Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Ingin Menjadi Dirinya


__ADS_3

**


Pagi itu,Fika pergi berbelanja sayuran,ia sengaja tidak mengajak Mita karena putri kecilnya masih tertidur,lagipula Saka masih belum pergi kekantor,jadi ia meluangkan waktu untuk pergi ke supermarket sebentar.


Setelah membeli beberapa buah dan sayur,Fika mendorong trolinya menuju kasir,ia melihat seorang perempuan yang menjatuhkan dompetnya usai membayar, perempuan itu tidak menyadarinya dan langsung berjalan keluar dengan barang belanjaannya.


Fika memungut dompet itu lalu Mengejar perempuan itu, "Mbak.." panggilnya dengan langkah cepat.


Perempuan itu berhenti mendengar panggilan Fika,ia berbalik menghadap Fika.


"Dompetnya jatuh," Fika memberikan dompet itu padanya.


Tiara yang terkejut melihat Fika langsung menjatuhkan semua barang ditangannya yang terasa lemas,ia memandang dengan mata berkaca-kaca kearah perempuan yang masih memegang dompetnya itu.


Fika yang melihat ekspresi Tiara merasa ada yang salah dengan dirinya,iapun sedikit merasa kikuk.


"Mbak..." Panggil Fika pelan.


Tiara langsung memeluk Fika dengan begitu erat disertai tangis yang pecah, "Zahra...Zahra...aku yakin...aku yakin kalau kamu masih hidup," ucap Tiara dengan histeris membuat Fika kebingungan.


Tiara terlihat begitu bahagia, akhirnya ia bisa melihat sahabatnya lagi,ia benar-benar merindukan Zahra, meskipun sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra,namun tidak sekalipun Tiara pernah melupakan sahabatnya itu.


Fika terdiam, meskipun bingung namun ia tidak menolak pelukan yang membuat hatinya merasa begitu hangat, meskipun Tiara adalah orang asing baginya.


Tiara melepaskan pelukannya setelah beberapa saat lalu mengusap pipinya yang basah, "Kamu sudah bertemu Rama,dia pasti sangat senang melihatmu masih hidup," ucap Tiara dengan begitu ekpresif.


Mendengar nama Rama membuat Fika langsung mengerutkan keningnya,apa hubungan perempuan ini dengan Rama.


Mereka duduk disebuah kedai kopi untuk berbicara lebih akrab,Tiara mengembalikan kartu identitas Fika dengan wajah kecewa,ia sudah salah paham, ternyata bukan Zahra.


"Maafkan aku,"


Fika tersenyum, "Tidak masalah, lagipula banyak orang yang mirip didunia ini bukan," jawab Fika yang merasa jika tindakan Tiara tidaklah salah.


Tiara terdiam,ia menatap wajah Fika dan masih merasa yakin jika perempuan didepannya itu adalah Zahra, "Tapi apa ada yang semirip ini?"


Fika terdiam dan berpikir apakah dia benar-benar mirip dengan perempuan yang bernama Zahra, "Bolehkan aku melihat fotonya,"


Tiara menganguk,ia mengambil foto Zahra yang tersimpan rapi didompetnya,lalu memberikannya pada Fika.


Fika terdiam memandangi foto itu,ia membelai wajahnya sendiri, ternyata memang begitu mirip,ia mulai merasa penasaran siapa Zahra sebenarnya,apa ini ada hubungannya dengan masa lalu yang tidak ia ingat.Fika mengembalikan foto itu pada Tiara dan berusaha bersikap normal meskipun hatinya merasa aneh.


"Dia lebih cantik dariku," ucap Fika.


Tiara tersenyum lalu kembali menyimpan foto itu.


"Aku mendengar kamu menyebut nama Rama?apa Rama anggota polisi?" Tanya Fika yang merasa sangat penasaran sedari tadi.


Tiara menganguk disertai heran,Apa Fika sudah bertemu dengan Rama.


"Apa hubungan Rama dengan perempuan bernama Zahra itu?bolehkah aku tahu?" Sebenarnya Fika sangat malu harus menanyakan hal ini,namun ia juga tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Tiara menunduk, "Rama adalah suami Zahra,"


Deg....


