
Zahra terduduk lesu dengan wajah kecewa juga sedih,benarkah Rama meninggalkannya, bukankah itu wajar,Rama sangat membencinya,tapi kenapa rasanya tetap tidak rela.
"Minum ini,kita harus segera pergi dari tempat ini,"
Suara itu,Zahra menengadah menatap pria yang memberikan botol air padanya,iapun langsung berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari pria itu.
"Kenapa?" Tanya Rama melihat ekspresi wajah Zahra yang aneh.
Zahra menggelengkan kepalanya dan segera mengambil air minum itu.
"Aku pikir kamu sudah pergi," ucap Zahra dengan suaranya yang terdengar serak.
"Itu keinginanku,tapi aku bukan orang yang tega membiarkan seorang perempuan sendirian ditempat seperti ini, meskipun aku sangat membencinya," jawab Rama.
Zahra hanya menunduk, "Terimakasih," ucap Zahra dengan mata sedikit berkaca.
"Akui kesalahanmu,maka tidak perlu mengucapkan terima kasih padaku," Rama mencoba bernegosiasi dengan cara lembut.
Zahra terdiam menatap kearah Rama, "Kalau begitu, tinggalkan saja aku disini,"
Rama mendengus kesal, "Benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama," gumam Rama.
Zahra hanya diam.
"Baiklah,lakukan apapun yang kamu mau,jangan berteriak meminta tolong," ucap Rama dengan kesal lalu melangkah meninggalkan Zahra sendirian.
Zahra masih diam,bisakah ia mencari jalan pulang sendiri tanpa Rama,ia melihat kesana kemari,hutan yang begitu lebat,dia bisa mati konyol jika terus berada disini,tidak bisa,ia harus menemukan neneknya,jadi tidak boleh mati sekarang,Zahra menatap kearah punggung Rama yang semakin menjauh.
Rama melanjutkan langkahnya dengan bibir yang tersenyum tipis,sepertinya ia sudah tahu arah pikiran Zahra.
"1...2...3..."
Zahra berlari menghampiri Rama dengan nafas memburu.
Rama menyunggingkan bibirnya lalu menghentikan langkah menatap kearah perempuan yang terlihat ketakutan itu.
"Aish,ini belum ada 2 menit,dan kamu sudah berubah pikiran,luar biasa," ucap Rama menyindir Zahra.
Zahra terlihat malu karena perkataannya tadi yang begitu sombong, "Lakukan apapun padaku,tapi jangan tinggalkan aku disini sendirian," ucap Zahra menekan rasa malunya.
Rama menganguk, "Apa kamu udah siap masuk penjara?"
Zahra menatap Rama, "Jika kamu memang punya bukti aku bersalah,maka aku akan siap," jawab Zahra membuat Rama terdiam.
Keduanya saling menatap dengan debaran yang terasa aneh.
"Aku akan terus mencari bukti itu," ucap Rama dengan tegas.
"Aku akan menunggu sampai kamu menemukan nya,"
Sontak jawaban itu membuat Rama membulatkan matanya,apa sebenarnya yang perempuan ini inginkan,dia akan menunggu untuk masuk kepenjara,atau memang ia tidak bersalah,kenapa tiba-tiba Rama menjadi ragu dengan keyakinannya.
__ADS_1
"Kita bisa pergi sekarang?" ucap Zahra membuyarkan lamunan Rama.
Ramapun melanjutkan langkahnya dengan kepala yang masih dipenuhi tanda tanya, sementara Zahra terus mengikutinya.
Bimo menggebrak meja.
"Bodoh" bentak Bimo.
"Kalian cari Zahra sampai ketemu,atau kalian akan tahu akibatnya,"
"Tapi pak,motornya ada ditepi jurang, kemungkinan besar Zahra dan polisi itu jatuh kejurang dan tewas," jawab seorang ajudan.
"Kalau begitu bawa mayat mereka kehadapanku,cepat cari lagi!" bentak Bimo yang terlihat begitu marah.
