Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Melihat Wajahnya Lagi


__ADS_3

Mita begitu bersemangat saat mobil yang ia naiki meluncur menuju Apartement sang papa,ia begitu terlihat bahagia,akhirnya bisa merayakan ulang tahun papanya hari ini,Fika sengaja tidak memberitahu kedatangannya kepada Saka,karena Mita sendiri yang meminta ingin memberikan kejutan untuk papanya.


"Pak..jika melewati toko kue, berhentilah sebentar," pinta Fika pada sang sopir.


"Baik Non," jawab Sopir itu seorang pria yang sudah setengah baya,namun ia masih mahir kalau hanya menyetir antar kota.


Rama sedang dalam perjalanan menuju kekantor dengan mobilnya, ponselnya berbunyi.


"Ada apa?" Jawab Rama.


"Hari ini Rehan ulang tahun,bisakah membelikan kue untuknya,aku sedang sibuk dengan kasus kecelakaan kemarin hingga lupa,Tiara bisa mengamuk jika aku tidak membelikannya,"


Rama menghela nafas,sejak menjadi seorang ayah,Rian begitu sering melupakan hal-hal semacam ini,dan pasti Rama yang menjadi sasaran untuk membantunya.


"Baiklah," jawab Rama yang langsung menutup telefon karena tidak ingin memperpanjang percakapan dengan Rian,iapun melihat lokasi penjual kue dimedsos dan langsung OTW kesana.


Ditoko kue,Mita memilih sendiri kue ulang tahun untuk sang papa,Fika membiarkan putrinya itu yang terlihat sangat antusias, sebuah kue berukuran cukup besar dengan tulisan "Happy birthday papa" mereka beli dan segera dibungkus untuk dibawa menemui Saka.


Rama baru saja masuk ketoko kue yang sama,dan memilih kue sederhana yang terpampang di etalase,saat ia berbicara dengan karyawan,saat itu pula Fika melewatinya sembari menuntun sang putri keluar dari toko tersebut.


Rama menoleh kebelakang,entah kenapa hatinya tiba-tiba bergetar seperti merasakan kehadiran seseorang yang tidak asing.


Tapi tidak ada siapapun disana,hanya nampak seorang perempuan yang sedang menuntun gadis kecil sudah menuju keparkiran,Rama menggelengkan wajahnya, berusaha menghilangkan perasaan aneh itu dari hatinya.


"Jadi gimana pak?" Tanya karyawan toko yang melihat Rama justru melamun.


"Iya..yang ini saja," jawab Rama dengan sedikit gugup,ia masih saja merasakan perasaan aneh itu, jantungnya tidak berhenti berdebar,bahkan ia memegangi dadanya untuk bersikap lebih tenang.


Nyanyian riuh anak-anak panti menyanyikan lagu ulang tahun untuk Rehan putra Al Rian,putra dari Tiara dan Rian yang berulang tahun kedua,Rehan terlihat begitu lucu dan tampan berada di gendongan sang ayah.


Rama serta Fatma juga hadir diacara tersebut untuk memberikan selamat kepada Rehan,serta membawa kado spesial untuk Rehan.


Acara berjalan lancar dan cukup meriah,Rian sekeluarga sangat bersyukur bisa mengadakan acara ulang tahun bersama dengan bahagia.


Rian menghampiri Rama yang sedang duduk sendirian,saat acara masih belum selesai, anak-anak masih bermain dengan badut yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara.


"Makasih ya kuenya," ucap Rian sembari menepuk pundak sahabatnya itu lalu duduk disampingnya.


"Ini ulang tahun kedua anakmu,dan kedua kalinya aku membelikan kue untuknya," sindir Rama karena tahun lalu kejadian yang sama juga terjadi.


Rian mengerucutkan mulutnya, sindiran Rama benar-benar menyinggungnya, "Kamu tahu,aku mendapat banyak kasus akhir-akhir ini,wajar jika aku lupa,"


Rama hanya diam seakan tak percaya dengan alasan yang diberikan Rian,karena alasannya tetap sama, terkadang Rama sendiri merasa curiga pada sahabatnya itu,ia tahu bagaimana pekerjaannya dikantor,tapi sampai melupakan ulang tahun anaknya sendiri,bukankah itu sedikit keterlaluan.


"Baiklah,aku pergi dulu," Rama berpamitan karena masih ada yang harus ia urus,iapun pulang bersama dengan Fatma.


