
Rama mendengar suara motor yang mendekat,iapun segera bangun dan menarik tangan Zahra untuk bersembunyi.
Salah seorang penjaga itu memeriksa motor yang berada ditepi jurang,dan melihat jurang yang gelap gulita serta jejak Zahra disana.
"Kayanya mereka jatuh?" ucap Penjaga itu.
"Ya sudah,kita lapor kebos besar," ucap penjaga lainnya dan merekapun segera pergi.
Rama dan Zahra merasa lega,paling tidak mereka selamat dari para penjaga itu.
Zahra melihat lengan Rama yang berdarah,iapun mengambil sapu tangan ditasnya dan berusaha membalut luka itu.
Rama menghindar, "Gak perlu,"
Zahra memaksa tanpa menghiraukan penolakan Rama.
"Akh..." Rama meringis.
Keduanya saling melihat dan terdiam untuk beberapa saat.
Sampai akhirnya suara aungan serigala menyadarkan mereka dan langsung memalingkan wajah masing-masing.
Rama memeriksa motornya,tapi tidak mau menyala,tidak bisa digunakan lagi.
"Apa tempatnya masih jauh?" Tanya Zahra.
"Sekitar 10 km,"jawab Rama membuat Zahra menganga.
"Tapi ada perkampungan warga disekitar sini,kita bisa kesana untuk meminta bantuan," ucap Rama lalu mengambil botol minum dimotornya dan mulai melangkah menyusuri hutan diikuti Zahra dibelakangnya.
Mereka menyusuri hutan yang hanya memanfaatkan sinar rembulan sebagai cahaya yang menerangi jalan mereka.
Terlihat jelas ketakutan diwajah Zahra, mendengar suara-suara aneh yang menggema ditelinganya, membuatnya terkadang menabrak tubuh Rama berkali-kali karena langkahnya yang gemetar,membuat Rama sedikit kesal.
"Kamu jalan duluan," ucap Rama.
Zahra menggelengkan kepalanya, bagaimana kalau Rama tiba-tiba meninggalkan nya saat dia berada didepan.
"Kamu gak berniat ninggalin akukan?" Tanya Zahra sembari menggigit bibir bawahnya menaruh curiga pada pria yang berada didepannya itu .
"Harusnya aku biarin kamu jatuh kejurang,sangat menyusahkan," ucap Rama lalu kembali melangkah.
Zahra cemberut dan kembali mengikuti langkah Rama.
Ana berusaha menghubungi Zahra dengan wajah cemas,begitupun Tiara,pasalanyaZahra pergi tanpa berpamitan pada mereka.
"Duh,Zahra kemana sih,bikin bingung aja," keluh Ana sambil duduk dan memijit pelipisnya yang akhir-akhir ini sering dibuat pusing dengan perilaku Zahra.
Tiara mencoba berpikir, "Apa dia mencari neneknya,sejak kemarin hanya itu yang dia pikirkan," ucap Tiara yang sangat paham dengan sahabatnya itu.
Ana membenarkan perkataan Tiara yang mungkin memang benar.
"Aku akan coba menghubungi Bu Fatma," ucap Ana lalu mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Iya Ana,apa Zahra membuat masalah lagi," tanya Fatma yang sudah bisa menduga maksud dari telepon Ana.
"Bu,Zahra menghilang,sepertinya dia mencari neneknya," ucap Ana membuat Fatma membelalakkan matanya.
"Tidak mungkin,aku mengirim neneknya ketempat jauh diluar kota,Zahra tidak akan menemukannya," jawab Fatma.
"Lalu dimana Zahra,ponselnya tidak bisa dihubungi,apa dia diculik?" Ucap Ana justru membuat Fatma cemas.
Tiara melotot pada Ana,
"Stttt," Ana sepertinya sengaja memancing Fatma agar mau membantunya mencari Zahra.
"Aku akan coba mencarinya," ucap Fatma lalu segera mematikan teleponnya.
"Kenapa kamu bilang Zahra diculik?" Tanya Tiara merasa keberatan dengan ucapan Ana.
"Udahlah,biar Bu Fatma minta bantuan suaminya buat cari Zahra,pasti ketemu," ucap Ana dengan santai.
Tiara bersendakap menatap Ana dengan wajah kesal,lagi-lagi Zahra harus berurusan dengan ayah tirinya itu.
Entah sudah berapa jauh mereka berjalan menyusuri hutan,tetap tidak nampak adanya perkampungan warga,atau mereka justru nyasar.
Keduanya mulai merasa lelah,Rama meminum air yang dibawanya lalu juga memberikannya pada Zahra.
Rama duduk untuk beristirahat sejenak,ia mengeluarkan ponsel,pukul 23.00,tapi tidak dapat menggunakan ponsel karena tidak ada sinyal.
Alat komunikasi pun tidak bekerja dengan baik,Rama menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya kesebuah pohon besar sembari memejamkan matanya untuk berfikir.
Zahra hanya diam menatap pria didepannya itu,ia tahu kebingungan yang sedang dihadapi Rama,tapi apa yang bisa ia bantu sekarang,ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa.
"Tapi...."
"Pergilah jika kamu mau,aku tidak memaksamu untuk tinggal," ucap Rama dengan tegas bahkan Zahra belum mengatakan apapun.
Zahra kembali diam dengan wajah kesal.
