Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Rindu Yang Menyiksa


__ADS_3

Rama terdiam dan menatap wajah Zahra,tidak salah yang ia katakan, Karena benar Rama sangat tersiksa dengan semua ini.


"Aku mohon,akhiri semuanya," ucap Zahra berharap Rama mau berdamai dengannya dan keadaan.


"Jangan pernah bermimpi,hidupku tidak akan pernah tenang sebelum mengungkap tuntas kasus kecelakaan Hana," ucap Rama dengan seringai tajamnya.


"Tapi bukannya kamu sudah berjanji pada ibu Aminah untuk melepaskan kasus ini," ucap Zahra justru keceplosan mengatakan itu pada Rama.


Rama mengerutkan dahinya,darimana Zahra mengetahui semua itu.


"Kamu?"


Zahra mulai kikuk,bisa-bisanya dia mengatakan itu, "Aku mendengarnya dirumah sakit," jawab Zahra dengan jujur karena sudah terlanjur tertangkap basah.


"Hah,selain pembunuh,ternyata kamu juga pengintai," sindir Rama membuat Zahra menatap tajam kearahnya.


"Pergi,dan ingat satu hal,jangan pernah berharap aku akan membiarkanmu hidup tenang, Azahra.." Rama menutup pintu dengan kasar tepat didepan muka Zahra.


Zahra menutup matanya,percuma ia datang dan bicara panjang lebar,Rama tidak akan pernah melepaskannya begitu saja,dan Zahra harus bersiap dengan kemungkinan terburuk yang mungkin akan ia hadapi selanjutnya.


40 hari peringatan kematian Hana,ibu Aminah dan Rama pergi kemakan Hana untuk nyekar dan mengirimkan Do'a agar Hana mendapatkan tempat terbaik disisi Allah.


Meskipun sudah ikhlas,kedua orang itu tetap terlihat sedih dan tidak bisa menahan air mata mereka ketika menaburkan bunga kemakan orang yang paling mereka cintai.


"Malam ini aku sudah mengundang anak yatim kerumah untuk mendoakan Hana," ucap Rama.


Aminah tersenyum,meskipun Hana sudah meninggal tapi kepedulian Rama tidak pernah berkurang sedikitpun.


"Ibu akan persiapkan semuanya,terimakasih ya," ucap Aminah.


Rama hanya menganguk pelan dan kembali memandang ke nisan Hana.


Zahra menatap kearah Tiara yang sedang bersiap.


"40 hariaannya Hana?" Tanya Zahra memastikan.


Tiara menganguk, "Rama mengundang anak panti untuk do'a bersama kerumah Bu Aminah,"


"Tiara," panggil Zahra lalu memasang wajah memelas.


"Mau ikut?" Tiara sudah tahu betul apa ynag diinginkan Zahra.


Zahra menganguk cepat.


"Tapi aku gak mau ya,kamu terlibat masalah sama Rama," ucap Tiara yang tahu betul hubungan Zahra dan Rama.


"Janji," ucap Zahra lalu iapun bergegas untuk bersiap.


Do'a bersama malam itu dimulai,dengan begitu khikmat,suara para anak yatim yang melantunkan surat Yasin begitu menyejukkan jiwa.


Rama pun memejamkan mata,berdo'a dengan sepenuh hati,jiwa dan pikirannya untuk ketenangan jiwa kekasihnya.

__ADS_1


Begitupun Zahra,yang begitu tulus berdo'a agar Hana selalu mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT.


Rama sudah tahu jika Zahra hadir dalam acara malam itu,tapi ia tidak ingin mencari masalah dengan menegurnya dan justru akan membuat keributan,jadi ia sengaja tidak mempedulikan Zahra dan menganggapnya tidak ada.


Seusai ngaji,para tamu mendapatkan jamuan yang sudah dipersiapkan,Zahra dan Tiara membantu untuk membagikan makanan dan minuman untuk anak-anak.


Acarapun selesai,Ibu Aminah menemui Tiara dan Zahra yang masih membantu bersih-bersih dilantai dasar.


"Makasih ya,kalian udah mau bantuin ibu," ucap Aminah merasa sangat bersyukur dengan kehadiran Tiara dan Zahra.


"Gak papa kok Bu,kita senang bisa membantu," ucap Tiara.


"Iya Bu,ibu gak perlu sungkan ya,kalo ibu butuh bantuan lain,aku juga bisa kok," imbuh Zahra dengan senyum diwajahnya.


Aminah terlihat sangat bahagia mendengar ucapan dua perempuan dihadapannya itu.


Saat membereskan sisa minuman,Zahra tidak sengaja menumpahkan minuman kebajunya,hingga basah dan kotor.


"Akh..." Pekik Zahra sembari mengibaskan bajunya yang basah.


"Hati-hati dong Ra," ucap Tiara.


"Nak Zahra gak papa?" Tanya Aminah.


"Gak papa kok Bu,cuma sedikit basah aja," jawab Zahra tidak ingin membuat Aminah cemas.


"Ayuk ikut ibu,kamu harus ganti bajukan?" Ucap Aminah.


"Udah ayo,nanti kamu masuk angin lho," Aminah menarik tangan Zahra menuju kelantai atas untuk mengganti bajunya yang basah.


