Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Ada Rasa


__ADS_3

Rama keluar dari tempat persembunyiannya.


"Tidak bisa, penjagaannya sangat ketat,Bimo pasti sudah tahu makanya dia mengerahkan semua anak buahnya untuk berjaga," ucap Zahra.


Rama terlihat kesal, harusnya dari awal ia tidak datang ketempat ini,apalagi sendirian dan tanpa senjata, penyesalan memang selalu datang terlambat,iapun kembali duduk sembari menundukkan wajahnya,mencoba berpikir bagaimana caranya agar bisa keluar.


Zahra duduk disampingnya.


"Harusnya kamu pikirkan dulu sebelum datang kekandang singa,ini sangat berbahaya," ucap Zahra.


Rama hanya diam sembari meraup mukanya.


Zahra tahu betul kebingungan yang nampak diwajah Rama.


"Rumah kamu kebakaran?" tanya Zahra berusaha mengalihkan topik agar ketegangan sedikit mencair.


Rama menganguk, "Dan ini disengaja,penjahat semalam dan kebakaran rumah, ada orang yang sengaja melakukannya," jawab Rama membuat Zahra sedikit terkejut.


"Apa Bimo?itu alasan kamu datang kesini?"tanya Zahra lagi.


"Ehm... kemungkinan besar,hanya dia orang yang tidak menyukaiku," jawab Rama.


Zahra benar-benar tidak menyangka Bimo si biadab itu memang benar-benar biadab,iapun ikut kesal dengan perbuatan Bimo.


"Pria itu, harusnya dilenyapkan dari dunia ini," gumam Zahra dengan kekesalan yang nampak jelas diwajahnya.


Rama menatap kearah perempuan disampingnya itu sembari menyunggingkan bibirnya.


"Seandainya kamu tidak membatalkan kesaksian itu, mungkin dia sudah mendekam dipenjara," ucap Rama yang justru menyindir Zahra.


Zahra terdiam,benar seandainya saja ia dapat berpikir lebih jauh,tapi sekarang semuanya sudah terlambat.


"Maaf..." Ucap Zahra dengan perasaan bersalahnya.


"Percuma, tidak akan mengubah apapun," jawab Rama dengan ketus.


Ponsel Zahra berbunyi,telepon dari ibunya,Zahrapun mengangkatnya dan tidak peduli kalaupun Rama akan mendengarkan percakapan mereka,meskipun Rama sama sekali tidak ingin mencampuri urusan Zahra tapi ia juga penasaran dengan apa yang akan di bicarakan antara ibu dan anak yang tidak pernah akur itu.


"Ya Bu?" Jawab Zahra.


"Kamu kemana?bukannya ibu belum memberikan alamat nenek, tapi kamu sudah menghilang," ucap Fatma yang masih berada ditempat acara.


"Aku masih ada urusan,jadi aku pulang duluan,ibu bisa memberikan alamat itu lewat pesankan?" Tanya Zahra yang sedikit melirik kearah Rama.


"Tentu,kamu sudah membuat ibu senang dengan membatalkan kesaksian itu,jadi ibu akan memenuhi janji ibu untuk memberikan alamat nenek," ucap Fatma lagi.


Rama sedikit tersentak saat mendengar ucapan Fatma, sepertinya Zahra sengaja menyalakan speaker agar Rama bisa mendengarnya sebagai bukti jika dirinya harus menentukan pilihan yang sulit.


Keduanya saling melihat dalam diam.


"Ya sudah,ibu akan kirimkan sekarang," Fatma menutup teleponnya.


Rama memalingkan wajahnya dari tatapan Zahra.


"Jadi,karena itu kamu membatalkan kesaksian? Demi bisa bertemu dengan nenek?" tanya Rama.


Zahra menganguk, "Maaf,tapi nenek adalah orang terpenting dihidup aku,aku akan melakukan apapun untuk bisa bertemu dengannya,aku benar-benar minta maaf jika sudah mengecewakanmu,dan membuat semuanya menjadi kacau sekarang," ucap Zahra dengan penyesalan diwajahnya.


