
Rama sedang memeriksa beberapa berkas dikantornya,lama tidak masuk kantor membuatnya harus kembali beradaptasi dengan kasus-kasus yang baru-baru ini terjadi.
Rian datang dengan wajah kesal menghampiri sahabatnya itu.
"Yak.. bagaimana bisa kamu sudah mengajukan pernikahan mendahului aku," keluh Rian yang baru tahu jika Rama sudah mengajukan Pernikahannya dengan Zahra kekantor.
Rama hanya menyunggingkan bibirnya, "Apa masalahnya?"
Rian masih terlihat kesal, "Aku yang berencana menikah terlebih dahulu,kenapa kamu seenaknya seperti ini," Keluh Rian namun Rama sama sekali tidak meresponnya membuat Rian semakin merasa kesal.
"Benar-benar sahabat yang tidak berguna,kamu tahu bagaimana aku berjuang menangani kasus Bimo hanya demi dirimu,aku bahkan tidak tidur selama 3 hari,inikah caramu membalas semua perjuanganku?"
Rama melihat kearah Rian lalu berdiri sembari menepuk pundaknya, "Lalu harus bagaimana,haruskah aku batalkan pernikahanku untuk membalas semua budimu?"
Rian terdiam,kenapa Rama tiba-tiba menawarinya seperti ini, membuatnya sedikit tidak nyaman, "Tidak perlu dibatalkan,kamu hanya bisa mengundur tanggalnya usai pernikahanku,bagaimana?"
"Tidak bisa," Rama tersenyum lalu beranjak meninggalkan Rian.
"Hei... harusnya aku tidak pernah membantumu," teriak Rian yang sama sekali tidak mendapatkan respon dari Rama.
Diboutiqe,Zahra sedang menyiapkan gaun pengantin milik Tiara yang sudah selesai, sementara gaun pernikahannya sendiri masih dalam proses pembuatan.
"Bukankah ini tidak adil,gaunku sudah selesai,tapi kamu yang akan menikah lebih dulu," Sindir Tiara sembari memeriksa gaun miliknya.
Zahra tersenyum, "Hanya selisih satu Minggu,kenapa kamu begitu keberatan?"
Tiara duduk dengan wajah sedikit murung,mengingat setelah ini ia dan Zahra akan tinggal terpisah setelah sekian lama bersama,pasti akan terasa sangat berat.
Zahra duduk disamping Tiara, "Ada apa?"
Tiara menatap wajah sahabatnya itu, "Apa kita benar-benar akan berpisah setelah ini?"
Zahra terdiam,ia juga tidak rela jika harus tinggal jauh dari Tiara,karena Tiaralah yang selalu ada ketika Zahra mengalami banyak kesulitan.
"Aku pasti akan sangat kesepian,"
Zahra langsung memeluk sahabatnya itu, "Apa maksudmu,Rian tidak akan membuatmu merasa kesepian,kita hanya akan tinggal terpisah, selain itu kita tetap bisa bertemu setiap hari bukan?" Zahra menangkup wajah Tiara yang masih cemberut itu.
Tiara menganguk, "Kamu janji harus selalu hidup bahagia bersama Rama,aku tidak ingin mendengar ada masalah apapun lagi diantara kalian berdua," ucap Tiara yang merasa trauma jika harus melihat sahabatnya bersedih lagi.
Zahra menganguk, "Aku janji,tidak akan membuatmu memikirkan hal-hal seperti ini lagi,"
Tiara merasa lega,dan mereka kembali berpelukan dengan senyum bahagia.
3 hari menjelang pernikahan Rama dan Zahra, persiapan sudah dilakukan dirumah Rama,karena ijab kabul serta pesta akan diadakan disana.
__ADS_1
Zahra sedang mengatur dekorasi yang sengaja ia desain sendiri,ia terlihat sangat bahagia bisa menyiapkan semuanya sendiri,Aminah juga berada disana untuk membantu.
