Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kecewa


__ADS_3

Fika juga menatap diam kearah Rama,melihat tatapan Rama yang begitu dalam entah Kenapa ada perasaan aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya,ada getaran yang membuat hatinya yang tadinya oanuk dan marah tiba-tiba menjadi sangat sejuk,siapa pria ini sebenarnya,apakah mereka pernah bertemu sebelumnya.


"Ma..." Panggilan Mita membuyarkan tatapan keduanya.


"Ayo sayang kita pergi," Fika menuntun putrinya dengan terburu.


"Tunggu," Rama menahan lengan Fika,namun Fika dengan cepat menangkisnya masih berpikir jika Rama adalah orang jahat yang ingin menculik putrinya.


"Jangan menyentuhku," Fika kembali menuntun Mita dan segera membawanya pergi dari resto itu.


Rama terdiam,ia berpegang pada ujung meja untuk menahan tubuhnya yang oleng,apa benar yang barusan ia lihat,apakah ia tidak sedang bermimpi sekarang.


Rama memijat pelipisnya sembari memejamkan matanya,jika memang ini nyata apa benar ia adalah Zahra, istrinya yang sudah 3 tahun menghilang,ataukah mereka cuma orang yang mirip.


"Ya Allah..." Sebut Rama berkali-kali untuk menghilangkan kecemasan dihatinya.


Sesampainya didalam mobil,Fika meminta sopir untuk mengantarkan mereka pulang dengan wajah yang masih dipenuhi kecemasan.


"Ma..."


"Iya sayang?"


"Mama tadi kok marah-marah sampai memukul Om itu?" Tanya Mita dengan wajah bingung.


"Sayang...Om tadi itu jahat,dia mau culik kamu," Fika berusaha menjelaskan.


Mita menggeleng cepat, "Tadi Mita haus,lalu Mita yang minta om itu untuk ambilin Mita minum,dia gak jahat,dia baik,dia udah bantuin Mita,"ucap Mita dengan begitu yakin,Fika terdiam,apa dia sudah salah paham,iapun mulai dihantui penyesalan apalagi saat mengingat tatapan dari pria tadi.


"Ma...mama harusnya minta maaf,mama sudah memukul orang yang baik," jelas Mita membuat Fika bingung harus menjawab apa, kekhawatirannya yang begitu berlebihan membuatnya melakukan hal-hal diluar batas.


"Iya sayang,nanti kalau mama ketemu lagi sama om itu,mama bakalan minta maaf,ya..." Fika mengusap kepala putrinya yang begitu cerdas mau mengingatkan dirinya,namun dalam hati Fika berharap tidak akan bertemu lagi dengan Rama,atau ia akan merasa sangat malu karena sudah memukul bahkan memaki orang yang salah.


Malam harinya,Rama masih berdiam dikamarnya,ia duduk dilantai sembari menyandarkan kepalanya ditepi ranjang dengan foto Zahra ditangannya.


Ia masih terus memikirkan wajah perempuan yang sangat mirip dengan Zahra itu, sepertinya ia tidak akan bisa tenang sebelum mendapatkan kepastian bahwa dia bukanlah Zahra,namun dihati ia berharap jika benar dia adalah Zahra.


Entahlah,Rama sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini, yang pasti ia harus bertemu lagi dengan perempuan itu, secepatnya dan bagaimanapun caranya, untuk mendapatkan kepastian.


Mita sedang makan malam bersama papa dan mamanya.


Mita dengan senang menceritakan kegiatannya hari ini kepada sang papa,Sakapun serius mendengarkan putri cantiknya bercerita.


"Oya pa,tadi mama memukul seseorang karena mengira jika orang itu akan menculikku,padahal om itu sangat baik," ucap Mita lalu melahap makanan kemulutnya.


Saka melihat kearah Fika yang diam dan melanjutkan makannya tanpa mempedulikan tatapan Saka,membuat pria itu sedikit merasa kesal.


