Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Allah Maha Mengetahui


__ADS_3

Tubuh Ramapun tergeletak diaspal setelah dipukuli habis-habisan,hingga darah mengalir dari pelipis dan juga bibirnya.


Penjahat itu mengambil ponsel Rama dan menghancurkan ponsel itu didepan Rama.


"Jangan," pekik Rama lalu memejamkan mata karena bukti yang ia punya harus hancur begitu saja.


Para penjahat itupun pergi,sementara Rama akhirnya pinsan karena kondisinya yang cukup parah.


Dipanti,Tiara sedang mengajari anak-anak bernyanyi bersama membuat suasana Riuh,hingga ibu panti datang menghampirinya bersama seorang pria.


"Tiara,kenalkan ini Arman pengajar baru disini," ucap ibu panti.


Tiara menundukkan kepala pada pria yang sekilas membuat dirinya merasakan hal aneh dihatinya.


"Tiara,"


"Arman,"


"Oya,karena Arman masih baru,kamu ajak dia keliling ya,lihat-lihat Yayasan," ucap Ibu panti.


"Baik Bu," jawab Tiara.


"Jadi kamu cuma sementara disini?" Tanya Tiara saat mengajak Arman berkeliling sembari mengobrol agar lebih akrab.


Arman menganguk, "Iya,aku sebenarnya dapat tugas mengajar didaerah terpencil,tapi baru dimulai bulan depan,jadi untuk mengisi waktu biar gka bosen rebahan terus,aku ngajar dulu disini," jawab Arman.


"Oh..." Tiara menganguk.


"Kamu udah lama ngajar disini?" Tanya balik Arman.


"Belum sih,baru sekitar 8 bulan," jawab Tiara.


Arman menganguk,tiba-tiba kaki Tiara tersandung.


"Akh..."


Arman yang refleks langsung menahan lengan Tiara agar tidak jatuh.


"Kamu gak papakan?" Tanya Arman yang langsung melepaskan lengan Tiara setelha berhasil menahannya.


Tiara dengan wajah yang merah padam, "Gak papa kok,makasih ya,"


"Lain kali hati-hati," ucap Arman.


Tiara menganguk dan terlihat salah tingkah.


Aminah menghampiri Rian yang berada didepan ruang rawat.


"Gimana keadaan Rama?" Tanya Aminah dengan wajah cemas dan khawatir.


Rian berusaha menenangkan Aminah, "Rama cuma menderita luka memar Bu,dia gak papa kok,ibu gka perlu terlalu khawatir," jawab Rian yang juga sudah Aminah anggap sebagai anak sendiri karena Rianlah sahabat Rama semenjak masih menempuh pendidikan di kepolisian.


"Sebenarnya apa yang terjadi,kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Aminah yang Marasa bingung dengan kejadian yang menimpa Rama.


"Rama masih berusaha mencari pelaku penabrak Hana Bu,dia yakin ada banyak kejanggalan dalam kasus ini,dan sepertinya dugaannya memang benar,sampai dia harus mengalami hal seperti ini," jawab Rian.


Aminah menghela nafas, "Kenapa kepergian Hana justru meninggalkan banyak duka," gumam Aminah yang merasa miris dengan keadaan Rama.

__ADS_1


Rian mengusap pundak Aminah, "Ibu yang sabar ya,"


Aminah sangat menyesalkan kejadian yang menimpa Rama,padahal ia berharap usai kepergian Hana,Rama bisa hidup kembali dengan baik dan membuka hatinya untuk perempuan lain diluar sana,bukannya masih terpaku dan justru masih bergelut dengan kasus kecelakaan putrinya.


Senja mulai menyapa,Zahra menatap kearah jendelanya melihat indahnya langit sore yang memerah saat matahari akan tenggelam,entah kenapa sejak kecelakaan itu Zahra sering melamun,ia benar-benar seperti orang yang dikejar-kejar dosa,tidak pernah merasa tenang dalam keadaan apapun.


Tiara menghmapirinya dengan segelas cokelat hangat dan memberikannya pada sahabatnya itu.


Zahra dan Tiara memang tinggal dalam satu rumah,persahabatan mereka sudah terjalin sejak mereka masih kecil,sehingga Tiara sudah hafal betul seluk beluk kehidupan Zahra.


