
Zahra sampai dikantor polisi,Rian menyambutnya dengan ramah.
"Halo Zahra, kita ketemu lagi,tapi kali ini kasusnya beda," ucap Rian mencoba akrab dengan Zahra.
Zahra hanya tersenyum tipis,Rianpun mengantarkan Zahra keruang interogasi, untuk memberikan kesaksiannya.
Rama sudah menyiapkan alat perekam didalam ruangan itu,dan beberapa berkas yang berisi catatan pertanyaan yang harus Zahra jawab.
Rian dan Zahra masuk kedalam,Rama terdiam saat melihat perempuan itu,terakhir kali saat diruangan ini,Rama sudah berbuat sangat kasar padanya,begitupun Zahra yang tidak bisa melupakan kejadian itu,sekarang justru membuat wajahnya gugup.
Keduanya justru diam dan terlihat kikuk harus memulai darimana,Rian yang melihat tingkah mereka mengerutkan dahinya,tidak biasanya Rama bersikap malu-malu seperti ini saat menangani sebuah kasus.
"Ram,mau aku yang gantiin,kamu gak lagi sakitkan?" Tanya Rian sembari memegang pundak rekannya itu.
"Gak kok,biar aku aja," jawab Rama.
Rian menganguk, "Ok..ingat jangan kasar sama perempuan," bisik Rian,Rama langsung memelototinya,Rianpun nyengir dan langsung keluar seperti angin.
"Silakan duduk," ucap Rama.
Zahrapun duduk,dan mereka saling berhadapan.
"Kamu gak berniat menipuku lagikan kali ini?" tanya Rama sembari membuka berkas didepannya.
Zahra tercekat,yah...teringat dulu bagaimana Rama sangat marah saat ia memberikan pengakuan palsu.
Rama menatap Zahra yang diam melamun.
"Kenapa tidak menjawab?"
"Apa itu bagian dari pertanyaan sebagai saksi?" tanya Zahra.
Ramapun tertegun,apa tidak boleh bertanya hal lain agar tidak merasa canggung.
Ramapun memulai pertanyaan dengan serius,tentang bagaimana hubungan Zahra dan Bimo, bagaimana Bimo ada diVilla itu, bagaimana sikapnya pada Zahra,Apa benar Villa dan pabrik itu milik Bimo dan seterusnya.
Zahrapun menjawab semua pertanyaan itu dengan sangat jujur pada Rama,terkadang membuat Rama sedikit miris mendengar jawaban Zahra.
"Pertanyaan terakhir,apa yang Bimo lakukan padamu sehingga kamu kabur dari Villa malam itu?" tanya Rama.
Zahra menatap kearah pria didepannya itu, "Apa pertanyaan ini juga harus dijawab?" tanya Zahra yang sebenarnya enggan menjawab pertanyaan Rama karena dia sendiri merasa malu.
"Tidak apa jika kamu keberatan,tapi jika kamu menjawab itu bisa memperkuat pernyataan kamu sebelumnya," jawab Rama.
Zahra tertegun dan berpikir,tidak ada gunanya lagi menutupi semuanya,kali ini Bimo harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya, "Malam itu,Bimo memintaku untuk melayaninya,sebagai syarat agar aku mendapatkan informasi tentang keberadaan nenek,"
Deg...
Rama menatap kearah Zahra,yang langsung menunduk.
"Jadi benar pria brengsek itu berusaha melecehkannya?" Batin Rama dengan penuh amarah.
"Tapi aku berhasil memasukkan obat keminumannya dan membuatnya tidak sadarkan diri,lalu aku kabur dari sana dan bertemu denganmu," imbuh Zahra lagi.
Rama masih diam,ia tidak menyangka Zahra harus mengalami pelecehan dari ayah tirinya, pantas saja Zahra begitu membenci Bimo.
Zahra melihat kearah Rama, "Terimakasih,karena sudah menyelamatkan aku dari dia malam itu, "ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca.