Mendengar jawaban itu Fika langsung diam,ia mulai mengingat pertama kali bertemu Rama saat dilampu merah,lalu diRestoran, ekspresi Rama yang begitu terkejut,dan sikapnya kemarin yang begitu aneh.


"Mungkinkah ia mengira aku adalah Zahra?" Pikirnya bingung.


"Apa kamu mengenalnya?" Tanya Tiara.


Fika menganguk, "Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali," jawab Fika.


Tiara mengerutkan dahinya,kalau mereka pernah bertemu kenapa Rama tidak pernah menceritakan semuanya,lalu apa Rama ajuga berpikiran sama dengannya dan mengira perempuan ini adalah Zahra,Tiara harus membicarakan ini dengan Rama.

__ADS_1


Sementara Fika juga masih dihantui rasa penasaran tentang perempuan bernama Zahra itu.


**


"Jadi kalian sudah bertemu dengannya dan tidak memberitahu aku?" Bentak Tiara saat mendengarkan penjelasan Rian dan juga Rama tentang Fika.


Rama hanya diam menunduk sembari memijat pelipisnya saat Tiara menatap tajam kearahnya.


"Sayang...kami hanya tidak ingin kamu merasa khawatir," Rian berusaha menenangkan istrinya itu,namun tidak berhasil,Tiara masih terlihat kesal.


"Kamu berbohong,aku tidak akan mengizinkanmu masuk kamar malam ini," ancam Tiara yang membuat Rian kelabakan.


"Kenapa kamu begitu kejam, suamimu ini sedang berusaha keras mencari bukti bahwa perempuan itu memang Zahra,"


Tiara menatap suaminya dengan penuh pertanyaan, "Apa maksudmu,dia Zahra?"


Rian melihat kearah Rama,tidak ingin menjawab tanpa persetujuan darinya,Tiarapun ikut menatap kearah Rama, "Benarkah dia Zahra?"


Rama menghela nafas, "Aku akan cari buktinya,berdo'a saja," jawab Rama yang mengukir kebahagiaan diwajah Tiara, ternyata fellingnya benar,ia tidak mungkin salah mengenali sahabatnya.


Rian merasa senang, akhirnya kemarahan Tiara berakhir, "Kamu senang sekarang,jadi jangan menghukumku seperti itu," goda Rian.


Tiara hanya nyengir menanggapi suaminya itu.


**


Fika sedang membuat makanan didapur,namun ia tidak fokus, pikirannya masih melayang-layang,ia terus mengingat nama Zahra diotaknya serta Rama juga tidak mau pergi dari pikirannya.


"Ma...Mita lapar," keluh Mita karena sedari tadi makanannya belum matang.


Fika menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya dari pikiran-pikiran yang menggangu, "Iya,sayang... sebentar ya," ia kembali fokus memasak.


Usai menyuapi Mita,Fika membiarkan Mita bermain sendiri diruang tengah, sementara ia diam-diam masuk kekamar Saka,entah kenapa tiba-tiba ia ingin mencari tahu tentang sesuatu, kebetulan Saka sedang pergi kekantor ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


Ia membuka laci lemari dan mencari diantara baju-baju Saka yang tergantung rapi,lalu beralih kelaci disebelah ranjang,ia membuka dan memeriksa semuanya,namun tidak ada hal yang mencurigakan.


Saka harus kembali karena masih ada berkas yang tertinggal,ia melihat Mita yang bermain sendirian dan menghampirinya, "Dimana mama?" Tanyanya sembari mengusap lembut kepala putrinya.


Mita menggelengkan kepalanya karena masih sibuk bermain,Saka berpikir,ia menoleh kesana kemari dan mendapati kamarnya dengan pintu terbuka,iapun menatap tajam kearah pintu itu.


Fika menemukan sebuah cincin dan juga kalung dengan liontin huruf ZR yang saling mengait dilaci,sepertinya benda ini tidak asing baginya,ia memandangi kalung itu dengan seksama, "Z dan R??" Pikirannya mulai berpetualang.


"Apa yang kamu lakukan?"


