Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Keyakinan Rama


__ADS_3

"Saya tidak punya banyak waktu," ucap Rama yang membuyarkan lamunan Zahra.


Zahrapun segera kembali duduk,dan menatap wajah pria yang sedari tadi sangat mengintimidasinya.


"Saya mengaku bahwa bukan saya pelaku kecelakaan yang menewaskan Hana,saya sama sekali tidak tahu apa-apa," ucap Zahra yang jelas membuat Rama marah dan tidak menyangka bahwa pengakuan itulah yang Zahra maksud.


"Hanya itu," Zahra berdiri dan ingin melangkah tapi Rama segera beranjak dan menahan Zahra.


"Apa kamu sedang bercanda?"


"Tidak,memang itu yang ingin saya katakan,supaya kamu merasa puas dan berhenti mengintimidasi saya," ucap Zahra dengan tatapannya yang tajam.


Rama yang marah mendorong tubuh Zahra hingga menempel kedinding dan mengunci salah satu tangan Zahra disana membuat Zahra sedikit terkejut.


"Apa kamu sedang mempermainkan saya?" Bentak Rama.


Zahra menatap Rama "Sudah saya bilang,bukan saya pelakunya,jadi pengakuan apa lagi yang kamu harapkan dari saya?,"


"Blakkk" satu tinju Rama mengarah Kedinding disamping Zahra,membuat Zahra memejamkan matanya karena kaget.


"Saya akan cari sendiri buktinya,dan membuat kamu mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu," ucap Rama dengan rahangnya yang mengeras.


"Kalau begitu,cari sampai ketemu," Zahra dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Rama dan melangkah pergi dari ruangan itu.


"Hah..." Teriak Rama dengan emosional sambil menendang kursi yang ada disana hingga berantakan.


Rian melihat Zahra yang berjalan keluar dengan wajah tegang meninggalkan kantor polisi,Rian segera keruang interogasi untuk melihat Rama.


Rian tertegun melihat kursi yang berantakan serta Rama yang duduk dilantai sembari menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantara kakinya.


"Ram,kamu gak papakan?" Tanya Rian dengan wajah sedikit cemas apalagi saat melihat tangan Rama yang memar.


Rama mengangkat kepalanya dan membangunkan tubuhnya, "Aku pulang dulu," ucap Rama dengan lesu dan tatapan sayu.


Rian merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Zahra dan Rama.


Zahra berjalan ditepi jalan sambil menangis,ia pun menghentikan langkahnya karena tidak sanggup lagi berjalan.ia menjatuhkan tubuhnya kebawah dan menangis sejadi-jadinya karena begitu banyak tekanan yang ia rasakan.


"Kenapa ya Allah,kenapa hamba harus menghadapi ujian seperti ini,"


Zahra tahu dan mengerti jika Ia harus kuat dan bangkit demi neneknya.iapun kembali berdiri dan menghapus air matanya,tapi saat akan menyeberang Zahra tidak melihat jalanan yang sedang ramai.


"Tit....." Sebuah mobil melintas dan untungnya ada seseorang yang menarik tubuh Zahra hingga terjatuh ketepi jalan tepat diatas tubuh seorang pria.


"Akh..." Pekik pria itu karena tangannya terbentur aspal.


Zahra terlihat masih syok dengan nafas terengah,iapun segera membangunkan tubuhnya.


"Kamu gak papakan?" Tanya Zahra pada pria yang telah menyelamatkannya tadi.


"Gak kok,cuma luka kecil," jawab pria itu dengan sedikit goresan disikutnya.


"Lain kali kalo lagi mau nyeberang lihat-lihat dulu,untung ada aku,kalau gak pasti bahaya," ucap Arman pria yang tampan dengan lesung pipinya yang manis.


Zahra terdiam,ia mulai teringat bagaimana saat Hana tertabrak mobilnya,pasti rasanya begitu sakit,membuat hati Zahra kembali teriris.


Arman melihat Zahra yang justru melamun,iapun menjentikkan jari didepan wajah Zahra,membuat Zahra tersadar dari lamunannya.


"Maaf," Zahra terlihat sedikit gugup, "Maksudnya terima kasih,"


Arman tersenyum dan mengulurkan tangannya, "Arman,"


Zahra menyambut uluran tangan itu dengan senang hati, "Zahra,"


"Azahra nadiakan?" Tanya Arman memastikan.

