Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kecantikan Alami


__ADS_3

Bimo sampai diistana kebesarannya,Fatma sepertinya sudah sangat menantikan kedatangan suaminya itu.


"Kamu darimana saja?kenapa tidak bisa dihubungi?" Tanya Fatma mengikuti Bimo yang menuju kekamarnya.


Bimo masih terlihat kesal dengan kejadian malam tadi, "Sejak kapan kamu mencampuri urusan ku," jawab Bimo dengan nada cukup tinggi.


"Zahra menghilang,aku sangat khawatir,bisa kamu membantuku mencari nya?" Tanya Fatma lagi dengan penuh harapan.


Bimo menghentikan langkah dan melihat kearah istrinya itu, "Anak kurang ajar itu,biarkan saja ia menghilang," ucap Bimo dengan tegas lalu kembali melangkah.


Deg...


Hati Fatma terasa hancur mendengar jawaban Bimo,padahal sebelumnya Bimo begitu peduli pada Zahra,lalu apa yang harus ia lakukan untuk bisa menemukan putrinya,wajah Fatma semakin terlihat cemas.


Zahra masih duduk ditepi sungai,melihat aliran air dengan tatapan sendu.


Rasa sakit itu masih sangat membekas dihatinya,apa yang harus ia lakukan sekarang, rumah begitu jauh, haruskah hidupnya berakhir ditempat ini,lalu bagaimana dengan nenek,apa ia tidak bisa bertemu lagi dengan neneknya?


Zahra menggelengkan kepalanya,ia harus tetap bertahan hidup dan harus bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi.


Iapun mulai bangun,tapi kepalanya....


"Brukkkk" Zahra terjatuh direrumputan,ia mungkin terlalu lemah dan juga lapar,hingga tubuhnya tidak kuat lagi.


Beberapa warga pulang memancing dan panik saat melihat tubuh Zahra tergeletak.


"Cepat lapor kepak RT," ucap salah seorang warga.


Warga yang lainpun segera berlari untuk melapor.


Rama menemui RT dikampung itu,untuk meminta bantuan agar bisa mengantarkan nya kepos polisi tempat Fatir bekerja.


"Kalau nak Rama tidak keberatan,kami bisa mengantarkan, tapi besok,karena ini sudah sore dan kami tidak berani jika harus pergi dimalam hari,apalagi setelah apa yang nak Rama ceritakan barusan tentang para penjaga itu,pasti mereka masih mencari nak Rama sampai sekarang,akan sangat berbahaya jika pergi dimalam hari," ucap Pak RT itu.


Rama menganguk,memang benar,bisa-bisa Rama justru akan membahayakan keselamatan warga disini.


"Kalau begitu,apa saya boleh bermalam disini pak?" Tanya Rama.


"Oh,tentu,kami sangat senang bisa membantu,kami juga berharap agar kasus ini segera dapat diselesaikan, agar warga juga menjadi tenang," imbuh pak RT lagi.


Rama merasa lega, setidaknya malam ini dia punya tempat untuk beristirahat.


"Nak Rama hanya sendiri?" Tanya pak RT.


Rama terdiam,ia teringat pada perempuan yang ia tinggalkan ditepi sungai.


"Pak RT...pak RT..." Teriak warga sembari menghampiri pak RT yang sedang duduk diteras bersama Rama dengan nafas memburu.


"Ada apa?" Tanya RT yang ikutan panik.


"Ditepi sungai ada orang pinsan,perempuan pak RT," ucap Warga itu.


Deg...


Rama langsung berdiri dengan wajah cemas, "Zahra,"


"Nak Rama kenal sama dia?" Tanya Pak RT.

__ADS_1


"Seperti nya itu teman saya," jawab Rama.


"Ya sudah,ayo kita kesana sekarang," Merekapun bergegas untuk menolong perempuan itu.


Rama melihat warga yang sudah berkerumun,iapun segera menghampiri perempuan yang pinsan itu,lalu berusaha membangun kannya.


"Zahra...Zahra," Rama menepuk pipi Zahra dengan wajah cemasnya.


"Lebih baik,kita bawa dia kerumah," ucap pak RT.


Rama menganguk,iapun segera membopong tubuh Zahra yang lemas itu,dan membawanya menuju keRumah pak RT yang tidak terlalu jauh dari sungai itu.


Perkampungan ditepi hutan itu hanya dihuni sekitar 100 warga,masih sangat sepi dan alami,aliran listrik pun sangat minim,sinyalpun masih belum terkoneksi.


Tapi pak RT sudah memiliki sebuah mobil bak terbuka sumbangan dari pemerintah untuk mengangkut bahan pokok yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.


Rata-rata warga disini adalah petani,mereka hidup dengan sangat sederhana meskipun begitu terlihat sangat nyaman dan bahagia,tapi semenjak adanya pabrik miras ilegal itu,mereka sering dilanda gelisah,bahkan tidak berani keluar dimalam hari karena jika penjaga melihat mereka berkeliaran disekitar pabrik nyawa mereka akan melayang.


Rama meletakkan Zahra dilantai kayu diteras rumah pak RT,istri pak RT mengambilkan minyak angin serta minuman untuk Zahra.


Rama mengusapkan minyak kehidung Zahra,


"Zahra," panggil Rama dengan cemas.


Zahra mengerjapkan matanya,perlahan matanya terbuka,nampak Rama yang begitu terlihat khawatir.


Rama memberikan minum pada Zahra,dan menopang tubuhnya agar bisa duduk.


Zahra minum sedikit air,wajahnya masih terlihat pucat.


"Kamu gak papakan?" Tanya Rama.