"Makasih," ucap Zahra lalu meneyeruput susu hangat itu yang membuat wajahnya terlihat lebih tenang.


"Ra,sampai kapan sih kamu mau kaya gini,Zahra yang aku kenal Thu bawel,ceria,bukan pendiam kaya gini," ucap Tiara yang merasa kalau Zahra banyak berubah usai kecelakaan itu.


Zahra tertegun, "Gimana aku bisa bersikap biasa aja,sementara aku sudah menghilangkan nyawa seseorang,Hana,aku sangat iri padanya,tapi aku tidak pernah ingin kejadian ini terjadi,harusnya perempuan menjijikkan seperti aku yang mati bukan perempuan sebaik Hana," ucap Zahra dengan air matanya yang kembali menetes tanpa ia sadari.


Tiara terlihat sesak mendengar ucapan Zahra, "Ra,mungkin ini udah takdir dari Allah,dan aku yakin Allah punya rencana lain buat kehidupan kamu," ucap Tiara berusaha memberikan Zahra harapan.


"Allah pasti sangat membenci pembohong seperti aku Tiara,dan aku sama sekali tidak berhak berharap apapun lagi dari Allah,bahkan untuk mempertanggung jawabkan kesalahan aku sendiri,aku gak bisa," imbuh Zahra yang terlihat semakin terpuruk pada keadaan yang ia hadapi saat ini.


Tiara memegang tangan Zahra, "Ra,Allah Maha Mengetahui segalanya,Allah tahu bahwa kamu Tidak berniat menabrak Hana dan Allah juga tahu kenapa kamu lari dari tanggung jawab itu,sekarang yang penting kamu selalu menjaga apa ynag sudah Allah berikan,bukannya selalu meratapi kesalahan kamu,"


Zahra tertegun,Tiara selalu bisa membuat hati Zahra merasa lebih tenang dengan ceramah rohaninya.Iapun akan terus berusaha untuk selalu hidup dijalan Allah.


"Makasih ya,karena kamu selalu ada buat aku,kamu adalah sahabat terbaik yang diberikan Allah untuk menjaga aku," Zahra memeluk erat sahabatnya itu.


Tiara tersenyum sembari mengusap lembut punggung Zahra.


Ponsel Zahra berbunyi,telfon dari neneknya.


"Ya Nek," jawab Zahra.


Zahra mengerutkan keningnya,bukannya baru kemarin Ana memberikan uang pada nenek,terkadang Aira memang suka memanfaatkan Zahra,sebenarnya Zahra sudah berniat untuk membawa nenek tinggal bersamanya tapi nenek menolak dan lebih memlilih tinggal bersama Aira.


"Zahra,kamu dengerkan,barang-barang didapur juga menipis,kamu mau nenek makin sakit?" Imbuh Aira saat Zahra tidak merespon pertanyaannya.


"Ya udah,nanti aku beliin ya,mbak tunggu aja," jawab Zahra lalu mematikan telfonnya.


"Siapa Ra,mbak Aira?" Tanya Tiara dijawab angukan oleh Zahra.


"Sampai kapan sih kamu mau dimanfaatin terus sama dia,udah gak kerja,sukanya minta uang terus sama kamu," keluh Tiara yang merasa kesal dengan tingkah Aira.


Zahra menghela nafas, "Gak papa Tiara,yang penting dia mau jagain nenek,itu udah cukup buat aku,karena nenek adalah orang terpenting dihidup aku saat ini,dan aku akan melakukan apapun agar dia bisa sembuh dari penyakitnya," ucap Zahra yang terlihat sangat menyayangi nenek yang bahkan bukan keluarga kandungnya.


Tiara tersenyum dan mengusap punggung Zahra, "Sekarang kamu udah tahu jawabannyakan,kenapa Allah tetap membiarkan kamu hidup,karena masih banyak orang yang membutuhkan kamu Ra,jadi kamu harus semangat ya,"


Zahra menganguk dan merasa jika ucapan Tiara itu benar,ia harus berjuang demi orang-orang yang ia sayangi.


Rian sedang berburu pelaku pengeroyokan terhadap Rama bersama beberapa polisi lainnya,pelaku berusaha kabur,hingga satu tembakan meluncur dari pistol Rian dan mengenai kaki salah seorang pelaku itu,meskipun penuh perjuangan akhirnya keempat pelaku berhasil diringkus dan dibawa kekantor untuk diperiksa.