__ADS_1


Zahra membulatkan mata,ternyata pria itu mengenalnya,iapun menganguk, "Ya,"


"Adikku sangat suka mengoleksi majalah yang dipenuhi dengan foto kamu," ucap Arman mengukir senyum diwajah Zahra.


"Benarkah?"


Arman menganguk, "Ehm,dia akan senang bila bisa bertemu langsung dengan idolanya,"


Zahra tersenyum, "Kalo begitu simpan nomorku,jika ada waktu aku akan menemuinya," Zahra memberikan kartu namanya pada Arman.


Arman tersenyum bahagia, "Terimakasih,"


Zahra menganguk,iapun menghentikan taxi yang melintas.


"Aku duluan ya," ucap Zahra yang lalu naik kedalam taxi.


Arman tersenyum melihat kepergian Zahra,iapun memandangi kartu nama ditangannya, "Cantik," gumam Arman.


Rama sampai dirumah,ia melemparkan jaket kebesarannya kesembarang tempat lalu,membanting tubuhnya kesofa untuk beristirahat.


Sejak kemarin dia pontang panting kesana kemari sampai tidak tidur bahkan ia hanya makan sekali dalam seharian ini.


Rama memejamkan matanya yang terasa perih.


"Ram,kamu lapar ya,aku masakin mie instan mau?" suara Hana yang menggema ditelinga Rama.


Rama langsung membuka matanya dengan gelagapan dan melihat kearah dapur,yang bersebelahan langsung dengan tempatnya berada.tapi tidak ada siapapun,itu hanya khayalan yang mengganggu pikirannya.


Iapun menunduk sembari memegangi kepalanya.


"Mau kopi?"


Suara itu kembali muncul,Rama menatap kedepan dan bayangan Hana muncul dihadapannya dengan senyum dan kopi ditangannya.


Ramapun menangis,ia merasa dirinya benar-benar sudah gila karena kehilangan Hana.


Iapun beranjak dari duduknya untuk mandi dan membersihkan diri.


Setelah bersih dan suci,Rama menunaikan kewajibannya untuk menghadap sang Pencipta,seusai sholat iapun berdo'a untuk ketenangan Hana dan ketenangan hatinya.


Ramapun mengaji agar pikirannya menjadi tenang dan segala amarah yang ia rasakan bisa menghilang.


Ditempat yang berbeda,Zahra sedang bersujud memohon ampun kepada sang Pencipta atas segala kesalahan yang sudah ia berbuat,air matanya berderai saat mengingat semua kejadian yang membuatnya menghilangkan nyawa perempuan sebaik Hana.


"Ya Allah,seandainya waktu bisa diputar,kenapa tidak engkau ambil saja nyawa hamba ya Allah,hamba akan lebih tenang jika hamba mati,daripada hamba harus hidup dengan perasaan bersalah seperti ini," ucap Zahra dalam do'a yang ia panjatkan.


"Berilah tempat terbaik untuk Hana ya Allah,dan berikan hamba kekuatan yang lebih besar lagi untuk bisa bertahan,Amin," Zahra menyudahi do'anya lalu memejamkan mata untuk berdzikir agar pikirannya menjadi lebih tenang.


Fajar menyapa,mentaripun menampakkan sinarnya yang terang.


Rama sudah bersiap,kali ini dia berniat pergi keapartement Zahra untuk mencari bukti disana.


Sesampainya disana,Rama menemui satpam yang berjaga dan mengumpulkan informasi sekecil apapun.


"Jadi,Zahra pulang bersama managernya tapi dalam keadaan pinsan?" Tanya Rama memastikan.


"Iya pak,bahkan saya yang membantu mengangkat mbak Zahra sampai kekamarnya," jawab satpam itu.


"Apa bapak tahu mereka darimana?" Tanya Rama lagi.


"Kalo itu,saya gak tahu," jawab Satpam itu lagi.


Rama terdiam,tapi ia tidak menyia-nyiakan informasi yang ia dapat meskipun tidak seberapa,ia kembali kemobilnya dan menuju ketempat tujuan yang lain.