"Haruskah kamu melakukan semua itu,itu tempat umum, memukul orang sembarangan,kamu bisa menjadi tersangka penganiayaan," Saka terlihat marah saat menegur Fika dikamarnya saat Mita sudah tertidur.


Fika menatap kearah suaminya, "Bukankah kamu yang selalu memintaku berhati-hati pada orang asing,aku mengira dia penculik,jadi aku memukulnya,apa salah?"


Saka tidak mengira,jika pengaruhnya selama ini akan berdampak seperti ini pada Fika,ia selalu menyuruh Fika berhati-hati dengan orang asing,dan Fika melakukannya dengan sangat baik,namun tidak perlu terlalu berlebihan juga.


"Jangan ulangi lagi," hanya kata itu yang bisa Saka ucapkan lalu ia melangkah keluar dari kamar Fika.


Fika terduduk ditepi ranjang,masih tidak paham dengan sikap suaminya yang semakin hari membuatnya semakin bingung,namun saat ia terdiam dan mencoba melupakan semuanya dengan memejamkan matanya,wajah pria itu kembali muncul,tatapan matanya yang begitu dalam kembali menganggu pikiran Fika.

__ADS_1


Fika membuka matanya dan memijat pelipisnya, "Kenapa aku mengingatnya?" Gumamnya bingung.


Rian bergegas menemui Rama yang sedang duduk santai dikursi kerjanya.


"Kasus apa ini?" Pekik Rian dengan wajah yang dipenuhi pertanyaan.


"Dia memukulku didepan umum,lihat," Rama menunjukkan pipinya yang masih memar, "Bukankah ini tindakan kriminal,aku hanya melaporkannya sesuai prosedur,dan kamu tinggal mengurusnya," ucap Rama membuat sahabatnya itu membeku dengan wajah bingung, tidak biasanya Rama bersikap seperti ini,apalagi melaporkan seorang perempuan,ini benar-benar kejadian langka.


"Cepat urus, pelakunya harus segera ditangkap," Rama sepertinya sudah tidak sabar ingin bertemu pelaku itu.


Rianpun hanya bisa pergi dengan wajahnya yang masih bingung,ia harus keResto tempat kejadian, memeriksa CCTV serta mencari tahu tentang perempuan itu.


Rama Sebenarnya tidak ingin menggunakan cara seperti ini, namun ia sama sekali tidak tahu dimana harus menemukan perempuan yang mirip dengan istrinya itu,hanya dengan cara seperti ini,ia bisa menemukan perempuan itu dengan cepat, meskipun ia merasa jika caranya ini sedikit keterlaluan.


Fika sedang menemani putrinya bermain, sedangkan seperti biasa Saka masih sibuk dengan pekerjaannya dikantor,bahkan janjinya untuk menemani Mita jalan-jalan masih menggantung.


"Ting tung," bel rumah berbunyi.


Fika mengusap kepala Mita lalu bangun dari duduknya untuk membuka pintu,ia sedikit terkejut saat melihat dua orang berseragam berdiri didepan pintu.


Rian terdiam saat melihat perempuan yang sedang berdiri didepannya,ia sekarang mengerti kenapa Rama memperpanjang kasus ini, ternyata pelaku pemukulan itu sangat mirip dengan Zahra,ia berusaha untuk tetap tenang dan menjaga attitudenya.


"Dengan Nona Alfika Naira?" Tanya Rian.


Fika terlihat gugup, untuk apa polisi datang dan menanyakan namanya, "Iya..."


"Kami mendapatkan laporan jika anda telah melakukan tindak penganiayaan diResto Cempaka kemarin,ini surat penangkapan untuk anda,"


Fika terkejut, tidak menyangka jika orang itu benar-benar melaporkannya ke polisi atas tindakannya kemarin,astaga,harusnya kemarin ia langsung meminta maaf,tangan Fika gemetar membuka surat yang diberikan Rian.


"Mohon kerjasamanya," imbuh Rian.


Fika berusaha menelfon Saka,tapi tidak diangkat,Saka sedang ada meting penting dikantornya sehingga sengaja tidak merespon telfon dari Fika.


