Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kelicikan Bimo part 2


__ADS_3

Rama sampai dikantor,sudah hampir tengah malam,kebetulan hari ini Rian yang berjaga.


"Ya ampun,Ram,aku benar-benar khawatir sama keadaan kamu, bisa-bisanya kamu dua hari gak ada kabar," ucap Rian dengan wajah cemasnya.


Rama tidak mempedulikan celotehan temannya,ia langsung membuka laptop dan mengeluarkan bukti-bukti yang ia temukan,bergegas membuat surat laporan agar bisa segera menyergap tempat itu.


"Jadi,kamu udah yakin?gimana kalau pak Tio masih tidak menyetujui penggerebekan itu?," tanya Rian dengan kemungkinan terburuk.


Rama terdiam, "Aku akan langsung membawa laporan ini kekejaksaan,aku yakin bukti yang aku temukan cukup untuk itu," jawab Rama dengan yakin.


"Kalau kamu ngelakuin itu, siap-siap aja ditendang sama pak Tio," ejek Rian yang tahu betul tabiat atasannya.


"Aku gak peduli, yang penting kasus ini harus segera diproses," jawab Rama yang masih konsentrasi dengan pekerjaannya.


Zahra duduk didekat jendela sembari memegangi roti pemberian Rama yang masih ia simpan,bibirnya tiba-tiba tersenyum saat mengingat pria itu.


Tiara menghampirinya, "Mikirin apa hayo,kok senyum-senyum sendiri?" Tanya Tiara dengan wajah curiga.


Zahra terlihat malu, "Gak kok, Siapa juga yang senyum-senyum sendiri?" bantah Zahra padahal wajahnya sudah merah padam.


Tiara merasa senang,sejak kecelakaan itu baru kali ini melihat Zahra terlihat sangat bahagia, membuatnya merasa lega.


"Sekarang cerita ke aku,kenapa kamu bisa ditempat itu,ada Rama juga lagi," tanya Tiara yang begitu merasa penasaran dengan kejadian yang menimpa sahabatnya itu.


Zahrapun menceritakan semuanya pada Tiara, bagaimana kebiadaban Bimo dan kisahnya hingga bisa bertemu dengan Rama.


"Apa gak sebaiknya kamu melaporkan tentang perbuatan Bimo kepolisi,ini sudah tindakan kriminal lho,Ra" ucap Tiara yang kesal saat mendengar cerita Zahra tentang Bimo.


Tiara tertegun, "Jika tidak memikirkan perasaan ibu,aku pasti sudah menyeretnya kepenjara dari dulu,tapi meskipun hubungan aku sama ibu kurang baik,aku tetap tidak ingin menyakiti perasaannya," ucap Zahra dengan wajah sedihnya.


Tiara mengusap punggung sahabatnya itu, "Untung Allah masih melindungi kamu Ra,dan kamu bisa bertemu dengan Rama,yah.. meskipun hubungan kalian tidak baik, setidaknya Rama bukan pria kurang ajar seperti Bimo,"


Zahra tersenyum, "Iya, sebenarnya dia pria yang sangat baik, tapi mungkin pertemuan kita yang kurang baik," ucap Zahra yang sangat menyesali pertemuan pertamanya dengan Rama yang begitu buruk.


Tiara mengerutkan dahi menatap kearah Zahra, "Ra,kamu gak ..?"


Zahra menatap kearah Tiara, "Apa?"


Tiara menggelengkan kepalanya,tapi tetap merasa aneh dengan sikap Zahra, "Matanya berbinar saat menyebut nama Rama,mungkinkah Zahra menaruh hati pada Rama?" Batin Tiara yang sudah mengenal betul tingkah laku Zahra.


Zahra terdiam,ia kembali tersenyum saat melihat roti ditangannya,entah kenapa roti itu selalu mengingatkannya pada perhatian Rama yang baru pertama kali ia rasakan,sungguh membuatnya bahagia.


Tio melihat berkas yang dibawa oleh Rama dan terlihat sangat marah.


"Bisa-bisanya kamu melakukan penyidikan tanpa persetujuan saya," bentak Tio menatap tajam kearah Rama.