Zahra sudah menjalani pemotretan hari ini bersama dengan Farel,Zahra sudah terlihat lebih baik,ia sudah bisa mengubur dalam-dalam kesedihanya dan sangat profesional dalam bekerja hingga mendapatkan jempol dari Farel.

__ADS_1


Seperti biasa,Rena tidak pernah mengalihkan pandangannya dari mereka,ia selalu dihantui rasa curiga jika suaminya sedang bersama Zahra,tapi hal itu sudah biasa bagi Zahra,ia sudah hafal jika istri rekan kerjanya dan juga anak dari bosnya itu sangat pencemburu berat.


"Sip..." Ucap Farel ketika pemotretan selesai.


Zahra merasa lega dan segera menuju ruang ganti untuk beristirahat.


Rama sampai ditempat dimana acara yang dihadiri Ana dan Zahra menurut keterangan Ana,iapun menemui petugas disana dan menunjukkan tanda pengenal agar bisa melakukan penyidikan.


Akhirnya petugas mengizinkannya,iapun masuk dan memerikasa CCTV ditempat parkir yang menjadi dugaan tepat dimana pasti ada bukti disana.


Rama menyunggingkan bibirnya saat melihat Ana pergi bersama sopir itu tanpa Zahra dengan mobil lain dan bukan mobil yang digunakan pada saat kecelakaan.


"Mau lari kemana lagi kamu Zahra?" Gumam Rama lalu menyimpan rekaman itu diponselnya.


Zahra usai menjalani pekerjaannya dan dia bersiap untuk pulang dengan mobil baru yang sudah disiapkan oleh Ana.


"Ehem..." Suara yang begitu keras.


Zahra yang akan masuk mobil itupun berhenti dan menengok kearah suara yang mengganggu telinganya,nampak seorang pria yang tidak asing sedang menatapnya sembari menyandarkan tubuhnya kemobil.


"Kamu,"


Rama berjalan perlahan mendekati Zahra.


"Ngapain kamu kesini,apa belum cukup pengakuan saya semalam?" Tanya Zahra dengan wajahnya yang mulai tegang.


"Pengakuan apa yang kamu maksud,pembohong," ucap Rama sembari menatap tajam Zahra.


Zahra tidak ingin meladeni Rama dan ingin masuk kemobil tapi Rama dengn cepat menutup pintu mobil Zahra.


"Bersiap-siaplah,karena pembohong dan pembunuh seperti kamu tidak pantas hidup bebas,kamu harus mempertanggung jawabkan semua kesalahan kamu," ucap Rama lalu melangkah pergi setelah berhasil mengintimidasi Zahra.


Zahrapun terlihat cemas dan langsung masuk kedalam mobil,nafasnya memburu entah sampai kapan ia harus dihantui perasaan bersalah ini.


Dalam perjalanan Rama menelfon Rian yang sedang dikantor.


"Siapkan surat penangkapan untuk Zahra,aku sudah punya buktinya," ucap Rama lalu segera menutup telefon dan menuju kekantor polisi.


Rianpun menuruti perintah Rama dan melaporkannya pada Tio.


Tio terperanjat, "Dia sudah dapat bukti?"


"Benar pak,dia meminta agar segera membuat surat penangkapan pada Zahra," ucap Rian.


Berita itu membuat Tio terlihat gelagapan dan panik.


"Kamu keluar dulu," ucap Tio pada Rian.


Rian menaruh curiga pada sikap Tio,tapi iapun tidak bisa melawan perintah atasannya itu dan segera keluar.


Tio segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Pak,gawat...."


Rama masih dalam perjalanan,tiba-tiba ada mobil yang menghadang didepannya sehingga ia terpaksa menghentikan mobilnya.


4 orang turun dari mobil itu dengan alat pukul ditangan mereka.


Rama berdecik kesal,saat akan menelfon untuk meminta bantuan,tiba-tiba orang-orang itu langsung memecahkan jendela mobil Rama.


Membuat Rama menunduk agar tidak terkena pecahan kaca.


Penjahat itupun membuka pintu dan menyeret Rama keluar dari mobil.


"Siapa kalian,siapa yang nyuruh kalian?" Bentak Rama yang hanya dijawab senyuman oleh mereka.

__ADS_1


Merekapun menyerang Rama yang hanya sendirian,awalnya Rama bisa melawan,tapi pertarungan ini sungguh tidak adil.


__ADS_2