Jam menunjukkan pukul 20.45,Saka baru saja pulang dari kantor,ia membuka pintu apartemennya.


"Surprise..." Teriak Mita dan Fika dengan kue ulang tahun ditangan Mita.


Saka sangat terkejut dengan kehadiran istri dan anaknya tersebut,bukan karena kejutan ulang tahun yang mereka berikan,tapi karena mereka yang tiba-tiba datang tanpa memberi kabar,bukannya senang,justru ketegangan nampak diwajah Saka.


"Selamat ulang tahun papa," ucap Mita dengan begitu tulus sembari menyodorkan kue itu agar Saka menutup lilinnya yang masih menyala.


Saka berlutut dilantai untuk mengimbangi tinggi sang putri,meniup lilin itu lalu mengusap lembut kepala Mita, "Terimakasih sayang,"


Mita mengecup pipi sang papa,membuat Fika tersenyum bahagia melihat kedekatan sang putri dengan ayahnya.


"Selamat ulang tahun," ucap Fika yang disambut lirikan tajam dari Saka, sekarang apalagi kesalahan yang sudah ia perbuat hingga Saka terlihat begitu marah.


Mita sedang sibuk memakan kue dengan begitu lahap sembari menonton tayangan kartun favoritnya,Saka beranjak dari tempat duduknya, "Ikutlah denganku," bisiknya ketika berjalan melewati Fika.


Fika menghela nafas,sedari tadi tatapan Saka seperti ingin membunuhnya,dan sekarang apa yang akan dia bicarakan,iapun melangkah berat mengikuti sang suami menuju kebalkon.


"Bukankah sudah kukatakan,jangan pernah datang kekota ini, kenapa kamu justru melakukannya,bahkan tanpa memberitahuku," bentak Saka yang terlihat sangat marah dengan tindakan Fika.


Fika terdiam,sikap sang suami yang seperti ini bukankah membuat dirinya semakin curiga,apa yang sebenarnya terjadi,kenapa Saka begitu marah hanya karena ia datang kekota ini,apa pernah terjadi sesuatu disini yang tidak ia ingat.

__ADS_1


"Aku akan menyiapkan mobil,kita pulang malam ini juga," ucap Saka lalu melangkahkan kakinya pergi.


"Tunggu,"


Saka menghentikan langkahnya menatap kearah Fika yang juga menatapnya.


"Tapi Mita masih ingin berada disini,dia ingin bersama dengan papanya, apakah itu salah?" Kali ini Fika tidak bisa terus diam melihat Saka bersikap seenaknya.


Saka menyunggingkan bibirnya, akhirnya sang istri yang selama ini diam dan tak pernah sekalipun melawan ucapannya mulai membuka mulutnya.


"Aku akan tetap membawanya pulang,dia tidak akan membantah ucapanku,dia putriku," ucap Saka dengan keyakinan penuh lalu melangkah masuk untuk menemui Mita.


Fika berusaha menahan amarahnya yang sudah berada diubun-ubun,pria seperti apa yang sebenarnya sudah ia nikahi dulu, benarkah mereka menikah karena cinta,bahkan Fika meragukan hal itu sekarang,iapun mengikuti langkah Saka ketika sudah mulai tenang.


"Mita sayang,kita pulang ya?" Ajak Saka sembari mengusap lembut kepala Sang putri.


Mita menatap kearah papanya dengan wajah cemberut, meskipun masih kecil terkadang Mita juga merasa jika papanya tidak ada cukup waktu untuk bersamanya.


"Mita masih ingin berada disini bersama papa,Mita ingin pergi jalan-jalan,Mita melihat Taman yang sangat indah,papa akan mengajak Mita kesana bukan?" Tanya sang putri dengan polosnya.


Saka terdiam,Fika yang baru saja datang hanya diam dan membiarkan sendiri sang suami tahu keinginan putrinya.


"Tapi sayang..."


"Hanya satu Minggu,Mita ingin disini bersama papa,papa sayang Mitakan?" Mita memasang wajah yang begitu memelas.


"Mita berjanji tidak akan menggangu pekerjaan papa,plis..."


Saka masih berpikir,ia melihat kearah Fika yang langsung memalingkan wajahnya seakan tak peduli,Saka mendengus kesal dengan sikap istrinya itu.


"Baiklah sayang,tapi berjanjilah kamu tidak akan keluar tanpa izin dari papa, mengerti?" Saka tidak ingin membuat putrinya kecewa.


