Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Menghilangkan Zahra


__ADS_3

Usai dari rumah sakit,Rama kembali kelokasi kejadian bersama beberapa rekannya untuk menyidiki penyebab pasti kecelakaan itu,ia terus bekerja hingga matahari terbenam.


Zahra masih menunggu sang suami yang belum juga datang menjemputnya,Tiara menghampirinya.


"Tidur saja disini kalau dia tidak menjemputmu,lagipula ini hari terakhirku menjadi perempuan lajang," ucap Tiara yang melihat Zahra begitu gelisah menunggu Rama.


Zahra tersenyum mendengar ucapan Tiara, "Dia bilang akan masih ada sedikit pekerjaaan, pasti sebentar lagi juga datang," jawab Zahra menolak dengan halus tawaran Tiara.


Tiara menganguk dengan wajahnya yang mengejek, "Ya...ya... pengantin baru,maunya berduaan terus," sindir Tiara.


Zahra mendengus, "Kamu juga akan mengalaminya nanti,jadi jangan mengejekku," balas Zahra membuat keduanya terkekeh.


"Ting tung..." Bel berbunyi.


Zahra terlihat bersemangat dan yakin jika Rama yang datang,iapun segera membuka pintu,Tiara merasa heran melihat sahabatnya yang begitu bahagia bahkan hanya mendengar bel yang berbunyi.


Zahra terdiam saat pintu terbuka,matanya terbuka lebar melihat seseorang yang berdiri didepannya, "Kak Nilam?"


Nilam tersenyum,Zahra terlihat begitu terkejut dengan kedatangan Nilam,lalu bagaimana Nilam tahu alamat rumah ini.


"Zahra,kakak ingin meminta maaf atas kejadian tadi pagi,aku tahu sikapku kepadamu memang sangat keterlaluan," ucap Nilam sembari memegang kedua tangan Zahra.


Zahra masih diam, entah kenapa tapi dihati kecilnya,ia sangat meragukan ucapan Nilam.


Tiara merasa heran karena Zahra belum juga masuk,iapun berjalan menghampirinya dan juga terkejut melihat Nilam disana.


"Hai..." Sapa Nilam pada Tiara.


Tiara hanya tersenyum,ia bertukar pandangan dengan Zahra dengan wajah yang sama-sama bingung.


"Kakak masuklah," ajak Zahra yang mengajak Nilam masuk kedalam karena sangat tidak sopan membiarkan tamu berdiri didepan pintu.


Nilam menganguk dan merekapun masuk lalu duduk diruang tamu,Tiara mengambilkan minum untuk Nilam lalu duduk disamping Zahra dengan wajah yang masih dipenuhi tanda tanya.


"Selamat atas pernikahanmu," ucap Nilam pada Tiara.


"Terimakasih,jika ada waktu,kakak bisa datang besok," Tiara dengan terpaksa harus mengundang Nilam.


Nilam menganguk, "Akan aku usahakan,"


Tiara melirik kearah Zahra, sebenarnya ia berharap orang seperti Nilam tidak akan datang kepernikahannya.


"Oya Zahra,apa Rama masih dikantor,aku khawatir karena kalian belum pulang,jadi aku mencari tahu alamat Tiara agar bisa menjemputmu," perjelas Nilam.


Zahra masih tidak percaya dengan sikap perempuan didepannya yang berubah 360°,pagi tadi bahkan ia masih marah-marah dan menuduhnya,tapi sekarang bahkan ia datang untuk menjemput Zahra.


"Rama bilang pekerjaannya akan segera selesai,jadi pasti sebentar lagi dia akan datang," Zahra mencoba menolak Ajakan Nilam karena ingat pada pesan Rama, lagipula sikap Nilam juga sangat mencurigakan,ia harus lebih berhati-hati.


Nilam terkekeh,membuat Zahra dan Tiara merasa bingung.


"Kamu pasti sangat takut jika aku melakukan hal seperti semalam," Nilam bisa menduga semuanya.


Zahra merasa sedikit kikuk saat Nilam mengatakan itu, "Bukan begitu kak,aku hanya tidak ingin menentang perintah suamiku," jawab Zahra.


Nilam menganguk, "Baiklah,aku mengerti,tapi seperti yang aku katakan tadi,aku benar-benar minta maaf kepadamu, kejadian semalam karena emosiku yang tidak stabil, tapi setelah minum obat aku menyadari semuanya,jika perbuatanku sangatlah tidak benar," Nilam memasang wajah menyesal.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan kakak, lupakan saja semuanya," ucap Zahra membuat Nilam merasa lega mendapatkan maaf dari Zahra.


