
Zahra melangkah terburu-buru berharap masih bisa menyusul Rama,tapi sepertinya Rama benar-benar sudah pergi,ia berhenti dan menghela nafas panjang.
Entah kenapa ia merasa jika Rama sudah salah paham antara hubungannya dengan Arman dan ia ingin menjelaskan semuanya.
Zahra berbalik dan hampir tertabrak pasien yang baru saja masuk bersama beberapa perawat.
"Awas," Rama menarik pinggang Zahra,hingga punggung Zahra menempel padanya.
Zahra terdiam dengan debaran jantungnya yang tidak beraturan,tangan itu begitu kuat melingkar diperutnya hingga membuatnya kesulitan bernafas.
Begitupun Rama yang menghirup aroma rambut Zahra yang tepat berada didepan wajahnya,membuat perasaan aneh itu kembali menghampiri hatinya.
Rama memejamkan mata,godaan setan kenapa begitu mudah menggoyahkan imannya,iapun segera menarik tangannya dari pinggang Zahra, berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terhanyut terlalu jauh.
Zahra menarik nafas,dengan wajahnya yang sudah seperti udang rebus karena malu,iapun berbalik perlahan menatap wajah lelaki yang baru saja menolongnya.
"Kamu gak papa?" Tanya Rama yang bahkan hanya berani menatap wajah Zahra sekilas karena hatinya yang masih merasa tidak karuan.
Zahra menganguk, "Eehm... Terimakasih," ucap Zahra sembari menunduk malu.
"Kenapa disini? harusnya kamu menjaga Armankan?" Tanya Rama yang masih terganggu dengan ucapan Arman yang begitu menguasai Zahra.
"Tunggu,jangan berpikir sembarangan...maksudku..aku dan Arman tidak ada hubungan apapun,kami hanya berteman,dan aku menjaganya karena dia telah menolongku kemarin,hanya itu,tidak lebih," ucap Zahra sedikit terbata,entah kenapa dia harus menjelaskan panjang lebar padahal dia tidak punya hubungan apapun dengan Rama.
Rama tertegun menatap perempuan yang menunduk didepannya itu, "Apa perlunya menjelaskan semuanya padaku? Sedekat itukah hubungan kita?" Sepertinya Rama sengaja menggoda Zahra.
Zahra terdiam,benar juga,kenapa dia begitu bodoh,sekarang pasti Rama benar-benar mengira jika Zahra sangat menyukainya.
"Aku...aku...hanya ingin menjelaskannya saja,jadi tidak akan ada yang salah paham," ucap Zahra mencari alasan agar tidak terlalu merasa malu.
Rama menganguk dan mengulum senyum,sudah jelas tertangkap masih mencari alasan, membuatnya merasa gemas.
"Bukankah harusnya kamu menjelaskan semua ini pada Tiara,aku rasa dia yang sudah salah paham," ucap Rama membuat Zahra yang tadinya menunduk langsung mendongak menatapnya.
"Sangat sulit mendapatkan sahabat yang begitu setia seperti dia,jadi kamu harus menjaganya dengan baik,jangan biarkan masalah apapun berpengaruh pada persahabatan kalian," ucap Rama lalu iapun melangkah pergi meninggalkan Zahra yang masih menerka dan memahami maksud dari ucapan Rama.
"Apa Tiara marah padaku?" Pikir Zahra dengan hati yang mulai cemas memikirkan sahabatnya itu.
Hawa sejuk mulai menusuk ketulang,Tiara masih duduk sendirian didepan masjid usai sholat isya,ia masih bergelut dengan pikirannya yang kalut,rasa sedih dan kecewa membuatnya enggan mengangkat ponselnya yang sedari tadi berbunyi hingga puluhan kali.
Tiara mengusap wajahnya beberapa kali,berusaha menghilangkan beban pikirannya.
"Astaghfirullahaladzim," sebut Tiara sembari memejamkan matanya,ia mulai menyadari jika harusnya ia tidak bersikap seperti ini,Zahra tidak bersalah,Arman juga,ialah yang bersalah karena sudah terlalu berharap pada Arman yang sedari awal sebenarnya tidak pernah menyukainya.
Tapi meskipun menyadari hal itu hatinya tetap terasa sakit,ia tidak ingin nantinya justru membuat Zahra tidak nyaman dengan sikapnya,lebih baik ia menghindar dulu sampai pikirannya benar-benar merasa lebih baik.
Tiarapun melangkah dan mengenakan sandalnya,mungkin kurang fokus hingga ia asal memakai sandal dan mulai melangkah pergi.
Rian keluar dari masjid usai sholat,ia clingak clinguk mencari sandal yang biasa ia gunakan
kemasjid,padahal ia sengaja memilih sandal yang unik agar tidak ada maling yang berminat mencurinya,tapi ternyata sandalnya tetap tidak berada ditempat,hingga ia melihat seorang perempuan yang melangkah menjauh dengan mengenakan sandal unik berbentuk Spongebob miliknya.
