
"Azahra," Sapa Bimo yang duduk dikursi kebesarannya saat melihat perempuan impiannya masuk kedalam.
Zahra menatap tajam, "Dimana nenek?"
"Jangan terburu buru sayang,kita minum dulu,okey," Bimo meminta pelayan menyajikan minuman dan beberapa cemilan untuk anak tirinya itu.
Zahra duduk tapi hanya diam,ia tidak ingin minum atau memakan apapun,ia hanya ingin bertemu dengan neneknya.
"Aku akan mempertemukan kamu dengan nenek,tapi dengan satu syarat," ucap Bimo dengan tatapan penuh misteri membuat Zahra begitu muak.
Bimo sengaja membawa Zahra ketempat terpencil seperti ini,jadi kalaupun Zahra menolak syarat itu,ia tetap tidak bisa kabur kemanapun,karena disini hanya hutan belantara,tidak akan ada orang yang bisa menolongnya.
"Temani aku malam ini,sayang," ucap Bimo sesuai dugaan Zahra.
Zahra menatap tajam ayah tirinya yang memang biadab itu.
Walaupun ingin bertemu dengan neneknya Zahra tidak akan dengan mudah mengorbankan harga dirinya,neneknya akan jauh lebih sedih jika Zahra melakukan hal itu.
Zahrapun memutar otak agar bisa mengelabuhi Bimo,dia harus mendapatkan informasi tentang keberadaan neneknya tanpa harus melakukan syarat menjijikkan yang diajukan pria biadab itu.
"Izinkan aku beristirahat sampai nanti malam," jawab Zahra yang membuat Bimo melotot hingga matanya hampir keluar,tidak disangka Zahra menyetujui syarat itu.
"Apa berarti kamu setuju dengan syaratnya sayang?" Tanya Bimo memastikan karena masih tidak percaya dengan jawaban Zahra.
"Apa aku perlu berubah pikiran,?" Zahra sengaja menggoda Bimo.
"Oh,tentu tidak," jawab Bimo dengan cepat.
"Pelayan,antarkan Nona Zahra kekamar dan berikan pelayanan terbaik untuknya," ucap Bimo pada pelayan divilla itu.
"Baik tuan," jawab pelayan itu.
Zahra mengikuti pelayan menuju kelantai dua,iapun memasuki kamar yang sederhana tapi cukup mewah.
Zahra melihat kearah jendela dan hanya pepohonan rindang yang bisa ia lihat,kalaupun rencananya gagal ia akan lebih memilih mati dihutan itu daripada harus menyerahkan kehormatannya pada Bimo.
Setelah pelayan pergi,Zahra mengeluarkan barang-barang ditasnya yang sengaja sudah ia persiapkan,seperti alat setrum,pisau kecil tapi sangat tajam,obat tidur dan barang lain yang dapat ia gunakan untuk memberi pelajaran pada bandit tua biadab itu.
Sore hari menjelang malam,Rama dan Fatir menghentikan motor trail mereka agak jauh dari lokasi agar tidak dapat didengar oleh para penjaga,mereka berjalan pelan dan penuh hati-hati kedalam lokasi produksi Miras ilegal itu.
Penjagaan masih begitu ketat,akan sangat sulit untuk bisa masuk kedalam pabrik.
Rama mengeluarkan kamera dan mengambil gambar didepan pabrik itu.
"Mendingan kita tunggu sampai malam,siapa tahu penjagaan nya mulai lengah," bisik Fatir.
Rama menganguk,ia dan Fatir duduk dibalik pohon besar dan menunggu.
Malam menjelang,suara burung hantu dan aungan serigala menjadi saksi bahwa hutan itu benar-benar masih alami.
Para penjaga pun bergiliran untuk makan dan membersihkan diri,Rama berdiskusi dengan Fatir,ia akan masuk kedalam sementara Fatir berjaga diluar,Fatirpun setuju.
Rama mulai menyusup ketika penjaga lengah dan berhasil masuk kedalam pabrik produksi yang sudah sepi.
Rama mengambil sampel dan gambar serta beberapa barang yang bisa dijadikan bukti.
Bimo sudah bersiap dengan rapi untuk masuk kekamar Zahra.
__ADS_1
Iapun membuka pintu dan melihat perempuan yang sudah menunggunya itu.
Bimo terlihat sangat bahagia,akhirnya malam ini ia akan mendapatkan sesuatu yang ia kejar-kejar selama ini.
Zahra memberikan segelas anggur pada Bimo, "Minumlah,"
Bimo menatap Zahra dengan wajah curiga.
"Kamu tidak percaya padaku,aku bisa mati disini jika melakukan hal buruk padamu bukan," ucap Zahra yang memang ada benarnya.
Bimopun tersenyum dan meminum anggur itu hingga habis,Zahra menyunggingkan bibirnya.
Bimopun mabuk dan tergeletak ditempat tidur, "Jadi,dimana nenek dan kak Aira?" Tanya Zahra pada Bimo yang sudah tidak bertenaga itu.
"Layani aku dulu,baru aku akan memberi tahu keberadaan mereka, " ucap Bimo yang membuat Zahra merasa kesal.
"Jawab dulu,aku pasti akan melayani mu,aku tidak bisa kemana-mana sekarang," ucap Zahra sembari membelai lembut wajah Bimo.
Bimo menyunggingkna bibirnya, "Didaerah Malaya," jawab Bimo.
Deg
Zahra benar-benar tertipu,ia pikir neneknya ada didaerah sekitar sini,tapi justru didaerah yang jauh dari tempatnya sekarang.
