Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Ikhlas Melepaskanmu Pergi


__ADS_3

1 Bulan usai kepergian Zahra,Nilam divonis 10 tahun penjara karena pelenyapan Zahra yang bahkan jasadnya masih belum ditemukan sampai sekarang, meskipun mengalami gangguan psikologis namun saat melenyapkan Zahra Nilam dalam kondisi sadar,jadi tidak ada alasan untuk tidak menghukumnya.


Rama berdiri ditepi sungai tempat lokasi kecelakaan Zahra,ia menutup mata membiarkan desiran angin menerpa wajahnya,dalam keheningan,ia masih berharap tiba-tiba Zahra datang dan memanggil namanya,namun seperti mengharapkan bintang yang jatuh dihadapannya,hal itu tidak mungkin terjadi,iapun membuka mata menatap lurus kedepan.


"Jika kamu memang sudah bahagia disana,aku akan mencoba ikhlas,aku ikhlas melepaskanmu pergi istriku,semoga kamu selalu bahagia dimanapun kamu berada saat ini," ucapnya dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya, meskipun berat Rama tidak bisa terus terpuruk seperti ini,ia harus melanjutkan hidupnya, bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya,dan dia harus tetap hidup bahagia karena ia yakin Zahra menginginkan semua hal itu,iapun berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu, tempat dimana ia harus berpisah dari istri tercintanya.


3 Tahun Berlalu.


"Ting tung..." Bel rumah berbunyi,rumah mewah bagai istana dengan taman dan air mancur dihalaman,seorang kurir sedang menunggu didepan pintu dengan paket ditangannya.


Pintu terbuka,nampak seorang perempuan cantik dengan rambut sebahu yang terurai, tingginya setara dengan model dan pakaiannya yang terlihat modis, benar-benar memancarkan kecantikan yang alami,senyumnya begitu ramah dan sangat tidak asing.


"Nona Alfika Naira?" Tanya sang kurir.


Perempuan itu tersenyum sembari mengangukkan kepalanya,sang kurirpun menyerahkan paket itu lalu segera pergi setelah mendapatkan tanda terima.


Alfika masuk dengan paket ditangannya, "Sayang...paket kamu datang," teriaknya sembari meletakkan paket itu diatas meja.


Seorang gadis kecil yang lucu dengan kuncir kuda berlari dengan langkah ceria menghampiri Alfika, "Sudah datang ma?" Tanyanya antusias,Fika mengusap kepala sang putri tercintanya bernama Mita, sambil tersenyum lalu duduk dilantai agar bisa mengimbangi tinggi sang putri kecilnya lalu mulai membuka paket itu,Mita terlihat sangat bahagia,matanya berbinar melihat satu set permainan Barbie terbaru yang sangat ia inginkan,iapun tidak sabar dan segera mengambil mainan itu.


"Ada surat dari papa," ucap Fika menahan Mita agar bersabar sedikit untuk membaca surat yang ditulis papanya.


Mita anak yang penurut,iapun duduk dipangkuan Fika lalu melihat tulisan tangan papanya itu.


"Mita sayang,semoga kamu suka mainannya ya,papa pulang Minggu depan,sampai jumpa...muachh" isi surat papa.


Mita yang sudah pandai baca pun mengerutkan dahinya, "Kok papa gak cium mama juga,cuma cium Mita?" Tanyanya polos.


Fika tercekat mendengar pertanyaan sang putri, mulutnya membisu karena tidak tahu harus menjawab Apa.


"Yuk kita main," ajak Fika berusaha


mengalihkan pembicaraan,Mitapun bersemangat membuat Fika merasa lega karena usahanya berhasil,merekapun bermain bersama dengan begitu bahagia.


Sore itu Sedang terjadi kebakaran hebat disebuah pabrik makanan cepat saji,suara sirine mobil damkar bersahutan untuk memadamkan api yang cukup besar.Nampak Rama dan juga Rian yang membantu mengamankan lokasi agar tidak ada warga yang mendekat.


Pabrik makanan itu adalah salah satu pabrik yang dikelola oleh grub WINA,Rama berusaha menghubungi sang pemilik namun masih belum tersambung.