Zahra usai membelikan obat untuk neneknya diapotek rumah sakit yang terdekat dari rumah neneknya,saat akan pergi ia justru berpapasan dengan Aminah.


"Ibu Aminah, Assalamualaikum," sapa Zahra.


"Waalaikumsalam,Nak Zahrakan?" Ternyata Aminah masih ingat pada Zahra.


Zahra menganguk dan mencium tangan Aminah.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini nak?" Tanya Aminah yang begitu perhatian pada Zahra,yang bahkan bukan siapa-siapanya.


"Saya lagi beli obat Bu,buat nenek saya yang lagi sakit," jawab Zahra,ia begitu merasa nyaman dengan perhatian yang Aminah berikan.


"Oh,semoga nenek kamu cepat sembuh ya," ucap Aminah.


"Amin,"


Zahra juga merasa penasaran apa yang dilakukan Aminah dirumah sakit.


"Terus Ibu ngapain disini?apa ibu sakit?" Tanya Zahra yang terlihat khawatir dengan kondisi Aminah.


"Bukan ibu yang sakit,tapi Rama," jawab Aminah.


Zahra tertegun,ia ingat saat tadi siang bertemu dengan Rama kondisinya baik-baik saja dan tidak terlihat sakit sama sekali,bahkan Rama masih bisa mengancamnya.


"Sakit apa Bu?" Karena penasaran Zahrapun menanyakannya.


"Tadi dia dipukuli sama orang dijalan,sampe babak belur," jawab Aminah membuat Zahra membulatkan matanya.


"Kata Rian,ini menyangkut soal kasus kecelakaan Hana," imbuh Aminah yang terlihat sedih saat menyebut nama Hana.


Zahra menelan Salivanya,apa yang sebenarnya terjadi, Siapa yang memukuli Rama, sementara kasus itu menyangkut tentang dirinya.


"Ya sudah kalo begitu ibu kembali dulu kekamar Rama,siapa tahu dia sudah sadar," ucap Aminah.


Zahra menganguk dan kembali mencium tangan Aminah.


"Assalamualaikum," ucap Aminah.


"Waalaikumsalam," jawab Zahra.


Aminahpun berlalu,sementara Zahra masih diam ditempat dengan berbagai pertanyaan yang singgah dikepalanya,iapun mengikuti langkqh Aminah dari kejauhan untuk melihat kondisi Rama.


Aminah masuk keruang rawat Rama dan melihat pria itu yang sudah duduk dan bersiap dengan memakai jaket kebesarannya,banyak memar diwajah Rama hingga pelipisnya harus diperban,tapi Rama justru tidak mempedulikan rasa sakit itu sama sekali.


"Kamu mau kemana Ram?" Tanya Aminah yang bingung melihat Rama sudah rapi.


"Ibu," Rama sedikit terkejut dengan kehadiran Aminah,pasalnya saat Aminah datang sebelumnya ia masih belum sadar.


Aminah mendekati Rama yang masih duduk ditepi ranjang itu.


"Kamukan masih sakit,lihat muka kamu," Aminah terlihat cemas dengan kondisi Rama.


"Aku gak papa kok Bu,aku baik-baik aja," ucap Rama agar Aminah menjadi lebih tenang.


Sementara Zahra yang penasaran dengan kondisi Rama diam-diam mengintip dari jendela tempat Rama dirawat.


"Tapi Ram,kamu mau kemana,kamu masih butuh perawatan nak," ucap Aminah.


"Ada sesuatu yang harus aku urus Bu," jawab Rama.


"Apa masih soal Hana?" Tanya Aminah memastikan.


Rama menatap kearah perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu.


"Sampai kapan Ram,sampai kapan kamu mau cari bukti itu,lihat kondisi kamu sekarang,ibu gak mau kamu kenapa-napa," ucap Aminah yang masih terlihat cemas dengan kondisi Rama.

__ADS_1


"Bu,aku akan cari bukti itu,agar Hana mendapatkan keadilan Bu,siapapun pelakunya,dia harus bertanggung jawab karena sudah menghilangkan nyawa Hana Bu," ucap Rama yang kekeh dengan pendiriannya.


Mendengar ucapan Rama membuat dada Zahra terasa sesak, seandainya ia bisa mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahannya.


__ADS_2