Zahra menatap tajam kearah bajingan brengsek yang ada didepannya itu,ingin rasanya ia melenyapkan pria itu sekarang juga.
"Ayo sayang,sekarang layani aku," Bimo ingin memeluk tubuh Zahra,tapi dengan cepat Zahra mengarahkan alat setrum yang ia bawa keleher Bimo,Bimopun kejang dan jatuh pinsan.
Zahra menghela nafas,sekarang ia harus mencari cara untuk kabur sebelum Bimo sadar,tapi bagaimana dia bisa pergi dari hutan belantara seperti ini,ia tidak peduli, yang penting ia harus kabur dari pria bajingan ini.
Zahra mengambil tasnya dan keluar dari kamar,iapun harus berhati-hati karena masih banyak penjaga dibawah.
Rama berusaha keluar setelah mendapat beberapa bukti,untung para penjaga masih sibuk makan jadi ia bisa keluar dengan cukup mudah,saat sedang berlari untuk menghampiri Fatir,Rama bertabrakan dengan seseorang yang juga berlari.
"Brukkk,"
Keduanya terjatuh dan sangat terkejut saat melihat satu sama lain.
"Kamu?" Ucap Zahra dan Rama bersamaan dengan mata melotot.
Fatir melihat penjaga yang mendekat,dan berusaha memberikan kode pada Rama.
"Sut..sut..." Rama tidak mendengar.
Rama dan Zahra segera bangun.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Rama.
Zahra terdiam dan bingung harus menjawab apa,inikah pertolongan dari Allah,dihutan seperti ini dia justru masih bisa bertemu dengan Rama.
"Tolong bawa aku pergi dari sini," hanya ucapan itu yang bisa Zahra katakan.
Rama terdiam melihat wajah Zahra yang terlihat gelisah saat terkena sinar rembulan yang cukup terang malam itu.
"Hei,siapa disana?" Teriak Ajudan yang melihat Rama dan Zahra.
Keduanya terkejut.
__ADS_1
"Penyusup!" Teriak ajudan itu membuat penjaga yang lainnya datang.
Rama meraih tangan Zahra dan merekapun berlari pergi menghampiri Fatir,lalu ketiganya segera meninggalkan tempat itu dan para penjaga masih mengejar.
Hingga mereka sampai ditempat motor dengan nafas yang masih terengah.
"Kamu langsung kepos,aku akan mengalihkan mereka," ucap Fatir.
Rama merasa ragu dan cemas.
"Aku sudah hafal seluk beluk hutan ini,jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Fatir yang tahu betul kekhawatiran diwajah Rama.
Fatirpun menyalakan motor dan menghadang para penjaga yang juga menggunakan motor itu,lalu memancing mereka kesisi lain.
Rama segera naik kemotor,Zahra masih terdiam.
"Kamu masih ingin pergi dari sini?" Tanya Rama.
Zahrapun segera naik dan menutup matanya,pasalnya naik motor trail ditengah hutan,malam hari pula,pasti sangat berbahanya.
Ramapun melajukan motornya,cukup pelan dan hati-hati,Zahra memegang erat pinggang Rama karena merasa takut akan jatuh,entah kenapa justru membuat perasaan Rama tidak karuan.
"Duar...duar..." Suara tembakan beberapa kali terdengar ditelinga mereka.
Zahra melihat kebelakang dan benar ada motor yang mengejar mereka.
"Ada yang ngejar kita," ucap Zahra dengan panik.
Ramapun menambah kecepatan agar bisa lepas dari kejaran penjaga-penjaga itu,Zahra semakin takut dan memejamkan matanya erat-erat.
"Duar..." Penjaga itu berhasil menembak kearah ban motor yang dikendarai Rama,motor itupun oleng dan mereka terjatuh kesemak belukar dengan cukup keras.
"Srreeeeekkkk"
Rama memegangi lengannya yang terluka,hingga darah mengalir,ia melihat motor tergeletak ditepi jurang,mencari perempuan yang tadi bersamanya.
"Tolong," teriak Zahra yang bergelantungan ditepi jurang dan hanya perpegangan pada akar pohon agar tidak jatuh.
Rama segera ketepi jurang dan benar Zahra disana.
Zahra memejamkan mata,ia sudah pasrah jika memang hidupnya harus berakhir disini.
"Ya Allah, tolong ampuni segala dosa hamba, jika memang umur hamba hanya sampai disini, jagalah orang-orang yang hamba sayangi," batin Zahra dengan air mata yang menetes dipelupuk matanya,karena tangannya mulai terasa lemas.
Rama terdiam,teringat bagaimana Hana mengalami kecelakaan akibat kesalahan Zahra,syetanpun menghampiri hatinya, biarkan Zahra jatuh sebagai balasan atas setiap perbuatannya.
Rama memejamkan mata dan mengusap wajahnya, "Astaghfirullah,apa yang aku pikirkan," gumam Rama menyadari pikirannya yang salah.
Rama mengulurkan tangannya yang tidak terluka, "Zahra," panggil Rama.
Zahra membuka mata dan menengadah melihat wajah pria yang dengan tulus mengulurkan tangan untuk membantunya.
Zahra meraih tangan Rama,Ramapun menarik tangan Zahra sekuat tenaganya,ternyata Zahra cukup berat.
Hingga mereka berdua selamat dan berbaring direrumputan dengan nafas yang sama-sama memburu.
Zahra melihat kearah Rama, bagaimana bisa pria yang sudah kehilangan calon istri karena kesalahannya,masih bisa dengan tulus menyelamatkannya dari maut.
__ADS_1