Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Ke Psikiater


__ADS_3

"Ke psikiater,emang kak Nilam sakit apa?" Tanya Zahra yang masih bingung dengan niat Rama yang ingin membawa Nilam ke Psikiater.


Rama menghela nafas lalu iapun duduk ditepi ranjang,Zahra melihat kegelisahan diwajah Rama yang terlihat membuatnya begitu tertekan,iapun duduk disampingnya dan menggenggam erat tangan Rama dengan harapan membuat Rama merasa lebih tenang.


"Sepertinya ia mengalami gangguan psikologis," jawab Rama yang membuat Zahra membuka matanya lebar-lebar,tidak menyangka jika Nilam menderita penyakit semacam itu.


Rama menceritakan semuanya tentang kasus Nilam, yang terjadi sebenarnya bagaimana Nilam yang melukai dirinya sendiri demi untuk menyeret pria yang ia anggap sudah menyakitinya itu kepenjara, awalnya Rama tidak begitu yakin dengan cerita pria itu tentang kepribadian Nilam,namun kejadian barusan membuktikan bahwa sikap Nilam memang sedikit over dan mungkin benar jika memang ia mengalami gangguan psikologis.


Zahra terdiam, tidak menyangka masalah Nilam akan berubah serumit ini,ia hanya kasihan pada sang suami yang baru saja bertemu dengan kakaknya tapi harus dalam keadaan seperti ini,pasti membuatnya sangat tertekan.


"Aku yakin,kak Nilam pasti akan sembuh,kita akan membantunya," ucap Zahra berharap bisa membuat beban Rama terasa lebih ringan.


Rama benar-benar semakin kagum dengan perempuan yang baru saja ia nikahi kemarin,bukannya mengeluh karena keadaan Nilam tapi ia justru mendukungnya, membuatnya merasa sangat beruntung bisa menjadikan Zahra sebagai istrinya.


"Terimakasih,tapi berjanjilah jangan lakukan apapun yang akan melukai dirimu sendiri,aku melihat kak Nilam sepertinya tidak menyukaimu,jadi lebih baik kamu menjaga jarak darinya,aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu," Rama terlihat begitu mengkhawatirkan Zahra,membuat Zahra merasa jika ia begitu penting untuk Rama.


Zahrapun memeluk hangat suaminya itu,dibalas dengan kecupan manis dikeningnya oleh Rama.


Nilam terdiam dengan tatapan mata yang mengarah ke tangannya yang terluka,ia ingat bagaimana Rama memeluknya dengan erat demi agar ia tidak melukai dirinya sendiri, ketulusan yang Rama tunjukkan membuat Hati Nilam serasa sejuk,ia tiba-tiba tersenyum sendiri,dengan tatapan matanya yang berubah tajam.


"Haruskah aku merebutmu darinya?" gumam Nilam yang mulai memikirkan hal-hal licik dikepalanya.


Keesokan harinya,Rama mengajak Nilam pergi kesebuah ke psikiater untuk memeriksa keadaannya,entah kenapa Nilam mau saja menuruti ajakan Rama, sementara Zahra sedang ke boutique untuk mengurus beberapa baju untuk acara pernikahan Tiara.


"Kenapa kita kesini?" tanya Nilam yang merasa jika dirinya tidak mengalami sakit apapun dan merasa keberatan jika harus diperiksa.


"Ini hanya untuk kontrol saja, percayalah padaku," Rama berusaha meyakinkan Nilam hingga akhirnya Nilam bersedia masuk untuk menemui dokter dan menjalani beberapa pemeriksaan.


Rama menunggu didepan sembari menelfon Zahra yang masih sibuk di boutique.


"Apa sudah selesai?" Tanya Zahra dengan wajah yang sedikit cemas.


"Belum,aku akan menjemputmu sepulang dari sini," ucap Rama.


Zahra menganguk,dan mereka sedikit membahas tentang persiapan pernikahan Rian dan Tiara,hingga Nilam keluar dari ruangan dokter dan Rama mengakhiri teleponnya dengan Zahra.


Nilam menatap sinis kearah adiknya itu,membuat Rama merasa jika kakaknya sedang marah.


