisa istirahat sebelum menemukan titik terang keberadaan Zahra.


Ia duduk sembari memakai sepatunya,mulai berpikir dengan jernih dan tidak ingin terburu-buru,berharap Allah akan memberikan petunjuk untuknya.


Rama mulai mendapatkan Ilham,ia bergegas pergi usai sepatunya terpasang dengan sedikit terburu-buru.


Rama kembali kegedung tempat acara semalam,ia meminta izin kepada penjaga disana untuk memeriksa CCTV ditempat itu, meskipun awalnya ragu,namun ketika Rama mengatakan jika ia adalah keluarga sang mempelai yang kehilangan sesuatu,petugaspun mengizinkannya untuk memeriksa CCTV.


Rama begitu serius memperhatikan video didepannya,benar,Zahra memang naik kesebuah mobil,Rama mengambil foto nomor mobil itu agar bisa melacak lokasinya.


Usai memeriksa CCTV ia kembali kekantor untuk melacak keberadaan mobil yang dinaiki Zahra,memakan waktu cukup lama tapi Rama harus bersabar dan tidak bisa buru-buru,ia juga meminta bantuan kepada rekannya untuk mengurus kasus ini, meskipun Nilam adalah kakaknya namun ia harus mendapatkan hukuman,apalagi jika ia sampai melukai Zahra,Rama benar-benar tidak akan melepaskannya.


Zahra mengerjapkan matanya yang terasa berat, tangannya terasa nyeri dibelakang tubuhnya tidak bisa bergerak karena terikat sesuatu,ia menoleh kekanan dan kekiri,masih didalam sebuah mobil,tapi ini sudah pagi,kenapa dia masih berada disini,dan kak Nilam,dimana dia?kenapa kak Nilam mengikat tangan Zahra kebelakang,apa yang sebenarnya terjadi, pertanyaan itu memenuhi kepala Zahra tanpa ada jawabannya.


Zahra berusaha melepaskan ikatan ditangannya, berharap ia bisa pergi segera untuk menemui Rama,tapi ikatan itu begitu kuat.


Nilam membuka pintu, membuat Zahra terperanjat dan membuka matanya lebar-lebar menatap kearah perempuan yang mengenakan hodie untuk menutupi kepalanya itu.


"Sudah bangun?" Tanya Nilam tanpa dosa sedikitpun.


"Apa yang ingin kakak lakukan?" Tanya Zahra dengan suara yang bergetar karena mulai ketakutan.


Nilam tersenyum dan mengusap wajah Zahra,namun Zahra reflek memalingkan wajahnya,jelas ada niat buruk dibalik senyum Nilam.


"Tolong,aku ingin pulang,dimana ini?" Tanya Zahra lagi masih dengan rasa takut yang menjalar keseluruh tubuhnya.


Nilam naik kekemudi tanpa menghiraukan pertanyaan Zahra,ia mengambil kantong kresek hitam dan mengeluarkan sebuah roti serta minuman dari sana,ia membuka bungkus roti itu,lalu menyodorkannya kemulut Zahra.


"Makan!"


Zahra menggeleng cepat,teringat saat semalam ia minum dan langsung tertidur,ia yakin kali ini Nilam juga memasukkan sesuatu ke makanan itu,ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Nilam kesal karena Zahra tetap tidak mau membuka mulutnya,iapun mencengkeram pipi Zahra agar mulutnya terbuka dengan paksa.


"Aku bilang makan!" Zahra tetap menolak,hingga Nilam marah melempar roti itu lalu melayangkan satu tamparan kewajah Zahra.


"Plaakk"


Zahra hanya menunduk menahan sakit,tapi sesal dihatinya lebih besar, harusnya ia mendengarkan pesan Rama untuk menunggunya,apakah ini hukuman dari Allah karena melawan perintah suami,air matanya menetes menyesali segalanya.


"Aku tidak akan segan berbuat kasar jika kamu terus melawan," ucap Nilam lalu ia kembali menyalakan mesin mobilnya,dan mobil itupun melaju entah kemana,Zahra bahkan tidak mengenal daerah yang sedang ia lewati,ia hanya menatap sendu kearah jendela, berharap Allah masih memberinya kesempatan untuk bertemu dengan suaminya.