Rama terdiam,ada kelegaan yang ia rasakan dihatinya,ia berpikir jika Zahra menipunya tapi mendengar alasan Zahra yang sebenarnya membuatnya merasa lebih baik,meskipun Bimo masih bisa bebas dan menghancurkan hidupnya sekarang,tetap saja Rama tidak menyalahkan Zahra dalam hal ini.


"Kamu marah?" tanya Zahra karena Rama tetap diam sembari terus menatapnya.


Rama mengalihkan pandangannya, "Tidak,aku sangat mengerti," jawab Rama.


Deg...


Kenapa tiba-tiba jantung Zahra berdebar mendengar jawaban Rama.

__ADS_1


"Kamu sangat menyayangi nenek,aku akan melakukan hal yang sama kepada orang yang aku sayangi,dan itu bukan sebuah kesalahan," imbuh Rama lagi membuat perasaan Zahra semakin melayang.


"Ehm...terimakasih," ucap Zahra dengan senyum tipis yang terukir dibibirnya.


Pukul 10 malam,Zahra dan Rama tertidur dengan kepala saling bersandar, karena terlalu lama menunggu hingga mereka lelah dan ketiduran.


Tempat acarapun sudah sepi,para tamu undangan sudah pulang,hanya tinggal satpam yang berjaga dipintu depan.


Zahra mengerjapkan matanya,ia melihat wajah Rama yang begitu dekat,semakin membuat jantungnya seakan ingin meledak.


Iapun perlahan menegapkan badannya,tapi kepala Rama justru melorot dan jatuh dipangkuannya.


Zahra terdiam kaku,dia berusaha tetap diam agar Rama tidak terbangun,wajahnya memerah dan merasa jika suhu badannya semakin panas hingga membuatnya kegerahan.ia mengipas-ngipas wajah dengan tangannya,lalu kembali menatap kearah Rama yang masih terlelap dengan nyamannya.


Zahra mengeluarkan ponselnya,ia melotot saat melihat sudah pukul 10 malam,harusnya kantor sudah sepi,apa masih ada yang berjaga dimalam hari.


Apakah harus membangunkannya?atau membiarkannya tetap tidur? Zahra kebingungan sendiri sembari menggaruk tengkuknya.Rama mulai mengerjapkan matanya,Zahra terkejut dan iapun kembali pura-pura tidur,karena tidak sanggup jika harus menghadapi Rama dalam situasi seperti ini.


Rama membuka mata lebar-lebar saat sadar kepalanya berada dipangkuan Zahra,iapun dengan cepat bangun dan melihat kearah Zahra,merasa lega dan berharap Zahra tidak menyadarinya atau dia akan sangat malu.


Rama perlahan berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan untuk melihat situasi,sudah sepi,tidak ada seorangpun yang lewat,Zahra sedikit mengintip apa yang sedang Rama lakukan.


Rama kembali melihat Zahra,Zahrapun kembali berpura-pura masih tidur,Rama berjalan mendekatinya.


"Kamu sudah bangunkan?" Tanya Rama yang tahu jika Zahra sedang membohonginya.


Zahra membuka mata perlahan dan menunduk dengan wajah malu sembari menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa?" Tanya Rama meminta penjelasan.


"Tidak apa-apa,aku memang baru bangun saat kamu bangun tadi,aku tidak tahu jika kamu tidur dipangkuanku," ucap Zahra yang justru membuka kartunya sendiri.


Zahra menutup mulutnya dengan tangan dan melihat kearah Rama,Rama memalingkan wajahnya yang terlihat menahan malu.


Keduanya masih diam dan terlihat bingung harus bagaimana dan bicara apa.


Zahra menyusulnya, "Tunggu,gimana kalau masih ada penjaga diluar,aku akan mengantarmu sampai kedepan," ucap Zahra yang masih terlihat cemas pada Rama.