"Siap pa," jawab Mita sembari memberi hormat pada Saka,membuat Saka gemas dan langsung memeluknya.


Fika menatap mereka, meskipun ia sangat kesal pada Saka,pada kenyataannya Saka bukanlah Ayah yang buruk,ia akan melakukan apapun demi sang putri tercinta.


Pagi menyapa,hari ini Mita sudah bersiap karena Saka berjanji akan membawanya ketaman yang ia lihat kemarin.Ia sangat bersemangat,ini pertama kalinya Mita datang ketempat papanya bekerja, datang ketempat baru yang cukup indah membuatnya terlihat bahagia.


"Sayang,kita ketaman besok saja ya,papa ada pekerjaan mendadak," ucap Saka sembari memegang pipi Mita.


Wajah Mita yang tadinya berbinar langsung cemberut,Fika mendengus kesal.


"Dasar pria ini," batinnya kesal seakan ingin menendang suaminya hingga keluar angkasa.


Melihat putrinya yang merajuk membuat Saka bingung, "Baiklah,kamu pergi dengan mama diantar sopir,usai bekerja papa akan menyusul, bagaimana?"


Meskipun masih cemberut,tapi Mita menganguk,lalu melanjutkan sarapannya.


Saka melihat kearah Fika, "berhati-hatilah,kamu belum pernah datang kesini sebelumnya,jadi jangan bicara dengan orang yang tidak dikenal," ucap Saka mengingatkan sang istri.


Fika tersenyum, "Aku bukan anak kecil," bantah Fika dengan wajah kesalnya.


"Turuti saja omonganku," Saka seakan sedang mengancam Fika lalu iapun segera pergi menuju kekantornya.


Fika hanya menghela nafas berat,ia akan gila jika terus berhadapan dengan pria seperti Saka.


Rama sedang mengemudi menuju kekantornya,ia berhenti saat lampu merah menyala,sebuah mobil mewah berhenti disamping mobilnya,Rama membuka kaca mobilnya dan menoleh kearah mobil itu.


Kebetulan dimobil itu Fika sedang merapikan baju Mita dengan menunduk kebawah saat Mita membuka kaca mobilnya.


Rama melihat anak kecil yang manis membuatnya tersenyum,iapun melambaikan tangan,dibalas oleh Mita sambil tersenyum.


"Siapa sayang?" Fika mengangkat wajahnya dan melihat keluar jendela.


Melihat wajah Fika,Rama langsung membeku, matanya hampir melompat keluar karena merasa tidak percaya.Fika hanya terdiam,melihat ekspresi Rama membuatnya memalingkan wajahnya dan menutup kaca mobilnya mobilnya dengan cepat.


Lampu hijau menyala,mobil mewah itupun melaju,namun Rama masih diam dalam lamunannya, "Zahra..."

__ADS_1


"Tut..." Suara klakson mengangetkan Rama,mobil dibelakang masih menunggu dengan tidak sabar,Ramapun bergegas mengemudikan mobilnya dengan tubuhnya yang masih gemetar seperti habis melihat hantu.


"Lain kali,jangan menyapa orang asing," Fika mengingatkan sang putri, seperti yang selalu Saka ingatkan padanya.


Mita menganguk tanda mengerti.


Rama menghentikan mobilnya ditepi jalan,ia masih tidak bisa mengontrol dirinya sendiri,apakah benar yang tadi dia lihat, ataukah hanya halusinasi semata,sangat jelas ia melihat wajah sang istri,tapi jika benar itu Zahra kenapa ia justru menghindarinya.


Rama meraup wajahnya berkali-kali, "Apa aku benar-benar sudah gila? Ya Allah..." Rama begitu terlihat frustasi.


Mita bermain ditaman dengan begitu bersemangat,ia menaiki berbagai permainan yang tersedia disana, sementara Fika duduk sambil mengawasinya,melihat putrinya yang sangat bahagia membuat Fika juga merasa bahagia, udara ditempat ini sangat sejuk, meskipun tempatnya berada dipinggiran kota,namun banyaknya pohon besar membuat suasana bising jalan raya sama sekali tidak terdengar.


"Ma...Mita lapar," keluh Mita sembari memegangi perutnya setelah bermain beberapa saat.


Fika mengusap rambut putrinya, "Kalau begitu,ayo beli makan,"


Mita menggeleng cepat, "Mita masih ingin bermain,mama saja yang belikan,"


Fika terdiam,tidak mungkin meninggalkan Mita sendirian,ini tempat asing baginya, meskipun tempatnya cukup sepi.


