
5 Bulan kemudian
Zahra sedang berada diboutiqe dan memeriksa beberapa gaun pernikahan yang telah dipesan.
Tiara pun sedang berada disana,ya..semenjak Zahra membuka boutique Tiara sering membantu jika ada waktu luang usai mengajar,tapi terkadang ia dibuat kesal dengan kedatangan seseorang yang tak diundang, seperti hari ini,pria itu kembali datang dengan bucket bunga ditangannya.
Tiara mendekati Zahra dan berbisik, "Dia datang,"
Zahra mengerutkan dahinya dan langsung menoleh kearah pintu masuk lalu menghela nafas panjang, terlihat jelas rasa kesal dan bosan diwajahnya.
"Sore," sapa Arman lalu menyodorkan bucket bunga itu pada Zahra.
Tiara memilih pergi meninggalkan tempat itu,karena tidak ingin menganggu.
Zahra menaruh bunga itu disudut ruangan yang sudah dipenuhi dengan beberapa bucket bunga lainnya.
"Sepertinya ruangan ini akan penuh dengan bunga darimu," Sindir Zahra namun sebenarnya ia ingin agar Arman berhenti memberikannya bunga setiap hari.
"Kamu kaberatan?" Tanya Arman yang mulai sadar akan sikap Zahra yang semakin hari semakin acuh padanya.
Zahra tidak ingin menyinggung perasaan Arman,meskipun tidak menyukainya tapi Arman bukanlah pria yang jahat,ia pria baik yang menaruh banyak perhatian pada Zahra, meski terkadang Zahra Merasa jika Arman terlalu berlebihan.
"Aku suka," jawab Zahra dengan wajah yang terpaksa,Armanpun tersenyum dan tetap tidak sadar diri.
Sore itu seperti biasa,Aminah datang kerumah sakit untuk membacakan Ayat suci Alqur'an didepan Rama yang masih terbaring koma, meskipun dokter selalu mengatakan jika harapan Rama untuk sadar sangatlah kecil namun Aminah yakin jika Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin,sehingga ia tidak pernah berhenti berharap untuk kesembuhan Rama.
Dimalam yang indah itu,Tiara dan Rian sedang makan malam disebuah kafe, keduanya sedang membahas rencana pernikahan mereka yang akan dilaksanakan bulan depan.
"Bagaimana dengan Rama?" tanya Tiara yang sangat mengerti jika Rama adalah sahabat karib Rian, melakukan pernikahan tanpa kehadirannya tentu akan membuat Rian sedih.
"Kita selalu berdoa untuk kesembuhannya,semoga saja Allah memberikan mukjizat sebelum pernikahan kita dilangsungkan," jawab Rian dengan penuh harap.
"Amin..." Tiara juga mengharapkan hal yang sama,karena selain tidak ingin melihat Rian sedih,ia juga tidak ingin terus melihat Zahra terpuruk,ya... meskipun Zahra tidak pernah mengatakan semua itu,tapi ia seringkali melihat Zahra melakukan sholat malam demi memohon kesembuhan Rama.
"Kamu tahu,aku mendapatkan pesanan untuk gaun pernikahan lagi,hah...sangat lelah tapi juga sangat menyenangkan,aku akan bekerja keras agar tidak mengecewakan para pelangganku," ucap Zahra saat sedang menjenguk Rama dirumah sakit.
Zahra menatap wajah Rama dengan pilu,ia selalu berusaha kuat tapi pada kenyataannya ia tetap tidak bisa menahan rasa sakitnya ketika sadar jika Rama masih tidak bisa merespon apapun,ia hanya bisa menangis dalam diam,berdoa dengan penuh harapan,meminta agar pria disampingnya bisa mengumpat seperti dulu dan mengatainya dengan kejam.
__ADS_1
"Ya Allah,Siapa yang sedang Engkau hukum sebenarnya,kenapa aku merasa sangat tersiksa seperti ini setiap kali melihatnya,inikah hukuman dariMu untukku?" gumam Zahra yang lalu menunduk sembari menangis hingga air matanya jatuh membasahi tangan Rama.
Malam itu Zahra pulang setelah puas mengungkapkan segala isi hatinya kepada Rama.
Saat Zahra pergi,jari tangan Rama bergerak perlahan,dan matanya yang masih terpejam mulai menampakkan tanda-tanda kesadaran.
"Hana,jangan tinggalkan aku," Rama memegang tangan Hana yang ingin berlari menjauh darinya,saat mereka berada disebuah tempat asing yang dipenuhi kabut.
"Ram...aku harus pergi,"
"Biarkan aku ikut denganmu," Rama benar-benar tidak ingin melepaskan tangan Hana.
Hana menggelengkan kepalanya.
Rama mengerutkan dahinya, "Kenapa?"
"Karena masih banyak hal yang belum kamu selesaikan,pulanglah...sudah terlalu lama kamu pergi," ucap Hana sembari membelai lembut pipi Rama lalu iapun kembali berlari dan menghilang dalam kabut.
"Hana..." teriak Rama.
Tapi sebuah tangan tiba-tiba melingkar dilengan Rama,Iapun menoleh dan melihat Zahra yang tersenyum padanya.