Rama mengumpulkan daun kering dan juga ranting untuk membuat api,udaranya cukup sejuk jika tidak dihangatkan maka mereka mungkin akan mati kedinginan.
Apipun menyala,keduanya duduk saling berhadapan didepan api untuk menghangatkan diri.
"Kruyuk...." Perut Zahra berbunyi,yah,dari pagi dia belum makan apapun,bahkan saat divilla pun ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang disiapkan pelayan karena takut akan diracuni.
Zahra memegang erat perutnya berharap Rama tidak mendengar bunyi yang keluar begitu keras itu.
Rama menatap kearah Zahra, "Lapar?" Tanya Rama dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Zahra menggelengkan kepala membuat Rama menyunggingkan bibirnya,sudah jelas terdengar tapi masih bisa mengelak.
"Dasar pembohong, " gumam Rama.
Rama mengambil sebungkus biskuit ditasnya dan melemparkan nya kearah Zahra.
Zahrapun menangkapnya dan melihat kearah Rama, "Aku gak lapar kok," ucap Zahra masih bisa berbohong.
__ADS_1
"Kalau begitu kembalikan,biar aku saja yang makan," Rama mengulurkan tangannya.
Zahra terdiam dengan wajah bingung,perutnya tidak bisa diajak kompromi lagi,kalo tidak makan ia tidak akan punya tenaga untuk bangun.
Rama masih menunggu sembari menggoyangkan telapak tangannya.
Zahra membuka bungkus biskuit itu dan mengambil satu biji, "Aku akan makan satu," ucap Zahra malu-malu Lalu mengembalikan sisanya pada Rama.
Rama menyunggingkan bibirnya, "terserah," lalu memakan dengan lahap biskuit yang lain.
Zahra makan dengan pelan,makanan yang sangat berharga untuknya saat ini kenapa terasa begitu nikmat.
Seusai makan Rama kembali bersandar dipohon lalu memejamkan matanya,iapun mulai menjelajah kealam mimpi,sementara Zahra tetap tidak bisa tidur,apalagi suara-suara aneh itu begitu mengganggu telinganya,bagaimana jika hewan buas menerkam saat ia memejamkan matanya, kekhawatiran itu selalu menghantui pikirannya.
"Hana...Hana...jangan tinggalin aku Hana," Rama mengingau dengan wajah berkeringat sembari terus memanggil nama Hana.
Zahra mulai cemas melihatnya,iapun mendekat kearah Rama dan memegang lengan pria yang masih mengigau itu berharap Rama menjadi lebih tenang.
"Hana,.." nafas Rama memburu,tubuhnya terasa dingin dan wajahnya pucat,mungkin karena luka yang ia alami.
Zahra terlihat gugup mengusap keringat didahi Rama dengan sangat lembut,Ramapun menyandarkan kepalanya kepundak Zahra.
Deg...
Perasaan apa ini,Zahra membelalakkan matanya,tubuhnya terasa kaku,lehernya tercekat hingga ludahpun sulit tertelan.
Zahra mengedipkan matanya berulang kali dan berusaha menyadarkan dirinya yang terasa seperti terhipnotis.
Rama terlihat tenang dan kembali tertidur dipundak Zahra,Zahra hanya diam ia tidak ingin Rama terbangun jika ia bergerak.
Wajah yang penuh dengan kegelisahan dan kerinduan,itulah yang nampak diwajah pria itu,Zahra terus menatap wajah itu dengan hatinya yang tidak berhenti berdebar.
Rasa penyesalan yang selalu menghantuinya karena sudah membuat pria baik seperti Rama mengalami banyak kesulitan.
Ngantukpun mulai menyapa, Zahrapun memejamkan dan mulai tertidur,dia yang tadinya sangat takut tapi saat didekat Rama justru ia bisa tertidur pulas.
Pagi menjelang,sinar mentari membuat mata Zahra silau,iapun mengerjapkan mata dan mulai bangun,tidak nampak seorang pun disekitarnya,ia langsung berdiri dengan perasaan campur aduk.
"Apa dia meninggalkan ku?" Batin Zahra yang merasa sesak didadanya,iapun mulai melangkah dan mencari pria itu,berharap ia masih ada disekitarnya.
Entah kenapa Zahra berharap Rama masih disana dan tidak meninggalkan nya sendirian,ia tidak ingin Rama meninggalkannya,kenapa?
Rama melihat dari balik pohon,perempuan itu terlihat gelisah sembari berjalan kesana kemari.
Flashback on.
Rama mengerjapkan mata,ia melihat wajah Zahra yang begitu dekat dengannya,entah kenapa perasaannya jadi tidak karuan,Rama mengangkat tangan dan mengusap lembut wajah itu.
Detik berikutnya ia langsung menarik tangannya lalu membangunkan tubuhnya,dan berusaha menekan perasaan aneh yang ia rasakan.
Rama mengusap wajahnya berkali-kali,apa yang ia rasakan ini tidaklah benar,ia sangat membenci perempuan itu, perempuan yang sudah melenyapkan Hana dan bahkan tidak mengakuinya.
Ramapun bangun untuk mencari aliran air agar ia bisa membersihkan diri dan menunaikan sholat subuh serta menenangkan pikirannya yang sedang galau tingkat tinggi.
__ADS_1
Flashback off.