Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Sebenarnya Sakit


__ADS_3

Rama sedang bersiap dikamarnya,Zahra terbangun dan melihat Rama yang sudah rapi dan sedang memakai sepatu,iapun menghampiri suaminya itu dan memberikan pelukan hangat padanya.


"Kamu bilang mau istirahat?" Tanya Zahra dengan manja.


Rama mengusap lembut pipi Zahra, "Kasus kak Nilam harus segera diselesaikan, lagipula Rian Minggu depan akan menikah,aku tidak ingin membebaninya dengan kasus ini dan akan menghendelnya sendiri,"


Zahra menganguk,ia mengerti jika Rama harus segera menyelesaikan kasus ini demi Kakaknya,iapun hanya bisa memberikan dukungan kepada suaminya itu, meskipun sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Rama namun pekerjaan Rama lebih penting dari pada semua itu.


Rama mencium sekilas bibir istrinya lalu berpamitan dan segera pergi menuju kekantor.


Zahra menuruni tangga dan menuju kedapur untuk menyiapkan makanan,ia melihat masih ada beberapa bahan masakan dikulkas,Rama tidak sempat sarapan jadi ia berniat membuat makanan dan mengantarkannya untuk Rama.


Iapun mulai memasak dengan hati-hati,yah.. meskipun tidak pandai,tapi ia sudah mulai mempelajari beberapa masakan yang mungkin akan disukai oleh suaminya.


Nilam berjalan dan menghampiri Zahra dengan tatapan sinisnya.


"Kamu bisa masak?" Tanya Nilam,padahal kemarin saat dirumah sakit ia juga memakan masakan Zahra,tapi sekarang ia menanyakan hal itu,membuat Zahra menaikkan kedua alisnya karena heran dengan sikap Nilam.


"Aku masih perlu banyak belajar," jawab Zahra sembari memotong beberapa sayuran.


"Aku dengar kamu memiliki boutique, sepertinya kamu gadis yang cukup berbakat dalam fasion," Nilam berjalan jalan dibelakang Zahra seperti orang yang sedang menginterogasi seseorang.


Zahra tersenyum dan berusaha tidak terpengaruh dengan sikap Nilam.


Iapun hanya mengangguk," kebetulan dulu aku pernah bekerja sebagai model," jawab Zahra.


Nilam tercekat, "Benarkah,pantas tubuhmu begitu indah,inikah caramu menggoda Rama?"


Zahra merasa jika ucapan Nilam sedikit menyinggungnya,iapun menatap kearah kakak iparnya itu, "Apa maksud kak Nilam?aku tidak mengerti,"


Nilam menyunggingkan bibirnya, "Pikirkan saja,dulu aku melihat Hana adalah gadis yang sangat sederhana,bahkan tertutup,melihat Rama akhirnya menikah dengan perempuan sepertimu,pasti ada hal yang kamu lakukan pada Rama bukan?"


Tuduhan Nilam benar-benar membuat Zahra merasa geram,bila tidak ingat jika Nilam kakak iparnya yang baru saja mengalami kekerasan,mungkin ia tidak segan untuk membalasnya,namun Zahra memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya serta membiarkan Nilam yang masih berceloteh ria itu,dan menganggapnya radio rusak.


Mungkin ini ujian pertama yang harus ia hadapi setelah menikah dengan Rama.


"Ini bukan apa-apa dibanding dulu,kamu harus kuat Zahra," batin Zahra berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Rama sedang memeriksa bukti yang ditemukan dilokasi kejadian,termasuk CCTV yang merekam jika Aldo baru pertama kali datang kerumah Nilam,bahkan didalam CCTV Aldo juga tidak membawa benda apapun seperti yang ada lokasi kejadian,membuat Rama semakin curiga kepada kakaknya.


Rian datang dengan berkas ditangannya,


"Tidak ada satupun sidik jari pelaku yang ada didalam barang bukti," ucap Rian sembari memberikan berkas itu kepada Rama.


Rama terdiam, menyadari jika kasus ini mungkin sengaja dibuat oleh Nilam,membuatnya berpikir apa sebenarnya tujuan Nilam melakukan semua ini.


