Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Pemandangan Yang Indah


__ADS_3

Rama sampai dikantor,Rian seperti sudah menunggu dengan wajah tegang membuat Rama menaruh curiga,pasti ada masalah yang terjadi.


"Pak Tio menunggu kamu diruangannya?" Ucap Rian sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


Rama mengerutkan dahinya, "Masalah apa?"


"Soal Bimo," jawab Rian,Ramapun bergegas menuju ruangan Tio dengan wajah penasaran, apalagi masalah yang dibuat Bimo untuk menghancurkannya.


"Permisi..." Belum selesai Rama berbicara Tio sudah melemparkan sebuah amplop kewajah Rama dengan kasar.


"Dasar kamu,bajingan tengik tidak tahu aturan," bentak Tio.


Rama menatap kearah atasannya itu dengan tajam, tanpa tahu kesalahannya,Tio mengumpat seeanaknya.


"Bisa-bisanya kamu menyelinap kekantor Bimo tanpa surat perintah,apa yang kamu lakukan,apa ingin merusak reputasi kepolisian,?"


Rama tercekat,bagaimana Tio bisa mengetahui soal ini.


"Bimo mengirimkan CCTV pagi ini,dan berniat untuk melaporkan kamu atas tindakan yang kurang menyenangkan,apa kamu benar-benar sudah bosan bekerja?" Imbuh Tio lagi.


Rama mengepalkan erat tangannya berusaha menahan amarah yang sudah diujung kepala,bandit tua itu sepertinya benar-benar berniat menghancurkannya.


"Untung aku berhasil membujuk pak Bimo untuk memaafkan bawahan bodoh sepertimu,kalau tidak kamu benar-benar bisa dipenjarakan dan membuat malu atasanmu," imbuh Tio lagi yang terlihat belum puas memaki Rama.


Rama kali ini benar-benar tidak bisa menjawab,pasalnya Bimo mempunyai bukti CCTV yang akurat dan bisa dengan mudah menyeretnya kejalur hukum.


"Datang dan minta maaf padanya,dia menunggumu dikantornya," ucap Tio membuat Rama mendongak menatapnya.


"Minta maaf padanya?" Tanya Rama meyakinkan.


"Kenapa?apa kamu keberatan?" Tanya Tio melihat ekspresi Rama.


"Katakan padanya laporkan saja aku,aku tidak akan sudih meminta maaf padanya meskipun harus mendekam dipenjara seumur hidup," jawab Rama membuat Tio semakin naik darah.


"Satu lagi, sepertinya kalian sangat akrab,sampai bisa bernegosiasi seperti ini,pasti ada hubungan lain yang kalian sembunyikan," ucap Rama yang sengaja membuat Tio gelagapan.


"Jaga bicara kamu,kamu benar-benar sudah bosan bekerja?" Teriak Tio bahkan sampai terdengar dari ruang depan membuat rekan Rama yang lain was-was dan juga cemas.


Rama sama sekali tidak gentar dengan ancaman Tio, "Lakukan saja sesukamu,aku tidak akan pernah meminta maaf atau membuat kesepakatan apapun dengan bandit tua itu," ucap Rama yang menduga itu hanya sebuah ancaman Tio untuk menggertaknya,lagi pula tidak ada bukti lain yang termasuk perbuatan kriminal,Ramapun berjalan keluar tanpa permisi.


"Dasar kurang ajar," pekik Tio yang terlihat sangat kesal dengan sikap Rama yang selalu berani menentangnya.


Rama kembali duduk dikursi kerjanya,Rian menghampirinya dengan wajah cemas.


"Ada masalah apa?kenapa pak Tio terlihat sangat marah?" Tanya Rian.


"Tidak apa?aku akan jelaskan nanti,sekarang aku harus pergi," ucap Rama lalu iapun beranjak pergi keluar kantor.


Rian masih terlihat sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Zahra dalam perjalanan menuju kealamat neneknya diluar kota,ia terlihat sangat senang akhirnya setelah sekian lama ia akan bisa bertemu dengan neneknya lagi.


Tapi tidak semudah itu, tiba-tiba mobil Zahra berhenti mendadak membuat Zahra kebingungan,iapun berusaha menyalakannya tapi tetap tidak bisa.


Zahra menghela nafas,iapun turun sembari menelfon seseorang.

__ADS_1


"Mobil aku mogok,kamu bisa kesini?" Tanya Zahra pada Ana.


