Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Bertemu Dengannya


__ADS_3

Dipagi yang cerah itu,Rama memutuskan untuk jalan-jalan agar badannya menjadi lebih segar,ia berjalan kaki berkeliling komplek rumahnya, menghirup udara segar dipagi hari membuat pikirannya merasa lebih baik.


Ia juga sengaja mengunjungi yayasan,sudah sangat lama tidak kesana,ia ingin melihat keadaan anak-anak sembari bermain bersama mereka dan sedikit memberi sedekah sebagai wujud rasa syukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuknya hidup kembali.


Tidak disangka saat sampai depan,ia melihat perempuan itu, perempuan yang selalu mengganggu pikirannya,ialah Azahra, yang sedang membagikan makanan untuk anak-anak panti,Rama melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Zahra,senyumnya yang begitu riang membuat Rama merasa lega,setidaknya Zahra hidup bahagia meskipun tidak bersamanya.


Zahra pagi itu memang sengaja bersedekah kepada para anak-anak panti untuk mengucapkan rasa syukur atas kesembuhan Rama,selama Rama sakit,ia sering melakukan hal sosial seperti ini,ia sering meminta do'a kepada anak-anak ini untuk mendoakan kesembuhan Rama,dan akhirnya sekarang doa mereka sudah terkabulkan.


Seorang anak mendekati Zahra,gadis kecil yang begitu manis,Zahrapun berjongkok lalu mengusap kepalanya dengan lembut dan memberikan makanan itu padanya.


"Kakak terlihat sangat bahagia, tidak seperti biasanya," ucap gadis kecil itu yang bahkan bisa melihat perubahan diwajah Zahra.


Zahrapun terkekeh mendengarnya, "Benarkah,kamu anak yang pintar," Zahra mencubit pipi anak itu dengan gemas.


"Apa pacar kakak sudah sembuh,itukah yang membuat kakak sangat bahagia?" Tanya anak itu lagi membuat Zahra tersenyum dan langsung memeluknya dengan lembut.


"Terimakasih,ini semua berkat do'a darimu dan juga teman-temanmu," ucap Zahra lalu mencium kening gadis kecil itu.


Gadis kecil itupun tersenyum ceria lalu segera berlari mengikuti teman-temannya yang lain.


Zahra kembali berdiri dan tersenyum senang,ia berbalik dan terdiam saat melihat Rama yang sudah berdiri didepannya.


Rama menaruh curiga dengan apa yang dikatakan gadis kecil tadi,apa maksud pacarnya yang sudah sembuh.


"Dia disini?" Zahra mulai terlihat kikuk dan tidak tahu harus berbuat apa,apalagi saat Rama melangkah dan menghampirinya, jantungnya terasa berdebar begitu kencang.


"Lama tidak bertemu," ucap Rama dengan datar.


Zahra menganguk dengan wajah yang masih canggung, "Yah..." Tetap tidak tahu harus berkata apa,hanya bisa mengepalkan tangan dengan erat tanpa bisa memandang wajah Rama.


Rama menatap kearah perempuan didepannya itu, bagaimanapun pertemuan terakhir mereka tidaklah baik,bisa hidup lagi membuat Rama harus meminta maaf kepadanya bukan.


"Aku ingin meminta maaf,atas perlakuanku tempo hari padamu,aku tahu perbuatanku sangat tidak pantas,Allah mungkin telah menghukumku karena hal itu," ucap Rama yang begitu tulus ingin meminta maaf pada Zahra.


Zahra terdiam dan menatap kearah Rama,betapa ia merindukan pria didepannya itu,bisa melihatnya berdiri dalam keadaan sehat bahkan berbicara padanya membuat Zahra merasa sangat terharu,hingga air matanya jatuh begitu saja,iapun langsung memalingkan wajahnya berharap Rama tidak melihatnya seperti ini.


Rama mengerutkan dahinya,apa Zahra masih sakit hati hingga ia menangis.

__ADS_1


"Tidak apa,aku sudah memaafkan semuanya," jawab Zahra lalu iapun mulai melangkah pergi,tidak akan bisa bertahan jika terus berhadapan dengan pria ini,ia akan kehilangan kontrol dan mungkin akan melakukan hal diluar batas.


"Tunggu," panggil Rama saat Zahra tepat berada disampingnya.


Zahra menghentikan langkahnya tanpa menatap kearah Rama.


Rama menoleh kearah Zahra, "Pacar kakak sudah sembuh,makanya kakak sangat bahagia,siapa yang dimaksud anak itu?" Tanya Rama yang tidak ingin menyimpan rasa penasaran itu dihatinya.


Zahra terdiam sesaat,ternyata Rama mendengarnya, benar-benar tidak bisa menahannya lagi meskipun sudah berusaha sekuat hati,iapun langsung memeluk tubuh Rama, melepaskan segala kerinduan yang ia rasakan.


Rama terdiam dan sedikit terkejut dengan tingkah Zahra,namun ia juga tidak bisa memungkiri jika ia merasa sangat nyaman mendapatkan pelukan itu.


Zahra memejamkan mata dan mempererat pelukannya, meskipun setelah ini Rama akan marah,ia sama sekali tidak peduli,ia hanya ingin bisa meluapkan segala kerinduan yang ia tahan selama ini.


Hingga didetik berikutnya,Rama mulai menggaruk pelipisnya karena Zahra tak kunjung melepaskannya "Mereka melihat kita," bisik Rama dengan wajah yang menahan malu.


Zahra menoleh kesamping dan melihat anak-anak yang sedang memperhatikan mereka, Zahrapun dengan cepat menjauh dari tubuh Rama dengan wajah yang memerah menahan malu.