"Anda harus segera melakukan penggerebekan ketempat ini,atau saya akan langsung melaporkan kasus ini kekejaksaan,biar mereka yang mengambil tindakan," ucap Rama dengan tegas.


"Kamu....." Bentak Tio.


"Ambil keputusan anda sekarang," ucap Rama sama sekali tidak gentar dengan bentakan Tio.


Tio menghela nafas,iapun menandatangani surat perintah itu,Rama menyunggingkan bibirnya ,"Terimakasih,kami akan segera melaksanakan perintah," ucap Rama memberi hormat lalu segera keluar dari ruangan Tio.


"Dasar bajingan tengik," umpat Tio yang merasa kesal karena Rama berhasil mengancamnya.


Ia meraih ponsel dan menelfon seseorang, "Pak,ini gawat..."


Rama berangkat bersama beberapa rekan polisi yang lain ketempat lokasi setelah mendapatkan surat perintah penangkapan itu,Rianpun ikut dalam penggerebekan kali ini.


Suara sirine polisi menggema dan saling bersahutan,bahkan terdengar sampai dikampung tempat Rama menginap kemarin,warga kampungpun terlihat lega dan senang akhirnya polisi melakukan tindakan tegas.


Penggerebekan berlangsung cepat karena sama sekali tidak ada perlawanan,beberapa penjaga dan pekerja dibawa kemobil polisi.


Polisi juga mengamankan barang bukti.


Rama terdiam sembari mengerutkan dahinya saat melihat proses penggerebekan itu,para penjaga itu bersenjata tapi kenapa mereka sama sekali tidak melawan,jelas ini hal yang aneh.


Rian menghampiri Rama, "Semuanya sudah diamankan," ucap Rian.


"Bawa mereka dulu,aku akan menyidiki keterlibatan Bimo dalam kasus ini, semoga ada bukti yang memberatkan nya," Rama menepuk pundak Rian lalu berjalan menuju ke Villa yang disebutkan Zahra.


"Bawa mereka semua kepos," teriak Rian pada rekannya yang lain.

__ADS_1


Rama memeriksa Villa itu,berusaha keras mencari jejak Bimo disana,Rianpun datang membantu.


"Aku akan memeriksa kamar atas," ucap Rama lalu menaiki tangga.


Hampir satu jam memeriksa,keduanya kembali keruang tamu.


"Benar-benar tidak ada jejak," keluh Rama dengan wajah yang mulai geram.


"Bandit tua itu benar-benar licik,tapi kita bisa mencoba meminta kesaksian dari para penjaga dan pekerja yang sudah ditahan," ucap Rian dengan sedikit harapan.


Rama terlihat tidak yakin,Bimo pasti dengan mudah menyumpal mulut mereka, buktinya penangkapan tadi tidak diwarnai perlawanan sama sekali, sudah sangat jelas jika mereka menyerahkan diri.


Bimo tersenyum dengan seringai tajamnya,ia duduk sembari menghisap rokok dimulutnya,


"Rama, kamu pikir akan mudah menyingkirkanku, sebelum kamu berhasil aku akan lebih dulu mengirim kamu menyusul kekasihmu itu," gumam Bimo sembari menyunggingkan bibirnya lalu kembali menghisap rokoknya.


Zahra sudah menjalani pekerjaannya hari ini,karena menghilang ia harus bekerja lembur untuk menyelesaikan kontrak kerja yang tertunda.


Ana sebenarnya sangat kecewa pada Zahra,tapi apalah daya,Zahra adalah sumber penghasilannya, yang terpenting Zahra masih mau bekerja.


Farel mengacungkan jempol, "Ok.."


Zahra tersenyum dan pergi untuk beristirahat.


Saat sampai diruang ganti,ia terdiam melihat seorang wanita yang sudah menunggunya.


Fatma langsung memeluk putrinya itu,membuat Zahra mengerutkan dahinya.


"Zahra,ibu khawatir sama kamu,kenapa kamu pergi tanpa kabar?" Tanya Fatma yang terlihat cemas.


Zahra terdiam,melihat sikap ibunya seperti itu membuat hatinya merasa sejuk.