"Tidak bisa Zahra,aku sedang rapat dengan klien baru,kamu telfon bengkel saja," jawab Ana.


Zahra terlihat kesal dan menutup telfonnya.


Iapun menelfon bengkel,tapi harus menunggu beberapa jam sampai pegawai datang.


Rama yang sedang melewati jalan itu, mengerutkan dahi saat melihat perempuan yang ia kenal sedang bediri disamping mobil dengan wajah lesu.


Iapun menghentikan mobilnya,lalu keluar menghampiri Zahra.


Zahra sedikit terkejut saat melihat Rama berjalan kearahnya.


"Kenapa?" Tanya Rama melihat kearah mobil Zahra.


"Mogok,tapi aku udah telfon bengkel kok," jawab Zahra.


"Oh..emang mau kemana?" Tanya Rama lagi.


Zahra terdiam melihat kearah Rama,entah kenapa setiap mendengar Rama yang begitu perhatian dan lembut seperti ini jantungnya langsung berdebar hebat "Aku,mau kerumah nenek,ibu udah kasih alamatnya jadi aku mau buru-buru kesana,"


"Oh,gitu " ucap Rama lalu ia kembali berjalan kemobilnya.


Zahra terlihat kecewa,kenapa hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Rama,padahal ia berharap Rama akan menawarkan untuk mengantarkannya,tapi mungkin dia memang tidak pantas mengharapkan hal seperti itu.


Rama berhenti disamping Zahra sembari membuka kaca mobilnya, "Ayo naik,aku anterin," ajak Rama.


Zahra tercekat,tubuhnya kaku mendengar ajakan Rama,apakah ini hanya mimpi,atau ia berhalusinasi,Zahrapun menggeleng gelengkan kepalanya, berusaha menyadarkan diri.


"Mau..aku mau," jawab Zahra dengan cepat yang membuatnya malu beberapa detik kemudian sembari menunduk dan menggigit bibir bawahnya.


Rama pun tersenyum geli,Zahra kembali menghubungi bengkel untuk meninggalkan mobilnya lalu segera mengambil tas dimobilnya dan masuk kemobil Rama.


"Kirim alamatnya," ucap Rama sembari melajukan mobilnya.


Zahra menganguk dan langsung mengirim alamat neneknya lewat pesan keponsel Rama agar bisa langsung meluncur kelokasi.


Zahra masih terlihat tidak percaya,dia sedang satu mobil bersama Rama,perasaannya benar-benar tidak karuan,berdebar,malu dan juga tegang.


"Makasih ya,maaf udah ngerepotin," ucap Zahra sembari menatap kearah pria yang sedang mengemudi itu.


Rama hanya menganguk pelan, "Lagipula aku juga sedang ingin jalan-jalan,jadi tidak perlu terlalu sungkan," jawab Rama.


Zahra melihat ada kegelisahan diwajah Rama,seperti duka yang ia tahan,banyak sekali masalah yang menimpanya akhir-akhir ini,pasti membuatnya sangat stres.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Zahra yang merasa penasaran.


Rama menghela nafas sembari melirik sekilas kearah Zahra, "Hanya masalah pekerjaan," jawab Rama.


Zahra menganguk,merekapun kembali mengobrol akrab,ya meskipun hanya obrolan yang tidak penting tapi cukup untuk membunuh waktu karena perjalanan yang cukup jauh.


"Apa? benar-benar kurang ajar,bahkan dia tidak mau meminta maaf," bentak Bimo saat Tio datang menemuinya dikantor.


"Maaf pak, tapi anak itu benar-benar keras kepala,harga dirinya sangat tinggi,dia tidak akan mudah direndahkan oleh siapapun meskipun hidupnya akan hancur," jawab Tio entah sedang memuji atau menghina Rama.

__ADS_1


Bimo terlihat semakin emosi, benar-benar tidak mudah menundukkan Rama,ia harus mencari rencana lain untuk menghancurkan musuhnya itu.


"Kenapa kamu tidak memecatnya saja,karirnya akan hancurkan?" ucap Bimo.


Tio tertegun,wajahnya terlihat gugup dan sedikit cemas, "Masalahnya akan rumit jika dia dipecat," jawab Bimo.


"Kenapa?apa kamu takut?bukannya kamu atasannya?" Bentak Bimo yang tidak terima dengan jawaban Tio.