Selang beberapa waktu,Ramapun sampai dirumah Tiara untuk menjemput Zahra,ia sedikit terkejut melihat Nilam disana, apalagi ia terlihat akrab dengan sang istri.


"Jangan menatapku seperti itu,aku bukan tersangka yang sedang ingin kamu tangkap bukan," sindir Nilam yang melihat Rama begitu menatapnya dengan tajam.


Rama langsung mengalihkan pandangannya,lalu mengajak mereka untuk segera pulang kerumah.


Bukan hanya sikap Nilam yang tiba-tiba berubah,bahkan ia menyuruh Zahra duduk didepan dengan Rama, sementara ia duduk dibelakang, benar-benar membuat Rama dan Zahra kebingungan.


"Oya...aku sudah menyuruh orang untuk membereskan rumah, jadi secepatnya aku akan pindah," ucap Nilam saat masih dalam perjalanan pulang.


Sontak ucapan Nilam membuat Rama terlihat merasa bersalah, bagaimanapun ia sudah mengusirnya pagi tadi karena marah.


"Kak..kami sama sekali tidak keberatan jika kakak masih ingin tinggal, tidak perlu buru-buru pindah," ucap Zahra mencoba menahan Nilam karena melihat ekspresi Rama yang begitu menyesal.


Nilam tersenyum, "Tidak apa,kalian adalah pengantin baru, pasti butuh waktu untuk berdua,aku tidak ingin mengganggu kalian terus menerus," jawab Nilam yang terlihat begitu tulus.


Rama dan Zahra saling bertukar pandangan, pikiran mereka sama,apa yang sebenarnya terjadi hingga sikap Nilam tiba-tiba berubah.


"Apa menurutmu dia benar-benar tulus,atau ini hanya sebagian kecil dari kelicikannya?" tanya Rama yang saat itu membaringkan kepalanya dipaha sang istri saat keduanya sudah berada dikamar mereka.


Zahra menatap Rama sembari mengusap lembut rambutnya, "Jangan berprasangka buruk,bukannya bagus kalau kakak sudah berubah lebih baik,mungkin ini efek dari obat yang diberikan dokter," jawab Zahra.


Rama masih merasa ragu jika Nilam benar-benar sudah berubah, entah kenapa masih ada yang mengganjal dihatinya.


Melihat Rama yang masih cemas, Zahrapun berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Besok hari pernikahan Rian dan Tiara,apa kamu sudah membeli hadiah untuk mereka?" Tanya Zahra.


Rama menyunggingkan bibirnya, "Tentu saja," Zahra mengerutkan dahinya,ia tidak tahu jika Rama sudah membeli sesuatu.


"Bagaimana menurutmu?"


Mata Zahra berbinar saat menatap sepasang kalung itu, "Indah sekali, mereka pasti menyukainya,"


Rama tersenyum,ia kembali menutup kotak itu,lalu meletakkannya di atas nakas.


"Aku juga punya sesuatu untukmu," Rama mengambil sesuatu disaku celananya,sebuah kotak kecil berwarna merah, membuat Zahra penasaran.


"Apa ini?"


Rama membuka kotak itu didepan Zahra, ternyata juga sebuah kalung yang bahkan lebih cantik dari yang tadi,dengan liontin berbentuk huruf Z dan R yang saling bertautan.


Zahra terlihat begitu bahagia mendapatkan hadiah spesial dari sang suami, "Sangat cantik,"


Rama memakaikan kalung itu keleher Zahra,dan membuatnya semakin terlihat cantik, "Lebih cantik jika kamu memakainya,"


Zahrapun langsung memeluk suaminya itu dengan penuh kebahagiaan.


"Kamu harus menjaganya dengan baik," ucap Rama sembari mengusap lembut rambut Zahra.


Zahra menganguk dengan tangannya yang memainkan liontin yang sudah terpasang dilehernya.


Hari yang sangat penting bagi Rian dan juga Tiara,mereka akhirnya akan melangsungkan pernikahan hari ini, keduanya terlihat begitu tegang,Rama dan Zahrapun datang untuk mendampingi sang mempelai.

__ADS_1


Alhamdulillah...acara ijab berjalan lancar dan Tiara akhirnya resmi dipersunting oleh Rian.


Kebahagiaan begitu nampak diwajah keduanya dan juga keluarga.


Dilanjutkan acara resepsi yang cukup meriah,banyak sekali tamu undangan yang hadir untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai.


Rama yang sedang duduk bersama Zahra tiba-tiba mendapatkan telfon dari rekannya,ada sebuah kasus yang harus ia tangani.