"Apa menurutmu aku ini gila, kenapa harus diperiksa seperti tadi?" Tanya Nilam dengan nada sedikit tinggi membuat beberapa orang disekitar memperhatikan mereka.


Rama memegang kedua lengan Nilam, "Kak, tenanglah,aku tidak berpikir seperti itu,kita datang hanya untuk periksa,hanya itu," Rama berusaha agar Nilam tidak kembali meledak dan bisa lebih tenang.

__ADS_1


Nilampun diam dengan wajah yang masih cemberut karena belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Rama.


"Kakak tunggu disini,aku akan bertemu sebentar dengan dokter,dan akan aku pastikan kalau kakak baik-baik saja,ehm," ucapan Rama yang begitu lembut membuat Nilam merasa tenang dan duduk bersedia duduk untuk menunggunya.


Dokter mengatakan jika Nilam memang mengalami gangguan psikis, menurut analisisnya setelah melakukan beberapa pemeriksaan,Nilam cenderung tidak ingin ada seorangpun yang meganggu apa yang sudah menjadi miliknya,ia akan mempertahankan miliknya dengan cara apapun meskipun itu dengan melukai dirinya sendiri maupun orang lain, emosinya juga kurang stabil sehingga dokter meresepkan beberapa obat untuk membuatnya merasa lebih tenang.


Rama penasaran,Nilam dari kecil bukanlah pengidap penyakit seperti itu,kenapa tiba-tiba ia bisa menderita penyakit psikologis seperti ini.


"Mungkin karena trauma,atau dahulu ia pernah mengalami hal yang begitu menyakitkan ketika ia kehilangan sesuatu,itu yang menyebabkan ia tertekan dan tidak ingin hal itu terulang lagi dalam kehidupannya,makanya ia akan sangat posesif terhadap apapun yang ia anggap itu miliknya,karena tidak ingin orang lain merebutnya atau bahkan mendekatinya," Perjelas Dokter.


Rama terdiam,ia mulai berpikir dan teringat masa lalunya,bagaimana ayah dan ibunya begitu menyayanginya saat ia baru saja diadopsi dan mulai melupakan Nilam,bahkan Ayah juga sering memuji Rama didepan Nilam dan menganggap jika Rama lebih baik dari pada putrinya sendiri,itukah trauma yang dimaksud dokter dan menyebabkan Nilam jadi seperti ini sekarang,Rasa bersalah pun mulai bersarang dihati Rama.


Dokter menyarankan agar Nilam tidak mengalami sebuah tekanan,asalkan ia bisa hidup dengan tenang dan tidak merasakan cemas yang berlebihan,ia bisa segera sembuh dari penyakitnya ini.


Rama keluar setelah menerima penjelasan dari dokter,ia kembali menghampiri kakaknya usai menebus obat yang diresepkan dokter.


"Kakak lapar?" Tanya Rama yang melihat Nilam sedari tadi mengelus perutnya.


Nilam menganguk,ia diperiksa cukup lama hingga membuat perutnya keroncongan.


Kali ini Rama akan mencoba melakukan saran dokter untuk membuat Nilam selalu merasa nyaman.


Nilam menatap kearah Rama dengan wajahnya yang langsung berubah,tadinya ia sangat terlihat malas dan tidak bersemangat tapi mendengar kata 'Ayam Balado' matanya langsung berbinar.


"Ibu dulu sering memasak makanan itu untuk kakak,aku berpikir mungkin itu makanan yang kakak suka," imbuh Rama lagi.


Nilam mulai tersenyum dan melupakan kekesalannya, "Kamu masih mengingatnya?"


Rama menganguk dengan senyum dibibirnya,Nilam terlihat bahagia mendapatkan perhatian dari Rama, Merekapun pergi untuk makan makanan kesukaan Nilam sebelum menjemput Zahra ke boutique.


Menjelang sore,Rama dan Nilam sampai diboutiqe Zahra,Rama menghampiri istrinya yang masih sibuk bersama beberapa pegawai, sementara Nilam melihat-lihat baju yang tergantung didepan.