Ajudan itupun segera keluar untuk kembali mencari Zahra.
"Azahra,kamu benar-benar mencari masalah dan membuatku marah,aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini dan polisi itu,kenapa dia selalu ikut campur dengan urusan ku, aku harus segera menyingkirkannya," gumam Bimo dengan tatapan menyeramkan.
Rama dan Zahra sampai ditepi sungai,perkampungan ada diseberang sungai dengan arus yang cukup deras itu,dan mereka harus menyeberang.
Zahra menelan saliva melihat derasnya air membuat tubuhnya gemetar.
"Apa tidak ada jalan lain?" Tanya Zahra.
"Ada,tapi harus berputar sekitar 8 km,kamu mau?" Ucap Rama yang sebenarnya hanya menggoda Zahra,iapun tidak tahu ada jalan lain atau tidak.
Zahra terdiam,tidak mungkin ia kuat jika harus berjalan sejauh itu,kakinya bahkan sudah terasa sangat lemah,tapi kalau harus menyeberangi sungai dengan arus sederas ini apa dia bisa?
Zahra memicingkan matanya menatap pria yang ternyata juga bisa bercanda seperti itu,selama ini dia selalu berpikir jika Rama adalah sebuah batu yang tidak mungkin bisa mengucapkan hal-hal konyol seperti yang ia ucapkan barusan.
Rama mulai melangkahkan kakinya keair dengan hati-hati,Zahra mengikutinya dan dengan cepat meraih lengan Rama yang tidak terluka.
Rama menatapnya,Zahra hanya diam dan menunduk.
Ramapun membiarkan Zahra berpegangan pada lengannya, "Hati-hati licin," ucap Rama lalu melanjutkan langkahnya perlahan.
Entah kenapa bibir Zahra langsung tersenyum mendengar ucapan Rama itu,hatinya merasa sangat sejuk.
Mereka menyeberang dengan sangat pelan dan berhati-hati karena selain arusnya deras banyak batuan licin yang bisa membuat mereka terpeleset.
"Akh," Zahra sungguh terpeleset,Rama reflek dan langsung meraih pinggang Zahra dengan tangannya yang terluka.
Dug..Dug..Dug..
Suara jantung mereka terdengar menggema ditelinga keduanya,mata yang terus menatap satu sama lain membuat keduanya lupa kalau mereka masih berada ditengah sungai.
Rama segera Sadar dengan cepat menarik tangannya dari pinggang Zahra,sementara Zahra masih berpegang kuat pada lengan Rama yang satunya.
"Sudah aku katakan hati-hati," ucap Rama yang terlihat sedikit gugup.
Zahra hanya menganguk,keduanya terlihat salah tingkah,dan kembali melanjutkan penyeberangan dengan lebih hati-hati lagi.
__ADS_1
Fatir menelusuri jejak Rama karena sampai siang ia belum juga sampai dipos,iapun menemukan motor Rama yang tergeletak dipinggir jurang.
Fatir melihat kearah jurang yang cukup dalam itu,tidak ada tanda-tanda jika Rama atau perempuan yang bersamanya itu jatuh,Fatir yakin Rama sedang mencari jalan keluar dari hutan ini,tapi hutan ini begitu asing baginya,jadi Fatirpun berinisiatif untuk mencarinya.
Rama dan Zahra akhirnya sampai diseberang sungai.
Zahrapun segera melepaskan tangannya dari lengan kekar yang menjadi pegangannya saat menyeberang.
Rama terlihat meringis menahan sakit,benar saja lukanya kembali berdarah mungkin karena menangkap Zahra saat akan terjatuh tadi.
Zahra terlihat cemas, "Apa kamu baik-baik aja?"
Rama berusaha menyembunyikan rasa sakitnya itu dan hanya menganguk.
"Kalau memang sakit kenapa harus ditahan, wajarkan kalau manusia merasakan sakit?" Ucap Zahra.