Begitupun Rama yang mengucap syukur Alhamdulillah pada Allah,lalu segera melepas tubuh Zahra dan sedikit menjauh agar tidak membuat orang yang melihat salah paham.


"Jadi,apa nak Rama dan nak Zahra ini,suami istri?" Tanya pak RT.


Rama dan Zahra terbelalak lalu saling melihat dan keduanya menjadi salang tingkah.


"Bukan pak RT," jawab Rama.


"Oh,jadi kalian belum menikah,masih pacaran?" Tanya pak RT lagi membuat suasana sedikit terasa panas bagi Rama dan Zahra.


Zahra hanya menunduk membiarkan Rama yang menjawab pertanyaan itu.


"Kami...kami hanya teman," jawab Rama sembari melirik kearah Zahra.


Zahra menatap Rama, "Teman? bukannya harusnya dia jawab musuh," batin Zahra yang masih sedikit kesal dengan kejadian ditepi sungai siang tadi.


"Oh..begitu," Pak RT menganguk seperti tidak percaya jika mereka hanya berteman tapi tidak ingin mencampuri lebih jauh.


"Pak makanannya udah siap," ucap Istri pak RT.


Zahra terlihat senang,bukan apa-apa dia sudah merasa sangat lapar hingga pinsan,mendengar kata makanan langsung membuatnya bersemangat.


Rama menyunggingkan bibir ketika melihat ekspresi Zahra.


"Kalau begitu,mari kita makan dulu," ajak pak RT.

__ADS_1


Rama dan Zahrapun segera masuk kedalam rumah sederhana itu,tapi sangat bersih dan juga indah.


Mereka makan bersama saat menjelang senja,Zahra makan dengan sangat lahap,terlihat sangat menikmati meskipun hanya dengan lauk seadanya.


"Maaf ya pak,tapi saya lapar," ucap Zahra sangat jujur pada pak RT yang sedari tadi memperhatikannya.


"Iya..iya..gak papa kok," jawab pak RT.


"Gak punya malu," bisik Rama kedekat Zahra karena mereka duduk berdampingan.


Zahra hanya menatap sinis kearah pria itu lalu melanjutkan makannya.


Usai makan,mereka bersih-bersih,Zahra dipinjami baju Bu RT karena bajunya kotor dan basah.


Baju yang cukup sederhana,tapi Zahra begitu terlihat nyaman.


"Maaf ya,ibu cuma punya baju ini buat nak Zahra,gak modis," ucap Bu RT yang terihat sungkan karena baju Zahra sebelumnya sangat modis dan juga mahal.


"Gak papa kok Bu,saya nyaman kok," jawab Zahra,iapun merapikan rambutnya yang basah dan sama sekali tidak memakai make up.


Rama sedang duduk diteras,melihat indahnya langit malam itu,bulan masih bersinar terang dengan ribuan bintang yang setia mendampingi,hawa sejuk dari pepohonan membuat bulu kudup Rama serasa berdiri.


Iapun berdiri untuk masuk kedalam karena udara mulai tidak bersahabat,tapi saat itu Zahra berjalan keluar.


Rama terdiam melihat perempuan yang berdiri didepannya itu,terlihat sederhana tapi lebih manis tanpa make up seperti itu.


"Cantik," batin Rama.


Zahra melihat Rama yang melamun sambil memandang nya, "Kenapa?"


Rama segera memalingkan wajahnya, "Astaghfirullahaladzim,apa yang aku pikirkan?" Batin Rama sembari memejamkan matanya erat-erat.


Zahra merasa aneh dengan sikap Rama,


"Apa dia melihat hantu?kenapa dengan sikapnya?" Batin Zahra.


Rama kembali melangkah masuk kedalam dan melewati Zahra, "Jangan lama-lama diluar,udaranya dingin," ucap Rama saat mereka berpapasan.


Zahra terdiam,kenapa hatinya terasa sangat sejuk mendengar ucapan yang terkesan khawatir itu,atau karena udaranya memang dingin jadi terasa sampai kehatinya.


Zahra berusaha tidak memikirkan hal aneh yang nantinya akan membuatnya kecewa.


Iapun duduk ditempat Rama tadi dan memandangi indahnya langit malam itu.


Tiara masih berusaha menghubungi Zahra,tapi tetap belum bisa,ia terlihat sangat cemas dan khawatir.


Arman menghampiri nya,hari ini ada acara khusus diYayasan,jadi sampai malam mereka belum pulang.


"Kamu kenapa?" Tanya Arman yang melihat kegelisahan Dimata Tiara.


"Zahra dari kemarin belum pulang dan gak bisa dihubungi,aku sangat khawatir padanya," jawab Tiara.


Armanpun ikut merasa cemas, "Apa kamu sudah coba hubungi keluarganya?"


"Zahra gak mungkin disana, kemungkinan dia sedang mencari neneknya,tapi kenapa dia harus mematikan ponselnya,aku takut terjadi hal buruk padanya," ucap Tiara lagi dengan wajah semakin cemas.


"Kamu gak perlu terlalu cemas,Zahra pasti akan baik-baik saja, kita berdoa saja sama Allah,agar Allah melindungi Zahra dari hal-hal buruk," ucap Arman membuat Tiara merasa lebih baik.

__ADS_1


Tiara menganguk, "Makasih ya," ucap Tiara yang merasa jika Arman sudah membuatnya lebih tenang meskipun masih terlihat cemas.


Arman sebenarnya juga terlihat cemas dengan kondisi Zahra, tapi ia berusaha menutupi semuanya dari Tiara.


__ADS_2