Rama hanya menganguk,dan kembali mencatat semua kesaksian yang sudah diberikan Zahra.
"Terimakasih atas kerja samanya,kami akan melindungi saksi dari ancaman apapun,jadi jika ada masalah, cepat hubungi kami," ucap Rama.
Zahra menganguk sembari tersenyum pada Rama.Entah kenapa menatap senyum Zahra membuat Rama sedikit oleng dan kehilangan fokus.
"Apa?Zahra bersaksi untuk menyeret aku dalam kasus ini?" Pekik Bimo saat berbicara ditelefon.
"Benar pak, bagaimana ini,jika terbukti kesaksian Zahra adalah Real,anda bisa dalam bahaya," jawab Tio.
Bimo mendengus kesal, "Anak itu benar-benar kurang ajar,"
"Anda tenanglah,akan saya usahakan agar kasus ini tidak menyeret nama anda sedikitpun," ucap Tio berusaha menyenangkan hati Bimo.
"Baik,urus semuanya,berapapun yang kamu minta langsung ditransfer," jawab Bimo.
__ADS_1
"Baik pak," jawab Tio lalu menutup telefon.
Bimo masih terlihat marah,matanya berapi-api, "Fatma...." Teriak Bimo sekencang mungkin hingga menggema kesetiap sudut rumah.
Fatma datang menghampirinya, "Ada apa?kenapa berteriak?"
"Putrimu yang kurang ajar itu, beraninya dia bersaksi untuk melawanku,apa saja ajaranmu padanya, bagaimana bisa dia melawan ayahnya sendiri," bentak Bimo.
Fatma terdiam,tidak menyangka kebencian Zahra pada Bimo sampai seperti ini.
"Bicara padanya,kalau tidak,aku akan memberikan bukti itu pada polisi,bukti bahwa Zahra adalah tersangka dalam kecelakaan itu,dia akan masuk penjara secepatnya," ucap Bimo dengan tegas.
"Jangan,jangan berikan bukti itu,aku akan berbicara pada Zahra," ucap Fatma yang ketakutan jika Zahra harus berurusan dengan hukum.
"Kalo begitu,pergi sekarang," teriak Bimo dengan penuh amarah.
"Baik..." Fatmapun bergegas pergi untuk menemui Zahra.
"Tidak akan aku lepaskan kalian," gumam Bimo sembari mengepalkan tangannya.
Zahra baru saja pulang,Tiara sudah berada dirumah dan menyiapkan banyak makanan.
"Hem,aku sangat lapar," ucap Zahra sembari menyicip makanan di meja dengan tangannya.
"Ih..jorok," ejek Tiara.
Zahra nyengir sembari mengunyah makanan itu.
"Brak..." Bunyi pintu terbuka,Zahra dan Tiara sangat terkejut,siapa yang membuka pintu dengan sangat kasar.
"Zahra," teriak Fatma yang berjalan kearah Zahra.
Fatma memang memiliki kode untuk masuk kerumah Zahra.
"Plak..." Satu tamparan mendarat kepipi Zahra,Tiara sangat syok melihat kejadian didepannya.
"Ibu," pekik Zahra sembari memegangi pipinya,bagaimana bisa datang tiba-tiba dan langsung bersikap kasar.
"Apa yang sudah kamu lakukan, bisa-bisanya kamu bersaksi melawan Bimo,ayah kamu sendiri," bentak Fatma.
"Zahra,kamu benar-benar tidak tahu diri,hubungi polisi dan cabut kesaksian kamu," ucap Fatma dengan nada tinggi.
Zahra menatap tajam pada ibunya, "Tidak akan,pria seperti dia harus mendapat hukuman yang berat,"
"Kalau begitu,jangan harap kamu akan bertemu dengan nenek seumur hidup kamu," ucap Fatma membuat Zahra membelalakkan matanya.