"Inikah pacar kakak?" Tanya gadis kecil tadi dengan rasa penuh penasaran.


"Anak-anak,saatnya masuk," Teriak Tiara dari depan kelas lalu melambaikan tangan pada Zahra.


Anak-anak itupun berhamburan masuk kedalam kelas,Tiara tersenyum ia sangat mengerti jika Zahra dan Rama membutuhkan waktu untuk bicara berdua.


"Kamu belum menjawabnya," ucap Rama yang membuat Zahra semakin salah tingkah.


"Menjawab apa?bukankah dia sudah pergi, jadi tidak perlu menjawabnya," Zahrapun kembali melangkah dengan terburu-buru,tidak ingin Rama semakin mencecarnya dengan pertanyaan yang nantinya akan membuatnya semakin bingung.


Rama tersenyum tipis,entah kenapa hatinya berbunga saat mendengar gadis kecil tadi menyebutnya sebagai pacar Zahra,dan bahkan Zahra juga tidak menyangkalnya.


Zahra masuk kedalam mobil,ia melihat wajahnya dikaca yang benar-benar memerah,ia benar-benar malu dengan apa yang sudah ia lakukan pada Rama.


"Aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi," gumam Zahra sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena sudah melakukan hal memalukan seperti tadi.


Malam itu,Rian datang mengunjungi Rama,ia sudah tidak bisa menahan untuk menceritakan semuanya yang terjadi saat Rama sedang koma.


Ramapun terkejut mendengar cerita Rian tentang tewasnya Bimo dan Fatma yang mendapatkan Vonis 3 tahun,dan berbagai kejahatan Bimo yang berhasil diungkap usai kematiannya,termasuk kasus kecelakaan Hana yang sebenarnya adalah ulah Bimo,dan Zahra hanyalah seorang korban.

__ADS_1


"Malam itu,Bimo sengaja menjebak Zahra,kami bahkan mendapatkan kesaksian dari pembantu dirumah Bimo,dia yang menelfon agar Zahra datang dengan alasan ibunya sedang sakit," imbuh Rian menjelaskan.


Rama terdiam,ia menyandarkan tubuhnya kesofa,begitu banyak hal yang terjadi saat ia koma,bahkan ia tidak bisa menemukan sendiri bukti itu tapi setidaknya Allah sudah menunjukkan jalan kebenaran dan mengungkap semua kejahatan Bimo.


Ia mengingat betapa kasarnya perbuatannya terhadap Zahra waktu itu, membuatnya sangat menyesal, bagaimana bisa ia berlaku sangat tidak adil padanya dan selalu menyalahkannya atas kepergian Hana.


"Ram...aku tahu pertemuan kalian adalah sebuah kesalahan,tapi pada akhirnya semuanya sudah terungkap sekarang,bahkan Zahra rela mengorbankan hidupnya demi untuk membalas Bimo,apakah kamu masih meragukan jika dia benar-benar mencintaimu?" Ucap Rian yang berharap kali ini Rama akan menyadari perasaannya sendiri terhadap Zahra.


Rama masih terdiam dengan pikirannya yang berkelut,ia menghela nafas mencoba mencerna semua yang terjadi.


"Kamu tahu,setiap malam Zahra selalu menemanimu dirumah sakit,ia tidak pernah absen sekalipun,ia begitu berharap kamu bisa sembuh,bahkan ketika dokter bilang kemungkinannya sangat kecil,ia tetap tidak menyerah untuk menunggumu sadar,"


Rama melihat kearah Rian,jadi benar dugaannya jika pacar yang dimaksud Zahra sedang dirumah sakit itu adalah dirinya.


"Besok antarkan aku menemui ibu Fatma," ucap Rama yang justru membuat Rian bingung.


Bukannya menemui Zahra tapi justru menemui ibunya,Rian merasa jika sikap Rama masih seperti dulu,sangat sulit ditebak.


Zahra berjalan kesana kemari seperti orang yang sedang kebingungan,mengingat bagaimana sikapnya kepada Rama lagi tadi membuat ia ingin menghilang karena merasa malu.


Tiara keluar dari dapur lalu duduk disofa,sudah sejak sore tadi melihat Zahra seperti itu, membuatnya mulai merasa bosan.


"Bagaimana jika aku bertemu lagi dengannya,aku sangat malu," Zahra menggelengkan kepalanya lalu duduk disebelah Tiara dengan wajah cemberut.


Tiara merasa heran dengan sahabatnya itu, seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta.


"Bisakah kamu bersikap biasa saja,kalian sudah sama-sama dewasa, harusnya bisa berpikir lebih dewasakan,jangan seperti anak kecil," ucap Tiara dengan wajah gemas.


Zahra terdiam sembari mengerucutkan bibirnya,benar juga tidak seharusnya ia bersikap seperti ini,tapi ia juga tidak bisa tiba-tiba menemui Rama dan meminta menikah bukan,apalagi Rama sepertinya masih sangat menjaga jarak darinya.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Zahra meminta saran dari Tiara.


"Temui dia,dan katakan yang sejujurnya, bagaimana kamu menjaganya selama ini dan kamu sangat mengharapkan kalian bisa kembali bersama," ucap Tiara membuat Zahra memicingkan mata kepadanya.


"Bukankah itu terlalu berlebihan, bagaimanapun aku seorang perempuan,tidak pantas menyatakan perasaan kepada pria dengan begitu blak-blakan,"


Tiara tersenyum, "Aku hanya memberi saran,kalau tidak setuju,ya sudah," bantah Tiara yang membuat Zahra semakin merasa bingung dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2