Rian melihat kegelisahan yang Rama rasakan, "Ram,tapi kita harus membebaskannya,"


Rama menganguk, "Aku akan bicara sebentar padanya untuk menanyakan sesuatu,"


Rian menyetujui keputusan Rama,mungkin dengan membicarakan ini secara baik-baik dapat membuat pelaku tidak menuntut balik sang korban yang sudah memfitnahnya.


"Bagaimana sekarang,apa kamu masih mempercayai wanita gila itu?" Sindir Aldo saat tahu dirinya akan dibebaskan karena tidak ada bukti yang memberatkannya.


"Kami sangat meminta maaf atas ketidaknyamanan ini,dan aku meminta maaf secara pribadi atas nama kak Nilam yang sudah melakukan ini kepadamu," ucap Rama dengan tulus.


Aldo memicingkan matanya menatap Rama, "Kamu, adik Nilam?"

__ADS_1


Rama menganguk,Aldo mendengus kesal, "Wanita itu,apa sengaja memanfaatkan adiknya yang seorang polisi untuk menjebakku," gumam Aldo.


"Maaf,tapi mungkin kamu salah,aku baru saja bertemu dengannya setelah 3 tahun, tidak mungkin dia sengaja melakukan itu," bantah Rama saat mendengar celetukan Aldo.


"Apa kamu yakin,kakakmu itu adalah wanita yang licik,bahkan dia bisa terpikirkan untuk melukai dirinya sendiri demi bisa menjebloskan aku kepenjara bukan,dia itu psikopat, beruntung aku tidak jadi menikah dengannya,"


Rama melihat kearah Aldo,mungkin ia bisa mendapatkan informasi tentang Nilam lebih detail.


"Setahuku,dia tinggal diluar negeri,melihat hubunganmu dengannya mungkin kamu tahu sejak kapan ia pindah kedalam negeri? " Rama berharap Aldo mau menceritakan semuanya tentang Nilam yang ia tahu.


Aldo melihat kearah Rama, meskipun ia sangat kecewa dan kesal dengan perbuatan Nilam,namun ia berharap Rama bisa menyembuhkan penyakit Nilam dan membuatnya sadar jika perbuatannya selama ini adalah salah.


"Aku bertemu dengannya sekitar 3 tahun lalu diLA,dia wanita yang cerdas dan juga pintar,kami mulai menjalin hubungan dengan begitu bahagia,tapi dia sangat posesif, tidak memberikan ruang sedikitpun padaku untuk bergerak,sikap cemburunya sangat berlebihan,dia merasa jika aku adalah miliknya dan tidak membiarkan orang lain mendekatiku,bahkan ia sering melukai orang-orang disekitarku secara sengaja karena dia selalu merasa terancam dengan kehadiran mereka,lama kelamaan aku merasa tidak nyaman dengan sikapnya,dan memilih untuk mengakhiri hubungan kami sekitar 1 tahun yang lalu,namun dia masih saja mengejarku,bahkan sering mangancam akan melenyapkan dirinya sendiri jika aku tidak menuruti kemauannya, karena itu aku memutuskan untuk pindah kedalam negeri 3 bulan lalu karena sudah merasa tidak tahan dengan sikapnya,namun pada kenyataannya ia masih mengejarku sampai kesini,bahkan sampai melakukan hal menjijikkan seperti ini, menurutku kakakmu benar-benar sakit," Aldo menjelaskan panjang lebar kepada Rama dan terlihat jelas dari matanya jika dia tidak sedang berbohong.


Rama terdiam, tidak menyangka Nilam sebenarnya mengalami sakit seperti itu,namun ia juga tidak bisa langsung begitu saja percaya tanpa melihatnya sendiri.


"Aku hanya meminta, berhati-hatilah,karena ketika dia merasa jika sesuatu itu miliknya maka ia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan,termasuk melukai dirinya sendiri maupun orang lain," imbuh Aldo.


Rama menghela nafas dan menerima saran Aldo dengan baik, "Bisakah aku meminta satu hal padamu?"


Aldo mengerutkan dahinya,Rama meminta Aldo untuk tidak menuntut balik perbuatan Nilam kepengadilan dan ingin menyelesaikan Kasus ini secara damai, meskipun awalnya Aldo memang berniat seperti itu,melihat Rama yang begitu tulus membuat Aldo berubah pikiran dan menyetujui untuk tidak memperpanjang kasus ini, dengan syarat ia tidak ingin berhubungan lagi dengan Nilam seumur hidupnya,Rama menjamin hal itu pada Aldo,dan akhirnya mereka sepakat.


