Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Sakit ...


__ADS_3

Zahra sudah sampai dirumahnya,ia masih berusaha menghubungi Rama tapi tetap tidak diangkat.


"Apakah dia benar-benar sibuk hari ini?" Pikir Zahra karena seharian ini tidak bisa menghubungi Rama,bahkan Rama juga tidak menghubunginya, membuatnya sedikit merasa kesal,karena ia mengharapkan perhatian lebih dari sang calon suaminya itu, apalagi Zahra juga ingin membicarakan hal penting dengannya.


"Kenapa Ra," tanya Tiara sembari menghampiri sahabatnya itu yang terlihat begitu kesal.


"Rama seharian ini tidak mengangkat telepon dariku,apa mungkin dia begitu sibuk?" Keluh Zahra dengan wajah cemberut.


Tiara terdiam dan juga berpikir,iapun berusaha membuat sahabatnya lebih tenang.


"Mungkin dia emang sibuk,siapa tahu lagi banyak kasus,"


Zahra menganguk dan berusaha meyakinkan hatinya jika memang seperti itu dan tidak ingin berpikiran buruk tentang Rama.


Pagi itu begitu mendung,rintikan gerimis membuat suasana semakin dingin.


Tapi dikantor suasananya sudah begitu panas,Rian yang baru datang langsung bergegas masuk untuk menemui Rama.


Rama baru saja keluar dari ruangan pak Tio dengan beberapa berkas ditangannya.


Rian langsung menahan pundak sahabatnya itu dengan wajah yang terlihat tegang, "Apa ini?kamu benar-benar akan membuka kasus Hana kembali?"


Rama terdiam dan menepis tangan Rian lalu kembali duduk dikursinya.


"Apa kamu bercanda,siapa pelaku utamanya,Azahra?" Tanya Rian yang terus mengikuti Rama.


Rama masih tetap diam,dia tidak ingin menjawab apapun, karena perasaannya sendiri masih kacau.


"Ram...kamu tidak akan memasukkannya kepenjara bukan,lalu bagaimana dengan hubungan kalian?" Rian tetap tidak bisa diam dan terus mencecar Rama dengan pertanyaan.


"Hubungan apa yang didasarkan oleh sebuah kebohongan,aku tidak pernah menganggap hubungan yang seperti itu," jawab Rama dengan tegas membuat Rian diam dan menelan Salivanya,jika sudah seperti ini Rianpun tidak bisa berbuat apa-apa lagi,apalagi mata Rama yang dipenuhi dengan amarah membuatnya sangat takut.


"Coba pikirkan lagi," ucap Rian lalu iapun duduk dikursinya.


Rama terdiam dan menghela nafas panjang,sudah semalaman ia berpikir hingga tidak bisa tidur,haruskah ia berpikir lagi sekarang.


Bimo tertawa saat menerima telfon dari seseorang,Fatma yang saat itu membawakan teh untuknya berhenti didepan pintu dan menguping pembicaraan suaminya.


"Bagus...sudah aku duga dia akan melakukan hal itu,kali ini bukan saja hubungannya dengan Zahra yang akan berakhir tapi bahkan dia sendiri yang akan membuat Zahra masuk kepenjara," ucap Bimo lagi dengan tawa yang terus mengikutinya.


Fatma sangat syok mendengar semua itu,ia menutup mulut dengan tangannya agar Bimo tidak menyadari keberadaannya.


"Tapi Pastikan aku tidak akan terseret dalam kasus ini," ucap Bimo dengan tegas lalu mematikan ponselnya.


"Zahra...maafkan ayah sayang,kamu tidak bisa diatur jadi ayah terpaksa melakukan semua ini,semoga kamu menyadari kesalahanmu dan tidak berani lagi melawanku," gumam Bimo dengan tatapan tajamnya.


Fatma segera beranjak pergi dari depan pintu dengan langkah yang terburu.


Hari itu,Zahra sengaja datang kerumah Aminah untuk bertemu dengan Rama yang sampai sekarang belum bisa dihubungi,Aminah sangat senang sekali kedatangan Zahra dan menyambutnya dengan segelas teh hangat.

