
Zahra berusaha menolong tapi Nilam menolaknya.
"Kakak kenapa?" Tanya Rama yang terlihat cemas melihat darah yang terus keluar.
"Dia...dia yang melukaiku dengan pisau ini Ram," teriak Nilam menunjuk kearah Zahra.
Zahra terkejut dengan tuduhan Nilam kepadanya,dan menggelengkan kepalanya cepat berharap Rama tidak mempercayai tuduhan kakaknya.
Rama hanya menatap Zahra sekilas,ia segera mengambil kain untuk menghentikan pendarahan ditangan Nilam.
"Aku benar-benar tidak melakukannya," Zahra mencoba menjelaskan,tapi Rama tak merespon.
"Masuklah kekamar," ucap Rama lalu ia membawa Nilam yang terluka keruang tengah untuk mengobatinya.
Zahra terdiam dengan mata berkaca-kaca,tidak menyangka Nilam akan memfitnahnya seperti ini, apalagi sikap Rama yang sepertinya percaya dengan Nilam membuat dadanya merasa semakin sesak,iapun segera berlari menuju kekamar dengan air mata yang sudah jatuh berderai.
Usai mengobati luka Nilam,Rama memberikan obat penenang untuknya agar emosi Nilam kembali stabil.
"Istrimu seorang psikopat,dia sudah melenyapkan Hana bukan, sekarang dia bahkan melukaiku," ucap Nilam membuat Rama langsung menatapnya, darimana Nilam tahu soal Hana.
"Bagaimana bisa kamu menikahi perempuan seperti dia?"
Rama terlihat menahan amarah dan berusaha untuk tetap tenang, "Kakak istirahatlah,aku akan mengantarmu kekamar,"
Nilam hanya menganguk meskipun omongannya tidak direspon oleh Rama.
Usai mengantar Nilam kekamar untuk beristirahat,Rama juga masuk kekamarnya,ia melihat sang istri yang sudah menunggunya dengan wajah gelisah.
"Aku benar-benar tidak melakukan itu,kamu percayakan sama aku,kak Nilam melukai dirinya sendiri," Zahra berusaha menjelaskan semuanya pada Rama dan berharap Rama akan mempercayainya.
Rama langsung memeluk erat tubuh istrinya itu dengan wajah cemas, "Kamu baik-baik saja,apa kakak menyakitimu?" Rama mengusap kepala Zahra lalu memeriksa sekujur tubuh Zahra dan melihat lengan Zahra yang memerah,Rama mengusap lembut lengannya itu dengan wajah cemas.
Zahra terdiam melihat kearah Rama yang begitu khawatir,begitu bodohnya dia yang berpikir jika Rama akan marah,ia benar-benar istri yang berdosa karena sudah berpikiran seperti itu,padahal suaminya sangat percaya bahkan mengkhawatirkan keadaannya,iapun tidak bisa berkata apapun selain menangis karena merasa terharu dengan sikap Rama.
"Apa ini sakit?" Tanya Rama melihat istrinya yang justru menangis,Zahra menggelengkan kepala dan langsung memeluk erat tubuh Rama dengan tangis yang semakin pecah.
Rama sedikit bingung dengan sikap istrinya,namun ia mengusap kepala Zahra yang berada didadanya dan membuat Zahra lebih merasa lebih tenang.
Keduanya sedang berbaring dibalik selimut,Zahra meletakkan kepalanya didada bidang suaminya,Rama masih tidak habis pikir kakaknya lagi-lagi melakukan hal diluar batas yang bahkan melukai dirinya sendiri,ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang,ia tidak ingin Zahra selalu terancam bahaya karena perbuatan kakaknya.
Rama menghela nafas panjang, membuat Zahra mendongak menatap kearah suaminya,ia tahu beban yang sedang dirasakan sang suami, seandainya ia bisa membantu meringankan semua beban itu.
"Apa kita harus mengirimkan dia kerumah sakit?"
Zahra membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Rama,tidak menyangka Rama sampai memikirkan hal seperti itu.
"Aku tidak ingin dia berusaha melukaimu lagi,hari ini ada aku,tapi lain kali,bisa saja ia melakukan hal seperti ini lagi," Rama terlihat begitu cemas jika memikirkan keselamatan Zahra.
Zahra terdiam,lagi dan lagi,ia begitu terharu dengan kasih sayang Rama yang begitu besar terhadapnya,tapi ia juga tidak boleh bersikap egois, bagaimana Nilam adalah kakak Rama,dan meskipun sikapnya seperti itu,Zahra yakin dihati kecil Rama,ia tidak pernah ingin kakaknya pergi.
