Penyidik Hati Azahra

Penyidik Hati Azahra
Takdir


__ADS_3

Rama menuntun Zahra kesebuah taman dipinggir danau dengan hiasan lampu yang terlihat sangat indah,suasana begitu hangat meskipun malam terasa sejuk.


Zahra masih tidak percaya pria dingin itu bisa mengajaknya ketempat romantis seperti ini, seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.


Mereka duduk berdua dikursi panjang yang menghadap kearah danau,Zahra masih bergelut dengan pikirannya yang dipenuhi pertanyaan,apakah niat Rama sebenarnya, kenapa tiba-tiba berubah seperti ini.


"Kamu pernah bilang,aku sangat tidak romantis bukan?" Sindir Rama yang membuat Zahra menunduk dan malu pernah mengatakan semua itu.


Rama tersenyum melihat ekspresi wajah Zahra, "Sebenarnya memang benar,aku bukan pria yang romantis,aku juga bukan pria yang suka menyatakan perasaan secara berlebihan,aku bukanlah pria seperti itu,"


Zahra terdiam dan mulai memberanikan diri menatap wajah Rama.


"Bahkan aku pria yang sangat kejam, yang selalu menindasmu, mengintimidasi kamu dan juga sering membuatmu mengeluarkan banyak air mata,aku benar-benar bukan pria yang baik,"


Zahra merasa jika perkataan Rama justru membuatnya ingin menangis, apalagi saat menatap mata Rama yang dipenuhi dengan penyesalan,masa lalu mereka memang meninggalkan banyak kenangan pahit,bagaimana begitu banyak konflik dan kesalahpahaman.


"Tapi bisakah kamu memaafkan pria jahat ini,aku benar-benar tulus ingin meminta maaf atas semua kesalahanku dimasa lalu," ucap Rama dengan penuh ketulusan.


Zahra langsung memalingkan wajahnya,dia bukan orang yang pandai menahan perasaannya,hanya dengan mendengarkan kata maaf dari Rama sudah membuat air matanya menetes begitu saja.


"Jadi,bisakah aku menjagamu seumur hidupku untuk menebus semua kesalahanku padamu?" Rama berlutut didepan Zahra sembari memegang tangannya,membuat Zahra semakin merasa haru.


"Maukah kamu menjadi pendamping hidupku dan menemani disisa hidupku ini,Azahra?" Rama begitu tulus kali ini dan berharap Zahra akan dapat menerimanya.


Zahra hanya bisa menangis bahagia dan mengangukkan kepalanya.


Rama merasa sangat lega dan menunduk haru dengan matanya yang berkaca-kaca.


Hingga keduanya meluapkan segala keharuan mereka,tidak menyangka jodoh dari Allah memang luar biasa,banyak hal rumit yang harus mereka hadapi sebelum akhirnya bisa bersama.


Rama menatap wajah Zahra dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya, "Terimakasih,"


Zahra menganguk dan memeluk pria yang masih berlutut didepannya itu dengan erat.


"Aku mencintaimu,Azahra," ucap Rama untuk pertama kalinya membuat Zahra semakin merasa bahagia,tidak menyangka ia bisa mendengar kalimat itu dari mulut Rama secara langsung.


Pagi itu,Rama dan Zahra datang kemakan Hana untuk Ziarah dan mengirimkan Do'a agar Hana merasa lebih tenang disana.


Rama menghela nafas sembari mengusap nisan Hana,dia kini sudah benar-benar ikhlas melepas kepergiannya dan akan memulai kehidupan baru bersama Zahra.

__ADS_1


Namun meskipun begitu,ia tetap merasa sedih setiap kali berkunjung kemakan Hana,Zahra memegang pundak Rama agar membuatnya merasa lebih tenang.


Rama tersenyum dan menggenggam tangannya, "Maaf," Rama merasa jika dirinya tidak pantas bersikap seperti ini karena bagaimanapun kini ia sudah mengakui perasaannya kepada Zahra.


"Kenapa harus meminta maaf,dia orang yang sangat berarti untukmu,kamu tidak harus melupakannya hanya demi aku, karena aku sangat mengerti," ucap Zahra sembari meletakkan kepalanya dipundak Rama.


Rama merasa lega dengan sikap Zahra yang begitu bijaksana.


Usai dari makam Hana, Rama mengajak Zahra kemakan kedua orang tuanya yang meninggal 3 tahun lalu.


Mereka menaburkan bunga lalu mengirimkan Do'a untuk ketenangan ayah dan Ibu Rama.


Rama melihat Zahra yang begitu tulus saat membacakan do'a,Zahra membuka mata dan tersenyum saat melihat Rama yang terus menatapnya.


"Ada yang harus kamu tahu,mereka sebenarnya bukan orang tua kandungku,"


Zahra mengangkat kedua alisnya karena terkejut dengan ucapan Rama.


"Aku tumbuh dan besar disebuah panti asuhan,mereka mengadopsi aku ketika usiaku 12 tahun,namun kasih sayang mereka begitu besar kepadaku,bahkan melebihi anak kandung mereka sendiri,ayah seorang jenderal polisi dan memiliki mimpi jika anaknya bisa jadi seperti dia,namun dia justru memiliki anak perempuan,jadi mereka mengadopsi aku dan menjadikan aku seperti ini agar bisa mewujudkan impian mereka," Rama dan Zahra sedang duduk disebuah kafe sembari menceritakan masa lalu Rama yang sebenarnya juga penuh drama.


Zahra mengerutkan dahinya, "Lalu dimana dia sekarang? saudara perempuanmu?" Tanya Zahra yang masih penasaran dengan kelanjutan cerita Rama.