Rama masih menunggu petugas yang melacak keberadaan mobil Nilam,Rian tiba-tiba datang dengan terburu-buru menghampiri Rama.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya dengan wajah cemas.


Rama sedikit menatap heran kewajah sahabatnua itu,ia bahkan sengaja tidak memberitahunya karena tidak ingin mengganggu tapi bagaimana Rian bisa tahu.

__ADS_1


"Sengaja tidak memberitahuku,apa kamu pikir aku sebodoh itu?" Rian seakan tahu apa yang sedang ada dipikiran Rama.


Rama menghela nafas,ia menceritakan semuanya kepada Rian, membuat Rian sendiri juga miris karena itu terjadi usai pesta pernikahannya.


Rian menepuk pundak sahabatnya itu, "Maaf,aku harusnya bisa melindungi Zahra,"


Rama tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini,ia lebih ingin fokus untuk menemukan Zahra sekarang,hingga petugas menemuinya dan memberikan lokasi tempat mobil Nilam berhasil dilacak,Rama dan Rianpun bergegas pergi untuk menuju kelokasi itu dengan beberapa rekan polisi yang lain.


Mobil yang membawa Zahra,melewati sebuah hutan yang cukup lebat, tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat,hanya satu sampai dua kali ia berpapasan dengan kendaraan lain,tangan Zahra masih berusaha untuk lepas, tapi kali ini ia melakukannya dengan hati-hati dan sesekali melirik kearah Nilam yang sibuk mengemudi,ia masih tidak habis pikir,apa sebenarnya yang Nilam ingin lakukan,dan kemana ia akan membawanya pergi.


Tali mulai kendor,Zahra menghela nafas perlahan dan dengan pelan melepaskan tali itu dari tangannya tanpa sepengetahuan Nilam.Zahra melirik kesana kemari berharap ia bisa menemukan ponselnya,tapi dimana Nilam meletakkannya apa sudah dibuang.


"Akh..." Pekik Zahra membuat Nilam menatap kearahnya dengan wajah bingung.


"Kenapa?"


"Akh..." Zahra meringis dan wajahnya seperti menahan sakit,Nilam yang mulai panik langsung menghentikan mobilnya.


Mobil berhenti,Zahra merasa ini kesempatan bagus untuk kabur,iapun mendorong tubuh Nilam dengan tangannya yang sudah terlepas dari ikatan lalu dengan cepat membuka pintu mobil dan mulai berlari.


Nilam memekik kesal, ternyata Zahra menipunya,iapun kembali melajukan mobilnya dan mengejar Zahra yang berlari kedalam hutan.


Zahra terus berlari,ia tidak tahu harus pergi kemana karena didepannya hanya ada semak belukar,namun yang pasti ia harus pergi dan tidak boleh tertangkap lagi oleh Nilam,ia terus berdo'a agar seseorang datang untuk menolongnya, apalagi melihat mobil Nilam yang masih terus mengejar dan menerobos semak-semak agar bisa menangkapnya.


Rian masih memperhatikan mesin lacak didepannya, sementara Rama menyetir,mereka mulai memasuki hutan,Rama mengemudi dengan sangat brutal yang terkadang membuat Rian hampir kehilangan jantungnya,namun Rian sangat mengerti,Rama tidak ingin membuang banyak waktu dan ingin segera menemukan Zahra.


Nilam menyunggingkan bibirnya menatap kearah Zahra yang terlihat sangat ketakutan, "Kali ini,kamu tidak akan bisa lolos, meskipun aku juga harus mati,kita akan mati bersama Zahra," gumam Nilam yang menatap Zahra dengan seringai tajam lalu kakinya perlahan menginhak gas,namun ia tercekat saat mendengar suara sirine polisi yang menggema ditelinganya.


Zahra juga mendengarnya,ia merasa hidup kembali walaupun belum mati, berharap jika itu adalah Rama yang datang untuk menyelamatkan dirinya.