"Aku baik-baik saja,percayalah,kakak pasti akan sembuh,aku janji tidak akan membuatnya marah lagi," Zahra berusaha agar Rama tidak terlalu khawatir memikirkan dirinya.
__ADS_1
"Tapi...."
"Sttt...Tadi salahku yang melawan ucapannya sehinga dia marah,asalkan aku tidak membuatnya marah,dia tidak akan melukaiku," Zahra masih berusaha meyakinkan Rama.
Rama hanya menganguk, meskipun hatinya masih diselimuti rasa cemas.
Zahra mengecup bibir suaminya, "Jangan cemas lagi," ucapnya sembari tersenyum dan mencubit pipi suaminya itu dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
Rama menatap kearah Zahra lalu dengan cepat membalik badan Zahra dan mengukungnya dibawah tubuhnya, "Jangan menggodaku seperti ini," keluh Rama yang menatap Zahra dengan penuh gairah.
Zahra justru mengalungkan tangannya keleher Rama, "Apa kamu tergoda?"
Rama menyeringai lembut, istrinya sekarang sudah mulai sangat berani, "Jangan meminta ampun setelah ini," iapun langsung mendaratkan ciuman brutal kebibir Zahra, meskipun terkejut dengan kebrutalan sang suami,namun Zahra sangat menikmatinya bahkan berusaha mengimbangi permainan sang suami, setidaknya ia bisa membuat Rama melupakan masalah Nilam dengan membuatnya terhanyut malam ini.
Pagi menyapa,Zahra sudah menyiapkan baju Rama karena sang suami hari ini sudah mulai aktif masuk kekantor,Rama yang baru saja selesai mandi langsung memeluk hangat punggung istrinya yang sedang sibuk itu.
"Apa kegiatanmu hari ini?" Tanya Rama dengan nakalnya sembari menciumi leher Zahra.
"Hari ini acara pengajian Tiara bersama anak-anak yayasan,aku akan pergi kesana," jawab Zahra yang membalik tubuhnya lalu menatap kearah suaminya sembari mengalungkan tangannya keleher Rama.
"Baiklah, jangan pulang sebelum aku menjemputmu," ucap Rama membuat Zahra mengerutkan dahinya.
"Kenapa?"
Rama menempelkan dahi mereka, "Aku tidak akan meninggalkanmu hanya berdua dengan kakak,aku tidak ingin kejadian semalam terulang lagi,"
Zahra tersenyum, ternyata Rama masih begitu mengkhawatirkan dirinya, "Bagaimana jika kamu tiba-tiba ada kasus dan harus pulang malam?apakah aku harus tetap menunggmu?" keluh Zahra.
"Maka tidurlah ditempat Tiara,itu lebih aman," jawab Rama dengan solusi terbaik.
Rama menarik pinggang Zahra hingga tubuh mereka bersentuhan,dan menghadiahkan satu ciuman hangat kebibir istrinya yang penurut.
Sarapan begitu terasa hening,Rama dan Zahra makan seperti biasa,Nilampun hanya diam,masih teringat kejadian semalam yang membuatnya begitu kesal dan tidak ingin berbicara apapun.
Zahra melirik kearah Nilam dan ingin mencairkan suasana yang sedingin es, karena sangat tidak nyaman ketika satu keluarga harus bersitegang seperti ini.
"Kak.. bagaimana lukamu?" Tanya Zahra memecah keheningan.
Rama melihat kearah Zahra dan menyunggingkan bibirnya, ternyata istrinya memang perempuan yang pengertian.
"Sudah membaik," jawab Nilam ketus.
"Aku akan membantumu membersihkannya usai makan," Zahra ingin hubungannya dengan Nilam tidak semakin memburuk,mungkin dengan memberikan perhatian padanya bisa membuat Nilam menghilangkan rasa benci terhadapnya.
"Tidak perlu,bukankah kamu yang sengaja melukaiku,nanti justru kamu melukaiku lagi dan membuat lukaku semakin parah," ujar Nilam yang membuat Zahra terdiam,kenapa Nilam selalu seperti itu kepadanya, sepertinya apapun yang ia lakukan akan selalu salah dimata Nilam.
Rama memegang tangan Zahra agar Zahra tidak memaksakan diri untuk dekat dengan kakaknya, yang nantinya justru akan melukai dirinya sendiri.
"Ram... kenapa kamu masih terus membelanya,sudah aku katakan istrimu adalah gadis yang tidak baik,dia sudah membunuh Hana dan sekarang dia juga mencoba melukaiku," ucap Nilam dengan penuh penekanan.Zahra tidak menyangka Nilam akan berpikir serendah itu tentang dirinya.
"Prank..." Rama yang mulai kesal membanting sendoknya kepiring,membuat Zahra bahkan Nilam terkejut melihatnya.