Rama kembali kekursinya setelah kasus ini akhirnya selesai, meskipun ia masih bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Nilam,rasa lelah mulai menghampirinys,dari kemarin bahkan ia belum sempat memejamkan matanya, perutnya juga mulai terasa lapar karena belum makan apapun dari pagi,hingga ponselnya berbunyi, telepon dari sang istri membuatnya yang tadinya gelisah langsung tersenyum.


"Aku ada didepan," ucap Zahra saat Rama mengangkat telfonnya.


Rama mengerutkan dahi,dan segera beranjak keluar kantor,Zahra yang masih berada disamping mobil melambaikan tangan dengan senyum manis penuh penyemangat.


Keduanya duduk dikursi panjang didepan kantor,Zahra menyiapkan makanan yang sengaja ia bawa karena suaminya belum makan sedari tadi lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.


Ramapun menikmati setiap suapan yang Zahra berikan,senangnya bisa diperlakukan seromantis ini oleh istri, meskipun tubuh dan pikiran terasa lelah semuanya hilang dalam sekejap.


Zahra terdiam, meskipun belum tapi ia tidak ingin membuat Rama khawatir.


"Sudah..." Jawab Zahra namun kebohongan memang tak selamanya mulus.


"Kruyuk,..." Bunyi dari perut Zahra yang bahkan terdengar sampai ketelinga Rama,Zahra menunduk malu karena ketahuan berbohong.


"Dasar penipu," sindir Rama lalu merebut sendok dari tangan Zahra dan gantian menyuapinya,Zahrapun melahap dengan bahagia suapan pertama dari suaminya itu.


"Makan yang banyak, istriku harus sehat," Rama mengusap kepala Zahra lalu kembali menyuapinya dengan semangat membuat Zahra terlihat sangat bahagia dengan perhatian yang diberikan suaminya hingga melupakan tentang sikap Nilam yang sbenarnya ingin ia ceritakan pada Rama.


Usai makan,Rama memilih untuk pulang bersama Zahra, Bagaimanapun ini hari pertamanya sebagai pengantin baru,ia juga ingin menghabiskan waktu bersama dengan istrinya,lagipula masa cutinya juga belum selesai,hanya saja karena kasus Nilam ia terpaksa harus masuk kekantor.


Zahra tahu betul jika kasus Nilam sepertinya tidak berjalan baik, terlihat jelas ada kegelisahan di wajah Rama.


"Bagaimana kasus kak Nilam?' tanya Zahra kepada sang suami yang sedang mengemudi itu.


Rama terdiam,raut wajahnya langsung berubah, "Sedikit rumit,"


Zahra memegang lengan Rama dan menyandarkan kepalanya kepundak suaminya itu berusaha memberikan semangat agar suaminya semakin kuat,Rama tersenyum lalu mengusap kepala Zahra dengan lembut.


"Mungkin setelah ini kita akan banyak menghadapi hal-hal buruk,maafkan aku harusnya aku bisa membuatmu nyaman,tapi baru saja menikah kamu juga harus ikut merasakan beban dari masalahku," Rama merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan Zahra seutuhnya.


Zahra mengerutkan dahinya,melihat Rama seperti itu juga membuatnya merasa sedih, "Asalkan bisa terus mendukungmu,aku tidak akan mengeluh dengan setiap masalah yang akan kita hadapi,kita akan melaluinya bersama-sama," Zahra tidak ingin melihat Rama seperti ini,ia harus bangkit dan bisa menghadapi semuanya dengan bersemangat,iapun mengecup pipi suaminya itu,membuat Rama menatap sekilas kearah Zahra yang tersenyum malu.


"Bisakah tunggu sampai dirumah,aku akan membalasnya nanti," sindir Rama membuat Zahra terkekeh.

__ADS_1


Nilam sedang menonton tv dengan cemilan dimeja,Rama dan Zahra masuk rumah dengan bergandengan tangan dan menghampiri Nilam.


Melihat Rama datang,Nilam langsung bersemangat,ia terlihat sangat penasaran dengan hasil kerja Rama untuk menyelesaikan kasusnya.


"Bagaimana?apa dia akan dihukum?" Tanya Nilam membuat Rama langsung merungut.