Zahra selalu merasa jika kehidupan Rama tidaklah serumit dirinya,namun pada kenyataannya dia juga harus menghadapi hal-hal seperti ini, membuatnya sangat malu karena selalu berkeluh kesah pada kehidupannya selama ini.


Zahra memegang tangan pria disampingnya itu, "Mungkin dia sudah bahagia dengan kehidupannya,dan kamu juga harus bahagia dengan kehidupan kamu," ucap Zahra berusaha membuat Rama menjadi lebih tenang.


Rama menganguk dan tersenyum, "Kita kerumah ibu ya,aku ingin memberikan kabar tentang pernikahan kita padanya,dia pasti akan sangat bahagia,"


Aminah terlihat sangat bahagia menyambut kabar pernikahan Rama dan Zahra, akhirnya impiannya selama ini yang mengharapkan Rama bisa segera menikah akan terwujud,iapun sangat antusias dan menawarkan diri untuk membantu semua persiapannya membuat Rama dan Zahra juga merasa senang mendengarnya.


"Jadi kapan acaranya?" Tanya Aminah dengan begitu bersemangat.


"Dua Minggu lagi,kami hanya akan mengundang keluarga dekat, tidak ingin mengadakan pesta yang terlalu mewah," ucap Rama menjelaskan.


Aminah tersenyum,ia begitu mengenal Rama,ia tidak pernah ingin mengumbar sesuatu secara berlebihan,bahkan saat akan menikah dengan Hanapun ia melakukan hal yang sama.


"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian,semoga Allah selalu menjaga hubungan kalian," ucap Aminah sembari memeluk keduanya dengan mata berkaca-kaca,entah kenapa ia tiba-tiba teringat pada putrinya yang harus meregang nyawa satu Minggu sebelum hari pernikahannya.


Rama dan Zahra saling melihat,mereka tahu betul apa yang sedang Aminah rasakan.

__ADS_1


Aminah melepaskan pelukannya sembari mengusap pipinya yang basah, "Jaga Zahra dengan baik,jangan biarkan dia pergi sedetikpun dari pandanganmu," ucap Aminah sembari menepuk pundak Rama.


Rama langsung memeluk perempuan tua itu, mengingatkan bagaimana ia meninggalkan Hana hanya sekejap namun Allah begitu cepat mengambilnya,ia tidak bisa menahan sedih ketika mengingat semua itu.


Aminah berusaha kuat dan tidak ingin mereka kembali larut dalam kesedihan.


Zahra mengerti apa yang sedang dirasakan Rama dan juga Aminah, bagaimanapun ia ikut andil dalam kecelakaan yang menewaskan Hana, meskipun berusaha untuk kuat namun pada akhirnya rasa bersalah itu terkadang sering muncul tiba-tiba dan membuat Hati Zahra merasa sesak.


Usai makan malam bersama,Rama mengantarkan Zahra untuk pulang kerumahnya,namun diperjalanan Zahra masih terngiang akan rasa bersalah itu yang kembali memenuhi kepalanya,ia menatap sendu kearah jendela, membayangkan bagaiman saat Hana meregang nyawa ditangannya.


Rama melihat kearah perempuan yang sedari tadi hanya diam.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Zahra terbangun dari lamunannya lalu melihat kearah Rama, "Tidak ada,"


Rama tidak bisa percaya dengan perkataan Zahra begitu saja, karena jelas ada sesuatu yang sedang Zahra pikirkan.


"Kita akan segera menikah bukan,kamu bisa berbagi perasaanmu kepadaku,itu akan membuatku merasa senang," ucap Rama yang berusaha memancing agar Zahra mau bercerita kepadanya.


Zahra melihat kearah Rama, "Entah kenapa,aku masih saja dihantui rasa bersalah atas kepergian Hana," Zahra menundukkan kepalanya.


Mendengar ucapan Zahra membuat Rama langsung menghentikan mobilnya karena merasa tidak bisa fokus menyetir.


"Aku sudah berusaha dan sangat ingin melupakan kejadian itu,tapi saat melihat begitu banyak kepedihan dimata ibu dan juga dimatamu membuatku kembali mengingat betapa besar kesalahan yang sudah aku lakukan," Zahra menunduk dengan air mata yang sudah jatuh berderai.


Rama terdiam,lagi dan lagi,ia membuat perempuan didepannya itu menangis, meskipun kali ini tidak ia sengaja, tidak menyangka Zahra masih menyimpan penyesalan yang begitu besar dihatinya.


"Dulu mungkin aku adalah orang yang paling bahagia saat melihatmu menangis seperti ini,tapi percayalah, sekarang aku tidak bisa lagi melihatmu seperti ini,karena setiap tetes air mata yang keluar dari matamu,itu menandakan betapa tidak bergunanya diriku," ucap Rama yang membuat Zahra langsung melihat kearahnya.


Rama mengusap air mata Zahra, "Jadi jangan jadikan aku pria yang tidak berguna dengan menangis lagi,mengerti?"


Zahra menganguk dan tidak ingin Rama merasa seperti itu.


Rama tersenyum, "Bagaimanapun kepergian Hana adalah sebuah takdir,takdir yang akhirnya mempertemukan kita dan menyatukan kita,jadi berhenti menyesali semuanya," Rama berusaha membuat Zahra lebih tenang sembari mengusap lembut pipinya.


Zahra merasa jika ia sangat beruntung memiliki Rama disampingnya.


"Terimakasih atas takdir-Mu yang sudah mempersatukan Hamba dengan pria sebaik Rama,Ya Allah,"

__ADS_1


__ADS_2