"Maafin aku Bu," jawab Zahra.


"Ibu dengar kamu pergi keMarga, untuk apa kamu kesana?" Tanya Fatma yang terlihat sangat penasaran.


"Apa ini saatnya aku membuka kedok pria biadab itu pada ibu?" Batin Zahra yang terlihat masih ragu.


"Zahra,apa kamu mencari nenek disana?" Tanya Fatma lagi karena Zahra masih diam.


"Seseorang?siapa?" Tanya Fatma penasaran.


Zahra menatap wajah ibunya, "Bimo," jawab Zahra.


Deg....


Fatma terdiam,jadi benar,Bimo yang membuat Zahra pergi ketempat itu.


"Bu,apa ibu masih percaya sama pria biadab itu,dia bahkan sudah membohongi aku supaya aku pergi ketempat itu," ucap Zahra berharap kali ini Fatma akan mempercayai ucapannya.


"Mungkin,dia ingin kamu mengetahui tentang bisnisnya, dia ingin kamu belajar, bagaimanapun kamu yang akan mewarisi semua Bisnisnya kelak," Ucapan Fatma benar-benar menggoreskan luka dihati Zahra.


"Omong kosong," ucap Zahra dengan kesal.


Fatma sebenarnya juga ragu dengan ucapannya sendiri,tapi ia harus bertanya dulu pada suaminya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya sudah, kamu lanjut kerja,ibu pulang dulu," Fatma mencium pipi Zahra lalu melangkah pergi meninggalkannya.


Zahra masih tidak percaya, kenapa ibunya begitu mempercayai pria biadab itu.


Rama memijat kepalanya dengan wajah bingung,ia masih terduduk lemas dikursi kerjanya.


"Jadi bagaimana? tidak ada satupun dari mereka yang memberikan kesaksian bahwa Bimo terlibat,bahkan pemilik pabrik itu sudah mengaku jika dia bersalah,beserta surat-surat sebagai bukti jika bisnis itu memang miliknya," ucap Rian memberikan bukti yang ia bawa dari seseorang yang mengaku sebagai pemilik bisnis itu.


Rama bahkan tidak menyentuh bukti itu,ia sangat yakin ini adalah tipuan yang dilakukan Bimo, benar-benar sangat licik.


Rama terdiam dan berpikir,terlintas sesuatu dikepalanya.


"Azahra," gumam Rama.


Rian mengerutkan dahinya, "Kenapa tiba-tiba menyebut namanya?" Rian memasang kecurigaan penuh pada Rama.


"Malam itu aku bertemu dengan Zahra, dan dia bilang Bimo yang membawanya ke Villa itu," ucap Rama.

__ADS_1


Rian membelalakkan matanya, "Berarti daia bisa bersaksi untuk memberatkan Bimo," ucap Rian.


Rama menganguk "Dan mungkin inilah kesempatan satu-satunya agar bisa menyeret Bimo kedalam kasus ini,"


"Tapi,apa dia mau?Bimokan ayah tirinya," Rian merasa ragu setelah yakin beberapa waktu sebelumnya.


"Aku yang akan menemuinya besok," Rama harus segera menuntaskan kasus ini meskipun harus melibatkan Zahra.


Rama sampai dirumahnya,sudah hampir tengah malam,wajahnya terlihat sangat kelelahan, benar-benar kasus yang menguras tenaga dan pikiran.


Iapun merebahkan tubuh disofa favoritnya,menatap kelangit-langit,pikirannya mulai melayang kesana kemari.


Tiba-tiba teringat pada perempuan itu, yang selalu menangis didepannya karena ucapan kasarnya.


"Prang...."


Rama dikejutkan dengan suara kaca yang pecah,iapun segera mendekat kearah jendela,melihat sebuah motor melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Ia memungut sebuah batu yang terbungkus kertas,benda itulah yang sudah membuat bunyi nyaring hingga menghancurkan jendela rumahnya.


"Berhentilah sebelum nyawamu menjadi taruhannya" tulisan dengan tinta merah dikertas itu.


Rama menatap tajam dan sepertinya tidak sulit menebak siapa pelakunya.