Fika terkejut dan langsung menjatuhkan kalung dan cincin itu dari tangannya kemeja.


Saka mendekati Fika dengan tatapan tajamnya,tidak menyangka Fika berani membuka barang-barang pribadi miliknya.


"Apa yang sedang kamu cari?" Bentak Saka membuat Fika terdiam ketakutan.


Saka mengambil cincin dan kalung itu lalu meletakkannya kembali ketempat Fika mengambilnya.


"Milik siapa itu?" Tanya Fika yang masih penasaran.


"Itu bukan urusanmu,keluar sekarang dari kamarku dan jangan pernah berani lagi masuk kemari," ucap Saka dengan begitu tegas.


Fika mulai kesal dan menatap kearah Saka, "Kenapa? bukankah aku istrimu,apa salah jika seorang istri masuk kekamar suaminya?atau sebenarnya aku bukan istrimu?"


Sontak pertanyaan Fika membuat Saka membelalakkan matanya, bagaimana bisa Fika mulai berpikir seperti itu.


"Kita tidak saling bersentuhan seingatku,apa itu yang disebut suami istri,apakah kamu bisa membuktikan jika aku benar-benar istrimu?" Fika harus mendapatkan jawaban dari pertanyaannya kali ini.


Saka sepertinya sangat marah mendengar ucapan Fika, sepertinya Fika benar-benar sudah mencurigainya.


"Apa kamu menginginkan buktinya sekarang?" Tanya Saka yang membuat Fika menatap kearahnya,bukti apa yang dimaksud Saka.

__ADS_1


Saka menutup pintu dan menguncinya,lalu berjalan lagi kearah Fika sembari membuka jas dan melemparkannya kesembarang tempat,ia juga melepaskan kancing bajunya satu persatu,melihat itu,Fika mulai gemetar,apa yang sebenarnya ingin Saka lakukan.


Fika cepat-cepat ingin pergi dari kamar itu,namun Saka menahan lengannya dan menatapnya, "Kenapa?bukankah kamu yang menginginkannya?" Saka menarik Fika dan menghempaskan tubuhnya keranjang,lalu mulai melepaskan bajunya,membuat Fika memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihatnya.


Saka benar-benar sudah dirasuki syetan sepertinya,ia mendekati Fika yang terlihat sangat ketakutan bahkan sampai menangis,


"Kenapa? bukannya kita suami istri?" Saka menarik dagu Fika agar wajah Fika terangkat,namun Fika terus memejamkan matanya,entah kenapa ia tidak ingin melakukan hal ini dengan Saka,ia bahkan merasa sangat risih ketika Saka menyentuhnya.


"Jangan lakukan ini," ucap Fika dengan terbata-bata tanpa membuka matanya.


Saka tidak menghiraukan penolakan dari Fika,ia sudah terlanjur bernafsu dan tidak peduli apa yang akan terjadi nantinya, yang pasti ia tidak akan melepaskan Fika kali ini,namun saat bibir Saka hampir melahap Fika suara itu membuyarkan semuanya.


"Ma...mama..." Panggil Mita sembari mengetuk pintu.


Fika membuka matanya,sang Dewi penyelamat,ia mendorong tubuh Saka dan langsung berlari kearah pintu lalu membuka dan memeluk putri kecilnya itu.


"Mita haus,"


Fika meneteskan air mata,"Iya sayang," ia mengusap lembut wajah Mita lalu menuntunnya menuju dapur tanpa mempedulikan Saka.


Saka membaringkan tubuhnya keranjang dan mengusap wjahnya yang dipenuhi penyesalan,apa yang sudah ia lakukan barusan,ia benar-benar sudah kerasukan syetan yang membuat akal sehatnya tidak berfungsi,dan hampir saja menjadi lelaki yang begitu bejat dengan memaksa Fika yang sebenarnya bukan istri sahnya untuk melayaninya.


**


Rama masih sibuk dikantornya, tiba-tiba ponselnya berbunyi,ia menyunggingkan bibirnya saat melihat nama seseorang dilayar.


Iapun dengan bahagai mengangkat telepon dari Fika.