__ADS_1


"Bu... sebenarnya..." Zahra merasa sedikit malu harus menanyakan soal Rama kepada Aminah, bagaimanapun Rama sebelumnya adalah calon menantu dari ibu Aminah.


"Kamu cari Rama?" Tanya Aminah yang bisa membaca pikiran Zahra hanya dengan menatap matanya.


Zahra terdiam dan terlihat malu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gak usah sungkan,apa salahnya jika kalian mempunyai hubungan?" Ucap Aminah yang semakin membuat Zahra salah tingkah.


"Tapi Rama udah pindah dari kemarin,dia udah beli rumah baru,"


Zahra mengerutkan keningnya,kenapa Rama tidak membicarakan hal ini padanya,kenapa sikapnya berubah sejak kemarin,apakah memang terjadi sesuatu.


"Mungkin dia belum sempat memberitahu kamu,soalnya emang dari kemarin dia sibuk dikantor,jadi kamu maklum ya," ucap Aminah yang melihat kecemasan diwajah Zahra.


Zahra menganguk,Aminah benar-benar seorang ibu yang sangat peka,bahkan ia bisa mengerti perasaan seseorang tanpa orang itu mengatakannya.


Zahrapun meminta alamat baru Rama kepada Aminah,ia ingin membuat kejutan dengan datang kesana.


Rama keluar dari kantor, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang berdiri didepannya.


"Bisa kita berbicara?" Tanya Fatma yang kali ini memasang wajah kesal pada Rama.


Rama hanya diam dan mengikuti langkah Fatma menuju tempat yang lebih pantas untuk berbicara.


"Apakah benar kamu akan membuka kembali kasus yang melibatkan Zahra?" Tanya Fatma dengan tegas kepada Rama.


Rama melihat kearah Fatma, bagaimana ibu ini bisa tahu,bahkan ia belum mengajukan kasus ini secara resmi,ulah Tio dan Bimo sudah pasti.


"Maaf Tante,putri Tante dari awal tidak pernah jujur pada saya,dan ketika saya sudah mendapatkan bukti itu,saya harus memberikan keadilan bagi korban" jawab Rama dengan datar tapi penuh penekanan.


"Tapi bisakan kamu pura-pura tidak tahu, bagaimana dengan masa depan Zahra dan juga karirnya,semuanya akan hancur Rama,kamu tidak memikirkan tentang Zahra,atau selama ini kamu memang hanya mempermainkan perasaaanya?" Fatma mulai terlihat emosional, bagaimana tidak putrinya akan terseret dalam sebuah kasus yang tentunya mengancam masa depannya, sebagai seorang ibu ia pasti akan terus berjuang demi sang putri.


Rama menghela nafas,meskipun ia begitu ingin melupakan hal ini,atau bahkan ia lebih memilih jika ia tidak pernah tahu kebenarannya,tapi bukti itu sudah berada ditangannya sekarang,ia tidak bisa hanya diam dan menutup mata,apalagi keadilan itu harus ditegakkan demi kedamaian Hana.


"Maafkan saya Tante," Rama melangkah karena tidak ingin semakin terbawa perasaan jika terus berada ditempat itu.


Fatma menahan lengan Rama, "Tante mohon,Zahra tidak mungkin sengaja melakukannya,jadi tolong pertimbangkan lagi,"


Rama melihat kearah Fatma, "Seandainya Zahra mengakui kesalahannya dari awal dan tidak melarikan diri,mungkin semuanya tidak akan menjadi seburuk ini," ucap Rama lalu iapun kembali melanjutkan langkahnya.


Fatma terdiam,ia sudah berusaha keras menutupi hal ini,tapi kenapa akhirnya terbongkar juga, apalagi suaminya sendiri yang berada dibalik semua ini,apa yang harus ia lakukan sekarang, tidak mungkin ia meminta bantuan Bimo lagi.


Malam yang masih dihiasi gerimis,hawa dingin begitu terasa menusuk kulit.


Rama sampai didepan rumahnya.


"Surprise..."


Rama sangat terkejut melihat Zahra yang sudah berdiri didepan pintu,dengan senyuman yang begitu manis.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghubungimu dari kemarin,apa kamu benar-benar sibuk hingga tidak sempat memberikan kabar padaku?" Tanya Zahra dengan begitu polos karena masih belum tahu apa-apa tentang kasusnya yang akan dibuka kembali.


