Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Kelicikan Nilam


__ADS_3

Rama dan Zahra menuruni tangga untuk makan malam,Nilam sudah menunggu dimeja makan,ia bahkan sengaja menyiapkan beberapa makanan untuk Rama sebagai ucapan terima kasih karena siang tadi sudah mengajaknya makan diluar.


Melihat Nilam yang begitu perhatian terhadap suaminya membuat Zahra hanya diam meskipun hatinya merasa sedikit tidak nyaman, apalagi saat Nilam menyajikan sendiri makanan itu kepiring Rama, membuatnya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang istri.


Tapi bukan Rama jika tidak mengerti apa yang sedang istrinya pikirkan,iapun gantian mengambil makanan kepiring Zahra,membuat Zahra terlihat sangat bahagia mendapat perlakuan spesial dari suaminya.


Sementara Nilam terlihat kesal melihat Rama yang begitu perhatian pada Zahra "Bukankah seharusnya seorang istri yang melayani suaminya," sindir Nilam dengan tatapan sinis kepada sang adik ipar.


Zahra hanya diam dan menunduk,Rama menggenggam tangannya, "Jika suami bisa melayani istri,bukankah itu juga bagus,kita harus saling melayani bukan?" Ucap Rama dengan tatapan manisnya kepada sang istri membuat Zahra tersenyum malu,ia selalu bisa membuat suasana hati Zahra membaik dari setiap ucapan yang dilontarkan Nilam.


Nilampun hanya diam,tidak bisa lagi menjulid i Zahra jika ada Rama didekat mereka.


"Ram..makanlah,aku sengaja memasak makanan ini untukmu," ucap Nilam dengan semangat.


Rama menganguk dan melahap makanan yang sudah tersaji dipiringnya.


"Hap..." Satu suapan dan wajahnya langsung berubah.


"Enakkan?" Tanya Nilam dengan wajah penasaran berharap Rama memuji masakannya.


Rama menganguk sembari mengunyah makanan itu,membuat Nilam merasa lega,tapi ekspresi wajah Rama seperti sedang menahan sesuatu,Zahra mengerutkan dahinya,iapun juga ingin menyantap makanan didepannya,namun Rama dengan cepat menahannya,membuat Zahra sedikit bingung.


"Jangan makan!" Rama mengambil piring didepan Zahra.


Rama melihat kearah Nilam yang mulai menatap curiga.


"Ini dibuatkan untukku,jadi aku yang akan menghabiskannya," Rama menuang makanan dipiring Zahra kepiringnya,lalu mengambilkan makanan lain yang dimasak oleh bibi dan memberikannya pada Zahra.


"Kamu makan ini saja," ucap Rama lalu ia kembali makan dengan begitu lahap.


Zahra terlihat sedikit kesal,begitu enaklah masakan Nilam hingga Rama tidak ingin berbagi dengannya, sementara Nilam terlihat sangat bahagia melihat Rama yang terlihat sangat menikmati makanan yang ia buat.


"Huek...huek...." Rama masih muntah ditoilet hingga menjelang tengah malam,tubuhnya mulai lemas dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.


"Berapa banyak lada yang kakak masukkan?" Keluh Rama disela rasa sakitnya sembari memegangi perutnya yang serasa melintir.


Zahra terlihat begitu khawatir dengan keadaan Rama yang semakin terlihat pucat, "Kita kerumah sakit saja,"


Rama menggelengkan kepalanya,Zahra memapahnya menuju tempat tidur lalu memberikan minum air putih dan menyeka keringatnya dengan handuk kecil.


Ia merasa sangat bersalah sudah sempat berburuk sangka kepada sang suami,padahal ia melakukan semua ini agar Zahra tidak makan makanan itu,atau keadaannya mungkin akan sama dengan kondisi Rama sekarang.


"Harusnya kamu membiarkanku makan juga, kenapa kamu menghabiskannya sendiri dan menyiksa dirimu seperti ini," Zahra merasa tidak tega melihat kondisi Rama yang membuatnya merasa sangat sedih.