Usai mengurus kasus kebakaran,Rama pulang kerumahnya,sudah hampir tengah malam,namun lampu dirumahnya masih menyala dengan terang,ia masuk dan melihat perempuan tua yang masih menunggunya dimeja makan.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Fatma dengan wajah sumringah menyambut kedatangan Rama.


Rama mencium tangan sang ibu,lalu duduk dikursi, "Ini sudah malam,ibu harusnya beristirahat,"


Fatma tersenyum, "Ibu sudah siapkan makanan,makanlah sebelum tidur," Fatma menyajikan makanan kepiring untuk Rama,Ramapun makan dengan lahap, meskipun perutnya tidak lapar karena sudah makan dilokasi,namun ia tidak ingin membuat sang ibu kecewa karena sudah repot-repot masak sampai menunggunya pula.


Ya...sejak bebas 1 tahun lalu,Rama meminta agar Fatma tinggal bersamanya dan menjadi ibu untuknya,Rama ingin menjaga satu-satunya keluarga Zahra, meskipun Zahra sudah tiada,namun Fatma adalah ibunya jadi ia ingin berbakti layaknya seorang anak kepada orang tuanya.


"Ibu melihat berita kebakaran,apa kamu juga disana?" Tanya Fatma yang terlihat cemas jika Rama sedang mengurus sebuah kasus berbahaya.


Rama menganguk dengan mulutnya yang masih penuh dengan makanan.


"Berhati-hatilah,jangan sampai kamu terluka," pesan Fatma yang hampir setiap hari didengar oleh telinga Rama,iapun hanya tersenyum dan mengangukkan kepalanya.

__ADS_1


Usai makan,Rama masuk kekamarnya untuk membersihkan diri,ia mencuci tangannya di wastafel,melihat cincin yang masih melingkar dijari manisnya,cincin pernikahannya dengan Zahra,masih terpasang dengan baik,iapun tersenyum berusaha untuk tetap tegar,ia sudah melewati banyak hal hanya demi bisa melanjutkan kehidupannya usai kehilangan Zahra,ia tidak akan menyerah karena Zahra pasti juga tidak menginginkan hal itu,ia hanya berharap dimanapun Zahra berada sekarang,atau jika bahkan Zahra sudah berada disisi Allah,ia akan selalu bahagia.


Alfika sedang dibalkon rumahnya sembari menatap ribuan bintang yang menghiasi langit dengan begitu indah,ia memainkan cincin dijari manisnya yang merupakan cincin pernikahannya bersama Saka,tapi meskipun begitu,ia selalu merasa jika ada yang aneh dengan hubungan mereka,dua tahun lebih sejak dirinya sadar dari sebuah kecelakaan,belum sekalipun Saka menyentuhnya,atau bahkan sekedar memberikan pelukan hangat untuknya,entah apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu,ia sama sekali tidak mengingat apapun,tentang hubungannya dengan Saka,tentang Mita atau bahkan tentang kehidupannya sendiri,ia hanya tahu jika Mita adalah putrinya dan Saka adalah suaminya,itupun ia dengar dari mulut Saka sendiri, mungkin hubungan mereka sudah tidak baik dari awal,jika seperti itu harusnya Saka berbicara jujur kenapa bersikap seolah-olah tidak ada apapun tapi sikapnya begitu dingin, entahlah, hampir setiap malam,Fika memikirkan hal yang sama tapi tidak pernah menemukan jawabannya.


Keesokan harinya,Rama kembali datang kelokasi kebakaran untuk menyidiki penyebab pasti kebakaran yang menghanguskan hampir seluruh pabrik hingga tak tersisa.


Rama bertemu dengan Aryo, asisten Saka,ia mewakili sang tuan untuk mengurus kasus kebakaran ini,Rama menjelaskan prosedur apa saja yang harus dilakukan Aryo,dan iapun menganguk mengerti.


Satu minggu berlalu,Mita sedang bermain diteras rumahnya,ia menoleh saat sebuah mobil berhenti dan sang Papa turun dari mobil tersebut,Mita terlihat sangat bahagia dan langsung berlari menghampiri Saka,Sakapun langsung memberikan pelukan hangat kepada sang putri tercintanya yang baru berusia 5 tahun itu.