__ADS_1
Rama menatap kearah Nilam, "Apa kakak bisa berhenti menuduh Zahra,kakak tidak tahu apapun tentang Zahra jadi jangan pernah berkata buruk mengenai dia," Kali ini Rama berkata dengan begitu tegas membuat Nilam terdiam.
Zahra tidak menyangka Rama akan membentak Nilam demi membela dirinya.
"Kamu berani membentakku demi perempuan seperti dia," Nilampun mulai terpancing emosi.
"Perempuan seperti apa yang kakak maksud,dia istriku jadi sudah kewajibanku untuk membelanya,lagi pula semua tuduhanmu terhadap Zahra tidaklah benar,jadi jika kakak terus bersikap seperti ini,lebih baik kakak pergi dari rumah ini,"
Zahra terkejut saat Rama terang-terangan mengusir Nilam,Nilampun tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Jadi kamu mengusirku?" Teriak Nilam.
"Kakak memiliki rumah bukan,aku akan dengan senang hati mengantarmu pulang," jawab Rama membuat Nilam langsung beranjak pergi dari meja makan dengan wajah yang dipenuhi amarah.
Rama menghela nafas lalu meminum segelas air untuk mendinginkan pikirannya yang panas.
"Kamu tidak seharusnya mengusir kakak," Zahra merasa jika sikap Rama terlalu berlebihan.
Rama terdiam dan berpikir,mungkin benar ia berlebihan tapi ia juga tidak tahan jika harus mendengarkan Nilam yang setiap hari membully istrinya, "Biarkan saja,kita akan lihat bagaimana reaksinya,yang pasti jangan mendekatinya jika aku tidak bersamamu," Rama masih begitu mencemaskan keselamatan Zahra.
Zahra menganguk dan begitu terharu dengan sikap Rama yang begitu gentle membelanya.
Nilam membanting barang-barang dikamarnya karena sangat kesal,Rama membentak dan bahkan mengusirnya hanya demi Zahra, sepenting itukah Zahra Dimata Rama.
"Perempuan itu,aku tidak akan melepaskannya," Nilam sepertinya semakin menaruh dendam yang tidak beralasan terhadap Zahra.
Zahra menghadiri pengajian disebuah gedung untuk menyambut hari pernikahan Tiara,acara berlangsung khusuk dan lancar,usai pengajian mereka membagikan hadiah kepada para anak yatim,dan meminta do'a agar acara pernikahan besok berjalan dengan lancar.
Sementara Rama sedang berada dilokasi sebuah kecelakaan mobil yang masuk ke sungai, korbannya seorang perempuan yang meninggal dilokasi kejadian karena terjepit dan tidak bisa berenang.
Rama mengurus jenazah itu sampai kerumah sakit untuk diotopsi sembari menunggu pihak keluarga datang.
Ia melihat data korban yang ditemukan dilokasi kejadian,bernama Alfika Naira,usia 27 tahun.
"Tap...tap..tap..." Suara sepatu yang mendekat diiringi sebuah tangisan,seorang pria langsung memeluk jenazah yang sudah terbujur kaku itu.
"Sayang...aku mohon bangunlah," teriak pria dengan kemeja hitam itu yang histeris melihat sang istri yang sudah terbujur kaku.
Melihat peristiwa seperti itu, terkadang mengingatkan Rama pada kecelakaan yang menimpa Hana,kenapa masih saja ada kejadian seperti ini,dimana ketika dua orang yang saling mencintai harus dipisahkan oleh maut.
Rama mendekat dan menepuk pundak pria tadi,dan berusaha membuatnya lebih tenang,ia sangat mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dicintai.
Pria itu menatap kearah Rama dengan matanya yang masih basah,ia mengusap wajahnya dan bertanya kepada Rama apa yang sebenarnya terjadi.
Ramapun menjelaskan semuanya,bahwa mobil korban terjun kesungai usai menabrak pembatas jalan sementara penyebabnya masih dalam penyidikan.
Mendengar penjelasan Rama membuat pria itu kembali menangis menatap kewajah pucat istrinya itu,tidak menyangka hal seperti ini akan menimpanya.
"Aku akan menghubungimu setelah Penyidikan selesai," imbuh Rama sembari menepuk pundak Pria itu.
Pria itu menganguk dan memberikan kartu namanya kepada Rama.
__ADS_1
SAKA WIRAWAN,sang pemilik Grub WINA yang cukup terkenal,bahkan Rama juga pernah mendengar namanya karena pernah melakukan pengamanan saat grub WINA melakukan sebuah acara.
"Ternyata dia," batin Rama sembari melihat kartu nama ditangannya,lalu kembali menatap pria yang masih berduka sembari memandangi wajah sang istri itu.