Rama membuka mata dengan nafas yang tersengal,ia akhirnya sadar dari komanya.
Dokter segera memeriksa kondisi Rama paska ia membuka mata untuk pertama kalinya setelah hampir 5 bulan.
Rama terdiam,ia melihat kesekeliling dengan wajah yang masih terlihat bingung,kepalanya pusing dan badannya terasa kaku,Ia mulai mengingat saat terakhir menelfon Zahra dan tiba-tiba tubuhnya terhantam dengan sangat keras, setelahnya tidak mengingat apapun lagi.
Pagi itu,Rian menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah cepat,ia membuka ruangan dimana Rama dirawat.
Matanya terbelalak ketika melihat sahabatnya itu sedang duduk dan menyambutnya dengan sebuah senyuman,Aminahpun sudah berada disana dengan wajah yang berseri.
Rian langsung memeluk Rama dengan penuh rasa haru, "Ini beneran kamukan?serius?" ucap Rian dengan kebahagiaan sembari mencubit pipi Rama.
"Diamlah," Rama menangkis tangan Rian tapi justru membuat Rian tertawa bahagia karena itu berarti Rama benar-benar sudah kembali.
"Aku akan memberi tahu Zahra," Rian ingin menelfon tapi Rama mencegahnya.
__ADS_1
"Tidak perlu," ucap Rama.
Rian mengerutkan dahinya,Aminah memberikan kode pada Rian dan iapun mengerti,selama koma Rama tidak mengetahui apapun yang telah terjadi,termasuk Bimo yang sudah tewas ditangan Fatma.
"Biarkan Rama pulih dulu,setelah itu kita akan ceritakan semuanya," ucap Aminah.
Rian menganguk,Rama hanya diam meskipun ia sebenarnya merasa penasaran dengan apa yang dimaksud oleh ibu Aminah.
Tiara menghampiri Zahra yang sedang berada dimeja makan dengan wajah sumringah, seperti baru saja mendapatkan berita bahagia membuat Zahra sedikit heran.
"Ada apa?"
"Rian menelfon ku,dia bilang kalau Rama sudah sadar," ucap Tiara yang membuat Zahra terlihat sangat senang.
"Alhamdulillah ya Allah," Zahra langsung mengucap syukur, akhirnya setelah penantian yang panjang do'anya terjawab sudah,ia terlihat sangat bahagia bahkan sampai menitikkan air mata.
Tiara memeluk Zahra dengan penuh haru,meskipun setelah ini Zahra harus menjaga jarak dari Rama tapi mendengar pria yang dicintainya itu selamat dari maut sudah merupakan berkah baginya dan ia sama sekali tidak mengharapkan apapun lagi.
Aminah sedang menyuapi makanan untuk Rama yang masih harus dirumah sakit untuk pemulihan.
"Maaf ya Bu,kalau aku udah nyusahin ibu selama ini," ucap Rama yang merasa jika Aminah pasti sangat repot saat dirinya tidak sadarkan diri.
Aminah tersenyum lalu mengusap kepala Rama dengan lembut, "Mendengar kamu bisa berkata seperti itu,membuat ibu sangat bahagia,karena itu berarti putra ibu benar-benar sudah kembali," ucap Aminah dengan penuh haru lalu memeluk Rama dengan hangat.
Rama merasa lebih tenang, setelah sekian lama ia bisa kembali merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.
Dari balik jendela,Zahra meneteskan air mata saat melihat Rama bersama dengan Aminah,ia merasa sangat bahagia bisa melihat Rama kembali,tapi kesedihan juga menghampirinya, mungkinkan Rama masih membencinya seperti sebelum kecelakaan itu terjadi,apakah Rama mau menemuinya.
Zahra memilih untuk pergi tanpa menemui Rama karena tidak ingin jika bertemu dengannya justru membuat kondisi Rama kembali memburuk.
2 Hari kemudian,Rama sudah diperbolehkan pulang, keadaannya juga semakin membaik,awalnya Aminah ingin agar Rama pulang kerumahnya,tapi Rama menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan Aminah,tapi ia sudah menyewa seorang petugas untuk membantunya dirumah agar Aminah menjadi lebih tenang.
Zahra melamun saat masih berada diboutiqe,betapa ingin dia bertemu dengan Rama,tapi tidak punya keberanian,ia hanya mengandalkan Rian untuk mengetahui kabar Rama,bahkan sekarang dia juga sudah tahu jika Rama sudah pulang.
Rama duduk disofa,rumah benar-benar terasa sangat asing setelah pergi cukup lama,ia bertanya dalam pikirannya, bagaimana kabar perempuan itu,kenapa tiba-tiba ia merindukannya,apakah selama koma,dia datang menjenguk atau sebaliknya dia sama sekali tidak peduli.
Rama menghela nafas dan meraup wajahnya,lalu menyandarkan tubuhnya sembari menatap kearah langit-langit.
__ADS_1
Bayangan itu tiba-tiba muncul,senyumnya membuat Rama semakin merindukannya.
"Azahra," gumam Rama lalu memejamkan kedua matanya.