"Aku ingin bertemu denganmu, sekarang," ucap Fika dengan suara gemetar lalu dengan cepat mematikan teleponnya,dan mengirimkan pesan yang berisi lokasi tempat mereka akan bertemu.


Rama mengerutkan dahinya, berpikir apa yang sebenarnya terjadi,kenapa suaranya terdengar begitu ketakutan,tanpa berpikir panjang iapun segera menuju kelokasi itu.


**


Rama sampai disebuah kafe dengan ruangan pribadi yang sengaja disewa oleh Fika,tidak menyangka Fika akan mengajaknya bertemu ditempat seperti ini,ya meskipun sah-sah saja,tapi ia merasa tempatnya terlalu pribadi untuk dua orang asing yang tidak mempunyai hubungan apapun.


Ia melihat perempuan yang sudah duduk menunggunya dengan wajah yang terlihat begitu cemas dan gelisah.


"Ada apa?" Tanya Rama tanpa basa basi.


Fika berdiri menatap wajah pria didepannya itu,sungguh ia sangat ketakutan saat datang ketempat ini,ia benar-benar takut setelah apa yang dilakukan saka padanya,hingga tanpa sadar ia justru menghubungi Rama yang bahkan tidak ada hubungan apapun dengannya,namun hanya dengan menatap wajah Rama ketakutan itu perlahan memudar dari hatinya.


Air mata Fika menetes,membuat Rama terkejut,apa yang sebenarnya terjadi padanya, iapun mengusap pipi Fika dan anehnya Fika tidak berontak sama sekali.


"Zahra?apa kamu berpikir jika aku adalah Zahra?" Tanya Fika membuat Rama sedikit tercekat, bagaimana Fika tahu soal Zahra.


Rama hanya diam menatap perempuan didepannya itu,Fika menunduk ia seharusnya tidak boleh melakukan hal seperti ini,tapi sungguh ia benar-benar tidak tahan dengan perlakuan Saka padanya, berpikir tentang sikapnya selama ini membuatnya bahkan yakin jika mereka memang tidak ada hubungan apapun sebelum kecelakaan itu,bahkan keyakinan itu muncul sebelum Fika mengingat siapa dirinya sebenarnya.


"Bagaimana menurutmu?apa yang kamu rasakan?" Tanya Rama kali ini dengan jarak wajah yang begitu dekat dengan Fika.


Fika bisa merasakan hembusan nafas Rama diwajahnya, seperti ada rindu yang tertahan begitu lama,ia mengepalkan tangannya,berusaha menahan perasaan yang mulai merayu dengan pikiran kotor.


Dengan sekuat tenaga,Fika berusaha menatap wajah Rama, "Dapat kah kamu membuktikan semua itu,buktikan jika aku memang Zahra," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Rama membelalakkan matanya, tidak menyangka jika Fika mengatakan hal itu,apa yang terjadi hingga ia menjadi seperti ini,atau ingatannya sudah mulai pulih.


"Sungguh...aku tidak ingin menjadi istrinya," kali ini Fika menangis didepan Rama karena sudah terlalu sakit dan tidak bisa menahannya lagi.


Rama mengepalkan erat tangannya,apa yang sudah Saka lakukan hingga membuat Fika menangis seperti ini.


"Pria itu,aku benar-benar akan membalas setiap air mata yang Zahra keluarkan," batin Rama dipenuhi dengan rasa dendam.


Rama memeluk tubuh Fika,dan membiarkan Fika menangis didadanya,menumpahkan segala beban yang ia rasakan selama ini,entah kenapa rasa nyaman itu benar-benar bisa Fika rasakan sekarang,rasa nyaman yang tidak pernah Saka berikan padanya,rasa yang begitu membuatnya terhanyut dan dengan mudah ia bisa melepaskan beban dihatinya.


"Aku akan bawa bukti itu secepatnya, bersabarlah sebentar," ucap Rama sembari mengusap punggung Fika.

__ADS_1


*** Mohon maaf kalo ada salah ketik antara nama Fika dan Zahra,,,author sendiri kadang juga bingung....🙏🤗


__ADS_2