Hingga mobil Rama berhenti disamping mobil Nilam,Rama melihat istrinya yang berdiri tegang ditepi jurang,Rama merasa lega, setidaknya ia masih bisa melihat Zahra dalam kondisi yang baik-baik saja, begitupun Zahra yang merasa terharu saat bisa melihat suaminya keluar dari mobilnya, Keduanya saling menatap dengan rindu dan rasa haru yang menghiasi mata mereka,hingga tiba-tiba mobil Nilam melaju kencang.


"Zahra..." teriak Rama.


"Brak..." mobil itupun menabrak Zahra dan membuat Zahra terjun kesungai,namun karena panik dan tidak sempat menginjak rem,Nilam bersama mobilnya juga jatuh kesungai itu.


"Zahra...." Pekik Rama yang kakinya langsung lemas,melihat sang istri yang dilenyapkan didepan matanya,iapun berlutut tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat, berharap semuanya hanyalah sebuah mimpi buruk.


Rian dan rekan polisi yang lain segera turun,mereka melihat kebawah,mobil Nilam tenggelam disungai,entah bagaimana nasib keduanya,Rian segera menghubungi tim SAR dan juga petugas lain untuk membantu mereka.Sementara Rama masih syok dengan kejadian yang baru saja terjadi,dalam sekejap ia harus kehilangan sang istri yang berada didepan matanya tangisnya pun pecah, "Ya Allah,Zahra...Ya Allah," sebut Rama berkali-kali dengan histeris,iapun mendekat kearah jurang, berharap masih bisa menyelamatkan istrinya,Rian berusaha mencegahnya,namun Rama tidak bisa ditahan saat ini,Rama menghela nafas menatap aliran sungai yang cukup deras,ia ingat bahwa istrinya tidak bisa berenang,tanpa pikir panjang, Ramapun melompat kesungai itu,membuat Rian dan rekannya yang lain terkejut.


"Ram..." Pekik Rian.


"Byurrr..." Rama membuka mata dan mulai berenang menyelami sungai itu,mencari keberadaan istrinya,namun tidak ada tanda-tanda Zahra disana,ia melihat mobil Nilam dan Nilam yang berusaha membuka pintu mobilnya karena tidak bisa keluar.


Nilam mulai kehabisan nafas,ia melihat Rama yang juga menatapnya dan berharap Rama menyelamatkan dirinya.


Rama hanya diam untuk sesaat,namun ia bukanlah pria jahat yang membiarkan seseorang meregang nyawa didepan matanya,iapun berenang mendekat kearah mobil itu,dan berusaha membantu Nilam keluar.

__ADS_1


Hingga keduanya naik kepermukaan dengan nafas yang terengah.Nilam menatap kearah Rama,tidak menyangka setelah apa yang ia lakukan,Rama masih Sudi untuk menolongnya,Rama tidak merespon Nilam,ia mengambil nafas dalam-dalam lalu kembali menyelam untuk mencari Zahra.


Hingga beberapa saat kemudian,tim SAR datang dan mulai melakukan upaya penyelamatan,Nilam berhasil dibawa ketepi sungai untuk mendapatkan perawatan dibagian tubuhnya yang terluka, sementara Rama masih belum menyerah untuk mencari sang istri, meskipun tim memintanya untuk berhenti dan mereka yang akan melakukan pencarian.


Tubuh Zahra mungkin hanyut terbawa arus,karena Zahra tidak bisa berenang, apalagi arus sungai yang cukup deras,ditambah dengan benturan akibat mobil yang menabraknya,bisa dipastikan Zahra sedang terluka parah.


Rama duduk ditepi sungai dengan nafas terengah,tubuhnya gemetar karena dinginnya air sungai,ia masih menatap kedepan dan berharap istrinya masih bisa selamat dan segera ditemukan oleh tim SAR yang sedang menyusuri sungai itu.


Rian datang dengan kain lalu menutupi tubuh Rama yang basah kuyup.


"Ayo ganti baju,kamu bisa sakit sebelum menemukan Zahra," ucap Rian,tapi sama sekali tidak membuat Rama bergerak dari tempatnya,Rian hanya menghela nafas, tidak tahu lagi cara untuk bisa membujuk sahabatnya itu.