Fika berpikir,ia melihat Mita yang masih sibuk bermain,iapun menelfon sang sopir agar menemani Mita sebentar, sementara ia akan ikut dengan kekantor polisi untuk menyelesaikan kasus ini secepatnya.


Sesampainya dikantor,Fika melihat Rama yang sudah duduk menunggunya.


Rama menyunggingkan bibirnya saat melihat perempuan itu berjalan mendekat,Rian menepuk pundak Rama.


"Aku mengerti sekarang," bisiknya ketelinga Rama.


Rama hanya tersenyum,ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Fika, sedangkan Fika hanya menatap culas kearah Rama dan berharap kasus ini bisa segera diselesaikan.


Rian menjelaskan semuanya kepada Fika,jika bukti CCTV memperlihatkan dengan jelas jika Fika sudah menganiaya korban dan akan dijerat dengan pasal tersebut.


Fika mulai gemetar dan ketakutan,jika ia masuk penjara, siapa yang akan menjaga Mita, pikirannya langsung kacau.


"Namun,jika anda ingin berdamai,silakan temui korban dan bicarakan masalah ini baik-baik,mungkin dia akan memaafkan anda dan masalah ini selesai," Rian memberikan solusi terbaik, yang sebenarnya sudah ia rencanakan dengan Rama.


Fika akhirnya memilih untuk berdamai dengan Rama,ia tidak ingin masalah ini diperpanjang.


Mereka duduk berhadapan diruangan tertutup,hanya Rama dan Fika.


"Saya benar-benar ingin meminta maaf,saya tidak sengaja melakukannya, tolong jangan lanjutkan kasus ini," pinta Fika dengan wajah memelas, sementara Rama hanya diam dan terus menatap wajah Fika.

__ADS_1


"Siapa namamu?dimana kamu tinggal?" tanya Rama yang membuat Fika mengerutkan dahinya,ia merasa jika pertanyaan Rama sedikit aneh,tapi tidak ada pilihan lain selain menjawabnya.


"Fika,aku tinggal jauh diluar kota,aku baru saja pindah kekota ini,jadi maaf,sikapku mungkin terlalu berlebihan saat bertemu orang asing," jawab Fika dengan begitu jelas.


Rama terdiam sejenak,tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Fika, "Apa kamu mengenalku?"


Fika yang tadinya menunduk langsung menatap kearah Rama,entah kenapa setiap melihat Maya Rama ada getaran aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya,namun ia berusaha menahan semua itu,iapun menggelengkan kepalanya, "Bukannya kita baru bertemu kemarin?"


Rama terlihat sangat kecewa, perempuan ini sama sekali tidak mengenalnya,apa benar dia bukan Zahra?


"Saya mohon,putri saya masih kecil,dia akan sangat sedih jika saya ditahan," Fika benar-benar tidak ingin membuat Mita sedih.


Mendengar ucapan Fika mengenai putrinya membuat Rama sadar,Fika memiliki seorang putri,gadis kecil itu adalah putrinya,apakah benar dia bukan Zahra,rasanya benar-benar kecewa, harapannya selama ini hanyalah sebuah mimpi belaka,ia tidak mungkin memisahkan seorang ibu dari anaknya.Ia sadar tidak bisa menahan perempuan itu cukup lama,


"Baiklah, dengan satu syarat,"


Fika menatap kearah Rama dengan wajah yang dipenuhi pertanyaan,syarat aneh apa yang akan diajukan pria didepannya itu.


"Jagalah putrimu dengan baik,jangan sampai dia haus dan meminta bantuan orang lain,kalau tidak mungkin orang lain yang akan kena pukul dan melaporkanmu kepolisi," Sindir Rama yang membuat Fika terdiam,Rama beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari ruangan tersebut dengan wajah kecewa.


"Bebaskan dia," ucap Rama pada Rian dengan wajah sedih lalu segera pergi untuk menenangkan dirinya.