Rama melihat kearah istrinya lalu menyentuh tangannya,ia berbisik agar Zahra masuk dulu kedalam kamar, Zahrapun menganguk,ia sangat mengerti Rama harus menyelesaikan ini dengan Nilam,iapun beranjak pergi menuju kekamarnya.


Rama duduk dengan gelisah,ia tidak tahu cara menyampaikan berita yang mungkin akan membuat Nilam sangat kecewa,namun bagaimanapun ia juga tidak bisa terus menyembunyikan hal ini bukan.


Nilam semakin penasaran melihat ekspresi wajah Rama, membuatnya menerka jika Rama pasti gagal membantunya dan jelas itu membuatnya sangat kesal.


"Maaf kak,tapi tidak ada bukti yang memberatkan pelaku,jadi dia dibebaskan hari ini," ucap Rama dengan begitu berat.


Nilam membelalakkan matanya, ternyata benar seperti dugaannya,iapun terlihat sangat murka saat mendengar semua itu.


"Bagaimana bisa dia dibebaskan,kamu tahu apa yang sudah aku alami agar bisa membuatnya dipenjara," bentak Nilam.


Rama melihat kearah Nilam, "Apa dengan melukai dirimu sendiri?" Tanya Rama kali ini dengan tatapan yang mengintimidasi Nilam karena bagaimanapun perbuatan Nilam tidaklah benar.


Nilam terdiam,ia tidak bisa mengontrol emosinya dan langsung menghancurkan semua piring yang ada dimeja untuk meluapkan amarahnya.


"Prank..." Piringpun berjatuhan dan pecah dilantai hingga melukai tangan Nilam.


Zahra yang mendengar suara berisik itu terlihat sangat khawatir dan segera buru-buru melihat suaminya.


"Dia harus dihukum," teriak Nilam yang ingin melukai dirinya sendiri dengan pecahan piring yang tajam itu,Rama meraih tangan Nilam dan mencegahnya.


"Kak...tenang..." Teriak Rama yang berusaha membuat Nilam tidak melukai dirinya sendiri.


Nilam menangis histeris dan ingin melepaskan tangannya dari Rama,Rama tetap menahannya dengan kuat,ia bahkan memeluk tubuh Nilam berharap jika bisa membuat Nilam lebih tenang.


"Aku mohon,tenanglah,"


Nilam mulai diam dan tidak lagi melakukan perlawanan.


Zahra bergegas menuruni tangga,ia menghentikan langkahnya ketika melihat suaminya memeluk erat sang kakak ipar,entah kenapa meskipun berusaha untuk tidak menaruh prasangka buruk tapi Zahra tetap terlihat tidak nyaman,ia sadar Nilam adalah kakak Rama, tapi bagaimanapun mereka tidak ada hubungan darah, membuatnya sering merasa was-was.


"Astaghfirullahaladzim..." Sebut Zahra berkali kali karena merasa bersalah dengan apa yang sudah ia pikirkan.


Iapun melanjutkan langkahnya dan menghampiri mereka.


"Kakak kenapa?" Tanya Zahra yang melihat darah ditangan Nilam.


Rama melepaskan pelukannya,dan mendudukkan tubuh Nilam disofa,Zahrapun segera mengambil kotak obat dan ingin mengobati tangan Nilam yang terluka namun Nilam tidak menerima sentuhan dari Zahra.


"Biarkan Rama saja," ucap Nilam membuat Zahra sedikit menjauh.


Rama melihat kearah Zahra,Zahra menganguk sebagai tanda bahwa dia baik-baik saja,Ramapun mengambil obat dan mulai mengobati luka ditangan Nilam lalu membalutnya dengan lembut.


Nilam terus memperhatikan wajah Rama dengan tatapan penuh kekaguman, meskipun tadinya ia sangat marah tapi cara Rama membuatnya tenang dan kelembutan Rama membuat hatinya merasa jauh lebih baik.


"Kakak istirahatlah," ucap Rama usai mengobati luka Nilam.


Nilam menganguk,entah kenapa ia tidak ingin melawan ucapan Rama,iapun beranjak menuju kekamarnya.


Rama merasa sangat lega,Zahra melihat pecahan piring yang berserakan dilantai dan membuatnya merasa khawatir, "Apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


Rama menganguk, "Biar bibi saja yang membereskannya,kita perlu bicara," Rama menggandeng tangan Zahra menuju kekamar mereka.


__ADS_2