"Ikuti aku, pelan-pelan saja," ucap Zahra lalu berjalan mendahului Rama,Ramapun mengikutinya,entah kenapa tapi ia merasa kalau Zahra terlihat menggemaskan malam ini dan membuatnya tidak bisa menolak.


Mereka berjalan menyusuri lorong yang sepi dengan perlahan.


"Brang...." Suara benda jatuh.


Zahra dan Rama tersentak dan langsung menempelkan tubuh mereka kedinding dengan wajah tegang.


"Meong...." Ternyata hanya seekor kucing yang menabrak tempat sampah.


Keduanya saling melihat dan langsung terkekeh bersama, tidak menyangka seekor kucing bisa membuat mereka takut setengah mati.Zahra tertegun melihat pria dingin didepannya itu bisa tertawa juga,begitu terlihat sangat indah.


"Kayanya emang udah sepi,aku akan pulang sekarang,kamu juga harus pulangkan,ini sudah malam," ucap Rama lalu ia melangkah menjauh dari Zahra.


Zahra hanya diam lalu tersenyum saat mengingat ucapan Rama yang begitu perhatian.


Rama menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Zahra yang masih diam ditempat,Zahra mengerutkan dahinya.


"Terimakasih sudah menolongku,Azahra," ucap Rama dengan senyum dibibirnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Jantung Zahra terasa berdebar semakin kencang,membuat Zahra memegang dadanya kuat-kuat, ucapan dan senyum itu benar-benar membuatnya merasa sangat bahagia.


Rama turun dari taxi dan segera masuk kedalam mobilnya,ia melepas topi dan jaketnya,menghela nafas lega,hari ini karena tidak berpikir panjang ia hampir saja kehilangan nyawanya.


Ia menyandarkan kepalanya kebelakang sembari menutup mata,bayangan perempuan itu tiba-tiba muncul dikepalanya, perempuan yang sudah melindunginya dari bahaya,Rama membuka mata dengan senyum yang mengembang diwajahnya, apalagi setelah mengetahui alasan sebenarnya tentang pembatalan kesaksian itu hatinya benar-benar merasa lega,entah kenapa tapi perasaan bahagia itu tiba-tiba muncul menghampirinya.


Pagi menyapa,Zahra kemeja makan dan menyantap roti yang sudah disiapkan oleh Tiara dengan wajahnya yang berseri-seri.


"Hem...enak banget," puji Zahra yang makan dengan lahap.

__ADS_1


Tiara melihat kearah Zahra dan mengerutkan dahinya,Zahra terlihat sedikit aneh pagi ini,terpancar kebahagiaan dari wajahnya yang tidak bisa disembunyikan.


"Kenapa?apa terjadi sesuatu yang membuat tuan putri sangat bahagia pagi ini?" Tanya Tiara dengan nada menyindir.


Zahra tersenyum, "Aku sudah dapat alamat nenek,aku merasa sangat bahagia karena aku akan bertemu dengannya sebentar lgi," jawab Zahra dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.


"Apa cuma karena itu?aku rasa ada yang lain juga," Tiara sepertinya sengaja menggoda Zahra.


Zahra terlihat sedikit gugup, "Tidak ada," jawab Zahra yang berusaha menyembunyikan perasaannya dari Tiara.


"Benarkah?aku tidak percaya,aku melihat binar-binar cinta dimata tuan Puteri," Sindir Tiara lagi membuat wajah Zahra langsung memerah.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," Zahra masih berusaha mengelak sembari melahap makanannya.


Tiara tersenyum dan tahu betul jika tebakannya benar,tapi Zahra masih belum mengakuinya dan iapun tidak ingin memaksa,melihat sahabatnya tersenyum saat membuka mata dipagi hari sudah membuatnya cukup bahagia.


Ditempat lain,Rama juga sedang sarapan bersama Aminah.


"Semalam pulang sangat larut,apa ada kasus penting?" Tanya Aminah.


"Ada sedikit Masalah,maaf sudah membuat ibu menunggu," ucap Rama.


"Tidak masalah," jawab Aminah.