Dilokasi yang tidak jauh dari sana,sang pengusaha Saka Wirawan sedang menaburkan bunga dialiran air sungai yang cukup deras,ia mengenang kepergian sang istri didampingi oleh asisten pribadinya,ia menatap sayu kearah air yang mengalir deras, yang merenggut nyawa sang istri tercinta,air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.


Setelah ini,dia berniat untuk meninggalkan kota ini,agar bisa memulai lagi kehidupannya dan berhenti berduka atas kepergian istrinya,saat akan melangkah pergi,ia melihat sesuatu yang mengambang diair sungai,nampak sebuah tangan yang terlihat,dengan panik Saka menyuruh sang asisten untuk berenang dan menyelamatkan seseorang yang sepertinya tenggelam itu.


Senja mulai menyapa,tapi bekum ada tanda-tanda jika Zahra akan ditemukan meskipun tim SAR masih mencari,Rama hanya bisa menatap sendu dengan matanya yang mulai lelah karena terus menangis,kenapa lagi lagi Allah harus mengujinya seperti ini,kenapa untuk kedua kalinya,ia harus kehilangan orang yang paling ia cintai didunia ini.


"Kenapa ya Allah," gumam Rama sembari menunduk dan mengusap kepalanya beberapa kali dengan tangis yang penuh penyesalan.


Tiara langsung jatuh kelantai mendengar kabar buruk tentang sahabatnya dari sang suami,air matanya pecah,dihari yang harusnya ia berbahagia namun kenapa ada kabar yang begitu menyayat hatinya,kenapa ini harus menimpa sahabatnya yang bahkan baru saja merasakan sebuah kebahagiaan,


"Ya Allah,tolong selamatkan Zahra," ucapnya disela tangis yang tidak terbendung.


Sementara,sang ibu terus berdzikir saat mendengar putri tercintanya mengalami kecelakaan dan belum ditemukan,ia juga berdoa agar Allah selalu memberikan perlindungan pada Zahra.


5 hari usai kecelakaan itu,Rama masih setia berdiri ditepi sungai,ia tidak akan menyerah sampai bisa menemukan istrinya,tim SAR sebenarnya sudah ingin menghentikan pencarian karena meski sudah menambah radius namun Zahra atau bahkan mayatnya juga tidak bisa ditemukan,namun Rama dengan keyakinannya masih ingin terus melanjutkan pencarian.


Rian merasa jika ini memang sudah tidak bisa dilanjutkan karena kemungkinan terburuk memang Zahra dipastikan tidak selamat,namun memang belum ada bukti pasti tentang hal itu,jadi meskipun ia memnberikan seribu alasan pada Rama untuk menerima semuanya,itu hanya sia-sia karena Rama tidak akan merespon pendapatnya.


Disebuah rumah sakit,Zahra terbaring tidak sadarkan diri dengan beberapa alat medis yang terpasang ditubuhnya.


Dari balik jendela,pria berjas hitam menatap kearah Zahra,masih belum sadar sejak pertama kali ia membawanya kerumah sakit.


Sang asisten bernama Aryo datang menghampirinya.


"Tuan,dokter berkata luka dikepalanya cukup parah,harus dilakukan operasi secepatnya," ucap sang asisten.


Saka masih saja tidak memalingkan wajahnya sedikitpun dari wajah Zahra, "Aku akan membawanya bersamaku dan melakukan operasi disana," ujar Saka membuat asistennya sedikit tercekat.


"Tapi tuan,bukankah seharusnya kita menghubungi polisi, mungkin seseorang sedang mencarinya," Aryo merasa jika tindakan Saka tidaklah benar.


Saka menatap tajam kearah Asistennya itu, "Lakukan saja tugasmu,aku ingin pergi malam ini juga,Mita sudah menunggu terlalu lama,"


Sang asisten hanya bisa menunduk lalu segera pergi untuk mengurus semuanya.


Sementara Saka kembali menatap kearah Zahra yang masih terbaring lemah tak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2