"Mbak..." Panggil Rian.
Tidak ada respon,Rianpun berlari mengejarnya dengan bertelanjang kaki.
"Mbak..." Panggil Rian saat tepat berada dibelakang Tiara.
Tiara berhenti dan berbalik menatap pria yang ngos-ngosan sambil menahan geli dikakinya.
__ADS_1
Rianpun terdiam saat menatap wajah cantik Tiara,yang terlihat bersinar ditambah dengan hijab yang dikenakannya membuat perempuan itu terlihat sangat mempesona.
"Subhanallah,"
Tiara mengerutkan dahinya, "Ada apa ya?"
Rian nyengir ,"Akh..itu sandal saya,mbak salah pake atau...."
Tiara menunduk melihat kearah kakinya dan terkejut, "Astaghfirullahaladzim," iapun Terlihat sangat malu hingga tidak berani menatap Rian.
"Maaf mas,saya salah ambil," Tiarapun ingin melepaskan sandal itu.
"Gak perlu,ambil aja dulu sandal kamu,nanti kaki kamu kotor lagi," ucap dengan dengan modusnya.
Tiara menganguk, "Ya sudah kalau begitu,saya ambil sandal saya dulu," Tiara kembali kedepan masjid untuk mengambil sandalnya.
Rian tersenyum, "Sandal ketuker?apa cuma kebetulan,ataukah ini jodoh dari Tuhan?"
Tiara kembali sembari menenteng sandal Rian ditangannya, "Ini mas,sekali lagi saya minta maaf ya," ucap Tiara masih merasa tidak enak karena kaki Rian harus kotor akibat kelalaiannya.
"Tidak masalah," ucap Rian yang lalu mengenakan sandalnya.
"Kalau begitu,saya permisi, Assalamualaikum," ucap Tiara lalu iapun melangkah pergi meninggalkan Rian.
"Waalaikumsalam," jawab Rian dengan wajah sumringah dengan harapan bisa bertemu lagi dengan perempuan itu, yang bahkan belum tahu siapa namanya.
Diruang rawat,Zahra masih terlihat gelisah,ia sudah berkali kali menghubungi Tiara tapi tidak diangkat,apa yang sebenarnya terjadi hingga Tiara begitu marah padanya.
Zahra menghela nafas dengan pikirannya yang kacau.
Arman melihat kearah perempuan yang masih duduk disampingnya itu,melihat kegelisahan dimatanya.
Zahra menatap kearah Arman, "Bisakah kamu dijaga perawat,ada hal penting yang harus aku urus," ucap Zahra berharap kali ini ia bisa pergi dari samping Arman.
Arman terlihat tidak senang, "Pergilah,aku akan baik-baik saja," ucap Arman dengan senyuman palsu diwajahnya.
"Terimakasih,aku janji akan kembali besok pagi," ucap Zahra lalu iapun bergegas pergi dari ruangan Arman.
Arman terdiam,masalah apa yang sedang dihadapi Zahra,ia ingin sekali membantu Zahra menyelesaikan semuanya tapi keadaannya saat ini tidak memungkinkan.
Zahra bergegas masuk kedalam Apartment,dengan wajah cemas.
"Tiara..." Panggil Zahra,tapi tidak ada jawaban atau tanda-tanda jika Tiara sudah pulang,kamar Tiara juga masih kosong,berarti ia belum pulang semenjak dari rumah sakit tadi.
Zahra semakin panik dan khawatir, "Kamu kemana sih?" Ia kembali mencoba menghubungi sahabatnya itu tapi tetap tidak diangkat.
Hingga didetik berikutnya Tiara mengirim pesan,Zahra begitu semangat membukanya.
"Hari ini aku menginap diyayasan,jangan khawatir dan cepat istirahat,"
Zahra merasa lega setidaknya Tiara dalam keadaan baik,tapi tetap ada yang mengganjal dihatinya,apa yang membuat Tiara enggan pulang dan bertemu dengannya,pasti terjadi sesuatu dan Zahra tidak ingin masalah seperti ini berlarut-larut antara dirinya dan Tiara,iapun kembali mengambil tasnya dan bergegas keluar rumah.
Dikantor,Rama harus bekerja lembur karena ada kasus yang harus ia selesaikan, sementara Rian hanya iseng menemaninya lebih tepatnya mengganggunya.
"Benar-benar cantik,harusnya aku tanya siapa namanya,atau nomor teleponnya,hah... benar-benar bodoh,aku terlalu terpukau dengan kecantikannya," Rian berceloteh sendiri padahal Rama sedang fokus pada pekerjaannya.
Meskipun begitu Rama juga masih mendengarkan Rian,dan sesekali menggelengkan kepala melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Rama membereskan berkas dimejanya lalu menaruhnya kedalam laci,iapun beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Ram...kamu dengerin aku ngomong gak sih dari tadi?" Tanya Rian yang kesal kepada Rama karena tidak merespon ceritanya.
