Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Nenek Menghilang


__ADS_3

Keesokan harinya,Rama mengemudikan mobil menuju kekantor,ia melihat kerumunan dipinggir jalan,jiwa kepeduliannya begitu besar, Iapun melihat sesuatu yang menyebabkan kerumunan itu.


Ternyata seorang penjual Buah sedang memaki seorang nenek tua yang terduduk lesu karena telah menyeberang sembarangan hingga membuat pedagang Buah itu kehilangan keseimbangan dan barang dagangannya rusak.


"Maaf pak,tapi apa bisa masalah ini diselesaikan baik-baik,lihat nenek inikan sudah minta maaf," ucap Rama berusaha melerai keributan ynag terjadi.


Nenek itu menatap sayu kearah Rama,sedari tadi tidak ada yang berani membelanya.


"Trus gimana dong pak,barang saya banyak yang rusak,saya sudah rugi neh," jawab penjual buah itu.


"Saya akan ganti,berapa semuanya?" Tanya Rama yang begitu tulus ingin menyelesaikan masalah ini.


"500 ribu," jawab penjual itu.


Rama mengambil uang didompetnya dan menyerahkannya pada pedagang Buah itu.


"Gitu dong,lain kali kalo mau nyebrang nenek harus hati-hati," ucap pedagang itu lalu membereskan dagangannya dan berlalu pergi,orang yang berkerumun pun kembali keaktifitas mereka.


Nenek itu masih duduk dengan wajah tertunduk lesu.


"Terimakasih sudah membantu saya," ucap Nek Santi.


Rama berjongkok lalu menyentuh lengan Santi, "Nenek mau kemana?apa nenek sendirian?" Tanya Rama dengan sangat lembut.


"Tadi nenek pergi sama anak nenek,tapi kami terpisah dipasar,dan sekarang nenek mau pulang," jawab Santi.


"Ya udah,saya anterin nenek ya,sampai kerumah nenek," ucap Rama dengan ketulusan yang begitu nampak dimatanya.


Santi bisa dengan mudah menilai jika Rama bukanlah orang jahat,iapun bersedia untuk diantar Rama sampai kerumah.


Dipasar,Aira masih kebingungan mencari ibunya yang menghilang,ia sudah berkeliling kesana kemari dengan wajahnya yang cemas.


"Aduh,ibu kemana sih?" Gumam Aira.


Iapun mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


Zahra sedang dimake up dan bersiap untuk fotoshoot hari ini.


Ponselnya berbunyi,telefon dari nomor nenek.


"Halo," jawab Zahra.


"Halo Zahra,nenek hilang dipasar," ucap Aira membuat Zahra terperanjat.


"Kok bisa sih mbak?"


"Iya,tadi ibu maksa mau ikut kepasar,tapi pas aku tinggal nyari baju dia tiba-tiba udah gak ada,aku udah cari keliling pasar,tapi gak ketemu," ucap Aira panjang lebar.


Zahra terlihat cemas,khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada neneknya.


"Sekarang mbak dimana?" Tanya Zahra.


"Masih dipasar,"


"Ya udah,mbak tunggu,aku kesana," Zahra mematikan telefon dan bergegas pergi meninggalkan pekerjaannya yang sebenarnya juga cukup penting.


Rama dan Santi sedang dalam perjalanan.


"Nama kamu siapa nak?" Tanya Santi yang terlihat begitu nyaman bersama Rama.


"Rama nek," jawab Rama.


"Panggil saya nek Santi,kebetulan saya juga punya cucu,dia cantik pasti sangat cocok dengan pria tampan seperti kamu," ucap Santi.


Rama hanya tersenyum, "Emang nenek mau punya menantu seperti saya?"

__ADS_1


"Siapa yang tidak mau punya menantu yang baik dan tampan seperti kamu,nanti saya kenalkan sama cucu saya ya,kamu maukan,kamu pasti menyukainya," ucap Santi dengan begitu yakin.


Ramapun meladeni celetukan nenek itu dan tidak menganggapnya serius, "Iya nek,"


Jawaban itu membuat Nek Santi sumringah,tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah dan ia mulai terlihat pucat.


Rama dan nek Santi sampai didepan rumah,Rama menuntun nenek turun dari mobil tapi saat turun nenek Santi tiba-tiba pinsan membuat Rama panik.


"Nek..nenek," Rama membopong tubuh nenek tua itu dan membawanya masuk kembali kedalam mobil menuju keRumah sakit.


Zahra sampai dipasar,ia menemui Aira.


"Mbak,"


"Zahra,"


"Belum ketemu juga?" Tanya Zahra dengan wajahnya yang super cemas.


Aira menggelengkan kepalanya.


Merekapun kembali mencari berharap Nenek Santi masih berada disekitar pasar dan tidak terjadi sesuatu yang buruk pada nya.


Farel mencari Zahra ditempat make up tapi dia tidak ada disana,seperti biasa Rena mengikuti suaminya itu.


"Lho,Zahra mana?" Tanya Farel pada seorang staf.


"Tadi dia pergi pak,buru-buru," jawab staf itu.


Farel membelalakkan matanya, Tidak biasanya Zahra pergi meninggalkan pekerjaan pentuy seperti ini.


Rena menyeringai, "Gimana sih,udah tahu ada fotoshoot penting malah pergi,gak pamit lagi," sindir Rena sembari bersendakap.


Farel berusaha menghubungi Zahra tapi tidak diangkat.


"Coba telfon managernya," suruh Rena yang terlihat sangat kesal dengan tingkah Zahra.