Zahra terdiam saat melihat setangkai bunga mawar merah didepannya,iapun berbalik dan melihat Rama dengan senyum bahagia.
"Terimakasih," Zahra mengambil bunga itu lalu mencium aromanya.
"Kebetulan aku mengambilnya didepan," Rama sengaja menggoda Zahra,dan membuatnya kesal.
"Itu aku yang membelinya," keluh Zahra sembari memukulkan bunga itu kearah Rama,membuat Rama terkekeh karena berhasil membuat Zahra kesal namun sangat menggemaskan.
Rama memegang tangan Zahra, "Jangan terlalu lelah,bisa-bisa kamu sakit sebelum pernikahan,biarkan saja mereka yang mengatur semuanya,"
"Aku hanya sedikit membantu, tidak akan merasa lelah, lagipula aku senang bisa terlibat dengan semua ini," ucap Zahra dengan begitu bersemangat.
Ramapun tidak bisa melarang jika sudah seperti itu, "Oya,ada satu lagi kabar bahagia untukmu,"
Zahra mengerutkan dahinya,merasa penasaran dengan kabar yang dimaksud dengan Rama.
"Aku sudah mengajukan kompensasi agar ibu bisa hadir kepernikahan kita,dan Alhamdulillah diterima," ucap Rama yang membuat Zahra sedikit terkejut namun terlihat sangat bahagia.
"Benarkah?"
Rama menganguk,Zahra tersenyum senang dan langsung memeluk Rama untuk meluapkan segala kebahagiaan yang ia rasakan,bahkan tanpa ia meminta semua itu Rama sudah melakukannya,ia selalu mengerti dengan apa yang membuat Zahra merasa bahagia.
"Terimakasih,"
Zahra dan Rama segera menjauh dengan cepat karena sudah berpelukan seperti ini didepan Aminah.
"Iya Bu,ada apa?" Jawab Zahra dengan gugup.
Aminah juga terlihat kikuk karena datang dengan tiba-tiba dan mengganggu calon pasangan pengantin ini.
"Tidak ada,ibu hanya ingin menaruh ini," ucap Aminah dengan beberapa bunga ditangannya lalu ia kembali beranjak pergi meninggalkan Rama dan juga Zahra yang masih terlihat salah tingkah lalu keduanya saling tersenyum saat bertukar pandangan.
Sebelum ini mereka sudah menjalani sidang pra nikah (BP4R) sebagai syarat wajib bagi anggota polisi seperti Rama sebelum melakukan pernikahan secara resmi,dan kebetulan sidang mereka digelar bersamaan dengan Rian dan Tiara, kebahagiaan jelas terpancar diwajah keduanya dihari-hari menjelang pernikahan mereka.
Dimalam yang cukup dingin,Rian dengan para rekan polisinya sedang melakukan penggerebekan disebuah rumah karena adanya laporan penyekapan dirumah tersebut dari seseorang yang tidak dikenal.
Pelaku yang merupakan seorang pria berusia sekitar 25 tahun berhasil ditangkap saat baru saja memesuki rumah tersebut, meskipun sempat melawan karena merasa jika ia tidak bersalah,sementara korban seorang perempuan yang disekap didalam sebuah kamar dengan beberapa luka memar di sekujur tubuhnya dan segera dilarikan kerumah sakit untuk menjalani perawatan.
Rian memeriksa tempat kejadian usai penangkapan tersebut dan mengamankan beberapa barang bukti yang digunakan pelaku untuk melukai korban,Rian juga menemukan sebuah foto yang tidak asing tergeletak dilantai,ia memungut dan memperhatikannya baik-baik.
Matanya terbelalak saat menyadari bahwa itu foto Rama bersama ayah,ibu dan juga saudara perempuannya,jadi apakah perempuan tadi adalah saudara perempuan Rama?,Rian segera beranjak pergi dari lokasi kejadian dengan rasa penasaran sembari membawa serta foto itu ditangannya.
Rama masih terlelap tidur dikamarnya,ia merasa sangat lelah karena banyak hal yang harus dipersiapkan menjelang pernikahan,bahkan ia juga baru beristirahat sekitar 30 menit.