Rama tersenyum meskipun terlihat masih lemas,ia mengusap kepala istrinya itu lalu menariknya kepelukannya, "Aku akan lebih sakit,jika melihatmu sakit,jadi biarkan aku saja yang menanggung semuanya,"


Zahra merasa terharu dan memeluk erat tubuh suaminya itu,tidak menyangka rasa cinta Rama yang semakin hari semakin membuatnya melayang.


Rama mulai bercerita tentang saran dokter yang harus membut Nilam merasa nyaman dan tidak merasakan cemas yang berlebihan,itu yang membuatnya tidak bisa langsung menolak makanan beracun tadi dan memaksa untuk memakannya meskipun akhirnya harus seperti ini.


Zahra menatap kearah suaminya, benar-benar lelaki yang penuh dengan tanggung jawab,bukan hanya pada istrinya namun juga kepada sang kakak,sampai rela menahan sakit sampai seperti ini.


"Semakin lama,aku sepertinya akan semakin tergila-gila pada suamiku," ucap Zahra dengan senyum malu yang menghiasi wajahnya.


Mendengar rayuan istrinya membuat Rama terkekeh,meski perutnya masih terasa sedikit mual,iapun mengecup sekilas bibir Zahra lalu kembali beristirahat setelah meminum obat agar tubuhnya merasa lebih baik esok hari, Zahrapun dengan setia terus memeluk suaminya saat tidur.


Fajar menyapa, matahari mulai menampakkan sinarnya diujung Timur,Zahra turun untuk membuatkan teh hangat untuk sang suami yang masih terbaring diranjang.


Ia melihat Nilam yang sudah sibuk didapur.

__ADS_1


"Kakak sedang apa?" Sapa Zahra sembari mengambil gelas dirak.


"Aku menyiapkan makanan untuk Rama,makanan semalam Rama sangat menikmatinya,jadi aku akan memasak lagi untuknya," jawab Nilam dengan semangat.


Zahra terdiam dan menelan Salivanya,jika Rama harus memakan masakan Nilam lagi pagi ini,pasti kondisinya akan semakin memburuk.


Nilam menatap Zahra yang terpaku melihatnya, "Kenapa?kamu iri?"


Zahra menggelengkan kepalanya cepat,iapun mulai membuatkan teh hangat untuk Rama.


Nilam pergi kekamar,usai makanannya matang,tapi ia masih menaruhnya dipanci karena belum saatnya sarapan.


Zahra diam-diam mencoba masakan Nilam dan wajahnya langsung berubah dan ingin muntah,"Inikah yang dimakan suamiku semalam?" Zahra benar-benar bingung dengan Nilam, bukannya ia harus merasakan dulu makanan itu sebelum diberikan kepada orang lain, kenapa begitu percaya diri seperti ini dan membuat orang hampir mati karena keracunan,Zahra melihat beberapa bahan masakan yang masih tersisa,ia melihat keatas dan sepertinya Nilam tidak akan turun sampai waktu sarapan,Zahrapun membuang makanan hasil karya sang kakak ipar dan kembali memasak dengan menu yang sama dan ditempat yang sama,kali ini ia tidak akan membiarkan suaminya sakit lagi.


Rama menyeruput teh hangat yang dibuat oleh sang istri, membuatnya merasa lebih segar, apalagi sembari memandangi wajah Zahra yang terlihat cantik dipagi hari.


"Apa sudah membaik?" Zahra memeriksa suhu tubuh didahi dan dileher Rama dengan tangannya.


Rama meraih tangan Zahra lalu mengecupnya, "Aku baik-baik saja,"


Zahra merasa lega,hari ini dia harus kerumah untuk persiapan acara pernikahan Tiara,Rama akan mengantarnya kesana karena tidak ada pekerjaan yang mendesak dikantor.


Rama terdiam saat melihat masakan Nilam yang sudah tersaji dimeja makan,Nilam dengan semangat menyiapkan makanan itu untuk Rama, membuatnya menelan Salivanya dengan berat.


