Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kepergian Nenek


__ADS_3

Rama menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah sederhana,dengan ukuran yang cukup minim,tapi terlihat bersih dan indah dari depan.


Zahrapun segera turun diikuti oleh Rama dibelakangnya lalu menuju kepintu rumah itu yang tertutup rapat.


"Tok...tok..tok.."


Zahra mengetuk pintu kayu itu dengan tangannya, "Assalamualaikum..."


Tidak ada jawaban,Zahrapun mengulang kembali tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam rumah.


Zahra melihat kearah Rama, "Apa bener ini rumahnya?" Tanya Zahra pada pria yang juga terlihat bingung itu.


"Alamatnya sih sudah benar," jawab Rama yang berusaha mencari seseorang untuk mencari informasi.


Sementara Zahra masih berusaha memanggil neneknya sembari mengintip dari jendela kaca,tapi sepertinya rumahnya memang kosong.


Rama menghampiri seorang ibu-ibu yang melewati rumah tersebut, "Maaf Bu,apa bener ini rumah nenek Santi?"


"Bener Mas,tapi nenek Santikan lagi dirawat dari beberapa hari yang lalu," jawab ibu-ibu itu membuat Rama membelalakan matanya.


"Dirawat?"


"Iya mas,sejak pindah kesini dia sering sakit-sakitan ,dan sering keluar masuk rumah sakit," imbuh ibu-ibu lagi.


Rama terlihat cemas,ia melirik kearah Zahra yang masih kebingungan memeriksa sekitar rumah.


"Boleh saya tahu alamat rumah sakitnya," tanya Rama lagi.


Ibu itupun menyebutkan salah satu rumah sakit terdekat tempat nek Santi dirawat,lalu iapun melanjutkan perjalanannya.


Rama berjalan menghampiri Zahra.


"Gimana?benerkan ini rumah nenek?" Tanya Zahra yang melihat Rama baru saja mengobrol dengan seseorang.


Rama menganguk, "Bener kok,tapi ibu tadi bilang nenek sedang dirawat,dirumah sakit," ucap Rama.


Zahra terlihat sangat syok dan juga cemas, "Nenek,"


"Kita kesana sekarang ya," ucap Rama yang tidak ingin Zahra semakin sedih.


Zahra menganguk dan merekapun segera menuju mobil untuk pergi kerumah sakit.


Zahra dan Rama berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang cukup sepi.


Zahra menghentikan langkahnya saat mendengar suara tangisan yang menggema,nampak seorang perempuan yang sedang menangis sembari memeluk tubuh yang terbaring lemah dibangsal rumah sakit.


"Ibu...bangun Bu...ibu jangan tinggalin Aira Bu...bangun," teriak perempuan itu dengan histeris.


Deg....


Tubuh Zahra langsung oleng karena lemas saat melihat neneknya sudah terbujur kaku,Rama memegangi tubuh Zahra agar tidak terjatuh.


"Zahra..." Panggil Rama pelan.


"Gak...gak mungkin," Zahra menggelengkan kepalanya dan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat,iapun langsung berlari menghampiri mayat neneknya dan menangis sembari memeluk tubuh itu.


"Zahra," ucap Aira pelan sembari mengusap pipinya.

__ADS_1


"Nenek...bangun nek,Zahra udah datang kesini,nenek jangan tinggalin Zahra,...nenek..." Teriak Zahra histeris sembari menggoyangkan tubuh lemas neneknya.


Rama memalingkan wajahnya karena merasa tidak tega.


"Maaf mbak,jenazah harus segera dimandikan" ucap salah satu perawat pada Zahra yang masih enggan melepaskan jenazah Neneknya.


"Gak..gak..." Zahra masih tidak mau pergi.


Rama mendekati Zahra dan menarik lengannya, "Zahra,"


Zahra menatap Rama sembari menggelengkan kepalanya dengan tangis yang menghiasi wajahnya,seperti tidak rela jika harus melepaskan kepergian neneknya.


Rama langsung memeluk tubuh perempuan itu dengan erat berusaha membuatnya lebih tanang dan ikhlas melepaskan kepergian neneknya.


Zahra menangis didada bidang Rama melepaskan segala kepedihan yang ia rasakan.