Rama masih menunggu dokter memeriksa keadaan Santi,Ia terlihat bingung karena tidak tahu harus menghubungi siapa.


Untungnya saat mengurus administrasi, ternyata nek Santi adalah pasien rawat jalan dirumah sakit ini,jadi semua datanya sudah tersedia.


Rama meminta nomor kontak yang bisa dihubungi pada suster yang berjaga.Ia segera menghubungi nomor itu untuk memberikan kabar tentang nek Santi.


Zahra masih sibuk mencari,iapun bertanya pada beberapa orang disana tapi tidak ada yang melihat neneknya,membuatnya semakin cemas dan panik.


Ia dan Aira memutuskan untuk pulang kerumah,siapa tahu nenek sudah pulang kerumahnya.


Ponsel Zahra berbunyi,sedari tadi ponselnya tertinggal didalam mobil.


Ia melihat dilayar nomor yang tidak dikenal,


"Halo," jawab Zahra.


Rama terdiam saat mendengar suara itu,dan merasa tidak asing.


"Halo,dengan kekuarga nek Santi?" Tanya Rama.


Zahra langsung menghentikan mobilnya saat mendengar kabar tentang neneknya.


"Iya bener," jawab Zahra.


"Nek Santi sedang dirumah sakit,tadi dia pinsan,dan saya membawanya kerumah sakit" ucap Rama.


Zahra merasa sedikit lega, "Terima kasih,saya akan segera kesana," ucap Zahra lalu mematikan telefonnya.


"Gimana Ra?" Tanya Aira.

__ADS_1


"Nenek dirumah sakit,kita kesana sekarang," ucap Zahra dan kembali mengemudikan mobilnya.


Ana yang sudah berada ditempat fotoshoot sedang bingung menghubungi Zahra,tapi Zahra sengaja tidak mengangkat telepon dari Ana,Karena ia tahu pasti Ana menyuruhnya untuk kembali bekerja,sementara ia ingin menemui neneknya yang sedang sakit.


"Aduh,Zahra kemana sih,kenapa bikin aku pusing," keluh Ana dengan wajahnya yang kesal.


Ana menghubungi Bu Fatma.


"Iya Ana," jawab Fatma.


"Bu,Zahra lagi sama ibu?" Tanya Ana.


Fatma terlihat bingung, "Zahra gak kesini,emang ada apa?kok suara kamu panik gitu?"


"Hah,Zahra ada fotoshoot penting hari ini,tapi dia malah ngilang,ditelfon juga gak diangkat,sepertinya dia sudah tidak peduli lagi pada karirnya," keluh Ana.


Fatma terlihat murka mendengar Zahra yang begitu teledor hingga meninggalkan pekerjaan penting, padahal untuk bisa mendapatkan posisi nya sekarang dia harus bekerja keras.


Zahra dan Aira menyusuri lorong rumah sakit yang cukup sepi,mereka langsung keruang rawat Santi.


Zahra terdiam begitu melihat pria yang duduk didepan ruang rawat neneknya.


"Kenapa Ra?" Tanya Aira.


Zahra hanya diam dan melanjutkan langkahnya menghampiri pria itu.


Ramapun tidak kalah terkejut saat melihat Zahra didepannya,ia segera berdiri dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah Zahra.


"Kamu?"


"Jadi cucu nek Santi,perempuan ini,pantas suaranya terdengar tidak asing," batin Rama.


Aira justru tersenyum melihat pria tampan yang berdiri didepannya itu.


"Kamu yang nolongin ibu saya,nek Santi?" Tanya Aira.


Rama menganguk pelan.


"Terimakasih banyak ya," Aira dengan semangat menyalami tangan Rama dan membuat Rama sedikit Tidak nyaman,iapun menarik tangannya dari Aira.


"Sama-sama," jawab Rama pelan.


Zahra menelan Salivanya saat menatap Rama,entah kenapa dia merasa kikuk apalagi jika teringat kejadian semalam.


Dokter keluar dari ruangan dan memberitahu kondisi nenek.


"Nenek cuma kecapean,mungkin karena ia berjalan terlalu jauh,tapi untuk memastikan kondisi nya sebaiknya nenek dirawat untuk beberapa waktu," ucap Dokter membuat kelegaan diwajah semuanya.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk nenek saya,Dok," ucap Zahra yang masih terlihat cemas.


"Kami akan berusaha," jawab Dokter itu lalu berlalu.


"Kalo begitu saya permisi dulu," ucap Rama.


"Sekali lagi terima kasih ya," ucap Aira.


Rama menganguk,sekilas menatap wajah Zahra yang hanya diam lalu melangkah pergi.


Entah kenapa bibir Zahra terasa terkunci,harusnya ia juga mengucapkan terimakasih pada Rama karena sudah menolong neneknya tapi kenapa rasanya begitu sulit.


Aira masuk untuk menjenguk ibunya,Zahra ingin menyusul tapi ponselnya tak berhenti berbunyi.


Telepon dari Fatma,Zahra sangat malas dan langsung mematikannya lalu masuk kedalam ruang rawat Santi.


Fatma mendengus kesal saat teleponnya dimatikan oleh Zahra, "Zahra,kamu benar-benar cari masalah sama ibu," ucap Fatma dengan tatapan tajam yang penuh kemarahan.

__ADS_1


Zahra masih menunggu Santi sadar,sementara Aira pulang untuk mengambil baju ganti karena Santi harus dirawat.


__ADS_2