__ADS_1
"Drttttt, " ponselnya terus berbunyi sedari tadi tapi ia enggan mengangkatnya karena terlalu lelah,tapi ponsel itu tetap saja tidak mau tenang,iapun dengan kesal meraihnya dan mengangkat telfon dari Rian ditengah malam dengan sedikit kesal.
"Ada apa?" Tanya Rama masih dengan mata terpejam.
"Kamu harus datang kesini sekarang," jawab Rian membuat Rama membuka mata dengan wajah heran,Rian kembali menjelaskan tentang kasus yang baru saja terjadi,membuat Rama langsung terbangun dengan wajah syok.
"Aku kesana sekarang," Rama menutup telfon dan segera beranjak pergi dari tempatnya.
Rian masih menunggu didepan sebuah ruangan tempat korban diperiksa,dengan sebuah foto ditangannya.
Rama datang dengan setengah berlari menghampiri sahabatnya itu dengan wajah cemas,Rian langsung memberikan foto itu kepada Rama.
"Aku menemukan ini ditempat korban disekap,baru bertemu sekali dengannya,aku tidak bisa mengenalinya dengan baik,dan foto itu juga sudah sangat lama bukan,hanya wajahmu yang bisa aku kenali,"
Memang foto itu diambil saat Rama masih berseragam sekolah.
Rama terdiam sembari melihat foto itu,ia terlihat begitu cemas dan berharap bukan saudara perempuannya yang menjadi korban.
"Bagaimana dengan identitasnya?"
"Kami tidak menemukan apapun dilokasi,coba kamu masuk,siapa tahu benar-benar dia," ucap Rian.
Rama menelan Salivanya,masih dengan wajah yang dipenuhi keraguan,bukankah dia sedang berada diluar negeri,tidak mungkin dia tiba-tiba disini dan menjadi korban penyekapan seperti ini,pikiran Rama masih melayang kesana kemari.
Iapun membuka ruangan tempat korban dirawat,perempuan itu masih terbaring tidak sadarkan diri diranjang dengan luka memar dibeberapa bagian tubuh dan juga wajahnya.
Rama perlahan berjalan mendekat,ia menghentikan langkahnya dengan wajah tidak percaya.
"Kak Nilam," Rama kembali mendekati perempuan itu dengan cemas, "Ini benar-benar kamu?"
Rama merasa miris melihat keadaan Nilam,pria biadab mana yang tega melukai seorang perempuan hingga sampai seperti ini.
Rama keluar dari ruangan dengan wajah geram,Rian masih menunggu jawaban darinya.
"Benar itu dia," jawab Rama membuat Rian sedikit syok, ternyata benar ia adalah saudara perempuan Rama yang merupakan anak kandung dari orang tua angkatnya.
"Dimana pelakunya?" Tanya Rama.
"Sudah diamankan,kami akan mengurusnya," jawab Rian namun Rama tidak bisa tenang ia juga ingin mengurus kasus yang sudah melibatkan kakak tirinya.
"Ram,lusa kamu akan menikah,tidak baik jika mengambil kasus ini, lagipula kamu juga harus menjaga kakakmukan,aku yang akan mengurus semuanya, percayalah padaku,"
Meskipun sering berdebat namun di saat seperti ini,Rianlah yang paling bisa diandalkan,dan benar semua perkataannya,Rama harus melakukan persiapan untuk pernikahannya dan tidak mungkin bisa fokus dalam kasus ini,iapun menyerahkan semuanya pada Rian dan berharap keadilan untuk kakaknya.
"Baiklah,aku percaya padamu," Rama menepuk pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
Rian tersenyum, "Aku pergi dulu," Iapun bergegas untuk kembali menuju kekantor.
Sementara Rama kembali kedalam ruangan untuk menjaga kakak yang sudah hampir 3 tahun tidak bertemu dan harus bertemu lagi dalam sebuah tragedi seperti ini.