Rama sedang berada dibalkon,menikmati indahnya langit yang dipenuhi ribuan bintang malam itu,ingatan tentang Hana terus muncul dan membuatnya kembali berduka,seandainya Hana masih hidup pasti mereka sedang bahagia karena pernikahan mereka,dan akan menghabiskan waktu bersama dimalam indah seperti ini.


Rama mengusap belahan rambutnya,entah sampai kapan ia akan terus terbayang Hana,apa bisa ia melupakan perempuan yang sudah seperti menjadi bagian dari dirinya.


Zahra mengenakan baju Hana yang diberikan Aminah padanya.


"Thukan cocok banget," ucap Aminah yang seperti menemukan sosok Hana dalam diri Zahra.


"Tapi Bu,apa gak papa aku pake baju ini," Zahra merasa tidak nyaman.


"Gak papa kok,lagipula banyak baju-baju Hana yang masih belum sempat ibu bereskan," ucap Aminah.


Zahrapun hanya menganguk,dan kembali merapikan hijabnya.


"Ibu kebawah dulu ya,kamu rapiin aja dulu," ucap Aminah yang melangkah pergi meninggalkan Zahra sendirian dikamar Hana.


Rama berjalan dan berniat untuk pulang,tapi saat melewati kamar Hana ia berhenti,menoleh kearah kamar yang pintunya terbuka lebar itu.


Melihat sesosok perempuan dari belakang dengan pakaian yang ia kenal,matanya terbuka lebar dan hatinya yang sedari tadi mengharapkan kehadiran Hana terlihat tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


Iapun berlari dan langsung memeluk erat tubuh perempuan itu dari belakang,menuangkan segala rasa rindu yang terpendam.

__ADS_1


Zahra tercekat saat mendapat pelukan tiba-tiba itu,tubuhnya kaku dan bibirnya terkunci.


"Aku kangen bnaget sama kamu,aku gak mau kehilangan kamu Hana,tolong,jangan pernah pergi dari hidup aku,aku bener-bener bisa gila tanpa kamu," ucap Rama dengan suaranya yang bergetar menahan tangis dan pelukannya yang terasa semakin erat ditubuh Zahra.


Zahra memejamkan matanya,begitu besarkah rasa cinta Rama pada Hana.


"Aku gak mau kehilangan kamu,aku sangat mencintai kamu Hana," imbuh Rama lagi sembari memejamkan matanya.


Zahra semakin tidak bisa berkutik,jika Rama mengetahui siapa perempuan yang ia peluk itu,pasti dia akan murka,tapi sampai kapan Zahra akan diam.


Zahra perlahan melepaskan tangan Rama dari tubuhnya,dan membalikkan tubuhnya dengan wajah penuh kecemasan.


"Tapi aku bukan Hana,"


DEG


Rama membelalakkan matanya melihat perempuan yang berdiri didepannya,ia mundur satu langkah kebelakang dengan tatapan tajam.


"Kamu?"


Zahra bingung harus mengatakan apa pada Rama setelah kejadian tadi,jujur ia menjadi salah tingkah.


"Beraninya kamu masuk kekamar Hana dan memakai pakaiannya," bentak Rama dengan matanya yang berapi-api.


"Maaf,tapi ibu yang kasih pakaian ini keaku," jawab Zahra yang sama sekali tidak meredakan amarah Rama.


"Pergi dari kamar ini sekarang juga,pergi! " Rama sedikit mendorong tubuh Zahra,Zahrapun melangkah pergi.


Rama langsung jatuh berlutut kelantai,bisa-bisanya ia berharap bahwa Hana masih hidup,iapun menutup wajahnya dan menangis,merasa bahwa dirinya benar-benar sudah kehilangan akal.


Zahra masih memperhatikan Rama,iapun tidak bisa menahan air matanya yang jatuh melihat duka yang begitu besar dimata Rama .


"Kenapa aku harus menjadi penghancur cinta yang begitu besar diantara mereka,Ya Allah,apa aku masih pantas meminta ampunan dari-Mu?" Batin Zahra.


Dalam perjalanan pulang,Zahra masih melamun setelah kejadian dikamar Hana tadi.


"Kamu mikirin apa sih,Ra?" Tanya Tiara melihat sahabatnya itu begitu gelisah.


"Aku memang pantas dibenci,pantas jika dia selalu ingin melenyapkanku,aku sudah menghancurkan cinta yang begitu besar diantara mereka,aku tidak pantas untuk mendapat pengampunan dari siapapun," ucap Zahra dengan tatapannya yang terus mengarah ke jendela.


Tiara merasa tidak paham dengan ucapan Zahra yang membuatnya bingung.


"Kamu ngomong apa sih,aku gak ngerti," ucap Tiara.


Zahra menghela nafas dan berusaha tidak membuat Tiara cemas.


"Gak papa kok," jawab Zahra yang berusaha menyembunyikan kegelisahannya didepan Tiara.


"Aku tahu,kamu sedang gelisah,tapi apapun masalahnya,serahkan semuanya sama Allah,karena hanya Dia-lah solusi dari setiap masalah yang kita hadapi," ucap Tiara memberi nasihat qalbu pada Zahra.


Zahra menganguk dan tersenyum meskipun masih terlihat duka diwajahnya.

__ADS_1


__ADS_2