
Rian langsung berdiri dengan wajah terkejut saat mendapatkan telfon dari rekannya tentang tewasnya Bimo dan siapa pelakunya.
Tiarapun ikut merasa panik apalagi saat Rian menyebutkan nama Bimo.
Rian menutup telefon dengan wajah yang masih tidak percaya.
"Ada apa?" Tanya Tiara yang sangat penasaran dan takut jika masalah Bimo ada hubungannya dengan Zahra.
"Bimo tewas,dia ditembak oleh istrinya sendiri," jawab Rian membuat Tiara terkejut hingga membungkam mulutnya sendiri.
Benar-benar tidak dapat dipercaya, bagaimana mungkin ibu Fatma tega membunuh suaminya sedangkan selama ini dia begitu terlihat membela Bimo.
"Bagaimana dengan Zahra?" Tanya Tiara yang mulai cemas dengan keadaan Zahra.
Rian menggelengkan kepala, "Aku belum tahu,bisakah kamu menunggu Rama disini,aku akan kekantor untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Rian.
Tiara menganguk dengan cepat karena dia juga tidak tenang memikirkan Zahra, "Kabari aku secepatnya,"
Rian menganguk dan segera beranjak pergi menuju kekantor.
Tiara hanya bisa berdoa agar sahabatnya dalam keadaan baik dan tidak terjerat masalah apapun.
Zahra terus menangis sembari memegangi tangan Fatma yang sudah berada didalam jeruji besi,ia benar-benar tidak menyangka demi dirinya,Fatma harus mengorbankan dirinya seperti ini,ia sangat menyesal sudah melakukan hal bodoh seperti tadi.
Fatma mengusap air mata Zahra, "Berhenti menangis," ucap Fatma yang terlihat lebih tegar.
"Maafin aku Bu...maafin aku," ucap Zahra terus menerus karena sangat menyesali perbuatannya.
"Zahra,mungkin ini adalah cara ibu menebus semua kesalahan ibu kepadamu,selama ini ibu selalu mengabaikan perkataanmu dan lebih mempercayai Bimo,ibu yang salah sudah tidak percaya padamu dan lebih mempercayai pria bejat seperti Bimo,maafin ibu ya," ucap Fatma yang juga menyesal dengan perbuatannya selama ini kepada Zahra.
Zahra hanya bisa menangis sembari menciumi tangan Fatma.
Tidak menyangka kejadian seperti ini harus menimpanya, sekarang justru sang ibu tercinta yang harus masuk kedalam sel, benar-benar cobaan yang sangat berat untuk Zahra.
Rian sampai dikantor,ia langsung menyidiki kasus tentang tewasnya Bimo,dan mencari tahu semuanya,termasuk memeriksa beberapa saksi yang berada dilokasi.
__ADS_1
Iapun memeriksa Zahra sebagai saksi.
Zahra masih terdiam saat Rian mengajukan beberapa pertanyaan sebagai seorang anggota polisi.
Rian menutup berkas didepannya,karena Zahra tetap tidak ingin memberikan keterangan apapun.
"Apa kamu yang berniat membunuh Bimo karena dia yang sudah mencelakakan Rama?" kali ini Rian bertindak sebagai seorang teman.
Zahra menatap kearah Rian,bagaimana mungkin Rian bisa menebak hal seperti itu.
Rian mendekati wajah Zahra, "Karena akupun akan melakukan hal yang sama jika berada diposisimu,pria seperti dia memang pantas untuk dilenyapkan," ucap Rian membuat Zahra terharu dan kembali menunduk dengan tangis yang menghiasi wajahnya.
"Baiklah,aku akan berusaha agar ibumu mendapatkan hukuman seringan mungkin, karena bukan dia yang sebenarnya bersalah tapi Bimolah biang dari semuanya," ucap Rian yang membuat Zahra mengangkat kepalanya dengan penuh harapan.
"Terimakasih," ucap Zahra.
Rian menganguk,kali ini ia akan yang akan membalas semua perbuatan Bimo kepada Rama selama ini dengan mengungkap semua kejahatan yang sudah ia perbuat, termasuk melengserkan pak Tio dari jabatannya.
Tiara masih menunggu sembari duduk didepan ruangan tempat Rama dirawat, tapi tak kunjung ada kabar dari Zahra ataupun Rian yang membuatnya semakin cemas.
Aminahpun sudah sadar tapi ia masih harus beristirahat untuk memulihkan tenaganya.
"Tiara," panggil Zahra.
Tiara langsung berdiri dan memeluk sahabatnya itu,keduanya meluapkan segala keresahan yang sedari tadi mereka rasakan.
Tiara mengusap lembut wajah Zahra dengan wajah yang sangat cemas, "Kamu baik-baik saja?aku sangat khawatir," ucap Tiara lalu kembali memeluk Zahra.
Zahra menganguk, "Ceritanya panjang, bagaimana kondisi Rama?"