"Kenapa?" Tanya Zahra melihat wajah Rama yang gelisah.


"Aku harus pergi,ada kasus penting,bisakah kamu menunggu disini sampai aku menjemputmu?"


Zahra menganguk,ia sangat mengerti pekerjaan Rama yang terkadang memang tidak mengenal waktu, "Aku akan menunggumu,"


Rama tersenyum,ia mengecup dahi Zahra sebelum pergi.


Nilam ternyata juga datang keacara itu,ia mengucapkan selamat kepada Tiara dan Rian,lalu menghampiri Zahra yang duduk sendirian.


"Dimana Rama?" Tanya Nilam membuat Zahra sedikit terkejut, pasalnya Nilam tidak bilang jika ia juga akan datang,kalau tidak pasti Zahra menawarkan untuk berangkat bersama.


"Kebetulan sedang ada pekerjaan mendadak," jawab Zahra, "Harusnya kakak bilang jika akan datang,kita bisa datang bersama bukan?"


Nilam tersenyum, "tidak apa,aku sudah mengambil mobilku, lagipula aku tidak ingin mengganggu kalian," jawab Nilam membuat Zahra merasa lega,sang kakak ipar sepertinya sudah benar-benar berubah.


Pesta selesai,malam semakin larut,Zahra masih menunggu Rama didepan,ia berusaha menelfon tapi tidak diangkat, mungkin Rama masih sibuk,tapi Zahta tetap setia untuk menunggu.


Nilam berhenti dengan mobilnya lalu membuka kaca jendelanya, "Mau ikut denganku?" Tanya Nilam.


Zahra terdiam dan berpikir,ia sebenarnya masih ingin menunggu Rama,tapi sungkan juga jika harus menolak ajakan Nilam, apalagi Nilam sudah berubah,kalau Zahra menolak pasti ia mengira jika Zahra masih menaruh dendam padanya.


Nilam tersenyum, "Tidak apa,jika kamu masih merasa takut,"


"Aku akan ikut dengan kakak," jawab Zahra lalu iapun segera masuk kemobil Nilam,dan berniat mengabari Rama nanti.


Merekapun segera pergi meninggalkan lokasi acara untuk pulang kerumah.


Zahra masih tidak bisa menghubungi Rama,jadi ia mengirim pesan dan memberitahu jika ia sudah pulang bersama Nilam.


Nilam memberikan sebuah air putih kepada Zahra, "Minumlah, sepertinya kamu lelah,"


Tanpa curiga Zahra meminum air itu,masih dengan ponsel ditangannya,hingga beberapa menit kemudian,iapun tertidur hingga ponsel ditangannya terjatuh.


Nilam tersenyum melihat Zahra yang sudah tidak sadarkan diri, wajahnya menyeringai tajam, entah rencana licik apa yang ada dikepalanya.


Rama selesai dengan kasusnya,ia masuk kedalam mobil dan melihat ponselnya,ada beberapa panggilan dari Zahra,dan juga pesan.


"Aku sudah pulang bersama kak Nilam,"


Rama mengerutkan dahinya,ia pun menelfon kenomor Zahra tapi tidak diangkat,entah kenapa Rama terlihat mulai gelisah,iapun bergegas untuk pulang.


Sesampainya dirumah,Rama melihat pintu yang masih tertutup rapat serta terkunci, sepertinya belum ada siapapun yang pulang,ia membuka pintu dan berusaha mencari istrinya namun memang belum ada dirumah,mereka belum sampai dirumah.


Rama kembali berusaha menghubungi Zahra dan sekarang nomornya sudah tidak aktif,iapun menghubungi Nilam dan sama nomornya juga tidak aktif membuat Rama semakin bingung dan cemas.


"Kemana mereka?" Rama mencoba berpikir,lalu iapun kembali keluar Rumah dan menuju keRumah Nilam,ia benar-benar tidak bisa merasa tenang sebelum bertemu dengan Zahra.

__ADS_1


Hampir tengah malam,Rama sampai dirumah Nilam,tapi rumahnya masih kosong,bahkan barang-barang masih berserakan dimana-mana,ia mengingat bukankah Nilam sudah menyuruh orang membersihkan rumahnya,tapi kenapa masih begitu berantakan,atau sebenarnya ia hanya berbohong.


Rama meraup wajahnya,ia benar-benar sudah tertipu oleh kakaknya sendiri, sekarang dia harus kehilangan sang istri tercinta,kemana Nilam membawa Zahra sebenarnya.


__ADS_2