
Zahra datang kerumah neneknya,tapi tidak ada seorangpun,pintu rumahpun terkunci rapat,kemana nenek dan Aira,apa mereka benar-benar pergi,tapi kenapa?
Pikiran Zahra dipenuhi banyak pertanyaan,sampai ia mengingat seseorang yang mungkin tega melakukan ini padanya.
Zahra kembali kemobilnya.
Istana kebesaran Bimo,Zahra masuk dengan brutal dan langsung berteriak.
"Ibu...ibu..." Teriak Zahra dengan begitu nyaring.
Inem sang pembantu menghampiri Zahra.
"Non Zahra,ada apa datang kemari?" Tanya Inem.
Zahra menatap tajam kearah Inem, mengingat pertemuan terakhir mereka yang tidak menyenangkan.
"Dimana ibu?"
"Zahra," Fatma berjalan menuruni tangga dan berjalan kearah Zahra.
"Kamu gak perlu teriak-teriak begitu,gak sopan sayang," ucap Fatma dengan wajah tanpa dosa.
Zahra menatap tajam kearah ibunya, "Ibukan yang nyuruh nenek pergi?"
"Maksud kamu apa Zahra,ibu gak ngerti," ucap Fatma pura-pura bodoh membuat Zahra semakin kesal.
"Kenapa sih Bu,cuma nenek yang peduli sama aku selama ini,tapi kenapa ibu justru menyuruh nenek meninggalkan aku Bu," keluh Zahra tidak percaya dengan apa yang diperbuat oleh Fatma.
"Zahra,mereka itu cuma memanfaatkan kamu,dan juga menghambat karir kamu,kamu sadar dong," ucap Fatma.
"Ibu Bener-bener tega sama anak ibu sendiri,apa kebahagiaan aku gak ada artinya lagi buat ibu sekarang?" Ucap Zahra dengan suara gemetar menahan tangis.
"Justru karena ibu memikirkan kebahagiaan kamu,makanya ibu melakukan semua ini Zahra," Fatma masih tidak mau mengakui kesalahannya.
Zahra menggeleng tak percaya, ibunya benar-benar sudah berubah,hanya rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan saat ini,iapun beranjak pergi meninggalkan rumah neraka itu dengan derai air mata yang membasahi pipi.
"Zahra," panggil Fatma dengan wajah sedih, apapun yang ia lakukan demi Zahra,tapi kenapa Zahra selalu tidak menerima nya.
Bimo melihat drama antara ibu dan anak yang sangat menghibur dari lantai atas,senyum menyeramkan itu kembali menghiasi wajah Bimo,yang sudah dipenuhi dengan rencana-rencana busuk.
Tiara mengusap lembut Surai rambut Zahra yang terbaring dipangkuannya.
Ia sangat mengerti kepedihan yang Zahra rasakan,kenapa begitu banyak cobaan yang harus perempuan ini hadapi.
"Kenapa ibu bisa begitu tega sama aku?apa salah aku sebenarnya?" Ucap Zahra dengan air mata yang tertahan dipelupuk matanya.
__ADS_1
Tiara bingung dan juga tidak tahu harus menjawab apa,ia hanya bisa memberikan dukungan untuk sahabat nya itu.
"Ra,mungkin ini cobaan yang harus kamu hadapi, kamu yang sabar ya," ucap Tiara.
"Tapi apa salah nenek,kenapa ibu melibatkan nenek dalam masalah ini, bahkan nenek gak tau apa-apa," imbuh Zahra.
"Ra, meskipun cara ibu kamu salah,tapi setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka, dan mungkin ini adalah cara ibu kamu menunjukkan rasa sayang nya kekamu," Tiara berusaha memahami dari sudut pandang Fatma.
Zahra bangun dan menatap sahabatnya itu, "Tapi aku gak butuh semua itu Tiara, aku cuma mau ibu yang dulu, yang sayang sama aku meskipun kami dalam keadaan sulit,bukan ibu yang hanya mementingkan karir dan harta,apalagi sampai menyingkirkan orang-orang disekitar aku demi obsesi nya," ujar Zahra yang terlihat begitu kecewa dengan sikap Fatma.
Tiara mengusap rambut Zahra, "Ra,aku tahu,tapi kalau sikap kamu terus seperti ini, kamu dan ibu kamu akan semakin menjauh,harus ada yang mengalah diantara kalian," Tiara mencoba menasehati.
Zahra terdiam memikirkan ucapan Tiara, memang benar jarak mereka semakin terasa jauh akhir-akhir ini,apalagi dengan banyak nya konflik yang terjadi.
"Kamu coba pikirin ya,gak semua orang beruntung masih memiliki seorang ibu,Ra," ucap Tiara lagi yang terkadang miris melihat anak-anak panti yang masih kecil harus kehilangan orang tua mereka,dan bahkan ia juga sudah tidak memiliki seorang ibu yang bisa memarahinya ketika ia berbuat salah.
Zahra menatap kearah Tiara,mengerti betul akan kesedihan nya.
"Maafin aku ya,udah buat kamu sedih," Zahra memeluk erat sahabatnya itu.
"Kamu gak perlu minta maaf Ra, kamu gak salah kok," ucap Tiara dengan senyum haru dibibirnya.