Zahra tersenyum, "Makanlah,kakak sudah susah payah memasaknya," ucap Zahra yang membuat Rama mengerutkan dahinya menatap kearah istrinya.


Zahra menganguk memberikan kode pada Rama,membuat Rama mengerti pasti istrinya sudah melakukan sesuatu.


Ramapun mulai melahap makanan itu dan ternyata enak,iapun langsung melihat kearah istrinya dan keduanya bertukar senyum.


"Karena kamu suka,aku akan sering-sering membuatkan makanan untukmu," ucap Nilam yang masih belum menyadari kesalahannya.


Nilam begitu senang karena Rama begitu perhatian,iapun menganguk dan tidak membantah keinginan Adiknya,membuat Rama dan Zahra merasa lega karena masalah makanan selesai.


Zahra sedang membantu Tiara mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa ketempat acara,sembari beres-beres Zahra menceritakan tentang Nilam kepada Tiara, seperti dugaannya memang ada yang tidak beres pada kakak ipar Zahra itu.


Sementara Rama mendapatkan telefon mendadak dari kantor,jadi dia meninggalkan Zahra untuk menyelesaikan tugasnya.


"Kamu benar-benar harus berhati-hati menghadapi orang seperti Nilam, bisa-bisa nanti dia melukaimu," Tiara mengingatkan karena merasa khawatir dengan sahabatnya itu.


Zahra sangat mengerti jika Tiara cemas tapi ia meminta agar Tiara tidak perlu mengkhawatirkan kondisinya, "Aku akan baik-baik saja,lagi pula ada Rama yang akan selalu menjagaku," jawab Zahra dengan senyum diwajahnya.


Tiara menganguk,ia yakin Rama bisa menjaga Zahra dengan baik, buktinya sejak bertemu tadi wajah Zahra begitu berbinar,senyuman juga sangat lekat dan enggan meninggalkan wajahnya, sepertinya sahabatnya itu benar-benar bahagia bisa menikah dengan Rama,biarlah masalah Nilam menjadi bumbu yang menghiasi pernikahan mereka.


Siang itu,Aminah sengaja datang mengunjungi Rama dan Zahra,dengan kue ditangannya.


"Ting tung..."


Nilam yang berada dirumah,membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


Saat melihat Aminah,Nilam mengingat perempuan tua itu saat hari pernikahan Rama,namun sama sekali tidak mengenalnya.


"Assalamualaikum,kamu pasti Nilam ya?"


Nilam menganguk, "Waalaikumsalam,ibu?"


Aminah tersenyum dan memperkenalkan dirinya, "Ibu Aminah,ibunya Hana,"


Mendengar kata Hana membuat wajah Nilam langsung berubah, bagaimana mungkin ibunya Hana berkunjung kerumah,bahkan dia datang saat pernikahan Rama dan Zahra,apa yang sebenarnya terjadi,kini ia mulai kepo.

__ADS_1


"Rama dan Zahra ada?" Tanya Aminah.


"Mereka sedang pergi sebentar,ibu bisa menunggu didalam," ucap Nilam lalu mempersilakan Aminah masuk.


Nilam mengambilkan segelas jus jeruk untuk Aminah dan mempersilakannya minum,Aminah tersenyum,ternyata Nilam baik dan juga sopan.


"Aku pernah bertemu dengan Hana sekitar 3 tahun lalu, meskipun tidak dekat,tapi sepertinya Hana perempuan yang baik, harusnya dulu aku berteman dengannya," ucap Nilam yang membuat Aminah merasa senang mendengar pujian tentang putrinya.


"Tapi,itu belum terlambat bukan,aku masih ingin berteman dengannya sekarang,pasti kami bisa menjadi teman baik," imbuh Nilam lagi yang membuat Aminah terlihat sedikit sedih.


Nilam terdiam saat melihat Aminah menunduk,apa yang sebenarnya terjadi pada Hana,pikirnya bingung.


Aminah mencoba tersenyum dan tidak terbawa perasaan, "Aku sangat senang nak Nilam ingin berteman dengan Hana,tapi sayangnya Allah lebih menyayangi Hana nak,dia sudah pergi kesisi Allah sekarang," ucap Aminah yang membuat Nilam langsung membelalakkan matanya karena terkejut.