Tiara terdiam lalu menoleh kearah jendela kaca,dimana nampak Rama yang masih terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang terpasang ditubuhnya.
Zahra merasa miris melihat kondisi Rama yang sampai separah ini.
"Dokter bilang, operasi berjalan lancar,tapi kesadaran Rama menurun,bisa dikatakan jika dia mengalami koma," ucap Tiara yang membuat Zahra semakin tidak bisa menahan kesedihannya.
__ADS_1
"Kenapa aku selalu membuat orang yang berada didekatku menderita,kenapa Allah tidak menghukumku saja," Zahra menangis dengan rasa bersalah yang bertubi-tubi ia rasakan.
Tiara memeluk erat sahabatnya itu dan berusaha membuatnya lebih tenang.
Dua hari berlalu,Rian masih sibuk mengurus kasus Bimo,hingga menemukan banyak bukti tentang bisnis ilegal maupun kejahatan lain setelah menggeledah rumah dan juga kantor Bimo,harta Bimopun sudah disita.
Rekan Rian memberikan sebuah amplop cokelat kepada Rian.
"Ibu Fatma menitipkan amplop ini untuk Rama tempo hari,tapi aku pikir kamu harus memeriksanya juga,"
Rian mengerutkan dahinya,dan membuka amplop itu,iapun melihat sebuah surat hasil lab Zahra,obat bius dan sebuah surat.
"Ini obat yang digunakan Bimo pada Zahra,hingga menyebabkan Zahra kehilangan kesadaran dan menabrak Hana dalam kecelakaan malam itu," tulis Fatma.
Rian ternganga,tidak percaya dengan kejahatan Bimo yang benar-benar tidak berakal.
"Dia benar-benar bajingan," umpat Rian dengan wajah kesal.
Rian menghubungi rekannya untuk menanyakan tentang kasus Hana,tapi sungguh diluar dugaan,rekannya berkata jika Rama sudah membatalkan untuk membuka lagi kasus itu sebelum kecelakaan yang menimpanya.
Sekarang Rian benar-benar yakin jika Zahra dan Rama adalah dua orang yang saling mencintai tapi karena keadaan mereka harus saling membenci.
Hari ini Zahra berkunjung kerumah sakit untuk menjenguk Rama,kondisi Rama masih sama,belum sadarkan diri.
Zahra tersenyum melihat luka diwajah Rama yang sudah mulai mengering dan mengusapnya pelan.
"Apa kabar?hari ini cuacanya sangat cerah,dan aku datang untuk mengunjungimu,satu lagi,besok kasus ibu akan disidangkan,aku berharap hukuman seringan mungkin akan diputuskan untuk ibuku," Zahra datang hampir setiap hari kerumah sakit dan menceritakan pada Rama apa sajakah yang sudah terjadi,ya... meskipun Rama tidak bisa merespon perkataannya namun ia berharap Rama bisa mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.
Meskipun Zahra terkadang merasa jika semua ini sia-sia tapi ia tidak akan menyerah sampai Rama bisa sadar kembali,meski setelah itu ia harus pergi menjauh darinya seumur hidup,ia juga sama sekali tidak keberatan dan akan dengan ikhlas meninggalkannya.
Vonis 3 tahun dijatuhkan pada Fatma,Zahra hanya bisa pasrah dan memberikan semangat kepada ibunya,ya...ini adalah hukuman teringan yang bisa diupayakan,karena secara tidak langsung,Fatma juga terlibat dalam bisnis ilegal milik Bimo.
Namun Fatma tersenyum bahagia,dan akan menjadikan hukuman ini sebagai penebus dosanya selama ini,dia ingin berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dan mulai mempelajari ajaran Islam yang akan membuat hidupnya lebih tenang.
Zahra juga mengambil keputusan penting untuk berhenti dari pekerjaannya menjadi seorang model,dan memilih mendirikan sebuah boutique busana muslim yang ia kelola sendiri, meskipun awalnya Ana tidak setuju dan sangat menentang keputusan Zahra tapi pada akhirnya diapun luluh,bahkan sekarang ia bekerja sebagai desainer baju dibutik Zahra.
__ADS_1
Zahra benar-benar merasa jika hidupnya sudah berputar 360° setelah kehadiran Rama,ia hanya ingin berubah menjadi orang yang lebih baik sekarang dan berharap jika Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk bahagia.
Hubungan Rian dan Tiarapun semakin dekat,bahkan Rian sudah membawa Tiara untuk meminta restu pada keluarganya untuk segera menikah,ya... meskipun awalnya Tiara sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun pada Rian,tapi kerja keras Rian akhirnya membuatnya luluh juga, daripada ia terus memikirkan Arman yang sama sekali tidak mempedulikan perasaannya dan masih saja berusaha mendapatkan hati Zahra, meskipun sudah beberapa kali ditolak.