"Cabut kesaksian kamu,dan ibu akan memberitahu keberadaan nenek padamu," Fatma berusaha bernegosiasi dengan putrinya itu,ia tahu betul kelemahan Zahra dan bisa menggunakan ini untuk mengancamnya.
Zahra tertegun,kebingungan menghampirinya,apa yang harus ia lakukan sekarang,nenek adalah hal terpenting dalam hidupnya,tapi haruskah ia membiarkan Bimo bebas?
"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Zahra tidak bisa memilih karena terlalu sulit.
"Pikirkan baik-baik, jangan sampai kamu menyesal," ucap Fatma lalu melangkah pergi meninggalkan Zahra.
Zahra merasa lemas dan langsung terduduk di kursi,kenapa harus menghadapi keadaan sulit seperti ini lagi?
Tiara mengusap pundak Zahra dengan wajah cemas.
"Ra,kamu baik-baik ajakan?" Tanya Tiara.
Zahra masih diam,memegangi kepalanya yang merasa buntu tidak bisa berpikir dan mengambil keputusan.
Rama selesai membuat laporan tentang kesaksian Zahra, cukup untuk menyeret Bimo kedalam kasus ini.
"Drttttt" ponselnya berbunyi, panggilan dari Zahra.
Rama mengerutkan dahinya,padahal baru saja bertemu,apa ada sesuatu yang penting.
"Halo," jawab Rama.
"Bisakah kita bertemu?" Tanya Zahra.
"Tentu ," jawab Rama.
__ADS_1
Zahra sudah menunggu Rama disebuah kafe,suasananya cukup sejuk tapi sangat sepi.wajah Zahra terlihat sangat cemas sembari *******-***** jarinya karena tegang.
Rama menghampiri Zahra, "Apa terjadi sesuatu?" tanya Rama dengan wajah cemas.
Zahra terdiam dan masih terlihat bingung harus bersikap seperti apa.
"Ada apa?" tanya Rama lagi melihat kecemasan diwajah Zahra.
"Aku ingin membatalkan semua kesaksian yang sudah aku berikan," ucap Zahra.
Rama langsung menatap Zahra tidak percaya dengan apa yang barusan Zahra katakan.
"Aku tidak ingin bersaksi apapun,jadi aku harap kamu bisa mengerti," imbuh Zahra.
"Kenapa?apa ada yang mengancammu,itu adalah tanggungjawab kami,kamu tinggal bilang siapa orangnya," ucap Rama masih berusaha meyakinkan agar Zahra mau melanjutkan kasus ini.
Zahra menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang mengancamku,ini adalah keputusanku sendiri," jawab Zahra.
Rama mulai terpancing ,"Apa menurut mu ini sebuah permainan,kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja,aku akan tetap menggunakan kesaksianmu kedalam kasus ini," ucap Rama dengan tegas.
"Kalau begitu,aku akan mengatakan jika semua yang aku katakan padamu adalah sebuah kebohongan,aku sangat membenci Bimo hingga berusaha memfitnahnya agar dia menderita,apa kamu tidak akan malu jika aku mengatakan semua itu?" Ancam Zahra dengan penuh keyakinan.
"Pembohong," umpat Rama dengan tatapan tajamnya pada Zahra.
"Harusnya kamu sudah tahu dari awal,aku sedikit heran kenapa kamu bisa mempercayai semua perkataan ku,jadi sekarang kamu akan benar-benar mengenal siapa aku sebenarnya," ucap Zahra sembari tersenyum tipis.
"Kamu tahu, memberikan keterangan palsu juga dapat dipidana," ucap Rama dengan wajahnya yang menahan amarah.
"Kalau begitu lakukan apapun yang kamu mau,bukannya kamu sangat ingin aku masuk penjara,ini kesempatan yang bagus," jawab Zahra dengan santainya lalu ia melangkah meninggalkan Rama.
Rama dengan cepat menahan Zahra dan mengcengkeram lengannya dengan kasar.
"Akh..." Pekik Zahra merasakan sakit pada lengannya.
