Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Souvenir Pernikahan


__ADS_3

"Tapi Ram,ibu sudah kehilangan Hana dan ibu ikhlas,tapi sekarang ibu gak mau kehilangan kamu,karena kasusnya Hana,tolong kamu berhenti ya nak,dan lanjutkan hidup kamu," ucap Aminah sembari memegang pundak Rama.


Rama terdiam,ia masih belum bisa ikhlas melepas kasus Hana yang penuh misteri.


"Tolong,demi ibu nak,kamu sayangkan sama ibu?ikhlaskan Hana,dan biarkan dia tenang disana," ucap Aminah membuat Rama terdiam sembari memejamkan matanya,ia tidak tega jika harus melawan keinginan ibu Aminah.


"Nak,Allah tidak tidur,biarkan Allah yang menghukum pelakunya,siapapun itu,jadi tolong kamu berhenti ya?" imbuh Aminah lagi agar Rama semakin yakin untuk tidak melanjutkan kasus itu.


Rama menghela nafas, "Aku akan coba Bu," jawab Rama yang membuat kelegaan dihati Aminah,Aminah pun memeluk putranya itu dengan penuh keharuan.


Zahra membalikkan badannya,air mata jatuh dari pelupuk matanya,begitu banyak duka yang ia sebabkan,begitu banyak orang yang terluka karena kesalahannya,sampai kapan ia harus menahan perasaan bersalah ini.


Malam semakin larut,Zahra baru sampai dirumah neneknya.


Iapun membawa barang belanjaannya dan juga obat untuk sang nenek tercinta.


"Assalamualaikum," ucap Zahra.


"Waalaikumsalam," jawab Aira yang langsung menghampiri Zahra dan membantu tepatnya merebut barang-barang belanjaan yang dibawa Zahra.


"Lama banget sih,Ra," keluh Aira.


"Maaf mbak,tadi aku ada kerjaan mendadak," jawab Zahra memberi alasan.


"Nenek mana?" Tanya Zahra yang belum melihat neneknya.


"Nenek dikamar,kamu kesana aja, sekalian kasihkan obatnya,mbak mau masak,lapar," ucap Aira lalu melangkah menuju dapur.


Zahrapun menuju kekamar neneknya.


Zahra menaruh kepalanya dipangkuan perempuan tua itu,tempat ternyaman bagi Zahra saat ini,iapun memejamkan mata berusaha melepas semua tekanan yang ia rasakan,usapan lembut tangan nek Santi membuatnya merasa lebih tenang.


"Kamu sedang menghadapi masalah?" Tanya Santi yang bahkan sudah peka tanpa Zahra berucap apapun.


Zahra membuka matanya,kenyataannya nenek sangat pengertian dan selalu bisa merasakan kegelisahan dihatinya.


"Zahra capek nek,rasanya Zahra ingin pergi jauh dan meninggalkan semuanya," ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca.


"Nak,hidup memang seperti ini,penuh dengan ujian dan Lika liku,kamu gak boleh menyerah dengan mudah,karena setiap masalah yang kamu hadapi akan membuat kamu menjadi perempuan yang lebih kuat lagi," ucap Santi memberikan nasihat pada cucu kesayangannya.


"Tapi nek,Zahra merasa kalo Zahra sudah gak kuat,Zahra capek,lelah,sampai kapan Zahra bisa menahan semuanya nek," imbuh Zahra kini dengan air matanya yqng sudah jatuh.


"Cucu nenek akan bisa bertahan sampai akhir,karena Zahra perempuan yang kuat dan juga hebat,nenek yakin kamu bisa nak,teruslah berjuang demi diri kamu sendiri," ucap Nenek sembari mengusap lagi Surai rambut Zahra.


"Makasih ya,nenek selalu ada buat mendukung aku,aku sayang banget sama nenek," Zahra bangun dan memeluk erat neneknya itu.

__ADS_1


Santi tersenyum dan membalas erat pelukan Zahra.


Keesokan harinya,Rama sudah bersiap untuk pulang dari rumah sakit, sebenarnya semalam ia ingin langsung pulang tapi dokter tidak mengizinkannya dan Ia juga tidak ingin membuat Aminah cemas jika terus memaksakan kehendaknya.


Rian masuk keruangan Rama dengan wajah penuh ketegangan.


"Ada apa?" Tanya Rama yang melihat wajah Rian yang begitu tegang.


Rian duduk menghadap Rama.


"Kami sudah berhasil menangkap pelaku yang mengeroyok kamu kemarin," ucap Rian membuat Rama penasaran.


"Siapa mereka?,pasti orang bayarankan?" Tanya Rama.


"Dugaan aku juga gitu, tapi sampai sekarang mereka belum mau mengaku,tapi Ram,salah satu dari mereka adalah ajudan dari Bimo," ucap Rian yang membuat Rama langsung membelalakkan matanya.


"Aku pernah ketemu sama dia waktu penyergpaan yang kita lakukan kegudang Bimo beberapa waktu yang lalu," ucap Rian membuat Rama semakin bingung.


Rama mengerutkan keningnya, "Tapi apa hubungannya Bimo dengan kasusnya Hana,jelas mereka ingin menghilangkan barang bukti yang aku punya," ucap Rama.


"Kamu akan terkejut mendengar ini," ucap Rian yang membuat Rama semakin penasaran.


"Setelah aku cari tahu,ternyata Bimo ayah tirinya Zahra," ucap Rian membuat Rama tercekat.