Rama menatap Zahra dengan kesal, "Aku bisa menahan rasa sakit yang lebih parah dari ini,rasa sakit yang tidak akan pernah bisa sembuh,jadi luka ini benar-benar tidak berarti bagiku," ucap Rama membuat Zahra menatapnya.
Zahra tahu betul rasa sakit yang dibicarakan oleh Rama, "Kenapa kamu selalu mengungkit hal itu kepadaku," tanya Zahra.
"Karena memang kamulah tokoh utamanya, Azahra,apa kamu sudah lupa?" Rama terlihat mulai mengintimidasi Zahra.
"Bukankah sudah kukatakan jika kamu mendapatkan buktinya,aku akan dengan senang hati masuk kepenjara,apa itu belum cukup membuat mu puas,kenapa kamu masih terus mengintimidasi ku?" Protes Zahra tidak menerima perlakuan Rama yang kembali kasar padanya.
Rama menyunggingkan bibirnya, "Karena kamu akan selalu membuat bukti itu menjauh dariku,itukan yang kamu lakukan selama ini,dan sekarang kamu bilang aku harus mencari bukti itu,sungguh tidak dapat dipercaya,kamu sedang mempermainkan akukan?"
Zahra sudah mulai tidak tahan dengan tuduhan Rama yang selalu memojokkan nya, "Apa kamu pikir aku bahagia dengan semua ini,apa kamu pikir aku tidak merasa bersalah,aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak sejak kecelakaan itu,apa kamu tahu jika rasanya begitu menyiksa?" Ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca.
Rama terdiam.
"Seandainya waktu bisa diulang dan aku bisa memilih,aku akan memilih agar Allah mencabut nyawa ku saat kecelakaan itu,daripada aku harus hidup tersiksa seprti ini," Zahra mulai menangis.
Rama memalingkan wajahnya,bukan apa-apa,melihat perempuan menangis didepannya itu akan membuatnya tidak tega.
"Aku sungguh tidak ingin hidup seperti ini,tapi cobalah mengerti kondisi ku,aku juga tidak ingin semua ini terjadi,"
"Tapi semuanya sudah terjadi Zahra,dan Hana,Hana harus menanggung akibat dari kecerobohanmu dengan nyawanya," bentak Rama yang mulai tidak tahan mendengar pembelaan Zahra.
Zahra terdiam dengan air mata yang masih berderai.
"Dia meninggal karena perbuatanmu,kesalahanmu dalam mengemudi sudah membunuh nya,apa kamu masih mau membela diri?" tanya Rama.
Zahra menghapus air matanya, "Iya,itu semua memang salahku,aku yang bersalah dan aku akan menerima semua hukuman dari Allah untukku,"
Rama menyunggingkan bibirnya, "Bukan hanya hukuman dari Allah yang akan kamu terima,tapi dariku juga,aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum membuatmu membayar semua kesalahan yang telah kamu perbuat,"
"Lalu kenapa kamu membiarkan aku hidup semalam, harusnya kamu membiarkan aku jatuh kejurang dan aku akan mati,itukan yang kamu inginkan?" tanya Zahra dengan tatapan penuh air mata.
"Aku bukan orang seperti mu yang membiarkan seseorang mati didepan mereka tanpa melakukan apapun seperti yang kamu lakukan pada Hana,aku akan memberi hukuman yang lebih menyakitkan dari pada sebuah kematian,kamu tunggu saja," Ancam Rama yang selalu terpancing emosi jika sudah menyangkut tentang Hana,iapun melanjutkan langkahnya tanpa peduli lagi pada perempuan itu yang sudah memancing kembali amarahnya.
Zahra merasakan sesak didadanya,kenapa begitu terasa sakit,inikah yang disebut lebih menyakitkan dari pada kematian,inikah hukuman yang dimaksud oleh Rama.
__ADS_1
Zahra kembali menangis bahkan ia enggan melangkah mengikuti pria yang semakin menjauh itu.