Sementara jenazah dibawa oleh perawat untuk dimandikan.


"Kamu harus ikhlas,nenek sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi,Allah lebih menyayanginya," ucap Rama sembari mengusap lembut punggung Zahra.


Zahra berusaha lebih tenang dan akan mencoba ikhlas melepaskan kepergian nenek meskipun sangat sulit,ia sudah berencana akan membawa nenek tinggal bersamanya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang hingga penyakitnya sembuh,tapi kenyataan berkata lain, sekarang justru ia harus kehilangan orang yang paling ia sayangi didunia ini.


Malam harinya usai pemakaman nenek,Zahra duduk melamun diteras sembari menatap hitamnya langit malam itu,perasaan duka masih menyelimuti wajahnya, meskipun sudah ikhlas melepas kepergian neneknya tetap saja sedih itu tidak bisa hilang dalam sekejap.


Aira keluar rumah dan duduk disampingnya,sama seperti Zahra,dukapun masih sangat nampak diwajahnya.


"Maaf,mbak tidak memberi tahu kamu tentang keadaan nenek,tapi ibu kamu selalu mengancam mbak dan nenek supaya tidak menganggu kamu dan menyusahkan kamu lagi," ucap Aira.


Zahra hanya diam,ia tidak ingin mendengar apapun penjelasan Aira,ia sangat kecewa karena harus datang disaat neneknya sudah tiada.


"Zahra,mbak tahu selama ini mbak selalu memanfaatkan kebaikan kamu,mbak minta maaf,bahkan disaat terakhir,nenek masih sangat ingin bertemu dengan kamu,ini salah mbak, harusnya mbak ngasih tahu kamu sebelumnya,maafin mbak ya,Zahra..." Ucap Aira sembari memegang tangan Zahra.


Aira tahu Zahra sangat marah dan kecewa padanya,ia juga tidak ingin memaksa Zahra untuk memaafkannya sekarang,iapun beranjak untuk kembali kedalam rumah dan membiarkan Zahra lebih tenang terlebih dahulu.


Aira melihat Rama dengan secangkir teh hangat ditangannya,Aira hanya menunduk dan langsung masuk kedalam,Rama melanjutkan langkah menghampiri Zahra yang masih duduk diam ditempatnya.


Rama menyodorkan secangkir teh pada Zahra.


"Disini dingin,akan mudah membuatmu sakit," ucap Rama.


Zahra menerima teh itu dan menukmati hawa panas yang membuatnya sedikit lebih tenang, "Terimakasih," ucap Zahra pelan lalu menyeruput teh hangat itu sedikit demi sedikit.


Rama masih melihat duka dan penyesalan dimata Zahra yang begitu dalam, meskipun tidak tahu harus berbuat apa,tapi Rama ingin bisa menghibur perempuan disampingnya itu.


"Nenek akan sedih jika melihatmu terus sedih seperti ini,bukannya dia ingin selalu melihat cucu kesayangannya bahagia dan tersenyum," ucap Rama membuat Zahra kembali menangis mengingat bagaimana neneknya sangat menyayanginya semasa masih hidup.


"Jika kamu ingin nenek bahagia,kamu harusnya juga bisa membuat hidup kamu sendiri bahagia," imbuh Rama lagi.


Zahra menganguk,iapun mengusap pipinya yang basah dan berusaha kuat meskipun sangat sulit.


"Yah,,aku akan melakukan apapun untuk membuat nenek bahagia," jawab Zahra.


Rama tersenyum tipis dan mengusap Surai rambut Zahra dengan lembut,Zahrapun perlahan menyandarkan kepalanya kepundak Rama.Keduanya sama-sama terlihat nyaman sembari menikmati gelapnya malam meskipun masih belum mengakui perasaan satu sama lain,tapi keduanya tidak memungkiri jika ada perasaan nyaman diantara mereka.


Sebuah mobil berhenti didepan rumah,Zahra mengangkat kepala dan mengerutkan keningnya,sepertinya bukan orang asing.


Tiara keluar diikuti oleh Arman.

__ADS_1


Zahra dan Ramapun langsung berdiri menyambut mereka.