"Pak,kinerja Rama selama ini cukup baik,kalau memecatnya tanpa ada alasan yang tepat justru jabatan saya yang akan menjadi taruhannya," jawab Tio sembari menunduk karena takut jika Bimo semakin murka.


"Dasar penakut,kalau begitu buat agar dia melakukan kesalahan dan bisa dipecat," bentak Bimo merasa jika Tio bukanlah orang yang bisa diandalkan.


"Baik pak,saya akan coba," jawab Tio dengan suara gemetar.


Bimo terlihat sangat marah, dendamnya kepada Rama semakin membara,ia benar-benar ingin menghancurkan pria yang sudah berani melawan keinginannya.


Mobil masih melaju,memasuki sebuah pedesaan dengan udara yang sangat sejuk dan bersih,pemandangan hijau pun begitu menyegarkan mata,hamparan kebun teh yang membentang dibawah birunya langit membuat hati merasa sangat tenang memandangnya.


Zahra membuka jendela dan menghirup udara segar sembari tersenyum dan memejamkan matanya.


Rama melirik dan tersenyum tipis.


"Jadi nenek tinggal didaerah seperti ini,pasti sangat tenang karena jauh dari keramaian kota," ucap Zahra sembari memandang indahnya pemandangan hijau.


"Tidak mungkin bisa tenang jika harus berpisah dengan cucu kesayangannya," ucap Rama yang membuat Zahra langsung melihat kearahnya.


"Nenek pernah bilang jika kamu adalah cucu kesanyangannya,seperti kamu yang tidak bisa hidup jauh dari nenek, aku rasa nenek juga merasakan hal yang sama," imbuh Rama lagi.


Zahra tertegun mendengar ucapan Rama, "Pria ini,kenapa begitu pengertian,?" Batin Zahra tanpa mengalihkan pandangannya dari Rama.


Rama menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah makan.


"Kita makan dulu, sekalian beli untuk nenek," ucap Rama sementara Zahra masih melamun,Rama menjentikkan jari didepan wajah Zahra, membuat Zahra tersadar dari lamunannya.


Zahra menengok kekanan kiri dan baru sadar jika mobil sudah berhenti, "Kita mau makan dulu? ya udah aku sekalian beli untuk nenek ya," ucap Zahra membuat Rama tertegun menatapnya,jadi Zahra tidak mendengarkan ucapannya tadi,iapun hanya menganguk sembari menahan tawa,lalu segera turun dari mobil.


Zahra merasa bingung dengan ekspresi Rama,"Apa ada yang salah denganku?" Batin Zahra sembari memeriksa wajahnya.


Rama membukakan pintu membuat Zahra kikuk,iapun segera turun dari mobil, entah kenapa perlakuan Rama benar-benar melelehkan Hati Zahra,seperti ice cream yang terkena panas matahari.


Merekapun segera makan saat pesanan sudah siap sembari menikmati pemandangan indah dirumah makan yang berada ditengah kebun teh itu.


Tapi Zahra lebih menikmati menatap pria yang sedang sibuk makan didepannya,lebih indah daripada pemandangan seindah apapun.


Rama melihat kearah Zahra yang sedari tadi memandanginya hingga makanannya masih utuh.


"Apa kamu tidak lapar?" Tanya Rama membuyarkan pandangan Zahra darinya.


"Lapar,sangat lapar," Zahrapun segera melahap makanannya dengan cepat dengan wajah merona.


Rama tersenyum,ia merasa jika gadis ini semakin terlihat menggemaskan,entah kenapa tapi hatinya selalu merasa geli melihat tingkah Zahra yang menurutnya sangat lucu.


Zahra menunduk malu sembari makan,sangat terlihat jika dia menaruh hati pada Rama,matanya berbinar saat menatap kearah pria didepannya itu,dan sepertinya Rama juga menyadari hal itu,tapi sengaja tidak ingin membahas soal perasaan yang nantinya justru akan membuat Zahra kecewa,karena Rama belum bisa melupakan Hana seutuhnya.


Meskipun Zahra sering kali membuat debaran aneh dihatinya,dan kejadian akhir-akhir ini yang membuat hubungan mereka semakin dekat,namun masih ada keraguan dihati Rama,entah apa itu,apakah masih menyangkut kecelakaan Hana,terkadang Rama juga ingin sekali melupakan hal menyakitkan itu dan membuka hatinya kembali,namun masih butuh waktu yang cukup lama sampai hatinya harus benar-benar sembuh dan sampai ia bisa yakin pada perasaannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2