"Kalau jodoh,pasti kalian akan bertemu lagi,jangan terlalu dipikirkan," ucap Rama membuat Rian tersenyum ternyata Rama menyimak semua curhatannya.
"Aku harus pulang," ucap Rama lalu iapun melangkah pergi.
"Ikut..." Teriak Rian yang bergegas mengikutinya.
Zahra masuk keyayasan setelah mendapatkan izin dari penjaga,iapun menunggu didepan pintu tempat Tiara beristirahat.
"Ceklek..." Pintu terbuka.
Tiara terkejut saat melihat orang yang berdiri dibalik pintu, "Zahra..."
Zahra langsung memeluk erat sahabatnya itu, membuat Tiara sedikit bingung,apa terjadi sesuatu yang buruk hingga Zahra datang menyusulnya malam-malam begini.
Tiara membawakan secangkir cokelat hangat untuk Zahra yang sedang duduk diteras sembari memandangi langit yang dihiasai ribuan bintang.
"Makasih," Zahra menyeruput pelan minuman favoritnya itu yang membuat hatinya merasa lebih baik.
"Harusnya kamu gak perlu kesini,ini udah malam," ucap Tiara yang duduk disamping Zahra.
Zahra menaruh cangkir yang ia pegang kelantai lalu menatap kearah Tiara dengan penuh pertanyaan dimatanya.
"Ada apa?apa kamu marah padaku?apa aku sudah melakukan kesalahan yang tidak aku sadari,bicaralah tapi jangan menghindar seperti ini," ucap Zahra.
Tiara terdiam,ia benar-benar sudah membuat Zahra cemas, "Aku baik-baik saja, kenapa kamu berpikir seperti itu?"
Zahra memegang tangan Tiara seakan tidak mempercayai ucapannya, "Kita sudah berteman dari kecil,apa kamu pikir bisa menipuku semudah itu,katakan yang sebenarnya,aku janji tidak akan tersinggung,"
Tiara tetap diam,ia tidak ingin Zahra mengetahui kalau sebenarnya ia cemburu padanya dan juga Arman.
"Apa soal Arman?" Ucap Zahra yang seakan bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Tiara.
Tiara menatap Zahra lalu memalingkan wajahnya setelah itu.
"Kamu cemburu?apa kamu pikir aku ada hubungan dengannya,Tiara...."
"Aku minta maaf,aku tahu aku salah," ucap Tiara yang memotong ucapan Zahra karena tahu dirinyalah yang terlalu baper.
Zahra terdiam dan kembali memeluk Tiara,ia tidak menyangka secara tidak sadar sudah mengukir luka dihati Tiara,harusnya ia bisa lebih menjaga jarak dengan Arman dan tidak membuat Tiara salah paham.
"Maafin aku," ucap Zahra lalu melepaskan pelukannya.
"Zahra," Tiara terlihat sangat menyesal sudah membuat Zahra berpikir seperti itu.
"Aku yang terlalu naif hingga tidak menyadari semuanya,tapi aku berkata jujur,aku sama sekali tidak ada perasaan apapun untuknya,aku bersikap seperti itu karena dia yang sudah menyelamatkan aku,hanya itu,kamu harus percaya," Zahra berusaha meyakinkan Tiara.
"Aku tahu dan aku percaya padamu,hanya saja mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan,maafkan aku sudah membuatmu berpikir seperti itu," ucap Tiara dengan penyesalan diwajahnya.
Zahra tersenyum dan mereka kembali saling memeluk dengan hangat, kesalah pahaman antara sahabat memang sering kali terjadi,tapi harusnya bisa diselesaikan dengan cara seperti ini,agar masalah yang terjadi tidak semakin rumit.
"Harusnya aku tidak pernah cemburu kepadamu,bukankah aku dan Arman juga tidak menjalin hubungan apapun," ucap Tiara.
Zahra terdiam,ia tahu jika Tiara tidak mungkin bersikap seperti itu tanpa sebuah alasan,ia menatap wajah sahabatnya itu yang masih terlihat gelisah.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan Arman kepadamu atau juga kepadaku, yang pasti aku tidak ada perasaan apapun kepadanya,dan aku tidak ingin ia membuat masalah diantara kita,Tiara...selain nenek kamu adalah orang yang paling mendukungku dalam keadaan apapun,jadi tolong,jangan pernah pergi meninggalkanku apapun yang terjadi," ucap Zahra dengan penuh harapan dimatanya.
Tiara terharu sembari mengangukkan kepalanya, "Aku akan selalu menjadi orang yang mendukungmu dan berada di sisimu," jawab Tiara mengukir senyum diwajah Zahra.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Zahra yang merasa bahagia, akhirnya masalahnya dengan Tiara sudah jelas,ia merasa sangat lega.