"Zahra," Tiara langsung memberikan pelukan hangat kepada sahabatnya yang sedang berduka itu,Zahra begitu lega bisa memeluk seseorang untuk melepaskan segala beban yang ia rasakan.


"Kamu kok bisa kesini?" Tanya Zahra saat melepaskan pelukan Tiara.


Tiara melihat kearah Rama,membuat Zahra sedikit bingung,dan mengikutinya menatap Rama.


"Aku yang memberi tahu Tiara,aku rasa dia bisa membuatmu lebih tenang," jawab Rama.


Rama tahu Tiara yang paling Zahra butuhkan,makanya ia sengaja menghubungi Tiara agar datang dan bisa menemani Zahra.


Zahra tersenyum dan kembali memeluk sahabatnya itu.


"Aku turut berduka atas kepergian nenek," ucap Arman.


"Terimakasih," jawab Zahra.


"Mbak Aira?" Tanya Tiara.


Zahra mengajak Tiara masuk kedalam rumah untuk bertemu dengan Aira.


Rama kembali duduk ditemani oleh Arman.


"Hubunganmu dengan Zahra sepertinya sudah membaik," ucap Arman yang tahu betul sebelumnya betapa kasarnya perlakuan Rama pada Zahra.


Rama menganguk dan mengukir senyum tipis diwajahnya, "Semua orang bisa berubahkan, setelah mengenalnya aku merasa dia bukan perempuan yang buruk," jawab Rama.


Ada rasa sesak yang dirasakan Arman saat mendengar jawaban Rama, "Harusnya dari awal kamu tahu kalau Zahra bukanlah perempuan yang jahat,sehingga kamu tidak perlu berbuat kasar padanya,"


Rama melihat kearah Arman,sangat nampak jika pria itu menaruh hati pada Zahra, "Apakah Zahra begitu berarti untukmu,aku kita Tiara,tapi ternyata..."


"Kamu tidak perlu ikut campur soal itu," jawab Arman bahkan sebelum Rama menyelesaikan ucapannya.


Rama menganguk, "Baiklah, sebelumnya kita juga tidak berteman,jadi lebih baik tidak usah saling mencampuri urusan masing-masing," Ramapun beranjak masuk meninggalkan Arman yang masih terlihat cemburu itu.


Keesokan harinya,Zahra dan Tiara sedang menyiapkan sarapan didapur, sementara Aira membersihkan ruangan depan.


Zahra sudah terlihat lebih baik,tidak sesedih semalam.


"Ahem...kayanya ada yang lagi jatuh cinta neh," sindir Tiara sembari menyenggol pelan lengan Zahra yang sedang berdiri disampingnya.


Zahra tersenyum malu,"Apaan sih,"


"Ternyata bener ya,kalau Benci itu bisa menumbuhkan benih-benih cinta,dulu pas ketemu Rama,kayanya dia pengen nelen kamu terus,sekarang..bahkan dia menghubungi aku cuma supaya bisa menghibur kamu, benar-benar sulit dipercaya," ucap Tiara semakin membuat Zahra salah tingkah.


"Udah deh gak usah julid,kita gak ada hubungan apa-apa kok,cuma saling peduli aja," jawab Zahra masih berusaha mengelak tentang perasaannya.


"Ya..itukan sekarang,dari saling peduli nanti lama-lama juga saling cinta," ucap Tiara lagi yang semakin senang menggoda Zahra.


"Ih..." Zahra mencubit pelan lengan Tiara karena semakin membuatnya malu.


Tiarapun terkekeh,ia benar-benar merasa bahagia melihat sahabatnya bisa tertawa seperti ini.


"Kalo hubungan kamu sama Arman gimana?kayanya udah semakin deket?" Zahra mencoba membalas Tiara.


"Kok jadi aku sama Arman,kita gak pernah ada hubungan apa-apa kok," jawab Tiara mencoba menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


Zahra mengerucutkan bibirnya, "Oya,jadi kamu gak suka sama dia?"


Tiara terdiam dan menunduk malu,membuat Zahra merasa gemas pada sahabatnya itu,merekapun kembali mengobrol tentang perasaan mereka sembari menyiapkan sarapan.


__ADS_2