"Jadi Hana meninggal," batin Nilam yang masih terlihat tidak percaya.


Aminah menceritakan tentang kecelakaan yang menimpa Hana,dan bagaimana Zahra juga terlibat disana, meskipun Aminah tidak pernah menyalahkan Zahra bahkan sangat menyayanginya,ia hanya bercerita karena Nilam ingin tahu yang sebenarnya.


Nilam terdiam dengan wajah yang terlihat kesal saat mengetahui semuanya,ia mulai berpikir bahwa Zahra sengaja melakukan semua ini untuk merebut Rama dari Hana.


Zahra pulang kerumah sendirian,dan ia melihat Aminah.


"Ibu," Zahra langsung menyalami Aminah dan memberikan pelukan hangat kepada ibunya itu,lalu mereka mengobrol diruang tengah.


Sementara Nilam memilih untuk masuk kekamarnya setelah mendengar cerita Aminah,emosinya Kembali tidak stabil,ia bahkan terus memikirkan hal itu dan ingin membalaskan perbuatan Zahra terhadap Hana,ia berjalan kesana kemari dengan nafas memburu menahan Amarah.


"Zahra,inikah yang kamu lakukan untuk menjerat Rama,aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang," gumam Nilam sembari mengepalkan erat tangannya.


Malam harinya,Zahra masih menunggu Rama sembari menyiapkan kue yang dibawa oleh Aminah didapur,ia juga memotong beberapa buah untuk sang suami yang semalam mengalami sakit perut dan harus mengonsumsi banyak buah agar merasa lebih segar.


Nilam berjalan menghampiri Zahra,Zahra tersenyum melihatnya.


"Kakak butuh sesuatu?" Tanya Zahra.


Nilam tidak menjawab,hanya menatap Zahra dengan penuh Amarah, membuat Zahra sedikit kikuk dan berusaha menghindar karena tidak ingin terjadi masalah.


"Aku akan kekamar,"


"Tunggu," Nilam menahan lengan Zahra dengan cukup kuat membuat Zahra sedikit meringis.


"Aku butuh pisau," ucap Nilam lalu melepaskan lengan Zahra yang memerah karena bekas cengkeramannya.


Zahra menganguk dan mengambilkan pisau yang ia gunakan untuk mengupas buah,lalu memberikannya pada Nilam.


"Aku mendengar tentang Hana yang tewas karena perbuatanmu," ucap Nilam dengan seringai tajamnya keZahra sembari memainkan pisau itu ditangannya.


Zahra menelan Salivanya perlahan karena mulai waspada dengan sikap Nilam yang berjalan mengitarinya dengan pisau ditangannya.


"Apa kamu sengaja membunuh Hana untuk mendapatkan Rama?" Nilam mendekati Zahra dan mengarahkan pisau itu keleher Zahra membuat Zahra menahan nafas karena terkejut.


Nilam terkekeh melihat ekspresi Zahra dan menarik pisau itu menjauh, "Bagaimana mungkin seorang pembunuh takut pada pisau sekecil ini," sindir Nilam.


"Maaf, mungkin kakak sudah salah paham,aku tidak pernah membunuh Hana dengan sengaja,jadi jika kakak tidak tahu cerita yang sebenarnya,jangan menuduhku seperti itu," Zahra mulai terpancing karena tidak terima Nilam menyebutkan pembunuh.


Sontak ucapan Zahra membuat Nilam merasa kesal, "Diam!" Nilam kembali mengarahkan pisau itu kewajah Zahra,Zahra menutup matanya karena merasa takut.


"Akh..." Teriak Nilam dengan tangannya yang terluka dan menjatuhkan pisau itu kelantai.


Zahra terkejut dan membuka matanya, melihat darah yang sudah mengalir dari tangan Nilam, "Kak..."

__ADS_1


Rama yang baru saja masuk sangat terkejut melihat Nilam terluka dan buru-buru mendekati mereka.


__ADS_2