"Aku sedang sibuk," Rama segera membuka pintu dan masuk kedalam rumah tanpa mengajak Zahra, meskipun ia membiarkan pintu terbuka lebar.


Zahra mulai terlihat kikuk melihat sikap Rama yang begitu dingin,lebih dingin dari udara malam itu,apa terjadi sesuatu yang buruk.


"Drtttt..." Ponsel Zahra berbunyi,telfon dari Fatma.


"Halo Bu?"


Fatma menceritakan semuanya pada Zahra,dan membuat Zahra sangat syok,inikah alasannya sikap Rama yang begitu dingin padanya.


"Kamu dimana?ibu sudah menunggumu, pulanglah,"


Zahra melihat kedalam rumah dengan wajah yang dipenuhi banyak pertanyaan,ia harus mendapatkan penjelasan dari semua ini,iapun menutup telfonnya dan melangkah masuk kedalam rumah Rama.


Rama sedang duduk disofa,ia tahu Zahra akan datang menemuinya,bahkan ia sudah menunggunya.


"Apa kamu berniat membuka kembali kasus Hana?" Tanya Zahra dengan wajah yang dipenuhi rasa kecewa.


Rama mendongak menatap kearah perempuan itu, "Aku sudah memiliki buktinya,bukankah harusnya seperti itu,kamu sendiri yang bilang jika aku menemukan bukti itu,kamu akan dengan senang hati masuk kepenjara bukan?kamu tidak lupakan?"


Zahra terdiam,bukan karena hal itu dia merasa sangat sakit,tapi sikap Rama yang kembali seperti itu membuatnya semakin merasa sesak, karena ia berpikir jika Rama sudah berubah dan mulai menaruh hati padanya.


"Aku tahu,dan aku tidak lupa," jawab Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Baguslah kalau begitu, setidaknya kamu tidak mengelak," ucap Rama lagi.


Zahra masih diam menatap kearah Rama, rasanya masih tidak percaya dengan semua yang terjadi saat ini.


Ramapun masih diam,dia enggan menatap wajah Zahra yang mungkin akan membuatnya lemah,ia tahu Zahra pasti merasa sangat sakit hati dengan sikapnya tapi bagaimanapun juga keadilan untuk Hana harus ditegakkan.


"Apa masih ada hal lain?" Tanya Rama yang seolah ingin Zahra segera pergi dari rumahnya.


"Apa arti hubungan kita selama ini,apa kamu mendekatiku hanya untuk mendapatkan bukti itu,apa kamu tidak pernah serius dengan perkataanmu,apakah semua itu hanya sebuah permainanmu untuk menjeratku?" Tanya Zahra dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


Rama terdiam,lalu iapun berdiri dan menatap kearah Zahra.


"Benar... semuanya benar,aku melakukan semua ini hanya untuk bisa mendapatkan bukti itu,dan rencanaku berhasil," jawab Rama yang langsung mendapatkan hadiah tamparan dari Zahra.


"Plak...."


Zahra terlihat semakin sakit karena dengan sadar Rama justru mengakuinya.


"Tidak menyangka,pria sepertimu bisa melakukan hal rendahan seperti itu,kamu tega menipu perasaan seorang perempuan dengan pura-pura peduli,apakah itu adalah sikap seorang pria gentle?" Bentak Zahra yang tidak bisa menahan lagi emosinya.


Rama menatap kearah Zahra, "Kamu yang dari awal tidak mau mengakui semuanya, seandainya kamu bicara jujur,aku tidak perlu merendahkan diri dengan berhubungan dengan perempuan sepertimu,"


Perkataan Rama begitu menusuk kerelung hati Zahra yang paling dalam,hingga rasa sakit itu semakin terasa sakit,lagi dan lagi,setelah sekian lama ia kembali menyebut kata 'perempuan sepertimu'.

__ADS_1


Zahra tidak bisa lagi menahan tangisnya,iapun menunduk dan menangis didepan Rama,membuat hati Rama juga merasa sakit,ia segera memalingkan wajahnya karena tidak ingin terbawa perasaan.


__ADS_2