"Masih sibuk?" Tanya Rama sembari mengusap rambut Zahra.


"Udah selesai kok," jawab Zahra yang menyuruh pegawainya untuk segera mengantarkan barang yang sudah dipacking kelokasi acara.


"Dimana kakak?" Tanya Zahra.


Rama menunjuk kedepan,Zahra tersenyum dan berjalan mendekat kearah Nilam diikuti oleh suaminya.


Melihat Nilam yang terlihat tertarik dengan beberapa baju yang terpajang membuat Zahra Merasa senang.

__ADS_1


"Kakak menyukainya, ambillah," ucap Zahra dengan begitu lembut berharap kali ini Nilam meresponnya dengan baik.


"Tidak perlu," jawab Nilam dengan ketus lalu iapun berjalan keluar menuju kearah mobil.


Rama merangkul Zahra,melihat sikap Nilam yang begitu dingin kepadanya,pasti membuatnya terluka.


Zahra tersenyum melihat wajah suaminya yang begitu cemas itu, "Sikapnya sangat mirip denganmu yang aku kenal dulu," Zahra justru melontarkan sindiran kepada suaminya,yang membuat Rama membuka matanya lebar-lebar,ia begitu khawatir dan istrinya justru cengengesan.


"Apa maksudmu?" Rama mengerucutkan mulutnya merasa tidak senang jika Zahra menyamakan sikapnya dulu dengan Nilam.


Zahra terkekeh melihat ekspresi Rama yang justru membuatnya geli, "Apa kamu marah sekarang?" Zahra mencubit pipi Rama dengan gemas.


Rama menarik pinggang Zahra hingga tubuh mereka melekat, membuat Zahra sedikit terkejut,apalagi saat Rama mendekati wajah Zahra,iapun reflek menjauhkan wajahnya karena ini adalah tempat umum.


"Ini tempat umum," bisik Zahra berusaha mendorong tubuh kekar Rama menjauh.


"Lalu kenapa?kamu yang menggodaku," jawab Rama yang terus mendekat, sementara beberapa pegawai yang melihat langsung memalingkan wajah mereka, membuat Zahra semakin merasa malu dan menundukkan wajahnya.


Ramapun melepaskan tubuh Zahra karena tidak ingin semakin membuatnya malu.


"Aku akan melanjutkannya dirumah," bisik Rama ketelinga Zahra,membuat pipi Zahra langsung memerah dan memukul pelan lengan suaminya dengan senyum malu.


Ramapun menggandeng tangan Zahra dan mereka berjalan menuju kemobil untuk segera pulang.


Nilam sudah masuk kemobil dan duduk didepan,Rama melihat kearah Zahra,Zahra menepuk lengan Rama sembari tersenyum memberikan kode bahwa ia baik-baik saja,Rama merasa lega karena memiliki istri yang begitu pengertian,iapun membukakan pintu belakang untuk sang ratu dihatinya,membuat Zahra merasa tersanjung.


Nilam hanya diam menyaksikan kemesraan Rama dan juga Zahra,tapi terlihat jelas jika ia merasa tidak nyaman dengan semua itu.


Mereka on the way pulang kerumah.


Sesampainya dirumah, mereka langsung masuk kedalam kamar masing-masing untuk mandi sebelum makan malam.


Rama menutup pintu,lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang, bagaimanapun ia sudah menahannya dari tadi dan ingin segera menghabiskan waktu bersama Zahra, seharian tidak bersama ia merasa sangat merindukan istrinya itu.


Zahra kegelian saat Rama menciumi lehernya dengan begitu bernafsu.


"Aku belum mandi," keluh Zahra sembari ingin melepaskan tubuhnya,namun Rama enggan melepaskan pelukannya,ia justru mengangkat tubuh Zahra,dan membuat Zahra sedikit terkejut dengan kelakuan suaminya.


"Kalau begitu,ayo mandi," ucap Rama dengan tatapan menggoda.


Zahra tersenyum malu dan menenggelamkan wajahnya kedada bidang sang suami,Ramapun membawa sang istri menuju kekamar mandi untuk mandi bersama.

__ADS_1


__ADS_2