"Harusnya aku tidak pernah bersikap lembut dengan perempuan sepertimu,tidak bisa dipercaya,aku benar-benar bodoh," Rama menghempaskan tangan Zahra dengan kasar lalu melangkah pergi meninggalkannya.
Zahra terdiam,sembari menggigit bibir bawahnya,dadanya terasa sesak, hingga rasanya kesulitan bernafas,Zahra sekuat tenaga menahan air yang sudah memenuhi matanya,iapun memejamkan mata,membiarkan air itu mengalir kepipi karena semakin ditahan akan membuatnya semakin tersiksa.
Rama masuk kedalam mobil,masih dengan api yang membara dihatinya, bisa-bisanya dia percaya dengan semua ucapannya dan sekarang lihatlah apa yang dia dapatkan.
Perempuan itu sudah menipunya, mempermainkannya dengan begitu mudah.
Rama memejamkan matanya,menaruh kepalanya diatas kemudi, pikirannya masih kacau,akan sangat berbahaya jika mengemudi dalam keadaan seperti ini.
Udara malam sangat dingin hingga menusuk kedalam tulang,Rian sedang melihat hasil rekaman Zahra saat memberikan kesaksiannya.
Rama membaringkan tubuhnya disofa sembari memejamkan matanya,masih terlihat betul wajahnya yang dipenuhi amarah.
Malam itu Rian memang sengaja datang kerumah Rama dan Ramapun sudah menceritakan semuanya tentang pembatalan kesaksian Zahra untuk Bimo.
"Lihat,dia begitu serius,apa kamu yakin dia berbohong,dari caranya bicara dan sorot matanya,dia sepertinya begitu jujur," ucap Rian saat memperhatikan dengan seksama rekaman itu.
Rama membuka matanya,awalnya dia juga begitu yakin,bahkan menaruh simpati pada kejadian yang menimpa Zahra,tapi mendengar ucapan Zahra tadi benar-benar merasa menjadi orang bodoh.
"Perempuan seperti dia,pasti sangat pandai berakting,itu pekerjaannya bukan," jawab Rama lalu kembali memejamkan matanya.
Rian melihat kearah Rama, "Lalu untuk apa dia kabur malam itu,kehutan,kalau dia memang berbohong harusnya dia tidak perlu bertemu denganmu kan dan memilih tinggal dengan tenang divilla itu," ucap Rian lagi yang masih merasa ada kejanggalan dalam pernyataan Zahra.
Rama membuka mata dengan wajah penuh tanda tanya,Iapun duduk lalu memeriksa kembali rekaman itu,memperhatikan ucapan Zahra saat menjawab bahwa Bimo berusaha melecehkannya.
Ekspresi Zahra benar-benar membuatnya bingung,sangat real dan terlihat jujur,Rama menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya kesofa, "Hah,aku merasa sangat lelah," gumam Rama.
"Ini pasti ada campur tangan bandit tua itu,apa dia mengancam Zahra dengan sesuatu?" Tanya Rian lagi karena masih merasa penasaran.
Rama terdiam dan berfikir,terlintas sesuatu dipikirannya.
"Nenek adalah orang terpenting dalam hidup aku, aku akan melakukan apapun untuk nya,"
Rama tertegun saat teringat ucapan Zahra tentang neneknya, "Apa karena itu?" Batin Rama yang masih berharap Zahra memang diancam karena melihat sikap Zahra yang seperti tadi membuatnya sangat kecewa.
Zahra terdiam dikamarnya,melihat lengannya yang merah akibat cengkeraman tangan Rama yang begitu kuat.
"Rasanya tidak sesakit hati aku sekarang,apakah keputusan yang aku ambil sudah benar?" Zahra menarik nafas panjang,berusaha menahan tangis yang membuatnya sesak.
__ADS_1
"Kenapa ya Allah,kenapa hamba harus diberikan pilihan yang sangat sulit," Zahra menenggelamkan wajahnya diantara dua lutut yang terangkat.