Rama tersenyum dan kembali makan.


Aminah menatap kearah putranya itu, "Sudah hampir 3 bulan semenjak kepergian Hana,apa sudah berpikir untuk membuka hati untuk perempuan lain,"


"Uhuk...uhuk.." Rama langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Aminah,iapun langsung minum.


Aminah merasa cemas, "Kamu gak papakan?apa ibu mengagetkanmu?"


Rama menggaruk pelipisnya karena bingung harus menjawab apa pertanyaan Aminah.


"Ram,kamu harus segera move on,dan mencari pengganti Hana,jangan terlalu memikirkan masa lalu,kamu butuh seseorang untuk mendampingi kamu,menjaga dan merawat kamu," ucap Aminah berusaha menasehati putranya itu yang sampai saat ini belum bisa move on dari putrinya yang sudah tiada.


Rama menghela nafas, "Maaf Bu,tapi aku belum berpikir kearah sana,banyak kasus akhir-akhir ini,jadi untuk urusan itu,biarlah Allah yang menentukan semuanya," jawab Rama.


Aminah paham betul jika Rama baru saja mengalami banyak hal,tapi justru jika ada pendamping setidaknya ada tempat Rama untuk mencurahkan segala bebannya,tapi sepertinya Rama masih enggan membuka hatinya untuk perempuan lain, cintanya kepada Hana terlalu dalam,akan sangat sulit membuat Rama mencintai gadis lain lagi.


"Zahra perempuan yang baik lho Ram, meskipun belum lama mengenalnya,tapi ibu melihat ketulusan dalam diri Zahra," ucap Aminah membuat Rama langsung mendongak menatapnya.


"Ibu tahu hubungan kamu sama dia tidak baik,tapi yang namanya jodoh siapa yang tahu,dan ibu rasa kalian sangat cocok," Aminah masih berusaha agar Rama sedikit mau menerima kehadiran perempuan lain.


"Bu,itu gak mungkin, bagaimanapun Zahra terlibat dalam kasus Hana,aku tidak ingin menghianati Hana dalam hal ini," jawab Rama yang kembali mengingat kasus Hana yang masih diselimuti banyak misteri.


Aminah menghela nafas, "Apa kamu masih berpikir jika Zahra pelakunya? nak...ibu yakin Zahra tidak bersalah,dan kamu gak perlu takut akan membuat Hana sedih,ibu yakin jika kamu bahagia Hana juga akan bahagia untuk kamu," ucap Aminah.


Rama terdiam, meskipun itu benar,tapi masih banyak keraguan yang ada dihatinya,apalagi tentang Zahra,Rama tidak yakin ia akan bisa menyukai perempuan itu, meskipun memang ada perasaan aneh yang ia rasakan akhir-akhir ini.


"Coba pikirkan baik-baik,asal kamu membuka hati,kamu pasti akan kembali mencintai dan dicintai Ram,jadi jangan menutup diri dan membebani hidup kamu sendiri," imbuh Aminah yang masih melihat keraguan diwajah Rama.


"Iya Bu," jawab Rama pelan.


Bimo sedang berada diruangnya,ajudan masuk dan memberikan rekaman CCTV dikantornya saat penyusup masuk kemarin dan bisa lolos begitu saja.


"Ternyata dia adalah anggota polisi bernama Ramadhan Aditia,pak" ucap Ajudan itu.


Bimo terlihat sangat marah,apalagi saat melihat Zahra yang sudah menyembunyikan Rama agar ia tidak tertangkap.


"Brak..." Satu pukulan mendarat dimeja.


"Cari tahu hubungan mereka,!" Bentak Bimo dengan amarah yang memenuhi wajahnya.


"Baik pak," ajudan itupun segera keluar untuk melaksanakan tugas dari Bimo.


"Rama dan Zahra,kalian sedang bermain-main dengan singa,aku akan menerkam kalian sampai kalian bersujud dan meminta ampun kepadaku," gumam Bimo dengan seringai tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2