Adzan subuh berkumandang,begitu menyejukkan jiwa,Rama mengambil wudhu dan menunaikan kewajiban nya sebagai seorang muslim,usai sholat ia langsung bersiap untuk berangkat keMarga, tempat tujuannya untuk menyidiki kasus Si Bandit tua,Bimo.
Zahra sedang duduk didekat jendela,menikmati secangkir cokelat hangat yang membuat paginya menjadi lebih rileks.
Ponselnya berbunyi telepon dari orang yang paling ia benci,iapun mengabaikannya.
"Drrrtttt," ponselnya bergetar satu pesan masuk.
Zahra membukanya masih dari orang yang sama.
"Kamu gak mau tahu dimana nenek kamu?" pesan dar Bimo beserta foto neneknya dan Aira.
Zahra membelalakkan matanya,iapun menelfon kembali pria biadab itu.
Bimo tersenyum melihat Zahra menelefon.
"Sangat mudah terpancing," gumam Bimo lalu mengangkat telfon Zahra.
"Dimana nenek?" tanya Zahra dengan tegas tanpa basa basi.
Bukannya menjawab,Bimo justru tertawa keras membuat Zahra semakin penasaran.
"Dimana nenek?" Tanya Zahra lagi.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru sayang,aku akan dengan senang hati memberi tahu dimana nenek kamu,tapi kamu harus ikut denganku, sendirian," ucap Bimo.
"Jangan berani macam-macam,aku tidak akan mempercayai pria brengsek seperti mu,"
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya, jangan berharap kamu akan bertemu lagi dengan nenekmu," ucap Bimo dengan santainya membuat Zahra semakin bingung.
"Tapi,kalau kamu berubah pikiran,sopirku sudah menunggu didepan apartment, kamu tinggal ikut dengannya dan tidak perlu banyak bicara,mengerti sayang," Bimo mematikan ponselnya dengan keyakinan penuh, ia pasti berhasil memancing Zahra.
Zahra terdiam, pikirannya buntu,ia hanya ingin bertemu dengan neneknya, meskipun harus membahayakan dirinya sendiri,iapun segera bersiap dan memenuhi keinginan Bimo.
Menjelang siang Rama sampai dipos polisi terdekat,mobilnya hanya bisa sampai dilokasi tersebut sedangkan untuk memasuki hutan hanya bisa menggunakan mobil Jeep atau dengan motor.
Fatir dengan senang menyambut kedatangan Rama,iapun menjelaskan lokasi yang harus mereka datangi untuk penyidikan.
"Tapi penjagaan disana cukup ketat,kita harus sangat berhati-hati," ucap Fatir.
Rama menganguk dan paham betul akan ada banyak bahaya dalam penyidikan kali ini.
"Dalam jarak 5 km ada perkampungan warga,mereka melapor dalam sebulan terakhir ada dua warga mereka yang tewas tertembak saat mendekati lokasi tersebut," ucap Fatir membuat Rama membelalakkan matanya.
"Kami sudah mengirimkan surat laporan kekantor pusat,tapi sama sekali tidak ada respon,kamipun tidak bisa apa-apa tanpa bantuan dari kantor pusat karena mereka memiliki senjata," imbuh Fatir.
Rama menduga kalo ini pasti ulah atasannya,pak Tio yang sengaja tidak ingin mengusut kasus ini.
"Warga disini sangat ketakutan,mereka sama sekali tidak berani melawan karena taruhannya adalah nyawa mereka," imbuh Fatir lagi.
Rama mengnguk, "Aku sangat mengerti,aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengusut tuntas kasus ini," ucap Rama.
Fatir mulai bersemangat akhirnya ada seseorang yang mau mendukung dan juga membantunya.
"Baiklah,aku akan menyiapkan kendaraan agar kita bisa kelokasi itu secepatnya," ucap Fatir.
"Sebaiknya kita menggunakan motor,agar lebih aman," ucap Rama memberikan saran.
Fatir menganguk dan mulai bersiap.
Rama mengambil barang-barang penting dimobil nya seperti alat perekam,alat komunikasi, handphone,serta pistol untuk berjaga-jaga,ia memasukkan barang-barang itu ketas kecil yang akan ia bawa.
Zahra melihat kearah jendela,hanya ada pepohonan sejauh mata memandang,jalananpun mulai tidak bersahabat hingga mobil Jeep yang ia tumpangi bergetar hebat.
Ia sadar betul tempat ini begitu jauh dan mungkin dirinya akan menghadapi hal buruk,tapi ia harus menemukan keberadaan neneknya,orang yang paling ia sayangi didunia ini.
Mobil berhenti,didepan sebuah Villa ditengah hutan,Villa sederhana berlantai dua,disebelah Villa itu nampak bangunan serupa pabrik dengan beberapa ajudan berseragam hitam yang berjaga disana.
Seorang ajudan membuka pintu dan mempersilakan Zahra untuk masuk kedalam Villa itu,perasaan Zahra mulai terasa tidak nyaman,tapi ia tetap berusaha tenang,kalaupun ia ingin melawan sekarang sudah sangat terlambat ia pasti akan mati konyol tanpa mendapatkan apa-apa.
__ADS_1