Rian tahu mungkin Rama kecewa karena perempuan yang dikiranya Zahra tapi ternyata orang lain,apa ada orang yang begitu mirip didunia ini,pikir Rian yang bingung dengan pikirannya sendiri.


Mendengar berita jika Fika ditahan,membuat Saka panik dan langsung menuju kekantor polisi,namun saat sampai disana,ia melihat Fika yang sudah berjalan keluar, iapun segera menghampirinya.


"Apa yang terjadi,kamu baik-baik saja?" Tanya Saka cemas.


Fika menganguk dan meminta agar Saka membawanya pulang,ia akan menjelaskan semuanya dirumah.


Rama masih diam didalam mobilnya yang terparkir dipinggir sebuah danau, wajahnya masih sedih jika mengingat perempuan itu bukanlah Zahra,ia sudah berkeluarga bahkan memiliki seorang putri, entah kenapa tapi kenyataan itu membuat hati Rama serasa sangat sakit,apakah harapannya terlalu tinggi,hingga saat jatuh rasanya sesakit ini.


Rama menunduk menaruh wajahnya dikemudi lalu membiarkan luka itu hilang secara perlahan.


Didalam perjalanan pulang,Fika tetap diam sembari menatap kearah jendela,ia masih terbayang dengan pria itu,pria yang memintanya untuk menjaga Mita dengan baik,kenapa kata-kata itu terus menggema ditelinganya,ia bahkan tidak bisa melupakan tatapan matanya yang begitu sayu.


"Siapa dia sebenarnya? kenapa aku merasa tidak asing dengan tatapan matanya?" Pikir Fika dalam lamunannya.


Melihat Fika yang terus diam membuat Saka sedikit cemas, sepertinya ia harus cepat membawa Fika dan Mita pergi dari kota ini.


"Bukankah sudah aku bilang,jangan sembarangan memukul orang, untungnya orang itu mau berdamai,kalau tidak kamu pasti akan mendekam dipenjara," Saka terlihat sangat marah menatap perempuan yang hanya diam didepannya itu,mereka sudah sampai rumah dan sedang berada dikamar.


Fika tidak menjawab,entah kenapa mulutnya enggan berucap apapun untuk membela diri,sungguh ia tidak ingin meladeni sikap suaminya yang sama sekali tidak mengerti perasaannya.


Saka menghela nafas, "Berkemaslah,kita pulang malam ini juga,"


Fika akhirnya menatap suaminya itu,entah kenapa ia enggan meninggalkan kota ini,ia masih ingin berada disini.


"Kamu sudah berjanji pada Mita untuk mengajaknya jalan-jalan,apa sekarang kamu akan menyakitinya lagi," bantah Fika dengan tatapan mata yang tajam membuat Saka terdiam, untuk pertama kalinya Fika menatapnya bak akan menerkamnya seperti hewan buas.


"Aku yang akan bicara pada Mita,dia akan menuruti perkataanku," Saka masih kekeh dengan pendiriannya tanpa memikirkan perasaan putrinya.


"Sampai kapan dia harus menuruti keinginanmu?" bentak Fika membuat Saka sedikit terkejut.


"Kamu hanya berjanji ini dan itu,kamu selalu memberikan harapan untuknya tapi pada akhirnya,kamu selalu mengingkari janjimu itu," Kali ini Fika sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi,Saka hanya diam tidak salah dengan apa yang Fika katakan sehingga ia tidak bisa menjawab apapun.

__ADS_1


"Aku dan Mita,akan tinggal disini,kami akan pergi jalan-jalan dan bersenang-senang,itu janjiku padanya,dan aku akan menepatinya baru kami akan pulang," Ucap Fika dengan tegas lalu ia beranjak pergi dari hadapan Saka.


Saka mendengus kesal, "Apa dia baru saja melawan perintahku," Saka benar-benar terlihat marah,selama 3 tahun ia berhasil mengendalikan Fika dengan semua cerita palsunya,namun hari ini dengan lantang Fika melawan semua perintahnya, membuatnya benar-benar tidak terima.


__ADS_2