"Apa?"


Rama tertegun,ia punya Masalalu yang buruk dengan pria bernama Bimo.Penyergapan yang ia lakukan selalu menemui jalan buntu karena Bimo mempuanyai banyak Intel dikepolisian sehingga ia selalu bisa terbebas dari tuduhan.


Dan sekarang kasus Hanapun akan menemui hal yang sama.


"Ram,kalo kamu memang masih yakin jika Zahra pelakunya,maka cari buktinya dengan cara halus dan diam-diam,karena kalo kamu terus terang-terangan mencari bukti itu,bukan gak mungkin nyawa kamu akan dalam bahaya,karena Bimo tidak akan membiarkan anak tirinya masuk kedalam penjara," ucap Rian memberikan solusi terbaik.


"Kamu bener,menghadapi orang licik seperti Bimo memang harus dengan taktik yang matang," jawab Rama yang sudah mengerti arah solusi Rian.


"Satu lagi,kita juga harus cari bukti keterlibatan pak Tio dengan Bimo,sumpah,aku udah eneg banget sama dia,pengen segera aku tendang dia dari kursi atasan yang sebenarnya sangat tidak pantas dia duduki,"


Rama menganguk, "Kita cari pelan-pelan,aku akan dapatkan bukti itu,dan menyeret mereka semua kepenjara," ucap Rama dengan tatapan matanya yang tajam.


Zahra sedang membuat minuman kesukaannya,cokelat panas,hari ini dia tidak ada fotoshoot,jadi bisa bersantai dirumah.


Tiara keluar dari kamar dengan baju yang sudah rapi karena akan berangkat mengajar.


"Ra,aku berangkat dulu ya?" Ucap Tiara yang terlihat lebih bersinar dari biasanya.


Zahra menghampiri sahabatnya itu sembari meminum pelan cokelat hangat ditangannya.ia memperhatikan dandanan Tiara yang sedikit berbeda,dan membuat Tiara kikuk.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih?" Tanya Tiara yang merasa aneh dengan sikap Zahra.


"Hem,wangi banget,mau ngajar atau mau kencan?" Zahra sengaja menggoda Tiara.


"Ih,siapa juga yang mau kencan," bantah Tiara dengan wajahnya yang memerah membuat Zahra semakin penasaran.


"Siapa?pengajar juga?" Tanya Zahra yang sudah hafal betul gelagat sahabatnya ketika tertarik pada seorang pria.


Tiara menganguk pelan dan malu-malu,membuat Zahra terkekeh.


"Benerkan dugaan aku,kamu gak akan bisa nyembunyiian apapun dari aku,Tiara," ucap Zahra.


"Iya,iya...ya udah,aku berangkat dulu ya,udah telat," ucap Tiara yang buru-buru pergi bahkan lupa mengucapkan salam.


"Assalamualaikum," teriak Zahra yang sengaja menggoda Tiara.


Tiara berhenti dan berbalik, "Waalaikumsalam," jawab Tiara.


Keduanya terkekeh,lalu Tiara melanjutkan langkahnya.


Rama sedang berada di rumah Aminah,ia kekamar Hana dan membereskan tumpukan Al-Qur'an yang sebenarnya akan menjadi souvernir diacara pernikahannya dengan Hana.


Rama terdiam saat memegang salah satu Al-Qur'an ditangannya,ingatan tentang Hana kembali muncul.


Flashback on.


"Kenapa harus Al-Qur'an?" Tanya Rama saat bersama Hana ditoko souvenir dan Hana memilih Al-Qur'an berurukan kecil itu untuk dijadikan souvenir pernikahannya.


"Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Al-Qur'an,dan aku ingin lebih banyak lagi orang yang mau belajar tentang Islam dan kebesaran Allah,dengan membagikan Al-Qur'an ini,aku berharap siapapun yang menerima akan bisa mempelajari ilmu yang bermanfaat dari Al-Qur'an ini, dan menjadikan hidup mereka penuh dengan keberkahan Allah," ucap Hana mengukir senyum diwajah Rama.


"Kenapa?" Tanya Hana yang merasa curiga dengan senyuman Rama.


"Calon istriku memang pintar dan Solehah,Allah benar-benar sangat menyayangi ku sehingga aku bisa mendapatkan bidadari surga seperti kamu," ucap Rama yang sukses membuat wajah Hana tersipu malu.


Flashback off.


Rama menghela nafas,jika terus mengingat Hana,air matanya tak akan mungkin bisa ia tahan,iapun berusaha tegar dan kembali membereskan Al-Qur'an- Al-Quran itu.


Aminah menghampirinya, "Kamu mau apain semua Al-Qur'an ini Ram?" Tanya Aminah.


"Aku mau kasih keyayasan Bu,biar bisa dipakai ngaji sama anak-anak disana,dan juga menjadi ladang amal bagi Hana," jawab Rama.


Aminah tersenyum, "Kamu benar,amal jariyah ini akan membuat Hana lebih tenang disana,makasih ya,"


"Bu,kenapa ibu harus berterimakasih sama aku,aku bahagia bisa melakukan sesuatu yang berguna buat Hana meskipun dia sudah tiada Bu," ucap Rama dengan raut wajahnya yang kembali sedih setiap membahas soal Hana.

__ADS_1


"Ya sudah ibu bantu beresin ya, "ucap Aminah yang tidak ingin Rama kembali bersedih.


Rama menganguk dan melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2