"Apa sekarang dia sedang mengancamku? Atau menantangku?" gumam Rama yang tidak gentar sama sekali, justru ia semakin tertantang untuk segera menyeret pelakunya kepenjara.


Pagi itu,Zahra sedang meminum cokelat hangat sembari duduk didekat jendela, tidak ada jadwal pemotretan hari ini,jadi ia bisa bersantai dirumah.


Karena sedang dirumah ia hanya mengenakan celana pendek diatas lutut,serta kaos yang cukup ketat yang menampakkan bagian dari tubuhnya, menggulung rambutnya keatas,hingga menampakkan leher jenjangnya.


"Ting tung," suara bel rumah berbunyi.


Zahra mengerutkan dahi, "Siapa?apa Ana,tapi bukannya ia ada urusan pagi ini,"


Zahra menuju ke pintu dan membukanya.


Tercekat saat melihat siapa yang berdiri didepan pintu,tubuhnya membatu,begitupun Rama yang diam saat melihat penampilan Zahra yang begitu berbeda.


Rama langsung memalingkan wajahnya,aurat Zahra bertebaran didepannya,Zahrapun terlihat bingung dan salah tingkah saat melihat penampilan sendiri.


"Tunggu sebentar," Zahra kembali menutup pintu dengan wajah merona karena malu,kenapa tiba-tiba Rama datang.


Zahra menutupi wajahnya yang merah padam, "ih...malu banget," iapun bergegas berlari kekamar untuk mengganti baju.


Rama masih menunggu didepan pintu dan tiba-tiba tersenyum saat mengingat ekspresi wajah Zahra.


Rama memejamkan matanya, "Astaghfirullahaladzim," sebut Rama yang merasa dirinya sangat berdosa sudah melihat aurat Zahra bahkan kembali mengingatkannya,tapi Rama hanyalah pria biasa yang terkadang juga khilaf.


Setelah hampir 15 menit,Zahra kembali membuka pintu dengan pakaian yang lebih sopan.


"Maaf, silakan masuk," ucap Zahra.


"Ada orang lain dirumah?" Tanya Rama.


Zahra menggelengkan kepala dengan wajah penuh keheranan.


"Lebih baik pintunya dibiarkan terbuka," ucap Rama,bukan apa-apa selain menghindari fitnah,Rama tidak ingin ia kembali khilaf jika hanya berdua dan berada diruangan tertutup, pasti akan banyak sekali syetan yang akan menggodanya.


Zahra menganguk dan membiarkan pintu terbuka lebar.


Keduanya duduk saling berhadapan diruang tamu, kenapa suasananya terasa sedikit aneh,biasanya mereka bertemu hanya untuk berdebat, tapi kalo ini malah merasa kikuk dan tidak nyaman.


Ramapun merasakan perasaan aneh itu lagi saat menatap perempuan didepannya, "Ini soal Bimo,apa kamu masih mau memberikan kesaksian?"


Zahra terdiam, "Apa dia sedang meminta bantuanku? batin Zahra yang mengukir senyum diwajahnya.


"Tentu,aku sangat senang jika bisa membantu," jawab Zahra.


Rama menganguk, "Bisa pergi kekantor sekarang?jika kamu tidak sibuk," tanya Rama yang terlihat begitu sungkan, biasanya ia hanya bisa mengumpat dan berkata kasar pada Zahra, bersikap lembut seperti ini kenapa membuatnya merasa konyol.


Zahra menganguk, "Eem...aku tidak ada pekerjaan hari ini,jadi aku akan pergi kesana," jawab Zahra dengan senang hati akan memberikan kesaksiannya.


Rama menganguk, "Kalau begitu, terimakasih," ucap Rama lalu iapun berdiri untuk pergi.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu dikantor," imbuh Rama lagi lalu iapun melangkah pergi meninggalkan rumah Zahra dengan wajah yang terlihat menahan malu.


Zahra mengulum senyum melihat Rama pergi, perasaannya kembali berbunga-bunga, entah apa yang terjadi padanya, yang pasti saat menatap Rama pipinya menjadi sangat panas.


__ADS_2