"Mita kangen papa," ucap gadis kecil itu sembari memeluk erat papanya.


Saka tersenyum, "Papa juga kangen sama kamu sayang," balas Saka lalu mengecup kedua pipi Mita dengan gemas.


Fika berdiri didaun pintu melihat dengan bahagia sang putri yang sedang bersama papanya.Mita melihat kearah Fika, "Ma...papa udah pulang," ucap Mita antusias sembari menuntun tangan Saka mendekati Fika.


Fika menganguk sembari mengusap kepala putrinya,Saka melihat kearah Fika.


"Apa kabar?"


"Baik," jawab Fika yang merasa seperti orang asing bagi Saka, karena setiap baru saja bertemu selalu menyapa seperti itu.


Mita mendongak melihat kearah mama dan papanya, diusianya sekarang Mita adalah anak yang cukup cerdas,melihat orang tuanya yang begitu kaku saat bertemu membuatnya sedikit kesal.


"Papa sama Mama lagi berantem ya?" Tanya Mita membuat Saka dan Fika menunduk melihatnya.


"Kok gak pelukan,papa peluk mama dong,kaya papa peluk Mita,papa gak kangen sama mama?" Ucap Mita dengan polos dan menggemaskan.


Saka terdiam lalu menatap kearah Fika,ia terlihat sedikit kikuk,namun tidak ingin putri kecilnya kecewa,iapun memeluk sang istri didepan putrinya dan membuat Mika tersenyum bahagia.


Mita menganguk,lalu merekapun segera masuk kedalam rumah.


Saka sedang mengurus beberapa berkas diruang kerjanya,ya..selama dirumah tempat inilah yang menjadi tempat favorit Saka,ia hanya akan keluar untuk makan dan bermain dengan Mita,selain itu ia tidak akan meninggalkan ruangan ini,bahkan tidak pernah datang kekamar Fika, istrinya.


Fika mengetuk pintu dengan segelas teh hangat ditangannya,Saka mempersilakannya untuk masuk,ia meletakkan gelas itu dimeja lalu menatap kearah suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Mita masih anak kecil,jadi wajar jika ia meminta sesuatu,maaf jika kamu tidak merasa nyaman," ucap Fika membuat jari Saka yang membalikkan beberapa file berhenti,lalu matanya mengarah keperempuan yang masih berdiri didepannya itu.


"Aku sama sekali tidak keberatan,aku akan melakukan apapun untuk Mita," jawab Saka dengan yakin.


Fika menganguk, "Aku tahu, termasuk mempertahankan hubungan kita yang seperti ini bukan?" Sebenarnya Fika sudah lama ingin menyerah, sebagai seorang istri ia tidak tahan jika diperlakukan layaknya orang asing oleh suaminya sendiri,namun ia bertahan demi sang putri tercinta.


Saka menatap kearah Fika, "Apa kamu keberatan?"


Fika terdiam menatap kearah Saka yang sama sekali tidak mengerti perasaannya, "Tidak..." Iapun melangkah keluar dari ruangan itu dengan hati yang dipenuhi luka.


Saka menghela nafas,ia meraup wajahnya yang begitu tegang,ia benar-benar sudah melukai hati Fika,namun apa yang bisa ia lakukan,ia hanya ingin putrinya bahagia.


Saka membuka laci,melihat foto pernikahannya dengan Fika,namun wajah Fika yang dulu dan sekarang sangatlah berbeda, "Andai kamu tidak pernah pergi,aku tidak akan melakukan hal seperti ini," ungkapnya dengan penuh penyesalan.


Ponsel Saka berbunyi,ia segera memasukkan kembali foto itu kelacinya lalu mengangkat telfonnya, matanya terbelalak mendengar kabar dari sang asisten.


"Apa tidak bisa ditangani?"

__ADS_1


"Maaf tuan,saya sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi massa terlalu banyak,kami harap tuan bisa datang untuk mengurus semuanya," ucap Aryo yang saat itu sedang berada dibalik jendela sembari mengintip keluar,dimana banyak massa yang berdemo didepan kantor grub WINA,menuntut gaji mereka yang belum dibayarkan pasca kebakaran pabrik.