"Sayang,kita beli makan dulu ya," paksa Fika.


Mitapun terpaksa menyetujui mamanya,Fika tersenyum lalu menggendong putri kecilnya itu menuju kemobil untuk pergi makan.


Rama sedang berada dikantor,ia masih melamun dengan pikirannya yang masih dihantui rasa penasaran dengan seseorang yang ia lihat sangat mirip dengan Zahra pagi tadi, entah kenapa wajah perempuan itu selalu muncul dikepalanya.Rian datang dengan berkas ditangannya, "Selidiki kasus bunuh diri di Resto Cempaka,"


Rama melihat kearah Rian lalu membuka berkas didepannya, "Bukannya sudah ditutup, keluarganya bilang tidak ingin melanjutkan kasus ini bukan?"


Rian hanya mengangkat kedua bahunya pertanda ia tidak mengerti, "Mungkin keluarganya mulai berpikir bahwa sebenarnya ini bukanlah kasus bunuh diri, seperti yang kita katakan dari awal,"


Rama hanya menghela nafas,memang ada beberapa orang yang terkadang suka seenaknya sendiri dan punya pendapat masing-masing,Ramapun beranjak dari tempat duduknya untuk mengurus kasus ini.


Entah kebetulan atau memang sebuah takdir,Fika dan Mita sedang makan diResto Cempaka,Mita makan ayam goreng dengan begitu lahap, sepertinya ia benar-benar lapar, sementara Fika hanya memesan minuman hangat.


"Sayang,mama ketoilet sebentar,kamu tunggu disini ya?"


Mita menganguk,Fikapun segera menuju ketoilet,merasa jika Mita akan aman karena ini tempat umum, tidak akan ada yang menculiknya bukan.


Usai makan,Mita mencuci tangannya,namun minumannya habis,ia kehausan dan berjalan kesana kemari mencari minum.


Mita sampai diteras, kebetulan mereka berada dilantai dua resto tersebut.


Rama sedang memeriksa tempat jatuhnya korban dari lantai dua teras Resto Cempaka, tidak ada jejak apapun, karena sebelumnya memang keluarga meminta agar kasusnya tidak dilanjutkan jadi semua jejak sudah dibersihkan.


"Om.." panggil Mita membuat Rama menunduk melihatnya.


Rama mengenali gadis kecil tadi,iapun berlutut untuk mengimbangi tinggi badan Mita, "Iya sayang?"


"Mita haus," Mita menunjukkan gelasnya yang kosong dengan wajah yang sangat menggemaskan.


Rama langsung terkekeh dan mencubit pipi Mita dengan gemas,lalu mengambilkan air untuk Mita.


Mitapun segera minum,Rama mengusap kepala gadis kecil itu.


Fika yang kembali dari toilet panik saat melihat putrinya tidak berada ditempat,iapun mencari Mita kesana kemari,hingga melihat Mita yang sedang diteras bersama dengan seorang pria berjaket hitam,Fika bergegas menghampiri mereka karena merasa takut dan curiga jika pria itu adalah penculik.


Iapun dengan sekuat tenaga menarik jaket Rama dan melayangkan satu pukulan kewajahnya.


"Jauhi putriku," pekik Fika.


Rama masih menunduk memegangi pipinya yang memerah akibat pukulan Fika yang begitu kuat, sementara Fika menarik Mita dan menyembunyikannya kebelakang badannya.


"Jangan coba-coba menculik putriku," bentak Fika lagi yang membuat beberapa orang menatap kearah mereka.


Rama terlihat kesal,ia mengangkat wajahnya menatap perempuan yang sedari tadi memakinya tanpa alasan yang jelas.


Deg...

__ADS_1


Mata Rama terbelalak menatap wajah didepannya,wajah yang selalu ingin ia lihat,wajah yang benar-benar ia rindukan,wajah yang selalu ia ingat saat memanjatkan doa kepada Allah,wajah itu,kini benar-benar nyata didepannya, jantungnya mulai bergetar,hatinya melemah, matanya berkaca dan lidahnya kelu.


Fika juga menatap diam kearah Rama,melihat tatapan Rama yang begitu dalam entah Kenapa ada perasaan aneh yang menjalar keseluruh tubuhnya,ada getaran yang membuat hatinya yang tadinya panik dan marah tiba-tiba menjadi sangat sejuk,siapa pria ini sebenarnya,apakah mereka pernah bertemu sebelumnya.


__ADS_2