Fika sedang menemani sang putri bermain diruang tengah, tempat biasanya mereka menghabiskan waktu bersama,Saka melangkah terburu menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi,membuat sang putri dan istrinya merasa heran.


"Sayang,papa pergi dulu ya,ada pekerjaan mendadak," ucap Saka sembari mengusap lalu mengecup rambut putri kecilnya.


Mita langsung memasang wajah cemberut, "Papakan baru pulang,masa udah pergi lagi," protes Mita yang bahkan belum sempat bermain dengan papanya.


Mendengar itu,dada Fika juga merasa sesak, sepenting itukah pekerjaan suaminya,hingga tidak ada waktu untuk Mita.


Saka menangkup wajah Mita, "Sayang,papa janji,hanya 2 hari,setelah itu,kita akan pergi jalan-jalan,"


"Janji,"


Saka menganguk,lalu mendapat pelukan hangat dari putrinya,ia melirik kearah Fika yang hanya memasang wajah kecewa tanpa berucap satu katapun.


Hingga Saka segera pergi untuk mengurus grub WINA yang tidak berada satu kota dengan rumah yang ditempati anak dan istrinya itu.


Fika sebenarnya merasa sangat heran, Kenapa dia dan Mita harus tinggal jauh dari Saka,padahal Saka juga mempunyai apartemen mewah dikota itu,namun ia enggan mengajaknya dan juga Mita untuk tinggal disana,ia bahkan lebih senang bolak balik dengan jarak yang cukup jauh,entah apa sebenarnya yang disembunyikan Saka dari Fika, terkadang Fika ingin sekali keluar untuk mencari tahu semuanya,namun niatnya selalu menciut,takut jika justru kebenaran itu membuatnya sakit hati.Ia lebih memilih berdiam diri dan mengurus putri kecilnya dengan baik.


"Ma..." Panggil Mita yang membuyarkan lamunan Fika.


"Iya sayang," Fika menarik sang putri kepangkuannya.


"Bukannya besok hari ulang tahun papa,Mita ingin merayakannya," keluh Mita dengan wajah penuh harap.


Fika terdiam,benarkah besok ulang tahun Saka,bahkan ia tidak mengingatnya,putrinya benar-benar anak yang cerdas.


"Kita akan merayakannya saat papa kembali,ya?"


Mita menggeleng cepat,ia tidak biasanya terlambat mengucapkan ulang tahun kepada papanya,dan ia tidak ingin melakukannya.


"Ayo kita pergi menyusul papa,kita berikan kejutan untuknya," usul Mita dengan antusias.


Fika terdiam dan berpikir,dia belum pernah pergi jauh sebelumnya,apalagi keluar kota,tapi ia juga tidak ingin membuat putrinya kecewa.


"Ma...maukan?" Mita memaksa sembari menarik-narik baju Fika.


"Mama akan meminta bantuan pak Roni (sopir),kalau dia tahu alamat papa,kita akan kesana," jawab Fika membuat Mita tersenyum bahagia dan langsung memeluk sang Mama.


Saka berada didepan pabrik usai massa berhasil dibubarkan dengan beberapa syarat,Saka menghampiri Rama yang membantu mengamankan lokasi.


"Terimakasih atas bantuannya," ucap Saka menyalami Rama.


Rama menganguk,keduanya saling menatap dan merasa tidak asing satu sama lain.


"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya," celetuk Saka.


Rama menganguk,ia mengingatnya dengan jelas, "Saya yang mengurus kasus kecelakaan istri anda 3 tahun yang lalu,"


Saka terdiam,secara tidak langsung Rama mengetahui jika istrinya sudah meninggal,dan Fika yang sekarang tinggal bersamanya bukanlah istrinya yang sbenarnya,ia berharap Rama tidak akan pernah bertemu dengan Fika,toh..mereka tidak tinggal dalam satu kota.


"Baiklah,senang bisa bekerja sama dengan anda," ucap Saka yang merasa jika Rama sudah banyak berjasa dalam membantunya.

__ADS_1


Rama menganguk lalu segera berpamitan untuk kembali kekantor.


__ADS_2